Jawa Pos Senin, 18 Okt 2004 Perpolitikan Indonesia Cerita tentang Siklus Harapan (1)
Tidak Punya Waktu Disia-siakan PEMILIHAN Presiden 2004 memberikan beberapa pelajaran politik yang sangat penting. Pemilihan itu membuktikan, bagaimanapun populernya seorang pemimpin saat dipilih rakyat, jika pemimpin tersebut tidak memberikan hasil, rakyat akan menolak dia. Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono tidak boleh melupakan pelajaran ini. Saya pribadi menyaksikan euforia di sekeliling Megawati dan perjalanannya menuju kepresidenan. Megawati merasa yakin bahwa orang-orang mencintainya, menggantungkan semua harapan padanya, dan tidak akan meninggalkannya. Pada puncak kepopulerannya, mungkin pandangan itu bisa dimengerti. Tetapi, "cinta" dan "kesetiaan" dalam dunia politik tidak bisa berlanjut jika orang yang memberikan semua harapannya menyadari bahwa mereka sekali lagi telah dikhianati dan dicurangi. Cerita tentang perpolitikan Indonesia adalah cerita tentang "siklus harapan" (cycles of hope). Meskipun telah dikecewakan terus-menerus, satu hal yang bisa dikatakan tentang orang Indonesia adalah mereka tidak pernah secara tetap memperolok (sinis). Mereka ingin mempercayai bahwa pemimpinnya adalah baik. Dia sangat peduli terhadap kemiskinan dan penderitaan rakyat. Kita seharusnya tidak pernah menyamakan kekurangan pendidikan formal dengan kebodohan. Walaupun sesungguhnya orang Indonesia sangat miskin dan kekurangan pendidikan modern, mereka tidak bodoh. Rakyat bisa membedakan antara pemimpin politik yang mengabaikannya dan pemimpin yang peduli atau merespons kebutuhan-kebutuhannya. Rakyat bisa membedakan antara pembicaraan tentang menciptakan pekerjaan dan yang benar-benar menciptakan pekerjaan. Dan, rakyat bisa membedakan antara yang memecahkan masalah korupsi dan yang menjadi bagian dari masalah korupsi itu. Dalam semua hal itu, orang Indonesia cukup berpengalaman. Hasilnya, Pemiliu 2004 membuktikannya. Pemilu 2004 juga membuktikan bahwa uang cukup membantu untuk memenangkan pemilihan, tetapi tidak cukup. Pemilihan langsung tidak bisa dibeli dengan uang. Mantan Presiden Soeharto punya uang. Habibie juga punya uang. Dan, setelah menguasai pemerintahan, bahkan Megawati serta partainya punya banyak modal untuk memasuki arena (pertempuran) politik. Namun, mereka terjatuh. Mereka kehilangan pendukung. Pemilihan ini juga memperlihatkan bahwa koalisi partai tidak terlalu penting bagi kandidat dalam menghadapi pemilihan langsung. Partai-partai di Indonesia sangat lemah. Mereka tidak memiliki definisi ideologi yang jelas (kecuali mungkin PKS). Struktur internal mereka kurang disiplin dan kurangnya kesetiaan. Pada era pascadiktator Soeharto ini, partai-partai di Indonesia lebih merupakan instrumen untuk distribusi, bukan untuk mobilisasi. Artinya, orang tidak mendukung partai-partai politik di Indonesia karena mereka percaya pada sesuatu. Mereka bergabung karena ingin mendapatkan sesuatu, yaitu akses ke sistem "bagi-bagi". Ideologi dan prinsip telah hilang dari tangga perpolitikan Indonesia sejak Jenderal Soeharto menjalankan military take-over pada 1960-an. Itulah alasan Golkar dan PDIP sangat mudah membentuk aliansi. Tidak ada satu pun anggota koalisi tersebut yang memegang suatu prinsip-prinsip yang jelas. Tetapi, semuanya ingin mengambil kekuatan sebanyak mungkin. Rakyat Indonesia menyaksikan hal tersebut dan menolak koalisi. Mereka bisa mudah melihat bahwa Koalisi Kebangsaan merupakan usaha yang dilakukan para politikus untuk meraih dan menguasai tanpa keuntungan yang jelas bagi orang-orang di bawahnya. Pemilu 2004 juga membuktikan bahwa orang Indonesia sangat menginginkan perubahan. Mereka ingin negaranya maju pesat. Dan, mereka lelah pada pemimpin yang gagal mengerti keinginan tersebut. Banyak orang di Indonesia berpikir bahwa ini adalah negara yang kaya. Kita selalu mendengar hal itu. Tetapi, kenyataannya sebaliknya. Indonesia adalah negara yang miskin -negara yang amat sangat miskin. Dan, dibandingkan negara tetangga besar lainnya seperti China dan India, makin lama menjadi lebih miskin, bukan lebih kaya. Katanya, Indonesia adalah negara yang mempunyai kompleksitas tinggi, masalah yang multidimensional, dll, sehingga tidak bisa mencapai laju pertumbuhan 10 per tahun. Alasan seperti itu sering didengar, terutama dari pemimpin negara yang gagal. Tetapi, Indonesia tidak lebih kompleks daripada China atau India. Dan, kedua negara tersebut mencapai growth rate yang dua (bahkan tiga) kali growth di Indonesia. (bersambung) *. Jeffrey Winters, guru besar di Northwestern University, Chicago, USA --- Selasa, 19 Okt 2004, Perpolitikan Indonesia Cerita tentang Siklus Harapan (2-habis) Harus Jadi Komunikator yang Jujur Oleh Jeffrey Winters * Jika kita membagi negara di dunia ini menjadi tiga kategori -kaya, menengah, dan miskin- Indonesia berada di kategori yang terakhir dan tidak terlalu jauh dari bawah. Mayoritas rakyat Indonesia berada dalam kemiskinan yang dahsyat. Lebih memprihatin lagi, hal itu dianggap keadaan yang sudah biasa. Dengan situasi kemiskinan yang parah tersebut, muncul pertanyaan yang teramat penting: 50 hingga 100 tahun dari sekarang, apakah Indonesia masih akan berada dalam kategori paling miskin di dunia? Apakah ada kesempatan untuk Indonesia paling tidak bisa melompat ke kategori menengah? Jika orang Indonesia tidak mulai serius dari sekarang, mulai dengan presiden yang baru ini, nanti 100 tahun ke depan, Indonesia akan tetap berada di kategori paling bawah, sama dengan negara-negara kuli di dunia. Saya yakin, setiap orang akan setuju bahwa masa depan yang penuh kemiskinan akan menjadi tragedi dan sangat tidak dapat diterima. Tapi, bagaimana menghindari masa depan tersebut? Muncul pertanyaan penting yang kedua: apa yang harus dilakukan presiden baru dan wakil rakyat di legislatif untuk membuat perbedaan? Satu hal yang sangat jelas adalah pendekatan dan mentalitas yang dilakukan selama ini harus ditolak sebagai suatu kegagalan. Resep dari Mafia Berkeley yang telah mendominasi kebijakan ekonomi di Indonesia selama puluhan tahun harus diakui sebagai kegagalan yang sangat besar. Para ekonom Berkeley Mafia itu telah terlalu jauh terpengaruh, baik secara pribadi maupun dalam konteks pemikiran oleh Bank Dunia dan IMF. Tidak satu pun negara di dunia ini yang telah membangun secara cepat dan signifikan dengan mengikuti diagnosis dan anjuran dari Bank Dunia dan IMF. Dari sisi nasionalisme, mungkin enak dan memuaskan rasanya jika mengatakan go to hell kepada Bank Dunia dan IMF. Tetapi, sikap seperti itu akan percuma dan bahkan destruktif jika pemimpin negara tidak mempunyai tujuan jelas tentang bagaimana ingin mengambil alih ekonomi sendiri (mengurus sendiri) dan memajukannya dengan pesat dan cepat. Bagaimana peranan SBY dalam semua itu? Pak Bambang sebagai pemimpin nasional harus menjadi komunikator yang jujur kepada rakyat. Kemakmuran di Indonesia tidak akan muncul dari bumi atau turun dari langit. Kesejaterahan itu akan datang dari hasil upaya keras, keringat, efisiensi, dan beragam inovasi dibandingkan dengan para pesaing. Sebenarnya, rakyat akan rela memikul pengorbanan apabila mereka percaya akan dua hal bahwa pengorbanan akan dibayar dengan adil untuk seluruh penduduk (berarti yang kaya juga harus memberikan pengorbanan juga), dan itu adalah pengorbanan untuk kemakmuran yang sesungguhnya dan bukan pengorbanan menuju akhir kematian. Artinya, rakyat harus percaya bahwa keadaan mereka dalam kemiskinan tidaklah untuk selamanya. Saya sangat mendukung para buruh dan petani Indonesia. Penilaian yang jujur adalah mereka, bukan produsen dan kompetitor yang efisien dengan produktivitas yang tinggi. Hal itu harus diubah dan mungkin mulai dari kesadaran jernih bahwa Indonesia bukanlah negara yang kaya. Potensi untuk menjadi kaya dan realitas untuk menjadi kaya adalah dua hal yang tidak sama. Tidak cukup kalau efisiensi buruh dan petani ditingkatkan jika Indonesia tetap dikuasai oleh oligarki (jaringan elite) yang rakus dan ganas. Oligarki di Indonesia harus dimusnahkan dan dijinakkan. Baik di negara demokratis maupun nondemokratis, faktanya adalah setiap negara di dunia didominasi oleh jaringan para elite yang kita sebutkan oligarki (dari bahasa Latin) -rule by the few. Kalau setiap negara dikuasi oligarki, apakah itu berarti tidak ada perbedaan antara sistem kekuasaan di negara yang berbeda? Ternyata, memang ada perbedaan. Ada dua macam oligarki -oligarki yang ganas dan oligarki yang sudah dijinakkan. Oligarki di Indonesia adalah versi ganas dan belum dijinakkan. Yang disebut "supremasi hukum" atau rule of law tidak relevan untuk 98% rakyat Indonesia. Sebab, mereka tidak punya kekuasaan besar dan setiap hari secara rutin tunduk kepada hukum yang berlaku. Yakni, kalau salah, dihukum. Lain dengan anggota oligarki di atas. Mereka mencuri dalam skala yang besar dari negara dan rakyat. Mereka tidak membayar apa pun untuk hal itu. Merampok, membunuh, dan menjalankan KKN sangat gampang untuk oligarki karena mereka belum mau tunduk kepada hukum. Mengapa? Sebab, oligarki berdiri di atas hukum asal belum dijinakkan. Jadi, transisi ke demokrasi ternyata memang bagus tetapi tidak cukup. Indonesia adalah kasus yang membuktikan bahwa transisi ke demokrasi bisa terjadi tanpa menjinakkan oligarkinya. Sebaliknya, Singapura adalah kasus yang membuktikan bahwa oligarki bisa dijinakkan tanpa transisi ke demokrasi. Indonesia tidak akan maju kalau oligarkinya tetap liar, ganas, dan belum dijinakkan. Oligarki merupakan segelintir orang, yang tidak lain adalah lintah yang mengisap darah negara. Rakyat Indonesia selama ini terlalu sabar. Para politikus terlalu sibuk dengan mencari keuntungan sendiri. Sudah waktunya bertindak cepat, waktunya menjadi marah. Pemilu 2004 mungkin menjadi turning point karena rakyat menolak para pemimpin yang sangat efisien dalam memutuskan perjanjian dan membuat diri mereka kaya sendiri, sedangkan negara tetap berlanjut kepada kemunduran. Indonesia tidak memiliki waktu untuk disia-siakan. Seluruh dunia tidak akan menunggu Indonesia, yang selama ini bergerak seperti kura-kura. Apakah 2004 merupakan saat yang menentukan untuk Indonesia? Kita akan mengetahuinya selama enam hingga dua belas bulan mendatang. SBY akan menentukan irama dan arah dalam waktu cukup singkat. Kita akan melihat apakah dia akan menjadi presiden bersejarah bagi negara ataukah hanya catatan kaki yang lain dalam sejarah panjang dari oportunis-oportunis dan kegagalan-kegagalan. * Jeffrey Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, USA ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

