http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/21/opini/1338859.htm
Kamis, 21 Oktober 2004

Saatnya Moratorium Politik
Oleh Indra J Piliang

HARI Rabu (20/10) kemarin, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dilantik 
menjadi presiden dan wakil presiden 2004-2009. Dengan pelantikan itu, drama 
politik sepanjang lima tahun terakhir, khususnya satu setengah tahun saat 
proses pemilu diadakan, berakhir. Inilah era rakyat mengambil alih proses 
pemindahan kekuasaan secara damai, meski dalam tempo lama.
Praktis monopoli elite politik tercampakkan. Evolusi demokrasi berlangsung 
wajar. Aneka mitos kekuasaan patah.
Mitos pertama terkait dengan peran partai politik sebagai agen perubahan. 
Kenyataannya tidak. Tawaran partai-partai politik makin dijauhi rakyat. 
Logika partai politik dikalahkan logika rakyat, terutama dalam mengusung 
kandidat presiden dan wakil presiden. Rakyat kian menjadi otonom berhadapan 
dengan berbagai manuver politik elite. Partai politik tertinggal di belakang 
perubahan.
Mitos kedua menyangkut rumusan dan sikap under estimate tentang rakyat, yang 
dinilai tidak siap dengan demokrasi lewat tangan sendiri. Kenyataannya, 
rakyat justru lebih siap dibandingkan dengan elite politik yang terlihat 
gagap kehilangan kuasa.
Mitos ketiga terkait dengan pergantian kekuasaan yang (dulu) selalu 
berlumuran darah. Tidak setetes darah menetes sepanjang pemilu. Kalaupun ada 
satu pembunuhan bernuansa politik di satu daerah, itu bukan ukuran yang 
dapat digeneralisir sebagai persoalan rakyat secara keseluruhan. Terbukti, 
berbagai pergantian kekuasaan yang (dulu) selalu berlumuran darah di 
Indonesia adalah manuver elite. Konflik vertikal dibawa menjadi konflik 
horizontal.
PERALIHAN kekuasaan dari Mega-Hamzah kepada SBY-JK juga bukan lagi ukuran 
akan terjadinya pergolakan di kalangan konstituen masing-masing. Apa pun 
yang terjadi tanggal 20 Oktober, lalu hari-hari berikutnya, seyogianya tidak 
mengajak dan menarik rakyat untuk saling berbenturan. Elite politik perlu 
sadar, pengerahan massa bertato bukan lagi ukuran kekuatan sebenarnya. 
Penggunaan kekuatan bayangan seperti itu, yang lazim digunakan rezim-rezim 
transisi, hendaknya tidak diikuti Indonesia. Pujian dunia internasional atas 
proses demokrasi yang beradab dan bermartabat di Indonesia perlu terus 
dipelihara, sembari tetap menegakkan dada sebagai bangsa yang mempunyai 
harga diri.
Untuk itu, usai pergantian kekuasaan yang damai, agenda pertama dan 
satu-satunya yang terhidang dan pantas didesakkan kepada para elite politik 
adalah melakukan moratorium politik. Moratorium politik adalah proses 
pendinginan carut-marut dan luka-luka politik. Moratorium politik juga bukan 
rekonsiliasi atau konsiliasi, karena tidak ada rakyat yang saling bermusuhan 
akibat mendukung atau menolak elite politik tertentu. Kebanyakan yang 
terjadi adalah menggunakan rakyat untuk tujuan politik.
Moratorium politik juga perlu untuk mendewasakan elite politik yang terlalu 
sering melihat mimik mukanya sendiri di muka cermin kekuasaan. Padahal, 
cermin demokrasi yang sebenarnya adalah pemilu yang sudah berlangsung aman. 
Elite politik mestinya malu melihat tidak ada rakyat yang bertengkar atas 
hasil pemilu, meski tetap menjaga jarak atas apa yang terjadi di kalangan 
elite politik.
Rakyat yang dewasa secara politik inilah nanti yang akan menjadi modal 
politik (politics capital) sesungguhnya dalam berbagai arus kepentingan yang 
berputar di sekitar Istana dan Senayan.
Perlunya moratorium politik juga bagian upaya membebaskan rakyat dari 
berbagai macam beban infiltrasi, kampanye, juga pembajakan yang dilakukan 
kalangan politisi sepanjang lima tahun ini. Dengan moratorium politik, 
rakyat sebaiknya diberi alternatif lain untuk mengurus hal-hal yang perlu 
menyangkut kesejahteraan sosial dan perdamaian abadi. Bukan berarti 
moratorium politik adalah bagian dari depolitisasi, karena kebebasan pers 
telah membuka berbagai borok di kalangan penguasa. Moratorium politik hanya 
upaya untuk membatasi keterlibatan rakyat untuk hal-hal yang memang 
kehendaknya, bukan dipaksakan oleh elite yang terus bertikai.
APABILA kekuatan ekstraparlementer terus digerakkan untuk mendukung atau 
menolak hasil pemilu yang sudah final, kesadaran lain harus dibangkitkan 
betapa tidak dewasanya elite politik. Begitu pula soal kabinet, tidak 
selayaknya partai-partai politik yang merasa tidak mendapat kursi 
menjadikannya sebagai ajang aksi-aksi demonstrasi. Mandat rakyat dalam 
pemilu 20 September lalu diberikan kepada pasangan SBY-JK, bukan kepada 
partai politik yang mendukungnya. Tidaklah pantas jika demi perebutan kursi, 
jalan-jalan pun menjadi macet lagi karena demonstrasi.
Kedewasaan menerima sistem kabinet presidensial adalah bagian dari fatsoen 
politik yang pantas disampaikan. Bukan masanya lagi menjadikan demokrasi 
sebagai tameng kepentingan pribadi dan golongan. Bagaimanapun, kursi 
presiden, wakil presiden, dan menteri bukan unsur mutlak yang menentukan 
maju-tidaknya bangsa ini. Berbagai bentuk persebaran kekuasaan di sejumlah 
lembaga negara, baik di pusat maupun daerah, menunjukkan, titik sentral 
perubahan nantinya bukan terletak di tangan seorang presiden atau di ketukan 
palu pimpinan DPR, tetapi lebih banyak di kalangan masyarakat sendiri.
Selain itu, dalam beberapa bulan ke depan, masyarakat daerah juga akan 
memasuki tahapan politik lokal, berupa perebutan kepala pemerintah daerah. 
Jabatan gubernur, bupati, dan wali kota beserta wakilnya akan dipilih secara 
langsung lewat partai-partai politik. Sepanjang lima tahun ke depan akan 
hadir berjenis pemilu lokal. Kiranya, elite politik di Jakarta menyadari hal 
itu sehingga tidak terlalu bernafsu mengumbar libido politiknya hari ini.
Jauh lebih baik untuk menyegarkan kehidupan demokrasi dengan menahan diri 
tidak lagi berpolemik untuk soal-soal recehan yang hanya akan menuai sikap 
antipati. Ketauladanan yang menjadi unsur penting di negara berkembang 
seperti Indonesia patut dijadikan ukuran. Caranya antara lain dengan 
komitmen pimpinan MPR untuk tak menggunakan mobil dinas mewah dan kamar 
hotel kelas utama yang hanya menghabiskan anggaran negara. Triliunan rupiah 
uang negara yang didapatkan dari utang luar negeri yang dihabiskan dalam 
pemilu yang tercatat paling lama di dunia ini sudah cukup menunjukkan betapa 
mahalnya harga sebuah kursi.
Masalahnya, jangan sampai kursi itulah nanti yang menjepit lidah rakyat 
sehingga kian kelaparan di negeri yang menuju tubir jurang kehancuran. 
Selayaknya, di tengah bulan suci Ramadhan, politik juga disucikan dari nafsu 
duniawi dan bendawi sehingga politik kian mencerahkan.
Selamat datang pemerintahan baru. Pergilah pulang para petualang. Kembalikan 
politik kepada dasarnya, yakni pembebasan manusia dari penindasan oleh 
manusia lain.
Indra J Piliang Peneliti CSIS; Program Manager Yayasan SET; Direktur 
Eksekutif Yayasan Harkat Bangsa 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke