Republika
Selasa, 19 Oktober 2004

Filantropi dan Keadilan Sosial

Oleh : Buni Yani


Konsep tentang keadilan sosial dimiliki oleh hampir seluruh masyarakat di 
dunia tanpa memandang ras, warna kulit, dan bahasa. Sejarah dunia 
mengajarkan betapa keadilan sosial adalah hak bagi mereka yang papa, dan 
kewajiban bagi mereka yang berlebih. Mulai dari Paris tahun 1789 hingga 
Jakarta tahun 1998, revolusi sosial paling gampang disulut oleh 
ketidakadilan sosial. Dalam revolusi Prancis kaum feodal menjadi tumbal, 
dalam reformasi Indonesia etnis Tionghoa menjadi sasaran amarah rakyat yang 
menderita dan terpinggirkan.
Agama-agama besar mengajarkan tentang keadilan. Para pemikir mulai dari yang 
klasik hingga yang kontemporer mencari tahu dan merumuskan apakah yang 
dimaksud dengan keadilan. Seandainya keadilan tak pernah begitu penting 
menjadi diskursus dan praksis, mungkin magnum opus mahaguru Universitas 
Harvard John Rawls The Theory of Justice tak akan pernah terbit dan dibaca 
begitu banyak sarjana di seluruh dunia. Juga, seandainya ketimpangan sosial 
tak pernah begitu menyakitkan dalam permenungan kaum literati, mungkin The 
Communist Manifesto Karl Marx tak akan pernah diikrarkan dan begitu 
berpengaruh sebagai ideologi pergerakan kaum tertindas.
Pentingnya keadilan sosial bisa dipahami baik secara teori dan praksis, di 
antaranya, karena dunia tempat kita berpijak kini dan di sini adalah milik 
kita bersama. Kita mau tak mau harus saling berbagi dunia yang satu ini. 
Gagasan tentang keadilan sosial, yang pada dataran tertentu mungkin utopis, 
lahir dari kenyataan bahwa ketimpangan sosial bisa terjadi di mana-mana. 
Bangsa Indonesia kini bernasib kurang mujur. Setelah didera krisis berulang 
kali dalam skala kualitas dan kuantitas yang dahsyat, maka jumlah mereka 
yang kurang beruntung dan menderita berlipat ganda, melebihi kemampuan 
negara untuk menanganinya.
Krisis Indonesia yang telah menjatuhkan banyak warga menjadi kaum pariah di 
negeri sendiri di antaranya disebabkan oleh kelalaian, ketidakmampuan, 
kebodohan keserakahan, dan kebiadaban sejumlah pemimpin. Lalai, karena 
jeritan demi jeritan derita rakyat tak pernah menyentuh hati nurani para 
pemimpin untuk memperbaiki nasib rakyat. Tak mampu, karena spiral krisis 
kini semakin tak berujung dan belum ada titik terang untuk keluar darinya. 
Bodoh, karena kesalahan serupa dalam memperbaiki nasib rakyat dilakukan 
berulang kali. Serakah, karena semakin banyak mereka mendapatkan harta dari 
cara-cara tak halal, semakin haus mereka, dan semakin terperosok ke dalam 
jurang kehinaan. Biadab, karena semakin meluasnya tindak kejahatan korupsi 
tanpa mempertimbangkan dan berempati pada akibat yang ditimbulkannya. Dan 
kini krisis kita menjadi sempurna, karena secara struktural disebabkan oleh 
negara.
Pengangguran adalah nasib mereka yang terkena PHK, dan mungkin juga 
dikarenakan berbagai alasan profesionalisme lainnya. Kemiskinan adalah 
takdir bagi mereka yang tak terberdayakan secara struktural, dan bencana 
bagi mereka yang tak pernah mampu mengubah keadaan. Kebutahurufan adalah 
kehinaan di jaman serba modern kini karena menutup akses-akses penting bagi 
kemajuan kehidupan.
Pengangguran, kemiskinan, dan kebutahurufan, tanggung jawab siapakah ini? 
Semestinya masalah-masalah ini adalah tanggung jawab negara, karena itulah 
alasan kita bernegara dan tunduk kepadanya. Namun sekarang negara mengalami 
impotensi yang akut. Ketidakmampuan negara menangani berbagai krisis, atau 
bahkan malah memperburuknya, telah memupuskan harapan rakyat kepada negara 
untuk menjadi pemecah masalah. Bagaimana mungkin negara yang kini menjadi 
sumber masalah akan memecahkan masalah itu sendiri. Korupsi, korupsi, dan 
korupsi, itulah soalnya. Negeri kaya ini kini menjadi sapi perahan mereka 
yang berkuasa. Adalah sebuah ironi bahwa negeri di mana terdapat banyak 
sumber daya alam terdapat banyak pengemis yang kelaparan, pengangguran yang 
mengamen, dan kriminal yang merampok. Korupsi di jaman yang disebut sebagai 
otonomi daerah ini telah menyebarkan kemampuan korupsi ke daerah-daerah dan 
membagi rata sumber-sumber daya milik rakyat yang masih tersisa.
Karena negara telah bangkrut dan gagal menyejahterakan rakyat karena 
meluasnya korupsi dan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan lainnya, 
rakyat kini tak memiliki pilihan lain kecuali memberdayakan diri untuk 
memecahkan masalahnya sendiri. Kita hanya bisa berharap pada diri sendiri 
untuk mengubah keadaan yang semakin mendera dari hari ke hari. Kita harus 
menggalang kesetiakawanan sosial, berempati kepada saudara-saudara kita yang 
kurang mampu, membantu mereka untuk keluar dari penderitaan yang mereka 
alami. Kita harus membuat jaringan seluas-luasnya untuk membangun masa depan 
yang lebih baik yang telah diacuhkan oleh negara. Kita harus menahan napas 
panjang dan bersabar dalam melakukan perjuangan kemanusiaan ini.
Kita kini memerlukan kedermawanan sosial dari masyarakat madani untuk 
menyembuhkan ruang publik kita yang hancur berantakan oleh meluasnya 
kemiskinan, pengangguran, dan putus sekolah. Kedermawanan sosial, atau 
filantropi, adalah cahaya di tengah krisis sosial dan krisis keadilan di 
negeri yang menunggu kebangkrutannya ini. Filantropi setidaknya menciptakan 
semacam perasaan keadilan sosial bagi mereka yang terpinggirkan dan 
menderita terus-menerus. Bila rasa adil ini semakin susut dan suatu saat 
hilang sama sekali, maka diktum l'histoire se repetesejarah berulang bisa 
saja menjadi kenyataan. Kerusuhan yang lebih dahsyat dari tragedi Mei 1998 
tak mustahil akan terjadi. Kini para petani di pedesaan telah berani secara 
sepihak dan anarkis merebut hak-hak mereka yang dulu dirampas negara. 
Reformasi telah memberdayakan kemandulan politik kelompok yang paling jauh 
dari hiruk-pikuk kekuasaan. Petani adalah indikator paling sahih bahwa 
keberanian politik untuk menuntut hak telah meluas ke seluruh lapisan 
masyarakat.
Bila petani di pedesaan saja memiliki keberanian yang besar untuk menuntut 
keadilan sosial, maka saudara mereka di perkotaan yang begitu dekat dengan 
kekuasaan dan informasi pastilah memiliki keberanian lebih--dan mungkin juga 
strategi tertentu--untuk mendapatkan hak-hak mereka. Revolusi sosial 
bukanlah hal yang mustahil bila kondisi yang semakin hari semakin memburuk 
ini tak lagi tertahankan oleh rakyat. Kenaikan indeks saham di bursa saham 
tak berpengaruh langsung pada kehidupan rakyat. Mereka perlu pangan dan 
kebutuhan mendasar lainnya. Urusan perut adalah urusan hidup dan mati yang 
tak bisa menunggu waktu nanti untuk pemenuhannya.
Dunia kaum pengangguran, pengamen, dan kriminal adalah bagian dari dunia 
kita, ruang publik kita. Mungkin hari ini mereka yang memiliki BMW selamat 
dari ancaman perampokan di bawah sebuah jalan layang di Jakarta, namun lain 
kali mungkin mereka tak bernasib terlalu mujur. Begitu gentingnya masalah 
pengangguran, kemiskinan, dan putus sekolah ini sehingga ia tidak hanya 
mengisi ruang publik kita, tetapi juga, dalam batas tertentu, telah merasuk 
ke dalam ruang privat kita. Karena meluasnya pengangguran dan kemiskinan di 
Jakarta, Anda menjadi resah setiap kali ada yang mendekati mobil Anda untuk 
ngamen. Jangan-jangan mereka ingin merampok, menggores cat mobil atau 
mencederai Anda.
Menyadari dunia tempat kita berpijak kini adalah dunia kita bersama, maka 
masalah-masalah kehidupan ini tentulah menjadi masalah kita bersama untuk 
dipecahkan. Kita harus menciptakan ruang paling nyaman untuk kita tinggali 
bersama. Gagasan ini tak mungkin bisa berjalan bila ada batu penghalang di 
tengah-tengah masyarakat.
Sekali lagi, filantropi adalah alternatif dalam menciptakan keadilan sosial 
dan menghindarkan ketimpangan sosial yang semakin mengkhawatirkan ini. Derma 
kita kepada para kaum papa adalah setetes air di gurun tandus dalam 
menyembuhkan penderitaan sosial yang meluas. Sumbangan Anda setidaknya 
memiliki dua nilai, pertama nilai material, dan kedua nilai moral. Nilai 
material derma Anda, mungkin karena jumlahnya, bisa mengentaskan banyak 
orang dari kemiskinan dan kepapaan. Inilah yang diharapkan oleh sebuah 
filantropi. Namun yang tak kurang penting adalah nilai moralnya. Mungkin 
derma Anda tak mampu menolong satu orang pun keluar dari kemiskinan dan 
beban lain yang menimpa, namun secara moral penerima sumbangan merasakan 
adanya sikap dan sifat keadilan sosial dalam masyarakatnya. Ia merasa 
diperhatikan. Ia merasa masyarakat tempat ia hidup tidak mengacuhkannya.
Baik nilai material maupun nilai moral sebuah derma mampu menghindarkan 
kecemburuan sosial yang potensial menyulut anarki. Filantropi, karenanya, 
adalah sebuah metodologi sosial untuk mengurangi akibat buruk kesenjangan 
sosial, baik yang secara struktural yang disebabkan oleh negara, maupun yang 
ditimbulkan oleh faktor internal individu. Filantropi memiliki asumsi dasar 
bahwa pemerataan sumber daya adalah keniscayaan dalam rangka berbagi 
kebahagiaan kepada mereka yang bernasib kurang mujur.
Bila filantropi berjalan baik di negeri ini, dalam rangka mengganti peran 
negara yang tak berfungsi untuk menjamin kesejahteraan bagi warga negaranya, 
maka kecemburuan sosial bisa ditekan. Bila kecemburuan sosial bisa tekan, 
maka potensi-potensi yang mengarah kepada anarki bisa dikurangi, dan, yang 
tak kalah gawatnya, revolusi sosial yang tak jarang berujung chaos sosial 
bisa dihindari.
Maka, tak berlebihan bila dikatakan di sini bahwa seorang dermawan di 
Indonesia di jaman yang penuh penderitaan dan ketimpangan sosial ini adalah 
seorang pahlawan yang akan mendapatkan tempat mulia di sisi Tuhan. Ramadhan 
kali ini semoga membuka hati kita semua untuk berderma lebih banyak lagi 
agar ketimpangan sosial bisa semakin diperkecil.
Direktur The Public Sphere Institute
dan Redaktur Eksekutif Jurnal Aksi Sosial UI-Depsos 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke