SURAT KEMBANG KEMUNING:

"HARI SASTRA INDONESIA" PERTAMA DI PARIS [7].


Setelah pemutaran filem biografis tentang Pram dan Wispi, Etienne Navaud, pengajar 
bahasa [ekspresi tulis] dan sastra Indonesia dari INALCO, [Institut Nasional 
Bahasa-bahasa dan Budaya Timur], Paris, menyampaikan makalahnya berjudul "Pembebasan 
Melalui Tulisan Dari Kartini, Pelopor Emansipasi Perempuan Indonesia [1879-1904] 
Sampai Ke Pramoedya Ananta Toer". Untuk penyampaian makalah, Navaud memakan waktu yang 
cukup panjang dari waktu yang sangat terbatas. Para peserta merasa nampak sempat 
gelisah oleh tema yang sedikit menyimpang dari topik Hari Sastra. Andaikan makalah ini 
dibacakan di depan seminar tentang masalah jender, barangkali lebih cocok tapi terasa 
kurang mengena di Hari Sastra yang bertema pokok "Sastrawan Berpihak Dan Penerbitnya, 
Suat Pekerjaan Menantang Segala Bahaya..". Mengapa tema ini yang dibawakan oleh 
Navaud, barangkali sesuai dengan permintaan pihak penyelenggara yaitu Asosiasi Pasar 
Malam.


Yang lebih menjengkelkan adalah situasi pada saat giliran Joesoef Isak akan 
bicara,Fran�ois Raillon, Direktur Penelitian Pada CNRS [semacam LIPI di Indonesia] 
Perancis, yang memoderator sidang, mengambil waktu sebagian besar waktu bicara. 
Raillon berbicara lebih lama dari Joesoef Isak, seakan moderator menggantikan 
pembicara utama yang jauh-jauh diundang. Joesoef akhirnya hanya berbicara beberapa 
menit. Menyaksikan keadaan ini, seorang sarjana antropologi dari Finlandia, mengatakan 
bahwa "Orang Perancis lebih suka mendengar suara mereka sendiri" [Di sini aku tidak 
berbicara lebih lanjut tentang mentalitas orang Perancis karena tidak relevan]. 
Joesoef sendiri di luar forum menyatakan penyesalannya. Raillon yang pernah menjadi 
penterjemah negara,  memang meminta telah meminta maaf atas panjangnya ia telah 
bicara. 


Kekurangan waktu menyebabkan perdebatan yang sedianya diadakan menjadi acara yang 
hanya tercantum dalam mata program. Jangankan pertanyaan dan perdebatan, pembicara 
utama pun kurang mendapat waktu bicara selayaknya.  Aku seperti menyaksikan forum jadi 
panggung mempertonton kebolehan masing-masing mengetahui arti penting forum ini. 
Barangkali kekurangan-kekurangan kecil begini merupakan kewajaran dari suatu kegiatan 
pertama dan diselenggarakan oleh Asosiasi Persahabatan yang non literer. Sastra oleh 
Asosiasi Non Literer dijadikan sebagai sarana mengembangkan persahabatan antar negeri 
dan bangsa.


Yang menarik, dan ini aku kira penting dicatat sebagai hasil bahwa dalam Hari Sastra 
ini telah diajukan beberapa pertanyaan prinsipil sekalipun tidak ada kesempatan 
membahasnya baik tentang sastra, sejarah, politik mau pun soal-soal lain. Kuanggap 
penting karena bertanya merupakan kemampuan tersendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu 
antara lain anggapan bahwa Soekarno adalah seorang tiran, apa-bagaimana sesungguhnya 
emansipasi perempuan di Indonesia dan jika ada pelopornya, siapakah pelopornya, 
tidakkah anggapan bahwa R.A.Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan Indonesia, 
bukannya menunjukkan sifat terlalu Jawa-sentris, padahal Indonesia bukan hanya Jawa. 
Artinya pernyataan demikian telah mengabaikan etnik-etnik lain dan keterbatasan 
pengetahuan tentang etnik-etnik lain di luar Jawa. Barangkali geli mendengarnya bahwa 
sastrawan-sastrawan yang telah dipenjara, dibuang dan disiksa oleh Orba sebagai suatu 
keberuntungan karena mereka tidak punya tanggungjawab sosial, tidak membayar pajak, 
dan hanya tinggal makan. Di dalam penjara dan pulau pembuangan, mereka mempunyai waktu 
banyak untuk menulis, karena itu mereka selayaknya bersyukur pada pembuangan dan 
pemenjaraan. Segala siksa yang dialami di pulau pembuangan dan penjara, justru bisa 
dijadikan sumber karya. Dan lain-lain soal prinsipil lain yang selayaknya didatai 
serta dicatat oleh Asosiasi Pasar Malam. 


Pernyataan-pernyataan begini sangat khas keluar dari mulut akademisi elitis yang hanya 
bergaul dengan buku, asing dari kehidupan, apalagi yang disebut Indonesia dan 
Indonesia sesungguhnya tapi berlagak tahu segala tentang Indonesia. Denys Lombard alm. 
pernah mengatakan dalam sebuah kuliah atau seminarnya di l'EHESS, agar para 
Indonesianis asing jangan berharap dan mimpi bisa menggantikan orang Indonesia dalam 
pengenalan tentang Indonesia. Kalau menggunakan istilah orang Tiongkok, pernyataan 
akademisi begini tidak lain dari pernyataan orang-orang "lulusan tiga pintu"; pintu 
keluarga, pintu sekolah dan pintu dapur. Gelar akademi mereka pandang sebagai takaran 
mutu diri dan mutu pengenalan serta pengetahuan. Celakanya, kita, orang Indonesia, 
sering terkagum-kagum pada akademisi asing, barangkali karena mereka asing dan bul�. 
Sudah demikian bangga jika karya pengumpulan data mereka sudah dijadikan "catatan 
kaki" sang guru besar yang menteoritasikan data. Kita pun dengan penuh kepercayaan 
mengikuti teori sang guru. Guru setara dengan nabi.


Apakah arti keadaan ini?  Lagi-lagi aku memahaminya  sebagai ujud kolonialisasi di 
dunia akademi , bentuk dari mentalitas budak, kemalasan berpikir serta kultus akademi 
yang hampa isi.


Menjawab arti positif penjara, pulau pembuangan dan siksa rumah tahanan seperti 
dikemukakan para pakar di atas, Joesoef Isak yang hanya punya peluang bicara beberapa 
menit -- membuat forum lebih bersifat satu arah -- mengatakan: "Saya tetap memilih 
sebagai warga merdeka dan berada di luar penjara". Mendengar pandangan begini aku 
hanya mengagumi keberanian mereka mengungkapkan pendapat walaupun lebih tampil sebagai 
pelawak akademis. 


Sedangkan mengenai pandangan bahwa "Soekarno seorang tiran atau diktator", Joesoef 
hanya menyesali bahwa ia tidak mempunyai waktu menyanggah pendapat yang banyak dianut 
pakar Barat dan juga bergema di Indonesia. Di luar forum, Joesoef mengatakan pendapat 
demikian, sama dengan tidak mengenal sejarah Indonesia atau paling tidak kurang cermat 
mempelajarinya, khusus tentang Soekarno. "Diktatur adalah seorang yang sanggup 
membunuhi rakyatnya sendiri", ujar Joesoef. "Dan Soekarno tidak mempunyai kesanggupan 
ini". Joesoef juga mempertanyakan: Kapan gerangan Soekarno benar-benar memerintah 
Indonesia? Kosep-konsepnya apakah diktatorial? Berdikari dalam ekonomi yang akhirnya 
oleh PSI [Partai Sosialis Indonesia] yang juga berdarah tangannya dalam Tragedi 
Nasional September 1965, akhirnya berbalik menyokong konsep Soekarno tapi tak sempat 
melaksanakan "banting setirnya" oleh meletusnya Tragedi Nasional September 1965. Inti 
pernyataan Joesoef yang merupakan aktor sejarah dan sebagai wartawan tahu banyak, 
terletak pada keinginan agar kita belajar dan mengenal sejarah dengan baik. Bukan 
mengenal dan mengetahui asal-asalan. Apakah sekarang kita mempunyai kesadaran sejarah 
dan keinginantahu sejarah yang padan dengan semestinya? Sebagai wartawan [Radio 
Hilversum Belanda] Mung Murbandono [maaf Mas Mung aku menyebut nama Mas!], merasa 
sangat beruntung bisa hadir di Paris pada Hari Sastra ini, terutama di forum-forum di 
luar acara resmi yang diadakan menyambut Joesoef Isak dan Ibrahim Isa. 


Memungut manfaat dari kehadiran Joesoef Isak di Perancis, Universitas La Rochelle 
telah mengundang Joesoef untuk bicara. Kesempatan ini aku kira merupakan satu 
sumbangan untuk mengembangkan persahabatan dan saling kenal antara kedua rakyat dan 
negeri. Suatu sumbangan pekerja budaya di luar jalur resmi. Bentuk kongkret dari 
hubungan "P to P" [People to People]. Ia selayaknya disokong dan bukan dicurigai 
karena suatu phobi yang tidak lain dari penjara jiwa dan pikiran buatan sendiri. 
Phobie tidak membebaskan pikiran dan hanya memerosotkan diri sebagai anak manusia yang 
tidak pernah hidup dalam masyarakat monolit. Apa beda phobi dengan apriori-isme?  Yang 
aku khawatirkan bahwa kita bangga berada di penjara yang kita ciptakan sendiri: 
phobi-isme!



Paris, Oktober 2004.
-------------------
JJ.KUSNI


[Bersambung...]



Catatan:

Di foto ini nampak wajah Johanna Lederrer,Ketua Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia Pasar Malam, sedang bercengkerama dengan peserta "Hari Sastra 
Indonesia" Pertama di Paris, 9 Oktober 2004.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke