PALESTINA MUSLIM
Oleh Harun Yahya


Semenjak  awal sejarah Islam, Palestina, dan kota Yerusalem khususnya,
telah  menjadi tempat suci bagi umat Islam. Sebaliknya bagi Yahudi dan
Nasrani, umat Islam telah menjadikan kesucian Palestina sebagai sebuah
kesempatan  untuk  membawa  kedamaian kepada daerah ini. Dalam bab ini
kita akan membahas beberapa contoh sejarah dari kenyataan ini.

'Isa (Yesus), salah satu nabi yang diutus kepada umat Yahudi, menandai
titik  balik  penting lainnya dalam sejarah Yahudi. Orang-orang Yahudi
menolaknya,  dan kemudian diusir dari Palestina serta mengalami banyak
ketidakberuntungan. Pengikutnya kemudian dikenal sebagai umat Nasrani.
Akan  tetapi,  agama  yang  disebut  Nasrani  atau  Kristen  saat  ini
didirikan  oleh orang lain, yang disebut Paulus (Saul dari Tarsus). Ia
menambahkan  pemandangan  pribadinya  tentang Isa ke dalam ajaran yang
asli  dan  merumuskan  sebuah  ajaran  baru  di mana Isa tidak disebut
sebagai  seorang  nabi  dan  Al-Masih,  seperti  seharusnya, melainkan
dengan  sebuah  ciri ketuhanan. Setelah dua setengah abad ditentang di
antara  orang-orang  Nasrani, ajaran Paulus dijadikan doktrin Trinitas
(Tiga  Tuhan).  Ini  adalah  sebuah  penyimpangan  dari ajaran Isa dan
pengikut-pengikut  awalnya.  Setelah  ini,  Allah menurunkan Al-Qur'an
kepada Nabi Muhammad SAW sehingga beliau bisa mengajarkan Islam, agama
Ibrahim, Musa, dan Isa, kepada seluruh umat manusia.

Yerusalem  itu suci bagi umat Islam karena dua alasan: kota ini adalah
kiblat  pertama yang dihadapi oleh umat Islam selama ibadah sholatnya,
dan  merupakan  tempat  yang  dianggap  sebagai  salah  satu  mukjizat
terbesar  yang  dilakukan oleh Nabi Muhammad: mikraj, perjalanan malam
dari   Mesjid  Haram  di  Mekkah  menuju  Mesjid  Aqsa  di  Yerusalem,
kenaikannya  ke  langit,  dan  kembali lagi ke Mesjid Haram. Al-Qur'an
menerangkan kejadian ini sebagai berikut:

Maha  Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam
dari  Al  Masjidil  Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya   agar   Kami   perlihatkan   kepadanya   sebagian  dari
tanda-tanda  (kebesaran)  Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui. (Qur'an, 17:1)

Dalam  wahyu-wahyu Al-Qur'an kepada Nabi SAW, sebagian besar ayat-ayat
yang  berkesesuaian mengacu kepada Palestina sebagai "tanah suci, yang
diberkati."  Ayat  17:1 menggambarkan tempat ini, yang di dalamnya ada
Mesjid  Aqsa  sebagai tanah "yang Kami berkati disekelilingnya." Dalam
ayat  21:71, yang menggambarkan keluarnya Nabi Ibrahim dan Luth, tanah
yang  sama  disebut  sebagai  "tanah  yang  Kami  berkati  untuk semua
makhluk."  Pada  saat  bersamaan, Palestina secara keseluruhan penting
artinya  bagi  umat  Islam karena begitu banyak nabi Yahudi yang hidup
dan berjuang demi Allah, mengorbankan hidup mereka, atau meninggal dan
dikuburkan di sana.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dalam 2000 tahun terakhir, umat
Islam  telah  menjadi  satu-satunya  kekuatan  yang  membawa kedamaian
kepada Yerusalem dan Palestina.

Khalifah Umar Membawa Perdamaian dan Keadilan bagi Palestina


Qubbat as-Sakhrah 
Setelah  Roma mengusir Yahudi dari Palestina, Yerusalem dan sekitarnya
menjadi lenyap.

Akan   tetapi,  Yerusalem  kembali  menjadi  pusat  perhatian  setelah
Pemerintah Romawi Constantine memeluk agama Nasrani (312). Orang-orang
Roma  Kristen  membangun gereja-gereja di Yerusalem, dan menjadikannya
sebagai  sebuah  kota  Nasrani.  Palestina tetap menjadi daerah Romawi
(Bizantium)  hingga  abad  ketujuh,  ketika  negeri ini menjadi bagian
Kerajaan  Persia selama masa yang singkat. Akhirnya, Bizantium kembali
menguasainya.

Tahun  637 menjadi titik balik penting dalam sejarah Palestina, karena
setelah  masa  ini  daerah  ini berada di bawah kendali kaum Muslimin.
Peristiwa  ini  mendatangkan perdamaian dan ketertiban bagi Palestina,
yang  selama  berabad-abad  telah  menjadi tempat perang, pengasingan,
penyerangan,  dan  pembantaian.  Apa  lagi,  setiap  kali  daerah  ini
berganti  penguasa,  seringkali  menyaksikan  kekejaman baru. Di bawah
pemerintahan  Muslim,  penduduknya,  tanpa  melihat  keyakinan mereka,
hidup bersama dalam damai dan ketertiban.

Palestina  ditaklukkan  oleh  Umar Bin Khattab, khalifah kedua. Ketika
memasuki   Yerusalem,  toleransi,  kebijaksanaan,  dan  kebaikan  yang
ditunjukkannya kepada penduduk daerah ini, tanpa membeda-bedakan agama
mereka  menandai  awal  dari  sebuah  zaman  baru  yang indah. Seorang
pengamat  agama  terkemuka  dari Inggris Karen Armstrong menggambarkan
penaklukan Yerusalem oleh Umar dalam hal ini, dalam bukunya Holy War:

Khalifah Umar memasuki Yerusalem dengan mengendarai seekor unta putih,
dikawal  oleh  pemuka  kota  tersebut,  Uskup  Yunani  Sofronius. Sang
Khalifah  minta agar ia dibawa segera ke Haram asy-Syarif, dan di sana
ia  berlutut  berdoa  di tempat temannya Muhammad melakukan perjalanan
malamnya.  Sang  uskup  melihatnya  dengan  ketakutan:  ini, ia pikir,
pastilah   akan   menjadi   penaklukan  penuh  kengerian  yang  pernah
diramalkan  oleh  Nabi  Daniel akan memasuki rumah ibadat tersebut; Ia
pastilah  sang  Anti  Kristus yang akan menandai Hari Kiamat. Kemudian
Umar minta melihat tempat-tempat suci Nasrani, dan ketika ia berada di
Gereja  Holy Sepulchre, waktu sholat umat Islam pun tiba. Dengan sopan
sang  uskup menyilakannya sholat di tempat ia berada, tapi Umar dengan
sopan  pula menolak. Jika ia berdoa dalam gereja, jelasnya, umat Islam
akan  mengenang  kejadian ini dengan mendirikan sebuah mesjid di sana,
dan  ini  berarti  mereka akan memusnahkan Holy Sepulchre. Justru Umar
pergi  sholat  di  tempat  yang sedikit jauh dari gereja tersebut, dan
cukup  tepat (perkiraannya), di tempat yang langsung berhadapan dengan
Holy Sepulchre masih ada sebuah mesjid kecil yang dipersembahkan untuk
Khalifah Umar.

Mesjid besar Umar lainnya didirikan di Haram asy-Syarif untuk menandai
penaklukan  oleh  umat  Islam,  bersama  dengan  mesjid  al-Aqsa  yang
mengenang   perjalanan  malam  Muhammad.  Selama  bertahun-tahun  umat
Nasrani  menggunakan tempat reruntuhan biara Yahudi ini sebagai tempat
pembuangan sampah kota. Sang khalifah membantu umat Islam membersihkan
sampah  ini  dengan tangannya sendiri dan di sana umat Islam membangun
tempat  sucinya sendiri untuk membangun Islam di kota suci ketiga bagi
dunia Islam.9

Pendeknya,  umat  Islam  membawa  peradaban bagi Yerusalem dan seluruh
Palestina.  Bukan  memegang  keyakinan  yang  tidak menunjukkan hormat
kepada  nilai-nilai  suci  orang  lain  dan membunuh orang-orang hanya
karena  mereka  mengikuti  keyakinan  berbeda, budaya Islam yang adil,
toleran,  dan  lemah  lembut  membawa  kedamaian dan ketertiban kepada
masyarakat Muslim, Nasrani, dan Yahudi di daerah itu. Umat Islam tidak
pernah   memilih  untuk  memaksakan  agama,  meskipun  beberapa  orang
non-Muslim  yang  melihat bahwa Islam adalah agama sejati pindah agama
dengan bebas menurut keinginannya sendiri.

Perdamaian  dan  ketertiban  ini terus berlanjut sepanjang orang-orang
Islam  memerintah di daerah ini. Akan tetapi, di akhir abad kesebelas,
kekuatan  penakluk  lain  dari  Eropa memasuki daerah ini dan merampas
tanah  beradab  Yerusalem  dengan  tindakan tak berperikemanusiaan dan
kekejaman  yang  belum  pernah terlihat sebelumnya. Para penyerang ini
adalah Tentara Perang Salib.

Kekejaman Tentara Perang Salib dan Keadilan Salahuddin


Tentara  Perang  Salib  merampas  Yerusalem  setelah  pengepungan lima
minggu,  dilanjutkan  perampasan  perbendaharaan  kota  dan  membantai
orang-orang Yahudi dan Islam.
Ketika  orang-orang  Yahudi,  Nasrani,  dan  Islam hidup bersama dalam
kedamaian, sang Paus memutuskan untuk membangun sebuah kekuatan perang
Salib.  Mengikuti  ajakan  Paus  Urbanius  II pada 27 November 1095 di
Dewan  Clermont,  lebih dari 100.000 orang Eropa bergerak ke Palestina
untuk  "memerdekakan" tanah suci dari orang Islam dan mencari kekayaan
yang  besar  di  Timur. Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, dan
banyak  perampasan  dan pembantaian di sepanjang perjalanannya, mereka
mencapai Yerusalem pada tahun 1099. Kota ini jatuh setelah pengepungan
hampir  5  minggu.  Ketika Tentara Perang Salib masuk ke dalam, mereka
melakukan pembantaian yang sadis. Seluruh orang-orang Islam dan Yahudi
dibasmi dengan pedang.

Dalam  perkataan  seorang  ahli  sejarah: "Mereka membunuh semua orang
Saracen dan Turki yang mereka temui. pria maupun wanita."10 Salah satu
tentara  Perang  Salib,  Raymond  dari  Aguiles,  merasa bangga dengan
kekejaman ini:

Pemandangan mengagumkan akan terlihat. Beberapa orang lelaki kami (dan
ini  lebih  mengasihi  sifatnya)  memenggal  kepala-kepala musuh-musuh
mereka;  lainnya  menembaki mereka dengan panah-panah, sehingga mereka
berjatuhan  dari  menara-menara;  lainnya  menyiksa  mereka lebih lama
dengan  memasukkan mereka ke dalam nyala api. Tumpukan kepala, tangan,
dan  kaki  akan  terlihat  di jalan-jalan kota. Perlu berjalan di atas
mayat-mayat  manusia  dan  kuda.  Tapi  ini  hanya  masalah kecil jika
dibandingkan  dengan  apa  yang terjadi pada Biara Sulaiman, tempat di
mana  ibadah  keagamaan kini dinyanyikan kembali. di biara dan serambi
Sulaiman,  para  pria  berdarah-darah  disuruh berlutut dan dibelenggu
lehernya.11


Salahuddin  al-Ayyubi,  yang  mengalahkan  Tentara  Perang Salib dalam
pertempuran  Hattin,  tercatat  dalam  sumber sejarah dengan keadilan,
keberanian, dan wataknya yang terhormat.

Dalam  dua  hari,  tentara  Perang Salib membunuh sekitar 40.000 orang
Islam   dengan   cara   tak   berperikemanusiaan  seperti  yang  telah
digambarkan.12  Perdamaian  dan  ketertiban  di  Palestina, yang telah
berlangsung   semenjak   Umar,   berakhir   dengan   pembantaian  yang
mengerikan.

Tentara Perang Salib menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota mereka, dan
mendirikan  Kerajaan  Katolik  yang  terbentang  dari Palestina hingga
Antakiyah. Namun pemerintahan mereka berumur pendek, karena Salahuddin
mengumpulkan  seluruh  kerajaan  Islam di bawah benderanya dalam suatu
perang  suci  dan  mengalahkan  tentara Perang Salib dalam pertempuran
Hattin  pada tahun 1187. Setelah pertempuran ini, dua pemimpin tentara
Perang  Salib,  Reynald dari Chatillon dan Raja Guy, dibawa ke hadapan
Salahuddin.  Beliau  menghukum mati Reynald dari Chatillon, yang telah
begitu  keji  karena  kekejamannya  yang  hebat yang ia lakukan kepada
orang-orang  Islam,  namun  membiarkan Raya Guy pergi, karena ia tidak
melakukan  kekejaman  yang  serupa.  Palestina sekali lagi menyaksikan
arti keadilan yang sebenarnya.

Tiga  bulan  setelah pertempuran Hattin, dan pada hari yang tepat sama
ketika  Nabi  Muhammad SAW diperjalankan dari Mekah ke Yerusalem untuk
perjalanan  mikrajnya  ke  langit,  Salahuddin  memasuki Yerusalem dan
membebaskannya   dari   88  tahun  pendudukan  tentara  Perang  Salib.
Sebaliknya  dengan "pembebasan" tentara Perang Salib, Salahuddin tidak
menyentuh seorang Nasrani pun di kota tersebut, sehingga menyingkirkan
rasa   takut  mereka  bahwa  mereka  semua  akan  dibantai.  Ia  hanya
memerintahkan  semua  umat  Nasrani Latin (Katolik) untuk meninggalkan
Yerusalem.  Umat  Nasrani  Ortodoks,  yang bukan tentara Perang Salib,
dibiarkan tinggal dan beribadah menurut yang mereka pilih.

Karen  Armstrong  menggambarkan penaklukan keduakalinya atas Yerusalem
ini dengan kata-kata berikut ini:

Pada  tanggal  2  Oktober  1187,  Salahuddin  dan  tentaranya memasuki
Yerusalem  sebagai  penakluk dan selama 800 tahun berikutnya Yerusalem
tetap   menjadi   kota   Muslim.  Salahuddin  menepati  janjinya,  dan
menaklukkan  kota  tersebut menurut ajaran Islam yang murni dan paling
tinggi.  Dia  tidak  berdendam  untuk membalas pembantaian tahun 1099,
seperti   yang  Al-Qur'an  anjurkan  (16:127),  dan  sekarang,  karena
permusuhan dihentikan, ia menghentikan pembunuhan (2:193-194). Tak ada
satu  orang  Kristen pun yang dibunuh dan tidak ada perampasan. Jumlah
tebusan pun disengaja sangat rendah.. Salahuddin menangis tersedu-sedu
karena    keadaan    mengenaskan    keluarga-keluarga    yang   hancur
terpecah-belah  dan  ia membebaskan banyak dari mereka, sesuai imbauan
Al-Qur'an,  meskipun  menyebabkan  keputusasaan bendaharawan negaranya
yang  telah  lama menderita. Saudara lelakinya al-Adil begitu tertekan
karena  penderitaan para tawanan sehingga dia meminta Salahuddin untuk
membawa   seribu  orang  di  antara  mereka  bersamanya  dan  kemudian
membebaskan  mereka  di  tempat itu juga. Semua pemimpin Muslim merasa
tersinggung  karena  melihat  orang-orang  Kristen kaya melarikan diri
dengan  membawa  kekayaan  mereka,  yang  bisa digunakan untuk menebus
semua  tawanan.  [Uskup]  Heraclius  membayar  tebusan dirinya sebesar
sepuluh  dinar  seperti halnya tawanan lain dan bahkan diberi pengawal
pribadi   untuk   mempertahankan  keselamatan  harta  bendanya  selama
perjalanan ke Tyre.13

Pendeknya, Salahuddin dan tentaranya memperlakukan orang-orang Nasrani
dengan  kasih  sayang  dan keadilan yang agung, dan menunjukkan kepada
mereka  kasih  sayang  yang  lebih  dibanding  yang diperlihatkan oleh
pemimpin mereka.


Ketika  Raja Richard I dari Inggris merampas Kastil Acre, ia membantai
orang-orang  Islam.  Lukisan  di  bawah ini menggambarkan hukuman mati
atas   ratusan   tahanan   beragama   Islam.  Mayat-mayat  mereka  dan
kepala-kepala terpenggal ditumpuk di bawah panggung.

Setelah  Yerusalem,  tentara  Perang Salib melanjutkan perbuatan tidak
berprikemanusiaannya  dan  orang-orang Islam meneruskan keadilannya di
kota-kota  Palestina  lainnya. Pada tahun 1194, Richard Si Hati Singa,
yang  digambarkan  sebagai  seorang  pahlawan  dalam  sejarah Inggris,
memerintahkan  untuk  menghukum mati 3000 orang Islam, yang kebanyakan
di  antaranya  wanita-wanita  dan anak-anak, secara tak berkeadilan di
Kastil  Acre.  Meskipun  orang-orang  Islam menyaksikan kekejaman ini,
mereka tidak pernah memilih cara yang sama. Mereka malah tunduk kepada
perintah   Allah:  "Dan  janganlah  sekali-kali  kebencian(mu)  kepada
sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam,
mendorongmu  berbuat  aniaya  (kepada  mereka)."(Qur'an 5:2) dan tidak
pernah melakukan kekejaman kepada orang-orang sipil yang tak bersalah.
Di  samping  itu, mereka tidak pernah menggunakan kekerasan yang tidak
perlu, bahkan kepada tentara Perang Salib sekalipun.

Kekejaman  tentara  Perang Salib dan keadilan orang-orang Islam sekali
lagi  terungkap  sebagai  kebenaran  sejarah: Sebuah pemerintahan yang
dibangun  di  atas  dasar-dasar  Islam  memungkinkan  orang-orang dari
keyakinan berbeda untuk hidup bersama. Kenyataan ini terus ditunjukkan
selama 800 tahun setelah Salahuddin khususnya selama masa Ottoman.

Pemerintahan Kesultanan Ottoman yang Adil dan Toleran


Setelah  penaklukan  Sultan  Salim  atas Yerusalem dan sekitarnya pada
1514,  masa  kedamaian  dan keamanan selama 400 tahun dimulai di tanah
Palestina.

Pada  tahun 1514, Sultan Salim menaklukkan Yerusalem dan daerah-daerah
sekitarnya dan sekitar 400 tahun pemerintahan Ottoman di Palestina pun
dimulai.   Seperti   di   negara-negara   Ottoman  lainnya,  masa  ini
menyebabkan  orang-orang Palestina menikmati perdamaian dan stabilitas
meskipun   kenyataannya   pemeluk   tiga   keyakinan   berbeda   hidup
berdampingan satu sama lain.

Kesultanan  Ottoman  diperintah  dengan "sistem bangsa (millet)," yang
gambaran  dasarnya  adalah  bahwa orang-orang dengan keyakinan berbeda
diizinkan   hidup  menurut  keyakinan  dan  sistem  hukumnya  sendiri.
Orang-orang  Nasrani  dan  Yahudi, yang disebut Al-Qur'an sebagai Ahli
Kitab, menemukan toleransi, keamanan, dan kebebasan di tanah Ottoman.

Alasan  terpenting  dari  hal  ini  adalah  bahwa, meskipun Kesultanan
Ottoman  adalah  negara  Islam  yang  diatur  oleh  orang-orang Islam,
kesultanan   tidak   ingin  memaksa  rakyatnya  untuk  memeluk  Islam.
Sebaliknya  kesultanan  ingin  memberikan  kedamaian dan keamanan bagi
orang-orang  non-Muslim  dan  memerintah mereka dengan cara sedemikian
sehingga mereka nyaman dalam aturan dan keadilan Islam.

Negara-negara  besar  lainnya  pada  saat  yang  sama mempunyai sistem
pemerintahan  yang  lebih  kejam, menindas, dan tidak toleran. Spanyol
tidak  membiarkan  keberadaan  orang-orang  Islam  dan Yahudi di tanah
Spanyol,  dua  masyarakat  yang  mengalami penindasan hebat. Di banyak
negara-negara Eropa lainnya, orang Yahudi ditindas hanya karena mereka
adalah  orang  Yahudi (misalnya, mereka dipaksa untuk hidup di kampung
khusus  minoritas  Yahudi  (ghetto),  dan  kadangkala  menjadi  korban
pembantaian  massal  (pogrom).  Orang-orang Nasrani bahkan tidak dapat
berdampingan  satu  sama lain: Pertikaian antara Protestan dan Katolik
selama abad keenambelas dan ketujuhbelas menjadikan Eropa sebuah medan
pertempuran berdarah. Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) adalah salah
satu  akibat  pertikaian  ini. Akibat perang itu, Eropa Tengah menjadi
sebuah ajang perang dan di Jerman saja, 5 juta orang (sepertiga jumlah
penduduknya) lenyap.

Bertolak   belakang  dengan  kekejaman  ini,  Kesultanan  Ottoman  dan
negara-negara Islam membangun pemerintahan mereka berdasarkan perintah
Al-Qur'an    tentang    pemerintahan    yang    toleran,   adil,   dan
berprikemanusiaan.  Alasan  keadilan dan peradaban yang dipertunjukkan
oleh   Umar,  Salahuddin,  dan  sultan-sultan  Ottoman,  serta  banyak
penguasa Islam, yang diterima oleh Dunia Barat saat ini, adalah karena
keimanan  mereka  kepada perintah-perintah Al-Qur'an, yang beberapa di
antaranya adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya  Allah  menyuruh  kamu  menyampaikan  amanat  kepada yang
berhak  menerimanya,  dan  (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di
antara  manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah
memberi  pengajaran  yang  sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah
adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Qur'an, 4:58)

Wahai  orang-orang  yang  beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar
penegak  keadilan,  menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu
sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin,
maka  Allah  lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti
hawa  nafsu  karena  ingin  menyimpang  dari  kebenaran. Dan jika kamu
memutar   balikkan   (kata-kata)   atau  enggan  menjadi  saksi,  maka
sesungguhnya  Allah  adalah  Maha  Mengetahui  segala  apa  yang  kamu
kerjakan. (Qur'an, 4:135)


Penelitian  tentang  Palestina selama masa Ottoman terakhir mengungkap
suatu  kemajuan  dalam  kesejahteraan,  perdagangan,  dan  industri di
seluruh wilayah ini.

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang  yang  tiada  memerangimu  karena  agama  dan tidak (pula)
mengusir  kamu  dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berlaku adil. (Qur'an, 60:8)

Dan  kalau  ada  dua  golongan  dari mereka yang beriman itu berperang
hendaklah   kamu  damaikan  antara  keduanya!  Tapi  kalau  yang  satu
melanggar  perjanjian  terhadap  yang  lain,  hendaklah yang melanggar
perjanjian  itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.
Kalau  dia  telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan,
dan   hendaklah   kamu  berlaku  adil;  sesungguhnya  Allah  mencintai
orang-orang yang berlaku adil. (Qur'an, 49:9)

Ada  sebuah ungkapan yang digunakan dalam politik bahwa "kekuasaan itu
menyimpang,  dan  kekuasaan mutlak itu mutlak menyimpang." Ini berarti
bahwa  setiap orang yang menerima kekuasaan politik kadangkala menjadi
menyimpang  secara  akhlak  karena  kesempatan  yang  ia  peroleh. Ini
benar-benar   terjadi  pada  sebagian  besar  manusia,  karena  mereka
membentuk  kehidupan akhlak mereka menurut tekanan sosial. Dengan kata
lain,  mereka  menghindari perbuatan tak berakhlak karena mereka takut
pada  ketidaksetujuan  atau  hukuman masyarakat. Namun pihak berwenang
memberi  mereka  kekuasaan, dan menurunkan tekanan sosial atas mereka.
Akibatnya,  mereka  menjadi  menyimpang  atau  merasa jauh lebih mudah
untuk  berkompromi dengan kehidupan akhlak mereka sendiri. Jika mereka
memiliki  kekuasaan  mutlak  (sehingga  menjadi para diktator), mereka
mungkin  mencoba  untuk memuaskan keinginan mereka sendiri dengan cara
apa pun.


Dinasti  Ottoman  membawa  perdamaian,  stabilitas,  dan  peradaban ke
seluruh  tanah  yang  mereka  taklukkan. Kita masih bisa menemukan air
mancur,  jembatan, penginapan, dan mesjid dari masa Ottoman di seluruh
Palestina.

Satu-satunya   contoh   manusiawi   yang  tidak  disentuh  oleh  hukum
penyimpangan  tersebut  adalah orang yang dengan ikhlas percaya kepada
Allah,  memeluk  agamanya  karena  rasa takut dan cinta kepada-Nya dan
hidup  menurut  agama  itu. Karena itu, akhlak mereka tidak ditentukan
oleh  masyarakat,  dan  bahkan bentuk kekuasaan mutlak pun tidak mampu
mempengaruhi mereka. Allah menyatakan ini dalam sebuah ayat:

(yaitu)  orang-orang  yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka
bumi  niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh
berbuat  ma'ruf  dan  mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada
Allah-lah kembali segala urusan. (Qur'an, 22:41)

Dalam  Al-Qur'an,  Allah  menjadikan  Daud  AS, sebagai contoh tentang
penguasa  yang  ideal,  yang menerangkan bagaimana ia mengadili dengan
keadilan  orang-orang  yang  datang  untuk  meminta  keputusannya  dan
bagaimana   ia   berdoa  dengan  pengabdian  seutuhnya  kepada  Allah.
(Al-Qur'an, 38:24)


Dinasti  Ottoman  membawa perdamaian, ketertiban, dan toleransi kemana
pun ia pergi.

Sejarah Islam, yang mencerminkan akhlak yang Allah ajarkan kepada umat
Islam  dalam  Al-Qur'an,  penuh  dengan  penguasa-penguasa  yang adil,
berkasih  sayang,  rendah  hati,  dan  bijaksana. Karena para penguasa
Muslim  takut kepada Allah, mereka tidak dapat berperilaku dengan cara
yang  menyimpang,  sombong  atau kejam. Tentu ada penguasa Muslim yang
menjadi  menyimpang dan keluar dari akhlak Islami, namun mereka adalah
pengecualian  dan  penyimpangan  dari norma tersebut. Oleh karena itu,
Islam  terbukti menjadi satu-satunya sistem keimanan yang menghasilkan
bentuk  pemerintahan  yang  adil,  toleran, dan berkasih sayang selama
1400 tahun terakhir.

Tanah  Palestina  adalah sebuah bukti pemerintahan Islam yang adil dan
toleran,  dan  memberi pengaruh kepada banyak kepercayaan dan gagasan.
Seperti  telah  disebutkan sebelumnya, pemerintahan Nabi Muhammad SAW,
Umar,  Salahuddin,  dan sultan-sultan Ottoman adalah pemerintahan yang
bahkan orang-orang non-Muslim pun sepakat dengannya. Masa pemerintahan
yang  adil  ini  berlanjut hingga abad kedua puluh, dengan berakhirnya
pemerintahan  Muslim  pada  tahun 1917, daerah tersebut jatuh ke dalam
kekacauan, teror, pertumpahan darah, dan perang.

Yerusalem,  pusat  tiga  agama,  mengalami  masa stabilitas terpanjang
dalam  sejarahnya  di  bawah  Ottoman, ketika kedamaian, kekayaan, dan
kesejahteraan  berkuasa  di  sana  dan  di  seluruh  kesultanan.  Umat
Nasrani,  Yahudi,  dan  Muslim, dengan berbagai golongannya, beribadah
menurut  yang  mereka  sukai,  dihormati  keyakinannya,  dan mengikuti
kebiasaan  dan tradisi mereka sendiri. Ini dimungkinkan karena Ottoman
memerintah  dengan  keyakinan  bahwa  membawa  keteraturan,  keadilan,
kedamaian,  kesejahteraan,  dan  toleransi kepada daerah mereka adalah
sebuah kewajiban suci.

Banyak ahli sejarah dan ilmuwan politik telah memberi perhatian kepada
kenyataan  ini.  Salah  satu dari mereka adalah ahli Timur Tengah yang
terkenal  di  seluruh  dunia dari Columbia University, Profesor Edward
Said.   Berasal   dari   sebuah  keluarga  Nasrani  di  Yerusalem,  ia
melanjutkan  penelitiannya  di  universitas-universitas  Amerika, jauh
dari  tanah  airnya.  Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Israel
Ha'aretz, ia menganjurkan dibangkitkannya "sistem bangsa Ottoman" jika
perdamaian   permanen   ingin   dibangun   di   Timur   Tengah.  Dalam
pernyataannya,

Sebuah minoritas Yahudi bisa bertahan dengan cara minoritas lainnya di
dunia  Arab  bertahan.  ini  cukup  berfungsi baik di bawah Kesultanan
Ottoman,  dengan  sistem  millet-nya.  Sebuah sistem yang kelihatannya
jauh lebih manusiawi dibandingkan sistem yang kita miliki sekarang.14

Memang,  Palestina  tidak  pernah menyaksikan pemerintahan "manusiawi"
lain  begitu  pemerintahan  Ottoman berakhir. Antara dua perang dunia,
Inggris  menghancurkan  orang-orang  Arab dengan strategi "memecah dan
menaklukkannya" dan serentak memperkuat Zionis, yang kemudian terbukti
menentang,  bahkan  terhadap mereka sendiri. Zionisme memicu kemarahan
orang-orang  Arab,  dan  dari  tahun  1930an, Palestina menjadi tempat
pertentangan  antara  kedua  kelompok  ini.  Zionis membentuk kelompok
teroris  untuk  melawan  orang-orag  Palestina, dan segera setelahnya,
mulai  menyerang  orang-orang  Inggris  pula.  Begitu Inggris berlepas
tangan  dan  menyerahkan  kekuasaannya  atas  daerah  ini  pada  1947,
pertentangan  inim  yang  berubah menjadi perang dan pendudukan Israel
serta  pembantaian  (yang  terus  berlanjut  hingga  hari  ini)  mulai
bertambah parah.

Agar  daerah  ini dapat menikmati pemerintahan "manusiawi"nya kembali,
orang-orang  Yahudi  harus meninggalkan Zionisme dan tujuannya tentang
"Palestina  yang  secara khusus bagi orang-orang Yahudi," dan menerima
gagasan  berbagi  daerah  dengan  orang-orang  Arab dengan syarat yang
sama.  Bangsa  Arab,  dengan demikian pula, harus menghilangkan tujuan
yang tidak Islami seperti "melemparkan Israel ke laut" atau "memenggal
kepala  semua orang Yahudi," dan menerima gagasan hidup bersama dengan
mereka.  Menurut  Said, ini berarti mengembalikan lagi sistem Ottoman,
yang   merupakan   satu-satunya   pemecahan   yang  akan  memungkinkan
orang-orang  di  daerah  ini  hidup  dalam  perdamaian dan ketertiban.
Sistem  ini  mungkin  dapat  menciptakan  sebuah lingkungan perdamaian
wilayah dan keamanan, seperti yang pernah terjadi di masa lalu.


9- Karen Armstrong, Holy War, (MacMillan: 1988), hlm. 30-31. tanda penegasan 
ditambahkan 
10-  "Gesta  Francorum,  or  the  Deeds  of  the  Franks and the Other
Pilgrims to Jerusalem," trans. Rosalind Hill, (London: 1962), hlm. 91.
tanda penegasan ditambahkan
11-  August  C. Krey, The First Crusade: The Accounts of Eye-Witnesses
and Participants (Princeton & London: 1921), hlm. 261. tanda penegasan
ditambahkan
12- Krey, The First Crusade, hlm. 262.
13- Armstrong, Holy War, hlm. 185. tanda penegasan ditambahkan.
14- An Interview with Edward Said by Ari Shavit, Ha'aretz, Agustus 18, 2000 





[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke