http://www.suaramerdeka.com/harian/0410/07/opi4.htm Kamis, 07 Oktober 2004WACANANU-PKB PascapilpresOleh: M Hasibullah Satrawi
PASANGAN Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) diumumkan oleh KPU sebagai presiden-wakil presiden terpilih, mengalahkan pasangan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi. Bagi sebagian warga NU, kemenangan SBY-JK merupakan jalan tengah untuk tidak terjebak kepada "pertikaian" di tubuh NU. Sebagaimana dimaklumi, tampilnya Hasyim Muzadi di kancah politik nasional sebagai cawapres mendampingi capres Megawati dari PDI-P belakangan ini menghancurkan keutuhan aspirasi politik warga NU. Ada "Bani Hasyim" dengan PDIP-nya di satu pihak, ada "Bani Wahid" dengan PKB-nya di pihak lain. Dua "bani" ini pun tidak mendapatkan dukungan penuh dari warga NU. PKB yang mencalonkan Wiranto-Wahid di pilpres putaran pertama berakhir dengan kegagalan. Di antara penyebab kekalahan PKB ini adalah "pertikian" di tubuh NU yang sekian lama tambah memanas. Di samping juga faktor eksternal, seperti keberadaan koalisi yang setengah hati dengan Partai Golkar. Bahkan, imbas pertikaian ini masih sangat kuat di pilpres putaran kedua. Hal ini bisa dibuktikan dengan perolehan sauara yang berhasil dikantongi pasangan Mega-Hasyim. Walaupun "Bani Hasyim" di pilpres putaran kedua tampil dengan kekuatan penuh (tanpa bersaing dengan "Bani Wahid"), namun hal itu tidak mampu menarik "simpati" warga lebih banyak. Tampaknya, warga NU tidak sampai hati membagun "tawa" di atas "luka". Sebaliknya, warga NU menyalurkan aspirasi politiknya ke pihak "luar" sebagai jalan ketiga, atau akhaffu dararain (mudarat yang lebih kecil) dalam istilah yang popular di kalangan nahdliyyin. Dari sini, dapat diterima apabila pasangan SBY-JK menang di basis-basis NU. Merugikan NU Pertikaian antara "Bani Hasyim" dan "Bani Wahid" sangat merugikan NU. Karena pertikaian internal ini, "NU politik" harus mengalami kegagalan. Selanjutnya, cita-cita NU untuk membangun tatanan sosial yang didambakan kembali tertunda. Tak dapat dipungkiri, walaupun NU sebagai organisasi sosial keagamaan harus netral dalam dunia politik, namun tidak berarti NU "diharamkan" dari politik. Perubahan yang didambakan NU harus melalui partai politik, karena partai politik merupakan salah-satu pilar demokrasi. Menurut hemat saya, setidaknya ada dua kerugian besar terkait dengan pertikaian di atas. Pertama, kesenjangan antara PKB dan NU. Sebagaimana dimaklumi, hubungan NU-PKB di pemilihan sekarang ini kurang harmonis. PKB mempunyai ijtihad politik. Sementara NU (versi Hasyim Muzadi), mempunyai ijtihad politik yang lain. Masing-masing memperebutkan dukungan warga NU. Dampak dari kesenjangan ini pun perlahan mulai ketahuan. Baik "Bani Hasyim" maupun "Bani Wahid", kini berakhir dengan kegagalan. Tentunya, keggalan yang dimaksud adalah bukan kegagalan total. Walaupun PKB gagal di pilpres putaran pertama mengantarkan pasangan Wiranto-Wahid ke Istana, bukan berarti PKB tidak mendapatkan posisi di pemerintahan mendatang. Peluang ke arah sana sangat besar. Begitu juga halnya dengan NU. Yang dimaksud dengan kegagalan di sini adalah, hilangnya harapan utama. Kemudian dengan "terpaksa" harus menerima kenyataan lain. Walaupun tidak seistimewa yang diharapkan pertama kali. Padahal, NU dan PKB tak seharusnya dipertentangkan. Karena PKB merupakan wajah politik NU. Ketika hubungan PKB dan NU kurang harmonis seperti sekarang ini, keduanya sama-sama merugi. Semua pihak harus bisa mengambil pelajaran berharga dari apa yang terjadi saat ini. Sebaliknya, hubungan yang harmonis antara NU dan PKB dapat membangun kekuatan yang tak dapat dientengkan. Baik NU maupun PKB, sangat diuntungkan oleh hubungan baik ini. Apa yang terjadi pada pemilu 1999 dapat dijadikan sebagai contoh. Walaupun baru berdiri, namun PKB pada pemilu 1999 mampu tampil dengan kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng oleh parpol-parpol lain. PKB yang baru berdiri pada masa itu berhasil menduduki peringkat ketiga setelah PDI-P dan Partai Golkar. Partai bernafas kebangsaan ini mampu menahan PPP di bawahnya. Padahal dari segi umur, PPP jauh di atasnya. Bahkan, di saat mesin partai tidak bisa beroprasi secara optimal (karena banyaknya permasalahan internal), PKB masih bisa bertahan di peringkat ketiga. Seperti yang terjadi di pemilihan legislatif 5 April lalu. Kerugian terbesar kedua adalah hadirnya kembali wacana politisasi agama/kiai dalam NU. Sebagaimana dimaklumi, pertikaian antara "Bani Hasyim" dan "Bani Wahid" telah membelah dua barisan warga NU. Mulai dari kalangan elitenya, hingga ke dalam kehidupan masyarakat akar rumput. Sebagian berada di pihak "Bani Hasyim". Sementara sebagian lain berada di pihak "Bani Wahid". Dan yang paling disayangkan adalah, tatkala pertikaian "bani" ini juga membelah barisan para kiai. Wacana keagamaan kembali hadir dalam dunia politik mengiringi kehadiran para kiai ini. Urusan politik pun mulai disentuh oleh tangan-tangan agama. Berbagai ayat dan hadis kembali ditarik untuk memperkuat ijtihad politiknya. Hingga akhirnya, terjadi pertentangan antara satu hadis maupun ayat dengan ayat yang lain. Kasus fatwa yang mengharamkan presiden perempuan beberapa bulan lalu bisa dijadikan sebagai contoh. Kesempatan Emas Dalam Islam umumnya, dan NU khususnya, perdebatan berkaitan dengan politisasi agama oleh para tokoh agama merupakan wacana klasik yang tak seharusnya kembali hadir di masa sekarang. Sebagaimana dimaklumi, belakangan ini di tubuh NU terjadi "revolusi keberagamaan" yang dipelopori oleh kalangan aktivis muda. Sebuah revolusi keberagamaan sebagaimana yang disinyalir Mujamil Qomari, dalam bukunya "NU Liberal, dari Tradisionalisme Ahlussunnah ke Universalisme Islam'�. Disebutkan, pergolakan pemikiran agama dalam NU sesungguhnya bukan hanya menyangkut satu sisi ajaran agama, melainkan nyaris mencakup semua dimensi keagamaan yang selama ini dilestarikan. (2002: 109). Oleh karenanya, hadirnya wacana politisasi agama di tubuh NU belakangan ini telah membawa NU mundur jauh ke belakang. Sebuah langkah mundur yang tak seharusnya terjadi di masa sekarang. Menurut hemat saya, Muktamar NU yang ke-31, akhir November-awal Desember nanti, merupakan satu kesempatan emas untuk menyelamatkan NU dari berbagai permasalahan yang melilitnya, termasuk di antaranya permasalahan "bani". Menyelamatkan NU dari pertikaian "bani" salah satu caranya adalah dengan mempertegas satatus hubungan NU dan PKB. Hubungan yang tegas antara PKB dan NU secara otomatis menutup pintup "bani" di masa yang akan datang, hingga langkah NU dapat lebih mantap menuju masa depan. (29) -M Hasibullah Satrawi, Sekum PKB Mesir Memahami Perbedaan Menghilangkan Jarak dan Membentuk Ego Menjadi Empati yang Utuh -GuN- Egypt: +20106867745 Untuk arsip-arsip tulisan, bisa klik: http://qalam.co.nr or http://qalam.tk atau www.katakata.cn.st Terima kasih..:)) --------------------------------- Do you Yahoo!? vote.yahoo.com - Register online to vote today! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

