http://www.gatra.com/artikel.php?id=47296



Testimoni Berbuah Bantahan

PENEBAR heboh itu bernama Faridah. Lengkapnya: Faridah
Abdullah 
Rahman, tapi biasa dipanggil Ida. Dia sebetulnya bukan
perempuan 
istimewa, setidaknya dari status pendidikan dan
pekerjaannya. Ida 
drop out madrasah aliyah, setingkat SMU. Pekerjaan
pokoknya menjadi 
pembantu rumah tangga di New York, Amerika Serikat.

Perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat, ini tak bisa
berbahasa 
Inggris. Bahasa Indonesianya juga tak bagus. Logat
Bimanya amat 
medok. Siapa sangka, Ida yang terkesan agak culun ini
mampu bikin 
geger masyarakat Indonesia di "negeri Abang Sam" itu.
Kalangan 
diplomat di lingkungan Konsulat Jenderal RI (KJRI) di
New York kalang 
kabut dibuatnya.

Sepekan ini, kegemparan itu makin meletup, setelah
media massa 
menyebarkan kisah transaksi seks versi Ida yang
katanya melibatkan 
kalangan gereja dan diplomat. Komentar pun bermunculan
atas berita 
yang kebanyakan diberi stempel "skandal seks" itu.
Kalau ini 
benar, "Kelakuan mereka memprihatinkan," kata Angelina
Sondakh, 
anggota DPR dari Partai Demokrat yang baru dilantik,
kepada Rachmat 
Hidayat dari Gatra.

Agung Waluyo, Koordinator KBRI Watch, sebuah lembaga
swadaya 
masyarakat yang mengawasi Kedutaan Besar RI (KBRI) di
Amerika 
Serikat, menilai, jika pernyataan Faridah benar,
berarti para 
diplomat tersebut telah melakukan tindakan di luar
kepatutan moral 
dan etika sebagai pejabat. "Ini sangat penting
ditindaklanjuti 
Kementerian Luar Negeri," tulis Agung dalam
faksimilinya kepada 
Gatra, Rabu pekan ini.

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda tak urung geram.
"Saya akan cek 
kebenarannya," katanya di Jakarta. Kata Hassan pula,
isu itu 
dilemparkan oleh pihak keluarga yang menampung dan
memanfaatkan 
Ida. "Pihak yang mengendalikan wanita ini sedang dalam
situasi krisis 
keuangan, dan alasan-alasan lain. Jadi, labeling
skandal KJRI itu 
terlalu bombastis," Hassan menambahkan.

Nun di New York, di tempat tinggal majikannya, Ida
kebat-kebit 
menyimak perkembangan kehebohan tersebut. Ia merasa
keselamatannya 
terancam. "Ada yang mau menculik saya," ujarnya kepada
Gatra. Ida tak 
menyangka, pengakuannya perihal dagang seks yang
dilakoninya 
berkembang demikian geger, dan makin menyusahkannya.

Kegemparan berbau syahwat, dan kecemasan Ida, itu
bertolak dari surat 
terbuka yang ditulisnya pada 6 Agustus silam. Surat
berisi pengakuan 
Ida ini terkesan tak main-main karena juga
ditandatangani Surinder 
Kaur, notaris publik di Queens County, New York. Ida
memberinya 
judul "Penjelasan kepada masyarakat Indonesia".

Dalam surat sebanyak empat lembar, termasuk lampiran,
itu Ida blak-
blakan menceritakan bahwa ia telah melakukan hubungan
seksual atas 
dasar komersial dengan banyak orang di New York selama
setahun ini. 
Pelanggannya dari berbagai ras. Ada bule, negro, dan
bangsa dewe.

Nah, yang bikin heboh, ya, daftar nama pelanggan Ida
yang dijereng 
satu per satu di lampiran itu. Jumlahnya 41 orang.
Sebagian besar 
orang Indonesia. Sembilan orang di antaranya orang
penting di KJRI, 
termasuk Konsul Jenderal Kristio Wahyono. Sejumlah
tokoh gereja 
tersangkut pula. Di sebutkan juga, beberapa
pelanggannya sempat 
merekam adegan seksual mereka.

"Saya tidak bohong," kata Ida. Seakan untuk makin
menguatkan 
pengakuannya itu, Ida mengawalinya dengan kalimat
sumpah atas nama 
Tuhan. Lalu dilanjutkan dengan, "Bahwa nama-nama orang
yang saya 
cantumkan di bawah ini telah bersetubuh dan
berhubungan kelamin 
dengan saya," tulis perempuan 24 tahun itu.

Apa yang membuat Ida uring-uringan? Ternyata, kata
Ida, itu lantaran 
keringat pelayanan syahwatnya tak membuahkan dolar
bagi dirinya. 
Semuanya diambil sang germo ketika pada 11 Juni lalu
sang germo 
memutuskan berhenti mengeksploitasi Ida karena takut
tercium polisi. 
Di Amerika, bisnis seks memang sering diobrak-abrik
petugas. Para 
pemainnya banyak berakhir di bui.

Ida cuma gigit jari melihat si germo dan
konco-konconya membagi rata 
duit jerih payahnya selama ini. Jumlahnya lumayan: US$
200.000 atau 
sekitar Rp 1,8 milyar. Ia merasa ditipu habis-habisan.
Mungkin 
nasibnya lebih buruk dari tenaga kerja wanita yang
melacur di Arab 
sekalipun, yang masih kebagian riyal dari jerih
payahnya itu. Ida 
kecewa berat. Impian kawin dengan James Stover, atau
paling tidak 
mengumpulkan uang untuk pulang kampung, kandas sudah.

"Bila tak ditipu, biarlah kisah ini saya saja yang
tahu," katanya. 
Lantas Ida mengadu kepada majikannya, Chris J. Karto.
Dua bulan 
berselang, lahirlah testimoni yang menggegerkan warga
Indonesia di 
New York itu. Sebelumnya, kasus itu sudah menyebar
melalui bisik-
bisik antarwarga Indonesia di sana.

Menurut Ida, testimoni itu dibuatnya agar persoalan
jelas, sekaligus 
membersihkan tuduhan bahwa ia menyebar fitnah.
Testimoni tadi lantas 
menyebar dari tangan ke tangan, dan sampai pula ke
KBRI Watch, 
pertengahan Agustus lalu. Nah, sejak itulah, Ida
merasa ada yang 
membayang-bayanginya terus dan hendak menculiknya.
Entah siapa.

Pada 28 September, KBRI Watch yang didirikan 22 Juli
2002 dan 
berkedudukan di Washington, DC, ini lewat surat
meminta Departemen 
Luar Negeri (Deplu) menyelesaikan kasus transaksi
seksual yang 
melibatkan sejumlah pejabat tinggi dan diplomat di
KJRI New York itu. 
Surat tertanggal 28 September 2004 itu ditembuskan
pula ke media 
massa. Kasus itu pun meletup kian kencang. Nama
Faridah ikut ramai 
dibicarakan.

Bagaimana Faridah jadi pelacur gelap --dan cuma
diperas germo-- di 
Amrik? Kisahnya cukup berliku dan unik. Mula-mula,
pada 2001, ibu 
seorang anak yang dibelit kesulitan ekonomi ini
meninggalkan desanya 
dan menjadi pembantu rumah tangga di keluarga baik
hati di Jeddah. 
Tahun kedua, ia diminta ikut anak majikannya, Samih
Al-Qadra, yang 
bertugas sebagai dokter di Boston, Amerika Serikat.

Watak Samih bertolak belakang dengan sang ayah. Selama
empat bulan 
bekerja menjadi pengasuh anak pada keluarga itu, Ida
mengaku sering 
mendapat perlakuan buruk. Seperti ditempeleng dan
disuruh tidur di 
lantai. Kerap pula dipotong gaji sebesar US$ 50 untuk
mengganti 
piring majikan yang dipecahkannya. Padahal, gajinya
cuma US$ 300 
sebulan.

Akhirnya Ida nekat kabur, dan terseok-seok menyusuri
jalanan Boston 
di tengah hawa dingin bulan Desember 2002. Beruntung,
ia ditolong 
Nyonya Fiora, nenek tua asal Italia. Atas kebaikan
Nenek Fiora, Ida 
diantar ke KJRI New York. Ida berjumpa dengan Chris
Karto, programer 
komputer yang bekerja di KJRI. Chris, lelaki asal
Malang, Jawa Timur, 
yang berpaspor Amerika ini lantas menjadikan Ida
sebagai pengasuh 
anaknya yang menderita kelainan saraf motorik.

Sebulan di rumah Chris, pada Januari 2003, Ida
berkenalan dengan 
James Stover. James tetangga Chris, tinggalnya
berjarak empat rumah 
dari kediaman Chris di Woodside, Queens, New York
--sebuah 
kawasan "Kampung Melayu". Sebelumnya, pemuda Brasil
berusia 20-an 
tahun itu memang kerap bertandang ke tempat Chris,
terutama kalau ada 
pesta.

James memperlihatkan rasa suka pada Ida. Keduanya
kemudian berpacaran 
dan tidur bersama. Kesulitan bahasa tak menjadi
hambatan. Menurut 
Ida, mereka berpacaran diam-diam. Majikannya tak tahu.
Chris sibuk 
dengan proyek teknologi informasi di perusahaannya,
sehingga sering 
pulang malam. Istri Chris selalu repot dengan kegiatan
gereja. 
Kesempatan itu digunakan Ida untuk menemui pujaan
hatinya.

Selang dua bulan, dalam suatu pertemuan, James
menyatakan cintanya 
dan ingin mengawini gadis Bima ini. Ida menyambutnya
dengan hati 
berbunga-bunga. "Orangnya ganteng, tinggi. Dan dia
bilang I love you 
pada saya," tutur Ida.

Dalam percakapan berikutnya, James menjelaskan bahwa
untuk kawin 
perlu biaya. Dan itu hanya bisa diperoleh bila Ida
bersedia melayani 
lelaki lain dengan imbalan uang jasa. Mungkin sedang
dimabuk cinta, 
Ida tak menolak saran sang kekasih. Ada dugaan, James
sedari awal 
memang mendekati Ida untuk menjadikannya perempuan
penghibur. Apalagi 
ia tahu, Ida lumayan cantik. Bibirnya sensual,
tubuhnya sintal.

Suatu pagi, James yang mengaku bekerja sebagai
pembantu administrasi 
di salah satu rumah sakit ini mengajak Ida ke
rumahnya. Di sana sudah 
menunggu David, seorang lelaki berkulit hitam, teman
James. David 
yang ternyata luntang-lantung ini minta dilayani. Ida
tak bersedia, 
tapi dipaksa James sampai akhirnya mau.

Kemudian langganan-langganan lainnya berdatangan.
"Saya diminta 
melayani dua orang dalam sehari. Kata James, untuk
ongkos buat 
kawin," tutur Ida. Maka, sejak itu Ida pun menjalani
profesi sebagai 
pramusyahwat secara diam-diam. Maklum, prostitusi liar
dilarang keras 
di sana. Ida, yang hafal jadwal kerja majikannya,
leluasa menerima 
tamunya di rumah sang majikan. Apalagi, kedua anak
majikannya 
bersekolah pukul 08.00-16.00.

Terkadang ia juga diantar James melayani tamunya di
luar rumah 
majikannya. "Bahkan ada pula yang di dekat sini,"
katanya sambil 
menunjuk blok lain di lingkungan rumah majikannya.
Yang paling 
menyedihkan, menurut Ida, ia dijebak dan harus
melayani beberapa 
orang. "Katanya satu orang, ternyata di rumah itu ada
empat orang. 
Saya diperlakukan seperti hewan," katanya.

Penuturan Ida, oleh James, para pelanggan warga asing
itu dikenai 
tarif rata-rata US$ 500 sekali main. Usai melayani
tamunya, Ida 
mendapat uang jasa dan hari itu pula harus ia setorkan
ke James. 
James beralasan, uang akan ditabungnya buat bekal
kawin.

Menurut Chris Karto, James Stover kemudian mengajak
Sahat 
Simanjuntak, seorang pengusaha pemborong bangunan,
untuk "bekerja 
sama". "Dia ikut pula mengatur dan mencarikan
pelanggan buat Ida," 
kata Chris, menceritakan Sahat Simanjuntak, kawan
karibnya yang 
sering berkunjung dan sudah dianggap sebagai saudara
itu. Chris 
menduga, Sahat dimanfaatkan karena dia sudah lama di
antara 
masyarakat Indonesia di sana, sehingga gampang mencari
pelanggan.

Menurut versi Chris lagi, pelanggan Ida berkembang,
merambah ke 
kalangan pejabat KJRI di New York. Itu berkat peranan
Robert Silaen, 
kakak ipar Chris yang punya istri sebagai staf KJRI.
Dalam sejumlah 
kesempatan, kata Chris pula, Robert menawar-nawarkan
"jasa" Ida.

Sejumlah staf dan petinggi KJRI, menurut pengakuan
Ida, sempat 
dilayaninya, juga di rumah sang majikan. Kala itu,
Maret 2003, 
majikannya sedang berlibur ke Kanada. Seingat Ida,
pelanggannya dari 
KJRI itu berjumlah sembilan orang.

Konsul Jenderal Kristio Wahyono, kata Ida, menjadi
pelanggan kedua 
dari KJRI. "Setelah selesai, saya diberinya uang di
dalam amplop 
sebanyak US$ 500. Kalau staf KJRI lainnya US$ 200-US$
300," kata Ida. 
Entah benar entah tidak ocehan Ida ini.

Dari kalangan diplomat, Ida mengaku diusung pula ke
orang-orang 
Indonesia yang aktif di gereja. Pelanggannya ini ada
yang diantarkan 
oleh Robert Silaen, ada pula yang sudah tahu dan
menemui Ida 
langsung. Mainnya, kata Ida, di kamar mandi atau
podium. Ida mengaku 
cukup lama bergelut dengan kalangan gereja. Dalam
"daftar hebohnya" 
itu, tercatat setidaknya 18 nama dari kalangan gereja.

Praktek mesum diam-diam ini baru berhenti 11 Juni
lalu. James yang 
berinisiatif menyetopnya. Dua hari berselang, di malam
hari, Ida 
disatroni James di kamarnya di lantai atas. James
mengajak Ida kabur 
untuk dikawini. Entah serius atau tidak. Sadar bakal
dikadali lagi, 
besoknya Ida menceritakan kelakuan James pada Chris.

Kasus masuknya James ke kamar Ida dilaporkan Chris ke
kantor polisi 
Precinct 108, waktu itu ditangani Detektif R. Terry.
Kelanjutan kasus 
ini sampai sekarang tidak jelas. James sendiri
kabarnya menghilang.

Nah, sepulang dari kantor polisi, Ida berceloteh pula
kepada sang 
majikan perihal transaksi seksual yang dilakoninya di
kamarnya itu. 
Ida menunjukkan daftar 10 lelaki yang dia ingat sempat
menjadi 
pelanggannya.

Kata Chris, ia terkejut bukan main. Apalagi Ida
menyebut pula nama 
Robert Silaen dan Sahat Simanjuntak. "Saya sempat tak
percaya," ujar 
Chris. Ia baru percaya setelah Ida bersumpah bahwa
yang diucapkannya 
itu benar. Belakangan, daftar nama pelanggan Ida
berkembang menjadi 
41 orang.

Shamsi Ali, Imam Masjid Islamic Center New York,
sempat heran melihat 
kejelian dan daya ingat Ida --menurut dia, perempuan
itu terkesan 
culun-- dalam mencatat nama-nama pelanggannya.
"Semuanya dicatat 
rapi," kata Shamsi, yang pernah diminta Chris menjadi
saksi saat 
Faridah memberi kesaksian hebohnya itu. Ia juga heran,
kok selama 
setahun itu Chris tak tahu sama sekali.

Benarkah pemilik nama-nama itu pernah telibat
esek-esek seperti 
dituduhkan Ida? Semuanya membantah. Secara institusi,
pihak KJRI 
melalui siaran pers tertanggal 30 September menampik
semua pengakuan 
Ida. Uniknya, siaran pers Nomor 002/PR/IX/04 itu tak
jelas diteken 
siapa. Yang tercantum di situ cuma goresan pena mirip
paraf.

Pihak KJRI juga pernah melayangkan tiga kali undangan
kepada Ida 
untuk hadir dan membahas masalah itu. "Tapi undangan
itu tidak pernah 
dipenuhi Ida karena dilarang Chris," kata Iwansyah
Wibisono, Kepala 
Bidang Penerangan KJRI. KJRI tidak bisa main paksa
"mengambil" Ida 
dari Chris, karena itu melanggar hukum Amerika. "Kita
sebagai warga 
Indonesia (sebetulnya) bisa menyelesaikan secara
kekeluargaan," kata 
Iwansyah lagi. Dalam daftar Ida, Iwan masuk di urutan
ke-13.

Sejumlah nama lain --dari ke-41 daftar versi Ida--
yang diwawancarai 
Gatra menyebutkan bahwa pengakuan Ida adalah hasil
rekayasa tokoh 
intelektual di belakangnya: Chris Karto. Menurut
mereka, Chris 
berupaya melakukan pemerasan dengan menebar fitnah.

Kristio Wahyono, misalnya, tegas mengatakan bahwa
Chris Karto sakit 
hati karena sejumlah kontraknya dengan KJRI yang
berlangsung 10 tahun 
distop sejak Kristio menjabat sebagai konjen pada
2003. "Dia 
kesulitan uang karena gemar judi, kemudian hendak
memeras saya yang 
dianggapnya orang kaya. Faridah itu hanya
diperalatnya," kata Konjen 
RI di New York itu kepada Gatra. Ia di nomor urut enam
dalam daftar 
versi Ida.

Sahat Simanjuntak juga membantah tudingan sebagai
germo. Katanya, ia 
pernah dimintai tolong oleh Ida dan Chris menagih uang
milik Ida pada 
James Stover. Ia mengabulkan permintaan itu dengan
mendatangi James. 
Ia justru heran, kok bisa-bisanya dituduh berkomplot
dengan James 
mengomersialkan Ida secara seksual.

Edyson Simandjuntak, kakak kandung Sahat, menyatakan
keheranannya 
perihal pengakuan Ida bahwa ia melayani pelanggannya
di gereja. "Pada 
setiap kebaktian hari Minggu, kan banyak orang. Mau
main di mana?" 
kata tokoh gereja yang berada di nomor 15 dalam daftar
Ida itu.

Chris Karto menolak dikatakan merekayasa cerita dan
hendak memeras. 
Niatnya membeberkan kasus itu, katanya, lantaran
kejadiannya 
berlangsung di rumahnya. Chris berkeras bahwa apa yang
disampaikan 
Ida benar adanya.

Sebaliknya, pihak yang dituding bersikukuh membantah.
Lantas, siapa 
yang benar? Duta Besar RI untuk Amerika Serikat,
Soemadi D.M. 
Brotodiningrat, bertekad ikut menyelesaikan persoalan
ini. Untuk 
itu, "Seluruh benang merahnya harus ditelusuri. Dan
yang paling 
penting, harus ada penyelesaian secara hukum," katanya
kepada Gatra 
di Washington, DC.

Mungkin ada baiknya Menteri Hassan Wirajuda segera
bertindak. Kalau 
diplomat itu tidak bersalah, ya, wajib dibela.

Taufik Alwie, Bernadetta Febriana, Didi Prambadi dan
Agung Firmansyah 
(New York)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 48 beredar Jumat 8 Oktober
2004] 


=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke