Rabu, 20 Oktober 2004

Berharap Techno-ideology pada Presiden Baru 

Oleh : Rahardi Ramelan 


Acungan jempol untuk harian Republika yang telah
menempatkan masalah teknologi sebagai Tajuk dalam
penerbitan tanggal 22 September 2004, dengan judul
"Teknologi Kita, Presiden" , hanya dua hari setelah
proses pemungutan suara yang berjalan dengan aman dan
demokratis. Masyarakat telah diajak untuk memikirkan
kembali kemampuan teknologi kita. 

Sejak terjadinya krisis tahun 1998, kita dapat
menyaksikan dan merasakan terputusnya ataupun
terganggunya pembangunan teknologi kita (disruptive
technological development). Mandegnya proses
pembangunan teknologi menyebabkan juga proses
penguasaan teknologi produk-produk unggulan kita
menjadi hampir beku. Tidak adanya kegiatan penelitian
dan produksi yang teratur, telah terjadi penurunan
keterampilan (skill) dengan drastis. 

Beberapa program unggulan teknologi kita sebagai
"national champion" bukan saja di-"squeezed out",
tetapi jelas-jelas telah dihabisi. Proyek mobil
nasional Timor (Maleo belum pernah dinyatakan sebagai
program nasional), telah secara menyakitkan dibantai
di DSB (Dispute Settlement Body)- WTO. Kita dikalahkan
oleh kelompok negara-negara industri maju G-8. Kita
dikalahkan karena proyek Timor bekerjasama dengan
industri otomotif dari Korea. Selama ini pasar
otomotif Indonesia adalah milik negara-negara industri
maju. 

Tentu gambarannya akan berbeda kalau kita bekerjasama
dengan industri otomotif dari negara-negara G-8.
Demikian juga halnya dengan industri dirgantara PT
Dirgantara Indonesia, telah mengalami perlakuan yang
serupa dari IMF. Perlakuan terhadap PT DI ini
mempunyai implikasi yang lebih luas terhadap berbagai
aset yang yelah kita miliki dalam bidang teknologi
dirgantara. Di Puspiptek Serpong ada LUK (Lembaga Uji
Konstruksi) dan LAGG (Laboratorium Aerodinamika, Gas
dan Getaran) yang pada awalnya dibangun untuk
mendukung industri dirgantara. 

Aset yang paling utama adalah sumberdaya manusia, yang
telah berkembang dengan pelatihan dan pengalaman
kerja. Dengan mandegnya kegiatan produksi telah
mengakibatkan kemampuan dan keterampilan sumberdaya
manusia yang telah kita miliki menurun. Saat ini lebih
dari seratus orang ahli pesawat terbang kita bekerja
di beberapa industri dirgantara terkenal di dunia.
Industri-industri luar negeri ini, kebanyakan dari
kelompok G-8, telah menikmati apa yang kita bangun
selama ini dengan uang rakyat. Kita juga mengetahui
bahwa negara-negara majupun masih memberikan subsidi
untuk industri dirgantaranya. Tapi mengapa mereka
harus menghabisi kita? Inilah contoh bagaimana kita
sebagai "the late industrialized countries" harus
melawan hegemoni teknologi G-8. Untuk mengembalikan
posisi kita dibandingkan dengan negara lain kepada
tingkatan kemampuan pada tahun 1998 akan memerlukan
waktu yang cukup lama. 

Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang kita
peringati setiap tanggal 10 Agustus rupanya hanya
menjadi ritual biasa. Siapa pun yang akan menjadi
presiden, harus berani melihat kembali mengenai
program-program teknologi kita dengan menerapkan
technology and industrial policies yang dapat
mendukung proses penguasaan teknologi dalam jangka
panjang agar proyek unggulan atau national champion
dapat berlangsung secara kontinu. Kita harus
membangunkan dan memupuk kembali techno-nationalism
yang pernah kita miliki. Gerakan nasional ''aku cinta
produk Indonesia'' harus menjadi kenyataan, bukan
hanya menjadi slogan belaka atau hanya untuk
diperingati semata.

Teknologi dan posisi tawar
Kenyataan menunjukkan bahwa posisi tawar (bargaining
position) kita dalam percaturan politik maupun
perdagangan internasional dirasa lemah. Walaupun
perang dingin telah lama usai, tapi pengawasan lalu
lintas teknologi canggih tetap dilakukan oleh
negara-negara industri maju. Pengalaman menunjukan
bahwa negara-negara yang mengembangkan teknologi maju
(secara diam-diam) telah menempatkan posisi tawarnya
dalam pergaulan dunia menjadi lebih baik. India dan
Pakistan mengembangkan kemampuan nuklirnya. Cina telah
mengembangkan teknologi peroketan dan space
technology. 

Demikian juga Taiwan memiliki kemampuan peroketan dan
elektronika yang harus diperhitungkan. Demikian juga
negara-negara eks Uni Soviet memiliki kemampuan
teknologi canggih. Korea Utara ternyata mempunyai
teknologi nuklir, sedangkan Korea Selatan memiliki
teknologi semikonduktor yang menajubkan. Demikian juga
negara-negara yang sedang bertikai di Timur Tengan
memiliki teknologi-teknologi canggih. Negara-negara
industri maju memperhitungkan dengan cermat menghadapi
negara-negara tersebut. Posisi tawar yang tinggi dalam
percaturan dunia telah membawa dampak dengan
meningkatnya dan menebalnya rasa nasionalisme bangsa
tersebut. Diiharapkan presiden dengan pemerintah yang
baru memiliki techno-ideology, seperti yang telah
dimiliki oleh para pemimpin kita sebelumnya. Pemilihan
bidang teknologi yang mana, harus dilakukan secara
cermat dengan memperhitungkan berbagai kemampuan dan
fasilitas yang kita miliki. 

Kita memiliki fasilitas penelitian dan ilmuwan di
bidang nuklir di BATAN dan di beberapa perguruan
tinggi. Kita juga mempunyai fasilitas dan ilmuwan di
bidang dirgantara dan peroketan seperti di LAPAN,
BPPT, PT DI dan TNI. Apakah kita akan meneruskan
langkah kita di dalam teknologi dirgantara walaupun
seolah-olah harus dimulai dari awal lagi. Atau kita
melanjukan teknologi peroketan yang pernah telah
dikembangkan sejak tahun 1960-an. Kita menunggu
kearifan dan determinasi presiden sebagai pemimpin
negara dan pemimpin bangsa untuk membawa kita menjadi
bangsa yang diperhitungkan, sebagai bangsa yang
disegani. Selamat bekerja. 

Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)




=====
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


                
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke