From:   "Siti Latifah" <[EMAIL PROTECTED]>  
To:     "Ari Ams (E-mail)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Agus.
Sumarna (E-mail)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Dooria
K. T." <[EMAIL PROTECTED]>, "AGS-HO) Fitri
Wiyanto (Sisdur (E-mail)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Achyar
Najib" <[EMAIL PROTECTED]>,.......
Subject: Tarbiyah Masa Kecil Para Salaf
 

TAQDIM

Tarbiyatul aulad adalah tanggung jawab setiap orang
tua. Dari sinilah kelak akan terbentuk baiknya sebuah
keluarga yang terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak,
sebuah keluarga yang dahulunya pernah menjadi
anak-anak. Dari sini pula kelak akan terbentuk baiknya
sebuah umat atau masyarakat.

Akan tetapi bagaimanakah sesungguhnya model tarbiyah
(pendidikan) anak-anak hingga bisa melahirkan generasi
penerus yang handal itu ?

Islam telah mempunyai konsepnya sendiri, dipimpin
langsung oleh Murabbi terbesar Nabi Muhammad
shallallaahu'alaihi wa sallam, Nabi yang diutus untuk
mendidik serta membimbing para bapak, para ibu dan
para anak agar terjamin kebahagiaan hidupnya di dunia
maupun di akhirat. Kemudian sepeninggal
beliau, jejaknya diteruskan oleh tokoh-tokoh salaful
ummah, begitulah seterusnya hingga Islam akan tetap
abadi dan utuh sampai hari ini dan sampai hari kiamat,
dibawa oleh Tha'ifah al-Manshurah sekalipun kerusakan
dunia akibat ulah manusia semakin dahsyat.

Tulisan di bawah ini merupakan upaya untuk menyingkap
bagaimana tarbiyah masa kecil kaum salaf untuk
kemudian bisa dijadikan acuan untuk mendidik anak-anak
dewasa ini. Sebab apa yang pernah dijalankan oleh
generasi salaf merupakan uswah serta suri tauladan
terbaik bagi umat Islam, apalagi yang
pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu'alaihi
wa sallam jelas merupakan kebenaran mutlak.

Ingatlah nasehat Imam Malik rahimahullah :

"Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali
dengan apa yang telah membuat baik pada generasi awal
umat ini."

Selanjutnya ingat pula pesan Rasulullah
shallallaahu'alaihi wa sallam :
"Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah terhadap
(hak) anak- anakmu." ...(Muttafaqqun'alaih )

Perlu dicatat bahwa tulisan ini hanya mengambil
beberapa contoh dan beberapa sisi yang pernah
dijalankan sejak masa kecil oleh kaum salaf. Tulisan
ini dengan segala catatan maraji' yang ada, dinukil
dan diringkas dari kita Manhaj at-Tarbiyah
an-Nabawiyah li ath-Thifli karya Muhammad Nur bin
Abdul Hafizh Suwaid.

Sebagai pendorong semangat, kita nukil apa yang
dikatakan oleh Abu 'Ashim :

"Saya pergi bersama anak saya yang berumur kurang dari
3 tahun kepada Ibnu Juraji supaya beliau  menceritakan
kepada anak saya ini tentang hadits dan al-Qur'an."

Beliau berkata lagi : "Tidak mengapa anak seumur itu
untuk diajari al-Qur'an dan al-Hadits."
( Lihat Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyah lil ath-Thifli
hal. 113 )



PEMBINAAN MASA KANAK-KANAK GENERASI SALAF

Berkenaan dengan pembangunan masa kanak-kanak, ada
beberapa contoh nyata
yang pernah dijalani oleh para ulama salaf :



1. Tentang Penanaman Kalimat Tauhid

Dalam sejarah telah tercatat bahwa anak kecil pertama
yang masuk Islam adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika itu
umur beliau radhiyallaahu'anhu belum genap 10 tahun,
tetapi begitulah Nabi shallallaahu'alaihi wa sallam
sebagai murabbi terbesar, pemimpin sekaligus suri
tauladan umat, telah meletakkan satu uswah dalam dunia
pendidikan, beliau ajak Ali bin Abi Thalib kecil untuk
beriman kepada risalah yang beliau bawa, risalah
tauhid ( Laa ilaaha illallaah muhammadur rasuulullah
). Maka berimanlah Ali radhiyallaahu'anhu, bahkan
dengan rajinnya beliau mengikuti Nabi untuk
melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di
lorong-lorong kota Mekah.

Disamping itu, ada lagi satu kisah menarik yang
diriwayatkan oleh Ibnu Dzufr al-Makky dalam kitabnya
Anba' Najba'i al-Anba', tentang seorang anak kecil
yang suka mengulang-ulang kalimat syahadatain, bernama
(Abu Sulaiman) Dawud bin Nushair ath-Tha'I
rahimahullah. Ketika beliau masih berusia 5 tahun,
oleh bapaknya sudah diserahkan kepada seorang
pendidik. Mulailah ia diajarkan untuk menghafal dan
memahami al-Qur'an.

Setelah ia mempelajari dan menghafal surat al-Insan,
suatu kali di hari jum'at, ibunya memergokinya sedang
memandangi dinding seraya menunjuk- nunjuk ke arah
dinding tersebut. Ibunya takut kalau pikiran anaknya
berubah, maka ditegurlah ia oleh ibunya : "Hai Dawud,
pergilah sana bermain bersama anak-anak." Tetapi ia
tidak menjawab. Maka ibunya pun menjadi histeris, lalu
berkatalah beliau : "Wahai ibu mengapa anda ?" Ibunya
menjawab : "Kemanakah pikiranmu ?" Ia menjawab : "Di
Surga." Ibunya bertanya lagi :

"Apakah yang sedang mereka kerjakan ?" Ia menjawab
dengan cara membacakan ayat :

"Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan,
mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari
dan tidak pula dingin yang bersangatan." ( al-Insan :
13 )

Kemudian ia baca pula ayat-ayat seterusnya sambil
seolah-olah mengangankan sesuatu, hingga akhirnya
sampai pada firman Allah :

"Dan adalah usahamu disyukuri (diberi balasan)."
(al-Insan : 22 )

Kemudian ia bertanya : "Hai ibu, apakah usaha mereka
itu ?" Ibunya tidak mampu memberi jawaban, hingga
berkatalah ia : "Tinggalkanlah aku Bu... supaya aku
bisa merenungkan diri sesaat bersama mereka." Maka
bangunlah ibunya, dan menyerahkan persoalan Dawud
kepada bapaknya seraya memberitahukan keadaan serta
pertanyaan anaknya. Maka bapaknya berkata : "Hai
Dawud, usaha mereka adalah mengucapkan : "Laa ilaaha
illallaah muhammadur rasuulullaah."

Sejak itu beliau (Dawud bin Nushair ath-Tha'i)
rahimahullah selalu mengulang-ulang kalimat
syahadatain tersebut.


2. Tentang Penanaman rasa cinta kepada Allah, rasa
bergantung serta tawakkal kepada-Nya dan kepada
taqdir-Nya

Ada sebuah riwayat, dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi,
dari Ibnu Abbas radhiyallaahu'anhuma :

"Suatu hari aku pernah berada di belakang Nabi
shallallaahu'alaihi wa sallam lalu beliau bersabda :
'Hai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa
kalimat (artinya): Jagalah Allah, niscaya Dia akan
menjagamu, Jagalah Allah niscaya kamu dapati Dia ada
di hadapanmu, bila kamu meminta, mintalah kepada
Allah, dan bila kamu minta pertolongan, mintalah
pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah bahwa umat, seandainya mereka bersepakat
untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, niscaya mereka
tidak akan dapat memberimu manfaat apa- apa kecuali
dengan apa yang telah Allah taqdirkan buatmu, dan
seandainya mereka bersepakat untuk mencelakakanmu
dengan sesuatu, niscaya mereka tidak
dapat mencelakakanmu sedikitpun kecuali dengan apa
yang Allah telah taqdirkan atasmu, pena-pena telah
terangkat, dan lembar tuliasan pun telah kering.'


3. Tentang Penanaman rasa cinta kepada Nabi
shallallaahu'alaihi wa sallam

Banyak sekali contoh yang diberikan Nabi
shallallaahu'alaihi wa sallam tentang bagaimana
menanamkan rasa cinta kepada beliau, diantaranya :

- Kisah masuk Islamnya Ali bin Abi Thalib, membuktikan
hal itu

- Imam Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim telah
mengeluarkan:

Dari Tsabit dari Anas radhiyallaahu'anhu (Anas waktu
itu adalah anak yang berumur kurang lebih 10 tahun),
ia berkata : "Telah datang kepadaku Rasulullah
shallallaahu'alaihi wa sallam ketika aku sedang
bermain bersama anak-anak, maka Nabi menyalami kami,
kemudian mengutusku untuk keperluan
yang beliau butuhkan ..."

Begitulah Anas bin Malik yang telah tertanam rasa
cinta di dalam jiwanya kepada Rasulullah
shallallaahu'alaihi wa sallam, padahal dia masih
berumur 10 tahun, ia rela meninggalkan kesenangannya
bermain bersama teman- teman sebayanya demi
melaksanakan apa yang diminta oleh Rasulullah
shallallaahu'alaihi wa sallam.

KEIKUTSERTAAN ANAK-ANAK DALAM PERANG MELAWAN MUSUH
ALLAH :

membuktikan kecintaan mereka terhadap Nabi-nya.

Dalam sebuah riwayat Bukhari dari Abdurrahman bin 'Auf
radhiyallaahu'anhu beliau menceritakan ketika beliau
sedang berada di tengah kecamuknya perang Badar beliau
berkata :

"Ada seorang anak kecil berdiri di sisi kananku
bertanya : "Hai paman, tunjukkan aku, mana Abu Jahal
?" Beliau balas bertanya : "Mau apa kamu dengan Abu
Jahal wahai anakku ?". Ia (anak kecil itu)
berkata : "Wallaahi, bila aku melihatnya aku tidak
akan melepaskannya, dia adalah orang yang suka
menyakiti Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam ".

Kemudian ada lagi seorang anak kecil di sebelah kiri
juga bertanya seperti yang ditanyakan anak kecil yang
pertama. Setelah itu terjadi peperangan sengit dan
seru. Lalu Abdurrahman bin 'Auf menoleh kepada kedua
anak kecil ini seraya berkata : "Itulah dia orang yang
sedang kalian cari, itulah Abu Jahal".

Maka kedua anak kecil ini pun melompat dengan cepat
dengan cepat membawa pedang kecil masing-masing,
keduanya berpacu, berebut dahulu untuk menikam musuh
Allah dan Rasul-Nya, lalu keduanya sama-sama
mengayunkan senjatanya dengan kuat ke arah Abu Jahal,
maka jatuhlah Abu Jahal tersungkur di
tanah (untuk tidak bangun lagi). Selanjutnya kedua
anak ini berlomba memberi kabar kepada Rasulullah
shallallaahu'alaihi wa sallam seraya masing-masing
berkata : "Ya Rasulullah, saya-lah yang telah 
membunuhnya". Maka beliau bersabda kepada keduanya :
"Coba perlihatkan pedang kalian !".

Ternyata beliau melihat bekas darah pada kedua pedang
itu. Maka bersabdalah beliau : "Kalian bedua telah
membunuhnya ! ". (Hadits Riwayat Imam Bukhari)

Itulah bukti keberhasilan Nabi shallallaahu'alaihi wa
sallam mendidik anak-anak.



Dicopy dari tulisan Ustadz Ahmad Faiz Asifuddin,
semoga Allohu ta'ala selalu melindungi, mengasihi dan
menyayanginya.


=====

Leo Imanov 

Abdu-lLah
AllahsSlave






        
        
                
___________________________________________________________ALL-NEW Yahoo! Messenger - 
all new features - even more fun!  http://uk.messenger.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke