Media Indonesia
Senin, 04 Oktober 2004

OPINI



Komunisme dan Militerisme

Ashadi Siregar, Direktur Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerbitan 
Yogyakarta (LP3Y)

TADINYA menjelang bulan Oktober, semua stasiun televisi Indonesia 
menayangkan film (Pengkhianatan) G-30-S/PKI. Dengan berakhirnya rezim Orde 
Baru, hilang pula satu ritual politik melalui layar kaca. Sebagai teks media 
(istilah untuk informasi sebagai produk kultural), wacana film mengenai 
Partai Komunis Indonesia (PKI), bagi sebagian orang dipandang sebagai 
pendidikan politik mengenai bahaya komunisme.
Adapun fokus wacana antikomunisme hanya akan berfungsi jika ada pendidikan 
proideologi lain yang berbeda secara diametral. Dengan kata lain, ideologi 
lain (altern) menjadi lebih bermakna jika dihadapkan dengan wacana 
komunisme. Sebaliknya, pendidikan antikomunisme menjadi kontraproduktif 
manakala tanpa konteks kepada ideologi altern yang lebih unggul. Film 
G-30-S/PKI tidak menawarkan ideologi altern. Yang ada hanya rivalitas: 
militer vs militer, militer vs PKI, dan Soekarno yang diwacanakan 
mengambang.
Sedangkan (de)legitimasi berkaitan dengan keabsahan kekuasaan atau kebenaran 
tindakan penguasa negara dalam tujuan pragmatis. Penggambaran ketidakbenaran 
tindakan suatu kelompok politik, menjadi dasar kebenaran tindakan politik 
pihak lainnya, ini biasa dalam rivalitas politik. Soeharto mengambil 
kemanfaatan dari kekaburan demarkasi, sebab kekuasaannya menjadi sumber 
kebenaran atas kawan dan lawan.
Menggabungkan wacana ideologis dengan tujuan politik pragmatis menjadikan 
film G-30-S/PKI mengandung banyak ruang bolong yang menyimpan pertanyaan 
terbuka. Padahal sesuai kaidah film propaganda, tidak boleh membuka ruang 
yang menisbikan wacana. Teks propaganda harus bersifat dimensi tunggal (one 
dimensional). Apakah Arifin C Noer (almarhum) bersengaja menciptakan tanda 
yang dapat menjadi lubang akademis di film yang disutradarainya itu? 
Pembuatan film ini di bawah pengawasan yang ketat dari militer yaitu Nugroho 
Notosusanto dan G Dwipayana, keduanya orang kepercayaan Presiden Soeharto di 
bidang sejarah dan media massa.
***
Kalau masih ingat adegan-adegan kunci penggambaran PKI dalam film 
G-30-S/PKI, tampak dua ciri pemeranan, pertama adalah orang sipil yang 
nervous, dan kedua adalah perwira militer yang terlihat cool. Orang sipil 
itu dikonstruksikan sebagai PKI. Sedang yang militer adalah yang terkena 
pengaruh PKI. Tetapi apa wacana ini tidak bisa dibalik? Bagaimana bisa 
militer yang dicitrakan sebagai sosok yang berdisiplin dan tangguh, dapat 
dipengaruhi sejumlah orang sipil yang terkesan senewen?
Fokus penting dari film G-30-S/PKI adalah rangkaian adegan (sequence) 
penculikan dan pembunuhan para jenderal (dan seorang perwira pertama yang 
salah sasaran). Seluruh wacana dapat dikembalikan ke sekuel yang dikreasi 
Arifin dalam film itu. Secara eksplisit, penculikan dan penembakan dilakukan 
oleh militer, dan secara asosiatif melalui close-up atas badge-nya adalah 
pasukan elite kepresidenan Cakrabirawa. Bagaimana menjelaskan ke-PKI-an 
anggota pasukan ini? Dengan nalar sederhana sebenarnya dapat dikembangkan 
dekonstruksi terhadap wacana yang dibangun rezim Orde Baru. Yaitu: mengapa 
pengusutan seluruh mata rantai kasus ini tidak dimulai dari pelaku anggota 
pasukan penculik itu? Dari mana asal kesatuannya, bagaimana perekrutannya 
menjadi pasukan elite itu, dan siapa komandan langsungnya. Dengan 
penyelidikan secara bertingkat ke atas (induktif), baru dapat tiba pada 
kesimpulan hubungan militer dan PKI. Tetapi ini tidak dilakukan Soeharto 
sebagai pelaksana pemulihan keamanan, sebab dia mengambil langkah deduksi, 
dengan mengajukan ke Mahmillub sejumlah tokoh untuk pembenaran wacana 
tentang pemberontakan PKI. Catatan Yap Thian Hien dan rekan-rekannya selaku 
pembela para terdakwa dapat dibuka ulang untuk memahami langkah sengaja 
salah dari pengadilan dengan metode deduksi ini.
Bertahun-tahun khalayak dicekoki dengan "legenda" tentang penyiksaan oleh 
pasukan paramiliter PKI yang ada di Lubang Buaya. Tetapi secara berangsur 
muncul wacana bahwa para jenderal meninggal akibat tembakan regu penculik. 
Di film G-30-S/PKI digambarkan bekas-bekas darah di lantai dan dinding rumah 
para jenderal berasal dari percikan luka tembak.
***
Gambaran ke-PKI-an dalam film G-30-S/PKI tidak berhasil melahirkan wacana 
antikomunisme sebagai makna publik (public meaning) tentang apa yang 
dianggap sebagai kebenaran. Tujuan utama yang berhasil adalah delegitimasi 
Soekarno dan legitimasi kekuasaan Soeharto. Legitimasi kekuasaan Soeharto 
terkesan lama, lebih 30 tahun sebab kebenarannya dipercaya. Tetapi sebagai 
hasil dari media propaganda dengan kekuatan hegemoni, daya tahan kebenaran 
itu pada hakikatnya dibatasi oleh kekuasaan kalah atau menang. Ini yang 
membedakannya dengan kebenaran yang berasal dari sintesis antara realitas 
dan rasionalitas.
Makna realitas dan rasionalitas tidak dapat dimusnahkan, kendati suatu 
kekuasaan dapat meredamnya sementara. Realitas dapat disembunyikan, dan 
rasionalitas dapat dihegemoni oleh kekuasaan. Tetapi dalam perjalanan waktu, 
terutama manakala kekuasaan kalah, makna ini akan muncul. Inilah yang 
memelihara peradaban manusia, kendati dalam sejarah selalu ada kekuatan 
perusak (demon) silih berganti berkuasa di seantero dunia.
Karenanya saat berpolitik, seseorang akan dihadapkan dengan pilihan: apakah 
kekuasaan demi kepentingan pragmatis, ataukah kekuasaan dalam konteks 
kultural. Sintesis realitas dan rasionalitas merupakan inti peradaban 
(civility) manusia, sebagai dasar dalam kehidupan negara (civil state) 
maupun masyarakat (civil society). Adab yang mendasari kehidupan warga dalam 
konteks negara maupun masyarakat, tidak dapat dibentuk melalui propaganda, 
melainkan melalui proses panjang dalam pendidikan kewarganegaraan dalam 
menghayati nilai-nilai kultural.
Dari sinilah arti penting kebebasan pers, yaitu ruang publik (public-sphere) 
yang berdasarkan acuan nilai bersama (shared values) yang menghargai hak 
warga untuk mengetahui masalah publik dan hak warga untuk mengekspresikan 
kepentingan dan aspirasinya di ruang publik. Untuk mewujudkannya secara 
imperatif diperlukan adanya pers (media) bebas. Jadi pers bebas hanya 
mungkin terwujud jika ada shared values mengenai hak publik.
Media film dalam tuntutan kaidah sinematografi, sarat dengan tanda dalam 
representasi makna. Sebagai media propaganda, film G-30-S/PKI dalam rentang 
waktu tertentu berhasil memonopoli makna publik guna menyangga kekuasaan. 
Tetapi banyak tanda dalam film yang dapat ditafsirkan ulang dalam menangkap 
wacana. Penggambaran pasukan militer menculik dan menembak atasannya, 
memberikan wacana betapa berbahayanya jika militer ikut berpolitik.
Kalau sekarang di berbagai tempat terpasang spanduk besar berbunyi: 'Waspada 
bahaya laten komunisme', apa maknanya? Teks intimidatif berupa slogan hanya 
akan efektif dalam masyarakat yang tertutup dengan media yang didominasi 
oleh penguasa negara. Saat ini, ideologi komunisme sama tidak populernya 
dengan militerisme, karena keduanya berorientasi totalitarian di ruang 
publik. Karenanya menjadi tugas siapa saja, termasuk kaum militer juga, 
sebagai bagian civil state dan civil society untuk ikut dalam sosialisasi 
gerakan antimiliterisme. *** 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke