http://www.gatra.com/artikel.php?id=47107


Wawancara Syafruddin Temenggung
Pertamina Seperti Dirampok

KEDEKATAN mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) 
Syafruddin A. Temenggung dengan Laksamana Sukardi menyeretnya ke tubir 
jurang. Ia menjadi satu dari tiga pejabat yang menjadi sasaran tembak: 
dituduh menyalahgunakan jabatan. Lulusan ITB yang melanjutkan pendidikan ke 
University of Canberra, Australia, dan Cornell University, New York, Amerika 
Serikat, University of London, Inggris, itu pun merasa gerah. Berikut 
petikan wawancara Syafruddin dengan Iwan Qodar Himawan dan Heru Pamuji dari 
Gatra.

Apa kegiatan Anda setelah pembubaran BPPN?
Saya sedang melaksanakan audit BPPN. Audit ini sebagai salah satu bentuk 
pertanggungjawaban saya kepada publik, apa pun hasilnya. Diharapkan bulan 
Desember selesai.

Anda sempat masuk dalam bursa calon Dirut Pertamina, mengapa terhenti?
Saya pernah diminta dua kali untuk menjadi Dirut Pertamina. Juga ditawari 
menjadi komisaris utama. Tapi semua saya tolak, karena saya ingin 
menyelesaikan tugas di BPPN. Saat pergantian dari Pak Ariffi ke Pak Widya, 
yang saya tahu, hal itu atas permintaan presiden, karena persoalan 
distribusi BBM yang tidak pernah beres. Di rapat komisaris, saya hanya 
mengusulkan Direktur Hilir dipecah menjadi dua, yakni Direktur Distribusi 
dan Direktur Pengolahan.

Anda dan Laksamana Sukardi dilaporkan ke Kejaksaan Agung karena dicurigai 
melakukan korupsi. Pendapat Anda?
Kedekatan saya dengan Pak Laks sebatas pada jalur profesional antara atasan 
dan bawahan. Berkenaan dengan jabatan saya di dewan komisaris Pertamina, 
semua pengambilan keputusan berdasarkan kata sepakat, bukan ditentukan oleh 
satu orang. Soal laporan itu, jangan-jangan ada yang merasa bisnisnya 
terganggu, lantaran Pertamina berubah dari institusi publik yang birokratis 
menjadi persero. Sebenarnya, di balik pelaporan itu ada kepentingan apa?

Ada yang menuduh Anda melacurkan Pertamina.
Saya menjadi komisaris Pertamina karena diminta untuk membantu mengubah 
Pertamina dari institusi pemerintah menjadi persero. Baru tiga hari 
menjabat, PT Tongkang yang memiliki rating B berniat menerbitkan obligasi. 
Tawarannya memakai yield tinggi, sehingga banyak peminat. Tapi sebagai anak 
perusahaan, PT Tongkang dijamin oleh Pertamina. Lho, mengapa bukan Pertamina 
sendiri yang menerbitkan obligasi dengan rating A? Dalam kasus ini, 
Pertamina seperti dirampok. Hal ini saya katakan dalam rapat komisaris, lalu 
rencana tersebut dibatalkan. Padahal, hari itu mereka akan melakukan 
underwrite. Sejak itu, saya menjadi tidak populer di Pertamina.

Setelah menjadi persero, apakah kinerja Pertamina meningkat?
Di DPR pernah saya ungkapkan, return of equity Pertamina di bawah 6%, 
sedangkan anak-anak perusahaannya di bawah 3%. Artinya, Pertamina memakan 
modalnya sendiri. Jauh lebih untung jika uangnya ditaruh di bank, yang 
bunganya waktu itu 12%. Artinya, bisnis Pertamina selama ini tidak 
menguntungkan. Sebab, banyak aset idle di Pertamina. Pertamina maunya cuma 
beli dan beli. Di bidang properti saja, saat ini Pertamina punya aset idle 
senilai Rp 30 trilyun lebih, dengan biaya pengelolaan cukup tinggi.

Anda tahu soal kasus PT Pertamina Saving and Investment yang kebobolan Rp 
250-an milyar?
Kasus itu sudah muncul saat direksi lama menjabat. Itu kan penyimpangan 
penempatan dana investasi, yang tidak disertai risk management. Masih banyak 
yang belum ketahuan. Dengan dilaporkannya kasus Pertamina Saving and 
Investment ke polisi, di dalam Pertamina banyak yang merasa tidak nyaman. 
Kalau ingin Pertamina menjadi perusahaan yang sehat, let's do it together!

Mengapa Anda menentang pembelian kapal tanker Pertamina?
Kini seluruh perusahaan minyak di dunia, kecuali Petronas, melepas bisnis 
tanker. Fenomena ini terjadi sejak kapal Exxon terdampar di Alaska, dan 
dituntut kerugian pencemaran laut yang membuat perusahaan induknya hampir 
bangkrut. Sesuai dengan Undang-Undang Migas, Pertamina juga diwajibkan fokus 
ke bisnis inti. Maka bisnis pengelolaan tanker harus dihindari. Dari 
perhitungan, ternyata lebih untung sewa daripada mengelola kapal sendiri, 
karena hanya membayar biaya mengangkut minyak dari satu titik ke titik lain, 
tidak membayar biaya kembalinya tanker kosong. Juga, pembelian kapal tangker 
mempengaruhi cash flow Pertamina.

Akhirnya, dewan komisaris memutuskan tidak melanjutkan bisnis ini. Tetapi 
keputusan tersebut tidak dilaksanakan, karena ada "orang dalam" Pertamina 
yang menginginkan bisnis itu tetap jalan. Ini menunjukkan, budaya 
corporate --yang bertujuan mencetak untung-- belum dimiliki oleh sebagian 
besar orang Pertamina. Yang terjadi selama ini, Pertamina cuma menghabiskan 
uang.

[Ekonomi, Gatra Nomor 47 beredar Jumat 1 Oktober 2004] 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke