PENGANTAR:
Naskah di bawah ini adalah naskah yang saya kemukakan, sebagai penceramah,
dalam diskusi panel yang diadakan oleh Pusat Pengembangan Etika Unika Atma
Jaya yang diselenggarakan di kompleks Univ. Atma Jaya Jakarta tgl 16
September 1981.
Namun isinya akan sangat menarik bagi mereka yang ingin mengetahui tentang
a.l. INSPIRASI, BAGAIMANA KEADAAN MISTIS, suatu masalah Mistik dan
Kebatinan. Juga disinggung soal PANCASILA.
Ciputat 29 September 2004
KD/JS Kartowidjojo


MENGGALI INSPIRASI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN INDONESIA

DISKUSI PANEL yang diadakan Pusat Pengembangan Etika Unika Atma Jaya
mengambil topik: MENGGALI INSPIRASI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN INDONESIA. Saya
jadi agak bingung, karena “menggali sesuatu dalam pembangunan” berarti
“menggali sesuatu dalam perjalanan pembangunan”.Apakah memang demikian yang
dimaksud oleh Pengundang?
Ataukah “menggali sesuatu untuk pembangunan?”
Dalam kebingungan yang demikian, ahkirnya saya memilih pengertian “menggali
inspirasi Agama dalam perjalanan pembangunan Indonesia”., karena dengan
demikian lebih luaslah yang bisa kita bicarakan bersama, termasuk didalamnya
“hasil masa lalu” yang tidak bisa dilepaskan dari “kemungkinan hasil
pembangunan masa sekarang” dan “kemungkinan hasil pembangunan masa depan”,
kesemuanya di dan untuk Indonesia.

Beberapa pengertian
Topik Diskusi Panel ini sangat menarik, karena beberapa hal. Diskusi Panel
sepatutnya mempergunakan pendekatan ilmiah dalam mengemukakan pendapat
maupun dalam membahas materi diskusi. Tetapi topik diskusi kali ini
“menyerempet” masalah yang sukar/sulit untuk “diilmiahkan”.
Apa sebabnya demikian? Marilah kita bersama-sama mencoba untuk
menjelaskannya.

      Apakah yang dimaksud dengan “Inspirasi Agama”? Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia yang disusun oleh W.J.S. Poerwadarminta (cetakan kelima, 1976)
arti “Inspirai” adalah ilham; bisikan. Di bagian lain kamus tsb. ilham
berarti: (1) petunjuk yang datangnya dari Tuhan yang terbit di hati; (2)
sesuatu yang menggerakkan hati untuk…..
Dalam World Book Dictionary (edisi 1978) arti inspiration lebih luas yaitu:
(1) the influence of thought and strong feelings on actions, especially on
good actions; (2) any influence that arouses effort to do well; (3) an idea
that is inspired; sudden brilliant idea; (4) a suggestion to another; act or
causing something to be told or written by another; (5) God’s influence on
the mind or soul of man; divine influence; (6) a breathing in; act of
drawing air into the lungs; inhalation.

Kamus bahasa Belanda yang baik sekali (Van Dale’s Nederlandstaal
Woordenboek, 1949) mengatakan: Inspiratie adalah (1) bezieling, inblazing;
(2) ingeving, een inval, een gelukkige gedachte.

Demikianlah berbagai arti inspirasi dan dalam pembicaraan kali ini, saya
mempergunakan arti-arti yang telah disebut oleh ketiga kamus tsb. di atas,
hanya tekanannya mungkin agak berbeda, tergantung dari apa yang sedang kita
kemukakan.

Tetapi saya kira ada baiknya kita mengutip Ortega Y Gasset yang pernah
mengatakan:”Een definitie is, als zij juist is, tevens ironisch, want zij
sluit stilzwijgende reserves ini”. Terjemahan bebas saya:”Sebuah definisi
/rumus), andaikata benar, pada saat yang sama, masih mengandung benih arti
yang belum terungkap”.

      Apa pula yang diartikan “A g a m a” ? Banyak sekali arti menurut
berbagai kamus dari berbagai bahasa. Tapi saya ingin mengemukakan pengertian
yang saya pergunakan dalam diskusi panel ini, sehingga mendekati pemahaman
yang sama tentang arti “agama”. Bagi saya: Agama adalah pengakuan terhadap
Tuhan Yang Mahaesa dan pengabdian kepada Tuhan Yang Mahaesa dilaksanakan
melalui pengabdian kepada sesama manusia, berusaha mencintai Tuhan melalui
usaha mencintai sesama manusia.
Itulah yang saya artikan “agama”, jadi tidak terbatas kepada hanya salah
satu agama saja atau aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa saja.

INSPIRASI AGAMA DALAM PEMBANGUNAN
      Bicara soal “inspirasi agama” , bisa kita buat santai-santai saja atau
dapat pula jlimet. Mana yang kita pilih? Yang terpenting adalah agar kita
mudah untuk menangkap pengertiannya, kemudian untuk memahaminya. Sesudah itu
kita menentukan sikap: setuju atau tidak-setuju 100% atau setuju “ini”
tetapi tidak menyetujui “itu” atau mengemukakan pendiriannya sendiri yang
berbeda. Kalau sudah menyetujuinya, berusaha menghayati (menjadi
darah-daging) dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

      Sumber inspirasi Agama adalah Kitab-kitab Suci dari berbagai agama di
dunia ini, termasuk didalamnya: Taurat, Injil, Al Qur’an, Wedha dari Hindu
dan Buddha. Dan khas sekali adanya “inspirasi” di Indonesia yang menurut
para penghayatnya sungguh-sungguh terjadi dan dari Tuhan.
Saya merasa sangat perlu untuk mengemukakan pengertian yang langsung
berkaitan dengan masalah “inspirasi dalam praktek”, dan hal tsb. tercakup
dalam hal apa yang biasa disebut m i s t i k. Untuk itu, saya mengutip
tulisan saya sendiri yang dimuat dalam majalah “MAWAS DIRI” terbitan
September 1978, sebagai berikut:
MISTIK DAN KEBATINAN
    Kesimpulan penulis adalah bahwa mistik termasuk kebatinan, tetapi
kebatinan belum tentu termasuk mistik. Mengapa demikian?

Sebelum sampai kepada jawaban atas pertanyaan tsb., terlebih dulu penulis
memberi pertanggunganjawabannya, yakni tulisan ini berdasarkan isi buku-buku
yang disetujui olehnya tentang kebenarannya dan berdasarkan pengalaman dan
pengamatan dunia kebatinan di Indonesia.
Dua buah buku yang sebagian isinya dirasakan benar oleh penulis ialah
buku-buku “The Teachings of The Mystics” yang berisikan  “selections from
the great mystics and mystical writings of the world dan dikomentari sendiri
oleh Walter T. Stace (cetakan kedua Mentor Book) dan buku satunya lagi
adalah “Mysticism, A Study and Anthology” yang ditulis oleh F.C.Happold yang
telah dicetak tujuh kali oleh Penquin Book.
Atas dasar tsb., penulis berpendapat, bahwa di dalam praktek kebatinan di
Tanah Air kita, sangatlah sedikit yang dapat dimasukkan ke dalam kategori
mistik. Tentu pembaca bertanya:”Apakah mistik itu?”
Salah satu kesukaran/kesulitan untuk membicarakan jawaban atas pertanyaan
tsb. adalah karena jawabannya baru sungguh-sungguh dipahami setelah orang
yang bersangkutan sendiri mengalami pengalaman mistis (Mystical experience).
Sekalipun demikian penulis ikut pula menyumbangkan pengalamannya,
pendapatnya ataupun komentarnya atas tulisan ini.

     Walter T. Stace (WTS) mengatakan:”Our question “what is mysticism”
really means “what is pystical expereince?” ( pertanyaan kita “apakah
 mistik” sebenarnya berarti “apakah pengalaman mistis?”). Lalu
dinyatakannya:”The point is that a mystical idea is a product of the
conceptual intellect, whereas a mystical experience is a non-intellectual
mode of conciousness (Soalnya adalah gagasan mistik adalah hasil dari konsep
intelek, sedangkan pengalaman mistis adalah hasil dari suasana/keadaan
kesadaran yang non-intelek).
Penulis berpendapat, bahwa pendapat tsb. di atas adalah benar, karena
pengalaman mistis tidak pernah terjadi pada saat indra bekerja, terutama
indra intelek yaitu otak.

F.C. Happold (FCH) dalam bukunya “Mysticism” mengatakan:” Any worthwhile
study of mysticism must, however, of its nature, be a study of camparative
religion, for mysticism is a manifestation of something which is at the root
of all religions and all the higher religions have mystical expressions”
(Setiap studi yang bernilai mengenai mistik, biar bagaimanapun harus, karena
sifatnya, adalah suatu studi perbandingan agama, sedangkan mistik adalah
pengejahwantaan dari sesuatu yang berakar di semua agama dan semua agama
yang lebih tinggi memiliki ungkapan-ungkapan mistik)”  Disini sebenarnya
FCH) menitikberatkan pendapatnya , bahwa mistik itu ada di setiap agama.

     Penulis berpendapat bahwa yang dimaksud dengan mistik, lebih cocok
dilihat dari tujuannya. Apakah tujuan mistik? Tujuan mistik adalah manusia
mencari, menemukan dan menyatukan dirinya dengan Tuhan.
Jadi seorang mistikus adalah orang yang berusaha mencari, menemukan dan
memanunggalkan dirinya dengan Tuhan.
Sudah tentu ada pra-syaratnya ialah orang tsb. sudah mengakui lebih dulu
adanya Tuhan.
Dengan pengertian mistik tsb., penulis berani menarik kesimpulan bahwa tidak
semua yang melakukan kebatinan di Indonesia (dan juga di India) melakukan
penghayatan mistik.
Spiritualisme, telekenesis, telepati yang termasuk dipelajari
parapsychology, bukanlah termasuk mistik. Perdukunan yang mempergunakan
kekuatan di makam-makam, di keris-keris, di batu-batu, mantra-mantra urusan
duniawi, tidaklah termasuk mistik, sekalipun termasuk kebatinan. Dalam hal
ini WTS mengatakan:”The closest connection one can admit will be to say that
the sort of persons whp are mystics also tend to be the sorts of persons who
have parapsychological powers. (Hubungan yang terdekat yang dapat diakui
adalah bahwa  para mistikawan cenderung memiliki kekuatan-kekuatan yang sama
seperti yang dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan-kekuatan
parapsikologis)”.
Jadi WTS ingin mengatakan bahwa mereka yang memiliki kekuatan-kekuatan
parapsikologis, mungkin orang mistik, tetapi juga orang non-mistikus.
Penulis sependapat dengan pendapatnya tsb.
Di Tanah Air kita yang indah ini, semua perdukunan biasanya disebut
kebatinan. Tetapi sebenarnya terdapat  perbedaan-perbedaan diantara mereka;
perbedaannya adalah orangnya, apakah dia mistikus atau bukan-mistikus!
Sekalipun demikian, hal itu tidak menjadi soal bagi para mistikawan, karena
yang terpenting adalah manfaat dari kekuatan-kekuatan itu untuk kebaikan
perikemanusiaan.

Ciri-ciri dalam keadaan mistis
    Sekalipun sangat sulit/sukar (mungkin pula tidak mungkin sama sekali!)
untuk menceritakan suasana mistis, FHC berusaha dalam bukunya tsb.,
memberikan ciri-ciri orang dalam keadaan mistis sbb:
1. Sukar diceritakan kembali secara gamblang/jelas. Pengalaman mistis pada
umumnya tidak mudah bahkan sulit sekali untuk diceritakan kepada orang lain,
karena pengalaman tsb. bersifat non-intelektual; tetapi lebih mendekati
“rasa” (bukan perasaan).
2. Meskipun dalam keadaan seperti yang disebut dalam butir 1 tsb. di atas,
keadaan mistis itu memberi pengetahuan atau berpengetahuan sehingga sering
mengakibatkan berobahnya sikap-hidup (life outlook, levensbeschowing),
pandangan dunia dan pandangan ahkerat. Yang pertama disebut “quality of
ineffability” (sikap yang tak dapat diucapkan) dan yang kedua disebut “a
noetic quality” (sifat yang bisa masuk akal).
3. Keadaan/suasana mistis ini biasanya berlangsung singkat, jarang sekali
yang lama. Dengan cara-cara tertentu, frekwensinya dapat ditingkatkan.
Keadaan ini disebut “the quality of transiency” (sifat sementara), sebab
dari keadaan mistis kembali ke ke keadaan normal.
4. The quality of passivity adalah orang yang tidak dikuasai lagi oleh
dirinya sendiri! Keadaan ini menurut penulis adalah berbahaya, karena yang
menguasai dirinya seringkali b u k a n Tuhan! Sebab orang yang kesurupan,
pada umumnya tidak pernah disurupi Tuhan.
5. Ciri umun dalam keadaan mistis adalah hadirnya kesadaran kesatuan
(manunggal) dari segala-galanya, the presence of a conciousness of the
oneness of everything. Menurut penulis, ciri yang kelima ini adalah yang
tertinggi untuk seorang mistikus.
6. Tidak mengenal waktu, the sense of timelesness. Tidak dirasakan adanya
waktu, karena waktu adalah hasil dari empat dimensi menurut pancaindra
manusia. Kalau ingin mencoba menerangkan keadaan tanpa mengenal waktu,
paling-paling kita dapat mengatakan:”Semuanya adalah sekarang”.
7. Dalam keadaan mistis orang menyadari bahwa egonya bukanlah Aku yang
sebenarnya. Menurut penulis itu adalah benar, jika yang dimaksud dengan ego
itu adalah ego yang terikat pada pancaindra dan badan wadag manusia. Karena
ego yang sejati adalah lain.

Tulisan tsb. di atas dimaksudkan untuk membedakan mistik dengan kebatinan di
Indonesia; juga dimaksudkan untuk mengadakan perbandingan dengan
pengalaman-pengalaman olah batin di Indonesia, sekiranya para pembaca ingin
menceritakan pengalamannya berdasarkan pengertian mistik ataupun kebatinan.

    Kita wajib ikutserta berusaha ke arah yang membawa kedamaian.
Ketentraman umum yang dapat menghasilkan kestabilan nasional yang wajar. Hal
itu mungkin terjadi, jika kita berusaha mengerti kemudian memahami mistik,
lebih-lebih jika sudah mengalami pengalaman mistis. Tapi sayangnya hal itu
tidak mungkin secara umum bertingkat nasional, tetapi orang per orang .
Sekalipun demikian, marilah kita sendiri-sendiri berusaha ke arah itu. Insya
Allah!

      ITULAH pengertian mengenai mistik dan kebatinan, agar menjadi jelas
didalam mempergunakannya. Di Indonesia pernah terjadi “ilham dan wangsit
atau wisikan” untuk menjadi Presiden, tetapi akhirnya “calon Presidennya”
masuk penjara. Nah yang demikian itu membuktikan adanya yang katanya
inspirasi atau dengan sebutan lain seperti wangsit, ilham, wisikan, malah
ada yang mengatakan dapat wahyu; tetapi kalau kita teliti secara spiritual
mistis, ternyata bukan wahyu dalam Kitab-Kitab Suci berbagai agama,
melainkan dari mahkluk gaib lain yang tujuan akhirnya menjerumuskan manusia
ke lembah kesulitan saja!
Sekarang menjadi jelas, bahwa inspirasi agama di Indonesia ini, lebih-lebih
menjadi “inspirasi dari Tuhan”, dan ini biasanya hanya mungkin dialami oleh
pribadi seorang mistikus. Dan mistikus seperti itu, biasanya pula tidak
menggembar-gemborkan inspirasinya!
Perlu pula diketahui bahwa mistikawan bersumber dari berbagai agama yang
berbeda, tetapi hasilnya senantiasa sama.

      Oleh karena demikian, dalam diskusi panel ini sumber inspirasi menjadi
dua: yang pertama dari Kitab-Kitab Suci semua agama dan sumber kedua dari
para mistikawan.


Hasil galian inspirasi agama dan mistikawan

     Jika kita mempergunakan inspirasi agama hanya menurut agama tertentu
saja, sangat dikuatirkan akan timbulnya hasil yang bisa menimbulkan
perbedaan-perbedaan yang tajam, karena tidak bisa jernih disebabkan
dogma-ritual agama.
Maka dalam menggali inspirasi agama, saya lebih berusaha dari dimensi
mendalam yang hasilnya pasti tidak akan berbeda antara agama apapun juga.
Secara rasional bisa kita gunakan gagasan Schumacher seperti tulisan saya di
bawah ini yang saya kutip dari majalah “MAWAS DIRI”, edisi Juli 1980 sbb.:

GAGASAN SCHUMACHER
Pro dan kontra isi buku “Small is Beautiful” karangan E.F.Schumacher  (EFS)
cukup menarik. Tetapi diluar dugaan penulis, EFS juga menulis buku berjudul
“A Guide for The Perplexed (Pedoman bagi yang ragu-ragu)
Tertarik karena isinya adalah reaksi terhadap materialisme yang dihasilkan
oleh kapitalisme di negara-negara barat.
Karena isi buku tsb. dapat kita pergunakan untuk kepentingan mawas-diri,
baik untuk pribadi, kelompok maupun suatu bangsa, maka penulis
mempergunakannya sebagai alat untuk isi karangan ini.

 Benda, flora-fauna & manusia
Dalam bukunya tsb., EFS membuat rumusan sbb:

-mineral (benda) hanya benda
-flora (tanaman) adalah benda ditambah kehidupan (life)
-fauna (binatang) adalah benda ditambah kehidupan ditambah kesadaran
(conciousness); dan
-manusia adalah benda plus kehidupan plus kesadaran plus kesadaran mandiri
(selfawareness)

Pendapat EFS tsb. bukanlah hal baru bagi bangsa  Indonesia yang telah sejak
jaman kuno sudah memiliki pujangga-pujangga kelas berat. Tetapi perumusan
dan keterangan EFS lebih enak untuk dicernakan.
Penjelasannya sbb;
Benda, flora, fauna dan manusia adalah “tingkat adanya” (levels of being).
Tingkat adanya tsb. dimensi vertikal, artinya benda sehingga manusia berbeda
tingkat dan berbeda akibat di bidang power, kekuasaan. Benda bisa dibuat
oleh manusia, tetapi kehidupan, kesadaran dan kesadaran-mandiri tidak
mungkin bisa diciptakan oleh manusia sebagai manusia.
    Yang perlu dijelaskan adalah perbedaan antara kesadaran dengan
kesadaran-mandiri. EFS membedakan kesadaran adalah kesadaran-biasa;
sedangkan kesadaran-mandiri adalah kesadaran tentang adanya kesadaran itu
sendiri. Manusia tidak hanya berpikir, tetapi sadar bahwa manusia itu
berpikir.

Apa perlunya mengemukakan pengertian tsb. di atas? Tidak lain untuk
mawasdiri dan mencari jawaban atas pertanyaan: “Apakah manusia dewasa ini di
dunia masih berusaha untuk naik atau menaikkan dirinya dalam rangka dimensi
vertikal tsb di atas?”
Penulis sependapat dengan EFS yang menyatakan manusia kehilangan dimensi
vertikalnya (the loss of the vertical dimension). Dalam kehilangan dimensi
vertikal tsb., manusia sulit untuk menjawab pertanyaan:”Apakah yang paling
tepat yang harus kukerjakan dalam hidup ini?”

Apakah yang harus kukerjakan dalam hidup ini?
Pertanyaan tsb. mudah  dijawab, jika kita ingin mengenakkan diri sendiri
saja.Tetapi penulis ingin mencoba bersama-sama dengan pembaca, menjawab
pertanyaan tsb. berpedoman kepada dimensi vertikal yang dimaksud dalam
tulisan ini.
    Jika kita mempergunakan dimensi vertikal tsb., maka manusia di dunia
kapitalis dan komunis (sekalipun tidak semua!) berada ditingkat yang paling
rendah yaitu tingkat benda/kebendaan.Yang paling dominan/menguasai alam
pikiran dan perasaan disana adalah kebendaaan/benda saja.
Memang dalam keadaan yang demikian, teknologi mencapai tingkat yang sangat
tinggi, tetapi juga sekaligus kadar manusiawi makin turun ke tingkat yang
paling rendah. Dan kita melihat akibatnya dewasa ini: krisis kejiwaan yang
membawa akibat sangat luas dan sangat dalam yang mengambil wujud hubungan
antar manusia, antar kelompok, antar bangsa, tegang terus menerus.
Dengan demikian manusia tidak utuh lagi! Manusia hanya tampil dalam tingkat
yang paling rendah. Lalu bagaimanakah manusia utuh? Salah satu ciri manusia
utuh adalah usahanya untuk terus menerus berusaha mencapai tingkat yang
lebih tinggi dalam hierakhi dimensi vertikal.

Bermawasdiri dalam pembangunan fisik
Uraian singkat tentang dimensi vertijal, kurang bermanfaat jika kita tidak
mencoba mempergunakannya untuk mawasdiri bangsa kita sendiri.
    PANCASILA menolak falsafah materialisme. Pancasila yang sudah ada sejak
pra Orde Lama maupun pra Orde Baru adalah falsafah yang utuh, yang lengkap,
yang memiliki dalam dirinya:dimensi vertikal. Pemimpin-pemimpin bangsa kita,
baik yang berkaliber besar maupun sedang dan kecil, semuanya merasa
Pancasilais, baik yang duduk dalam pemerintahan maupun yang diluar
pemerintahan. Semua mengatakan berjoang untuk kepentingan
rakyat.Kenyataannya memang ada yang berjoang untuk rakyat, tetapi ada juga
yang berjoang untuk dirinya sendiri.. Bahkan ada yang mengatasnamakan
Pancasila dan rakyat untuk kepentingan diri sendiri.
Sampai dimanakah mereka dalam dimensi vertikal? Jawaban atas pertanyaan ini
akan banyak mempengaruhi bicara dan tindak-laku mereka.
    Menurut pendapat penulis pembangunan fisik di Indonesia terlampau cepat
sehingga sangat dikhuatirkan, bangsa kita akan kehilangan dimensi
vertikalnya yang sudah mantap tercermin dalam Pancasila. Memang benar bahwa
pembangunan fisik adalah penting; tetapi janganlah sampai hanya kebendaan
saja yang difokuskan dalam pembangunan; tapi juga sudut dalam kemanusiaan
yang terwujud dalam demokrasi, di bidang politik, ekonomi, pendidikan dan
kebudayaan.
Pembangunan fisik yang terlampau cepat disertai pengurangan hak manusia
untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam dimensi vertikal, akan
menimbulkan akibat yang sangat jauh, merusak citra manusia Indonesia
seutuhnya berdasarkan Pancasila yang utuh pula! Hal itu, tidak hanya penulis
tujukan kepada pemimpin-pemimpin yang duduk dalam pemerintahan saja, tetapi
juga kepada semua pemimpin, termasuk pemimpin yang berada diluar
pemerintahan (baik sudah mantap maupun yang masih mengambang); baik yang ada
di GOLKAR, Parpol, mahasiswa, wanita, pemuda maupun yang hanya di lingkungan
RT atau RW/RK saja.

Sudut-sudut pertanyaan yang mana? Pembentukan sikap yang matang

Mungkin juga bermanfaat untuk melihat diri sendiri berdasarkan pendapat EFS,
karena hasilnya akan berpengaruh terhadap pembentukan sikap terhadap kawan
maupun lawan.
Dalam bukunya “A Guide for The Perplexed, EFS menyatakan adanya “empat
laapngan pengetahuan tentang aku (the four fields of I)”. Dan empat
pengetahuan itu adalah jawaban atas empat buah pertanyaan sbb:
1. Apakah yang sebenarnya terjadi dalam dunia batinku?
2. Apakah yang terjadi dalam dunia batin mahkluk-mhkluk/manusia-manusia
lain?
3. Bagaimana aku dilihat oleh mahkluk/manusia lain?
4. Apakah yang sebenar-benarnya aku amati (observe) di sekelilingku?
Empat pertanyaan tsb. dapat kita jadikan alat pula untuk bermawasdiri.
Mungkin untuk keperluan yang praktis, pertanyaan pokok tsb., penulis
sederhanakan menjadi:
1. Bagaimana pendapat dan perasaanku tentang seseorang atau sesuatu?
2. Bagaimana pendapat dan perasaanmu tentang seseorang atau sesuatu?
3. Bagaimna rupaku di mata mahkluk/manusia lain?
4. Bagaimana rupamu di mataku?
Daftar pertanyaan dapat dikembangkan meluas dan mendalam atas dasar empat
pertanyaan pokok tsb.. Bisa menjadi semakin banyak dan mutunya semakin
meningkat atau menurun. Dan hal ini banyak dipengaruhi oleh  penanya di
tingkat mana dia berada dalam dimensi vertikal.
    Jawaban-jawaban atas berbagai pertanyaan tsb., akan membentuk sikap yang
matang dan bertanggungjawab, apapun akibatnya. Jika kita pergunakan
pertanyaan-pertanyaan itu untuk kepentingan nasional (berarti juga untuk
kepentingan rakyat), maka dalam pembangunan dewasa ini ada sesuatu yang
belum benar seperri pembangunan fisik yang terlampau cepat sehingga
terjadi/tumbuh nilai-nilai pandangan yang hanya ditujukan semata-mata kepada
kebendaan, nilai-nilai yang membawa rakyat kita ke cita-cita hedonisme
dengan akibat samping yang parah:korupsi dan penyalahgunaan kedudukan untuk
kepentingan kebendaan saja.
Mungkin sekali bahwa masalah tsb.bukan hanya masalah rasio semata, tetapi
juga masalah perasaan. Mungkin pula sudah waktunya, bagi semua pemimpin
untuk meningkatkan mutu/nilai mawasdirinya, karena pertanyaan sahabat Nabi
Muhammad s.a.w., ALI:”Apakah yang kau lakukan untuk tidak membuang-buang
waktu?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.:”Belajarlah untuk memperoleh pengetahuan
tentang dirimu sendiri!”  Oleh kaeena itu, sediakanlah waktu, Insya Allah,
bermanfaat!

Demikianlah kutipan gagasan EFS beserta pendapat saya seperti yang saya
tulis dalam majalah “MAWAS DIRI”.



    Sebagai ujung perjalanan “Menggali Inspirasi Agama dalam Pembangunan
Indonesia, saya berkesimpulan bahwa berdasar dua sumber inspirasi yang saya
sampaikan dalam diskusi panel ini: yang penting adalah penemuan dalam Agama
dan mistikawan, yang mempunyai nilai universal (dus juga berlaku untuk
Indonesia), yaitu yang paling cocok untuk suatu masyarakat bangsa, yang
sebaik-baiknya adalah sosialisme religius. Untuk Indonesia ada sesuatu yang
sangat berharga sekali yaitu PANCASILA. Sehingga berdasarkan inspirasi Agama
apapun maupun dari Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Mahaesa apa saja
(asal termasuk mistisisme), hasil galiannya adalah: sistim terbaik untuk
menjadi guide to action pembangunan di Indonesia adalah sosialisme religius
berdasarkan Pancasila.

Hal atau pendapat/penemuan tsb b u k a n hasil pemikiran politik, tetapi
memang perwujudannya dapat menjadi masalah politik. Dan kita tidak perlu
politik-phobie, karena phobi-phobian hanya menghambat berpikir dan
berperasaan kreatif. Tentu dalam rangka pengabdian kepada manusia di bumi.
Hal itu dapat kita kaitkan dengan hasil lain dari inspirasi Agama dan para
mistikawan, yaitu apa yang disebut whollistic approach, pendekatan
holisitik,
Ini berarti dipergunakannya s e m u a ilmupengetahuan untuk pembangunan
secara utuh dan bersama-sama sekaligus.
Pada hakekatnya yang disebut spesialisasi adalah pengkotakan-pengkotakan
sehingga mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Itu adalah pendekatan parsial
(partial approach). Hasil galian juga menjadi: Masalah pembangunan wajib
dibahas pada saat/waktu yang sama oleh s e m u a ilmu pengetahuan sekaligus
di meja yang sama. Mungkin ada yang bertanya:”apakah itu mungkin?”
 Jawabnya:” Soal mau atau tidak mau. Kalau mau, pasti bisa!”
Hasil galian lain adalah: bahwa manusia konsumtif yang berdasarkan Marxisme
sebagai derivasi kebutuhan biologis dan Kapitalisme dari sudut kebebasan
individual, ditingkatkan menjadi  manusia kreatif sebagai derivasi
penggunaan kemampuan spiritual. Inspirasi tertinggi yang sesungguhnya adalah
k a s I h  s a y a n g terhadap sesama manusia.Perwujudan inspirasi tsb.
adalah c I n t a, g u n a dan k e i n d a h a n.
Hal itu dapat dilihat dari adanya logika, etika dan estetika. Jadi landasan
pembangunan adalah kasih sayang tsb. Dan ketiga-tiganya tidak
dipisah-pisahkan tetapi wajib merupakan satu kesatuan yang utuh.

P E N U T U P
Makalah ini dibuat sesingkat-singkatnya, tetapi toh masih bisa dikatakan
panjang juga. Oleh karena masalahnya adalah masalah yang luas dan dalam,
maka tidaklah mungkin untuk dalam satu makalah bisa tuntas. Oleh karena itu
pulalah, saya mengharapkanmakalah-makalah panelis lain akan lebih
membulatkan hasil diskusi panel ini. Juga tentunya, diharapkan dari peserta
diskusi ini untuk urun pendapat sehingga hasilnya akan lebih baik lagi.

Sebagai akhir penutup, ijinkanlah saya membawakan puisi dari buku “Book of
Sacred revelation/Kitab Pembabaran Suci” yang diterjemahkan oleh nyonya SKD
Bambang Supeno.

I L H A M
APAKAH ITU?
“Aku punya dua suara,” Dia bersabda
“Suara sunyi
Dan suara berbunyi,
Dan semua manusia yang Aku cipta,
Menangkap getaran bunyi atau yang sunyi, atau keduanya.

Seorang mengenal suaraKu dalam desir angin.
Dalam gelegar guntur, dalam buaian lagu,
Orang  lain mendengar suaraKu di celah bisikan bunga-bunga,
Dalam irama pemandangan menghimbau gunung-gunung.

Ada yang merasa ilhamKu;
Dia melonjaki sisi gunung menuju puncaknya, tanpa letih di perjalanan.
Ada yang buta dan tuli terhadap ilhamKu;
Dia merangkak ke atas gunung dengan susah payah, tanpa senyum di perjalanan.

Manusia yang jernih dalam jiwa, di dalam raga,
Menangkap ilhamKu,
Dengan kepekaan yang tajamnya
Sebanding dengan kejernihannya.

Dan jika suci murni ia
Dia bentuklah cahayaKu dalam ujud nyata kata-kata.
Yang Kuajari manusia menyebutnya:
SabdaKu terbakar…….

Namun tiada manusia jasmani Kuciptakan sempurna,
Ytiada manusia berkesanggupan membakar sabdaKu secara sempurna.
Tetapi kuciptakan jalan terbuka untuk semua
Yang mendambakan terbukanya rahasia adaKu

Manusia yang rindu menghampiri kesempurnaan diri,
Kuhampiri dengan pendekatan setimpal;
Padanya Kuungkapkan kehadiranKu,
Serta pembabaran kata-kataKu
Manusia yang tiada sempurna sebagai manusia,
Tiada merasakan kehadiran ilhamKu dalam pancaindranya.

Manusia yang rindu menghampiri kesempurnaan diri,
Kuhampiri dengan pendekatan setimpal;
Padanya Kuungkapkan kehadiranKu
Serta pembabaran kata-kataKu
Manusia yang tiada sempurna sebagai manusia,
Tiada nerasakan kehadiran ilhamKu dalam pancaindranya.

Kemnusiaan sempurna Aku mungkinkan,
Dalam keseimbangan tepat antara rasa rohani dan akal jasmani,
Akal jasmani perkasa, dibandingkan dengan akal rohani merana,
Menjauhkan manusia dari kehadiranKu
Membuat berpalingnya dari padaKu, tak setia.
Dia ini mengingkari ilhamKu dan sabda para MalaikatKu
Dia tiada melebihi pohon dalam rimba
Yang berbatang bercabang-cabang
Namun tiada beranjak dari tempatnya.


Terima kasih saya sampaikan kepada panitia penyelenggara diskusi panel Unika
Atma Jaya dan seluruh peserta.
==========
foto-artikel-puisi-cerpen di:
http://www.freewebs.com/kidyoti



akumatidibumiini
akuhidupdialamsunyi



akumatidibumiini
akuhidupdialamsunyi




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke