Mendengar Munir Melalui Ulil
Agama Harus Menjadi Maslahat bagi Manusia 

(Kompas, 6 Oktober 2004)

SEBULAN yang lalu, tepatnya Selasa 7 September 2004,
Indonesia kehilangan sosok pejuang hak-hak asasi
manusia yang integritas dan pengabdiannya sulit
ditandingi. Munir menghadap Sang Pencipta dalam
perjalanan udara menuju Amsterdam untuk keperluan
studi lanjut di Universitas Utrecht. Dalam situs
internetnya, Jaringan Islam Liberal menghubungkan nama
Munir dengan makna kata itu dalam bahasa Arab:
penerang. Paling tidak, 15 tahun terakhir dalam
hidupnya yang relatif pendek, ia jadi penerang bagi
orang-orang lemah dan dilemahkan, mereka yang diculik
rezim Orde Baru dan kemudian dinyatakan hilang, serta
mereka yang hak-hak asasinya dirampas. Seperti telah
kehilangan saraf takut, Munir tak pernah menyerah. Ia
tetap menyuarakan dan membela kepentingan mereka yang
lemah sekalipun harus berhadapan dengan pelbagai
ancaman.

DIREKTUR Proyek Asia Tenggara Grup Krisis
Internasional, Jakarta, Sydney Jones dalam kolomnya di
The Jakarta Post melukiskan Munir sebagai salah satu
tokoh penting yang menyeberangkan Indonesia dari
negara otoriter ke negara demokratis dan pejuang
hak-hak asasi manusia paling depan. Setiap orang yang
pernah berjumpa dengan Munir, menurut Jones, bakal
diyakinkan bahwa reformasi di Indonesia adalah hal
yang mungkin terjadi. "Setiap stereotip negatif
mengenai Indonesia akan sirna bila Anda ketemu dengan
Munir," tulis Jones. "Selalu ada harapan akan
perubahan nyata."

Direktur Program Imparsial Rachland Nashidik, sahabat
karibnya sekaligus rekan kerjanya di lembaga tersebut,
dalam kolomnya yang personal di harian ini
menggambarkan Munir sebagai tokoh besar dengan
reputasi internasional yang amat bersahaja. Baru
setahun yang lalu ia membeli mobil sederhana bekas
keluaran tahun 1970-an secara mencicil. Sebelumnya ia
mengendarai sepeda motor bebek menembus jalan macet
dari rumah kontrakannya di Bekasi menuju kantornya di
bilangan Diponegoro, Jakarta Pusat. Munir dikenal
sebagai orang yang amat jujur dan suka berbagi. Hadiah
ratusan juta rupiah dari Right Livelihood Award
sebagian besar disumbangkannya untuk Kontras. "Aku
minta sedikit saja biar aku bisa punya rumah sendiri
di Malang," katanya seperti dikutip Rachland.

Gambaran tentang laki-laki kelahiran Malang, 8
Desember 1965, ini yang tiba di ruang publik kurang
lebih demikian. Atribut yang paling dikenal khalayak
lekat pada dirinya adalah koordinator Kontras: Komisi
untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan. Inilah
organisasi nonpemerintah yang ia dirikan di akhir
pemerintahan Soeharto untuk mengampanyekan dan
memperjuangkan pembebasan puluhan aktivis prodemokrasi
yang diculik, kemudian sebagian besar hilang tak
berjejak bahkan hingga hari ini.

Wajah lain kehidupan Munir baru terungkap dua tahun
lalu ketika awal Agustus 2002 Jaringan Islam Liberal
mewawancarainya dengan tekanan pada bagaimana Islam
berperanan dalam pekerjaannya menegakkan hak-hak asasi
manusia dan memperjuangkan demokratisasi di Indonesia.
Semasa menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya,
Malang, ia memang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam.
Wawancara yang disajikan di situs internet Jaringan
Islam Liberal, www.islamlib.com, dan disiarkan sebuah
jaringan radio itu memaparkan bagaimana transformasi
radikal hidup keagamaannya menuntun Munir menjadi
penerang yang menembus sekat-sekat primordial,
pergulatan imannya, dan seputar falsafah hidupnya.

Ulil Abshar-Abdalla dari Jaringan Islam Liberal yang
bertindak sebagai pewawancara memungkinkan rekaman
yang hak ciptanya ada pada Jaringan Islam Liberal ini
disajikan dalam rubrik Bentara Kompas edisi Rabu, 6
Oktober 2004. Berikut petikannya.

MAS Munir, sebagai pejuang hak-hak asasi manusia, Anda
tentu memiliki pandangan yang menarik tentang
bagaimana Islam bermakna dalam profesi Anda. Dapatkah
Anda menceritakannya?

Saya kira begini. Dulu saya pernah mengikuti jalur
beragama ekstrem yang "radikal". Kurang lebih lima
tahun, antara tahun 1984-1989, isi tas saya tak pernah
kosong dari senjata tajam. Itu atas nama pertikaian
agama. Sebetulnya ketika saya berada dalam ruang
ekstremitas agama, ada semacam perasaan kehilangan
fungsi agama itu sendiri. Misalnya, saya
mempertanyakan: apakah benar Islam memerintahkan saya
menjadi sangat eksklusif dalam beragama dan atau
menutup diri dari komunitas lain? Pada masa itu mulai
ada pertentangan dalam diri saya: Islam itu untuk
Allah, untuk manusia, ataukah untuk membangun
masyarakat secara umum?

Dalam situasi tarik-menarik di masa itu saya menemukan
bahwa agama diturunkan untuk manusia. Saya setuju
dengan Gus Dur kalau Tuhan tidak memerlukan bodyguard
mengawal diriNya. Intinya, agama harus menjadi
maslahat bagi manusia. Sering kali kita bicara tentang
rahmat Islam untuk semesta, tapi kita tidak tahu
maknanya. Akhirnya, ekstremitas itu saya tinggalkan
karena saya tidak mungkin menjadi anggota komunitas
eksklusif. Karena Islam harus mendukung peradaban, ia
harus bekerja di wilayah-wilayah yang memang
memperbaiki kehidupan manusia. Agama dipergunakan
untuk memperbaiki kehidupan.

Sebaliknya, ekstremitas beragama hanya bisa
menghancurkan peradaban manusia. Intoleransi, apa pun
bentuknya, akan menghancurkan peradaban. Banyak orang
beranggapan bahwa mereka sedang membangun. Namun, yang
mereka bangun justru simbol-simbol yang menghancurkan
peradaban.

Pengalaman kehidupan Anda menarik bila dikaitkan
dengan banyak orang yang lebih menikmati hidup jadi
member of second community-entah agama entah kelompok
etnis-ketimbang menjadi orang Indonesia?

Saya kira bentuk-bentuk perbedaan itu kadang
melahirkan ekstremitas. Tidak hanya agama, tapi
kelompok etnis juga. Ekstremitas itu selalu saja
memutlakkan diri sendiri dan menafikan orang lain. Ini
kadang-kadang terjadi tidak hanya antaragama, tapi
juga antarfaksi berpikir dalam agama, yang antara lain
dapat kita baca dalam sejarah Indonesia: berapa banyak
darah tertumpah atas dasar perbedaan cara berpikir
faksi-faksi agama. Antigerakan tarekat, misalnya,
pengasingan orang dan pembunuhan, semua atas nama
ekstremitas. Dari situ hidup ini seolah-olah jadi
perang memperebutkan kapling di surga yang belum bisa
kita ukur entah berapa hektar. Ini yang jadi masalah.

Tadi Anda mengaku mengalami masa ekstremitas beragama,
lantas berubah. Pada titik mana terjadi perubahan itu?

Berubah ketika saya berhadapan dengan antitesis lain
yang saya kira juga cukup ekstrem. Yaitu,
mempertanyakan kembali apakah beragama itu urusan
kekuasaan? Nah, pertanyaan itu datang dari dosen saya
kala itu: Malik Fadjar yang kini (waktu itu- Red)
Menteri Pendidikan Nasional. Dia mengatakan, "Saya
tidak pernah mengetahui seorang pemuda sebodoh Anda ke
mana-mana membawa semangat berperang dengan instrumen
agama demi menguasai orang lain."

Menurut Malik, dia orang yang amat liberal. Baginya,
Islam itu amat liberal dan dapat menerima
perbedaan-perbedaan. Islam tak punya kewenangan ketika
tak bisa memberikan tempat bagi yang lain.

Nah, ungkapan bagi yang lain itu betul-betul antitesis
dari pikiran-pikiran mainstream di beberapa kelompok
yang waktu itu saya ikuti. Aliran ekstrem yang saya
ikuti ternyata tak memberikan ruang pada yang lain.
Anda shock ketika Malik Fadjar mengingatkan itu pada
Anda?

Saya shock sekali. Ini saya ingat betul karena saya
tak pernah berkeringat di kota Malang yang dingin,
kecuali oleh statement itu. Saya menemukan sesuatu
yang inspiring.

Kebetulan waktu itu saya aktif di Himpunan Mahasiswa
Islam dan Pak Malik mentor saya di HMI. Kritik Pak
Malik kedua mengatakan, "Kau pelajari deh, Islam yang
benar! Kalau kamu anak HMI, baca Nilai Identitas
Kader. Nah, dari situ evaluasi apakah benar HMI untuk
perang-perangan atau untuk menjalankan misi sosial?"
Setelah mempelajarinya, saya menemukan Islam mengakui
bahwa dalam relasi sosial ada ketidakadilan. Ada yang
menzalimi, ada yang dizalimi. Islam harus berpihak
kepada yang dizalimi. Jadi, Islam tidak berpihak
kepada Islam, tapi kepada yang dizalimi demi
menciptakan keadilan. Dan, saya kira keadilan bukan
untuk menciptakan eksklusivisme sebagaimana yang kita
lihat.

Temuan itu memang membuat saya terpisah dari komunitas
"ekstrem" tempat saya pertama tumbuh. Kemudian saya
menemukan komunitas baru yang bisa menerima
perbedaan-perbedaan. Saya kira normal saja kalau dalam
kehidupan, kita menemukan antitesis-antitesis yang
menawarkan Islam dengan watak sebenarnya.

Anda beruntung mengalami masa ekstremitas, menemukan
mentor yang baik, dan mendapatkan
pencerahan-pencerahan. Nah, bagi yang sekarang dalam
fase ekstremitas, bisakah mereka menemukan pencerahan
seperti Anda?

Saya kira bisa. Hanya saja, persoalan utama lebih
terletak pada ekstremitas yang berorientasi pada
kekuasaan politik ketimbang pemahaman mendalam tentang
pahitnya intoleransi dengan pihak lain. Jadi,
ekstremitas akibat haus jabatan politik lebih
berbahaya daripada semata-mata karena dangkal secara
keagamaan.

Nah, sekarang ini saya kira gejala ekstremitas lebih
banyak bersuasana politik, bukan ekstremitas dalam
bingkai keyakinan yang sifatnya lebih mendasar.
Pendapat Anda yang menyebut ekstremitas lebih sebagai
gejala politik ketimbang gejala keagamaan itu menarik
sekali. Bisa berbicara lebih spesifik lagi?

Ya, saya kira ekstremitas banyak lahir manakala
situasi sosial-politik memungkinkan suatu model
keterdesakan terbangun. Situasi sosial-politik itu
menempatkan komunitas-komunitas ke dalam situasi
ancaman terus-menerus. Kebetulan memang ada
justifikasi-justifikasi keagamaan yang memberi
pembenaran atas kondisi keterdesakan secara politik
terhadap ruang kekuasaan. Ini dapat dilihat, misalnya,
dari pembenaran terhadap penggunaan ayat-ayat yang
mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak akan
pernah rela dan seterusnya (walan tardl� `anka
al-Yah�d wala al-Nash�r� hatt� tattabia millatahum,
Ulil).
Justifikasi ini dipetik tanpa melihat konteks sejarah
mengapa ayat itu muncul dan dalam kondisi seperti apa
diaktualkan. Sayangnya, hal itu (diintroduksi)
terus-menerus seolah-olah permusuhan dengan Yahudi dan
Nasrani tidak akan pernah berhenti, sesuatu yang
permanen, merupakan keputusan Allah yang diciptakan
untuk sepanjang masa.

Nah, saya kira banyak penggunaan justifikasi untuk
kebutuhan-kebutuhan tatkala ada persoalan
keterdesakan. Keterdesakan itu dapat muncul dalam
bentuk politik populasi atau jumlah, seperti ketakutan
akan Islamisasi atau Kristenisasi. Di agama
masing-masing ada kekhawatiran semacam itu.

Ada juga yang merasa space agama akan tertutup ketika
Islam kalah secara politik. Orang khawatir akan
kesulitan shalat di masjid, susah mengaji. Perasaan
itu menjadi ancaman serius yang mendorong kita harus
menguasai. Juga ada keinginan memaksakan kewajiban
agama karena dengan begitu, dia merasa beragama secara
benar. Dalam konteks ini muncullah gagasan-gagasan
keharusan negara memaksakan agama. Ekstremitas
akhirnya muncul dan berkembang di wilayah semacam itu.
Sementara itu, ketika masalah politik populasi agama
tak menjadi soal, orang tak perlu jadi ekstrem
terhadap isu-isu yang membuat mereka mengumpul dan
mengeras. Orang yang tidak meminta negara sebagai alat
agama, misalnya, tak akan menjadi seorang ekstremis
yang giat memaksakan negara dengan atribut agama. Nah,
gejala ini yang, saya kira, lebih banyak muncul dan
berkembang ketimbang yang lain. Termasuk di sini
gejala internasional ketika kegalauan terhadap
dominasi negara-negara besar begitu mudah memicu model
ekstremitas tertentu dengan agama.

Itu kan menyangkut cara pandang tertentu: memandang
Islam terancam dari banyak arah sehingga harus
melawan. Menurut Anda, apakah pemandangan semacam itu
cukup tepat?

Saya kira cara pandang terhadap agama banyak
ditentukan oleh konteks tempat suatu masyarakat hidup.
Itu sebabnya, mazhab-mazhab dalam Islam hidup dalam
konteks dan pembelajaran sejarah masing-masing. Pada
titik ini bisa saja agama menjadi alat resisten bagi
mereka yang ditindas. Respons seperti itu mestinya
muncul tidak dalam bentuk ekstremisme agama yang
justru melawan sesama, yang sebetulnya tak dapat
diidentifikasi sebagai penindas.

Saya sepakat kalau Islam menjadi energi bagi kaum
tertindas untuk melawan penindasan, tapi bukan dalam
bentuk perang melawan agama tertentu. Misalnya saja,
relasi kita menjadi miskin bukan karena ada Kristen,
tapi lebih karena ada kekuasaan modal, struktur, dan
lain-lain. Saya kira agama bisa menjadi energi bagi
orang-orang yang melawan penindasan. Namun, perlu
dicatat agama tidak lantas jadi alat manipulasi
kekuasaan untuk menghantam lawan-lawan dengan simbol
yang meneriakkan slogan kafir, murtad, atau yang lain.

Jadi, agama lebih tampak sebagai simbol perlawanan
yang bersifat vertikal?

Betul, simbol perlawanan vertikal. Sebetulnya saya
meyakini Islam menawarkan agama bagi orang yang
tertindas, memberi jawaban terhadap problem sosial di
mana orang yang ditindas tak diam begitu saja, tapi
melawan. Sementara itu, elemen-elemen nontertindas
secara langsung punya kewajiban membantu mereka dan
menjamin titik yang diinginkan untuk memberhentikan
penindasan itu tercapai. Masyarakat begitulah yang
disebut sebagai masyarakat Islam.

Ekstremitas yang saya lihat bukan dalam konteks
begitu, tapi ekstremitas space: menyangkut wilayah
atau batas-batas kekuasaan. Bukan ekstremitas yang
menentang apa yang dianjurkan agama, seperti memerangi
penindasan, memerangi apa yang oleh agama dianggap
nihil, yaitu kemiskinan. Memerangi kemiskinan adalah
kewajiban karena kemiskinan mendekatkan orang kepada
kekufuran, membuat tiada menjadi sesuatu yang tak
bermakna. Maka, melawan kemiskinan adalah perintah dan
penting bagi umat Islam.

Nah, di ruang ini Islam tak menyuruh memerangi agama
lain, tapi memerangi suatu model penindasan dan
penciptaan pemiskinan secara tidak sah. Itu saya kira
satu hal penting yang menjadi landasan Islam membangun
masyarakat dan peradaban.

Apakah pemaknaan agama seperti itu yang memotivasi
Anda membela yang tertindas dan menjunjung nilai-nilai
hak-hak asasi manusia?

Saya kira begini. Saya lahir dari suatu keluarga yang
ketat dalam agama, dalam arti ketat yang normatif.
Saya merasa agama yang ketat dalam artian normatif itu
tidak cukup. Beragama harus melampaui tapal batas
kenormatifan yang selama ini dianut orang, seperti
asumsi bahwa beragama cukup dengan salat lima kali
sehari, dan lain-lain. Inilah yang dikritik Cak Nur
sebagai kesalehan simbolik, saleh formal. Kita perlu
ingat bahwa dalam salat itu, ada deklarasi-deklarasi
yang mewajibkan orang menjalankan fungsi-fungsi
tertentu.

Saya tidak bisa membayangkan: saat shalat
mendeklarasikan inna shal�t� wanusuk� wamahy�ya
wamam�ti 'sesungguhnya shalat, ritual, hidup dan
matiku', tapi saya campurkan dengan korupsi dan tak
peduli dengan kemiskinan dan lain-lain. Kalau begitu,
saya adalah orang yang dikecam Allah sebagai orang
lalai yang terhina dan tak bermakna.

Dalam konteks ini: ketika saya berani shalat,
konsekuensinya adalah saya harus berani berpihak pada
yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit
untuk memeriahkan perintah-perintah itu. Saya,
misalnya, harus membela korban sebab saya telah
menghadapkan wajah kepada keadilan. Kalau saya menipu
proses-proses menuju keadilan, ke mana wajah ini saya
hadapkan? Padahal, deklarasi itu terhitung lima kali
sehari kita lakukan ketika shalat, bahkan lebih
(ketika shalat sunnah).

Jadi, menurut saya, tidak ada alasan umat Islam untuk
tak berpihak pada yang tertindas. Itu menjadi pilihan
dan keyakinan saya. Membangun masyarakat yang adil
adalah perjuangan membela agama. Masyarakat yang adil
tidak mesti menuntut semua orang jadi Islam. Yang
penting adalah bagaimana cita Islam tentang keadilan
dapat hidup dalam masyarakat.

Secara pribadi, apakah Anda masih perlu
mengidentifikasi diri sebagai Muslim yang taat dan
saleh ketika memperjuangkan keadilan, atau malah
perjuangan itu sudah bertengger di atas nama-nama dan
simbol-simbol?

Saya tidak tahu apakah dapat menilai diri saleh atau
tidak. Yang jelas, saya adalah bagian masyarakat yang
meyakini bahwa membangun keadilan yang inklusif dan
tidak berpihak pada diri sendiri-keadilan bagi
semua-adalah energi paling penting yang ditawarkan
Islam. Saya akan meninggalkan Islam kalau tidak
menawarkan itu. Saya memilih Islam kalau Islam
menawarkan itu.
Saya tentu tidak bisa memaksa orang mengakui bahwa
Islam itu inklusif, maka kau harus ikut. Kalau begitu,
Islam malah menjadi tidak inklusif. Namun, bagi saya,
ketika mengambilnya, pilihan itu harus mengontrol
perilaku saya.

Dalam proses itu orang tak perlu dipaksa ikut dan dia
punya hak membangun proses-proses yang lain. Di atas
itu, agama tetap menjadi energi dan penting untuk
memberi ruang demi melawan ketidakadilan. Dalam hal
ini saya masih meyakini bahwa Islam bisa diharapkan.
Islam yang inklusif tidak untuk dirinya sendiri dan
tidak untuk mengejar kekuasaan. Islam masih menjadi
energi penting bagi kaum yang tidak diuntungkan.

Apakah Anda merasa nyaman bila berhadapan dengan
ekspresi keagamaan yang masih menonjolkan
simbol-simbol identitas?

Saya kadang membayangkan bagaimana kelompok non-Muslim
berhadapan dengan kelompok Muslim yang menonjolkan
atribut fisik keislaman dan merasa paling benar.
Jangankan mereka yang non-Muslim, saya saja yang
Muslim merasa minoritas kalau berhadapan dengan orang
berjenggot panjang dan berkening hitam-hitam. Kadang
saya merasa terancam dalam artian (khawatir) akan
didominasi oleh ukuran-ukuran kebenaran. Menurut saya,
(simbol-simbol identitas) ini kontraproduktif dengan
keharusan mengenalkan Islam itu sendiri.

Atribut itu, menurut saya, bagian produk budaya yang
berkembang seiring dengan peradaban manusia. Hemat
saya, perlu ada pembedaan antara kultur Arab pada masa
Nabi dengan Islam itu sendiri. Itu dua hal berbeda.
Tidak selamanya yang mendominasi Islam itu Arab
sehingga simbol-simbol budaya, seperti pemakaian jubah
menjadi otomatis Islam. Pemakai jubah memang hidup di
Timur Tengah. Orang Afganistan dulu juga berjubah dan
berjenggot, tapi tidak serta-merta mereka jadi ukuran
keislaman. Penggunaan simbol-simbol yang berpotensi
menimbulkan distance atau jarak dengan yang lain,
menurut saya, justru merugikan Islam sendiri. Ini
harus dihindari.

Kalau kita melihat orang berdasi atau berjubah,
janganlah melihatnya sebagai ancaman atau pendominasi
kebenaran. Baju adalah kultur, bukan pembenar untuk
dominasi.Saya kirabegitu. *

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/06/humaniora/1300550.htm



                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
http://promotions.yahoo.com/new_mail


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke