Media dan Konflik Agama
http://republika.co.id/ASP/kolom_detail.asp?id=175878&kat_id=19
Oleh : Ade Armando
Tulisan saya pekan lalu di harian ini mendapat respons
kritis dalam rubrik ''Suarapublika'' (11 Oktober).
Penulis surat, atas nama Forum Komunikasi Ummat Islam
Karang Tengah (FKUIKT), menganggap sebagian informasi
yang saya ungkap tentang dirobohkannya gereja di
Ciledug, Jakarta Selatan, mengandung banyak kesalahan.
Tidak ada, kata FKUIKT, gereja yang dirobohkan dan
dibakar oleh aksi massa brutal. Yang berlangsung
adalah aksi protes damai untuk menghentikan kegiatan
peribadatan Katolik dengan menggunakan gedung sekolah.
Aktivitas yang dilakukan Yayasan Sang Timur (YST)
tersebut dianggap sebagai pembangkangan terhadap
teguran yang sudah dikeluarkan pemerintah setempat.
FKUIKT juga menunjukkan sebenarnya tidak ada soal
anti-Kristen dalam kasus ini. Buktinya, 50 meter dari
tempat pengunjuk rasa sedang berlangsung pula
kebaktian oleh pemeluk agama Kristen Protestan tanpa
gangguan.
Harus diakui, saya menulis artikel tersebut dengan
sumber informasi terbatas. Awalnya sejumlah SMS masuk
ke handphone saya untuk menginformasikan atau
menanyakan kasus penutupan ''gereja''. Kemudian saya
memperoleh banyak cerita dari sebuah milis yang saya
ikuti. Dalam milis itulah, saya membaca cerita tentang
''penghancuran gereja dengan cara brutal'' yang
dikirim oleh seorang jemaat gereja.
Kalau ternyata banyak informasi saya salah, saya minta
maaf. Tapi, tanpa bermaksud membela diri, salah satu
persoalan untuk memperoleh cerita benar saat itu
adalah umumnya koran besar (paling tidak yang saya
langgani) atau media elektronik sama sekali tidak
memberitakan kasus serius tersebut. Saya duga, media
tidak mengangkatnya karena khawatir masuk ke dalam isu
SARA yang dipersepsikan sebagai mudah menyulut
kemarahan orang.
Niat media mungkin baik. Tapi, menyembunyikan konflik
justru bisa menjadikan kondisi lebih buruk. Tanpa ada
pemberitaan resmi, orang berpegang pada kabar burung
atau cerita-cerita yang tidak mudah dikonfirmasi.
Masalahnya, dalam jalur komunikasi ''bawah tanah''
semacam itu, berbagai versi yang melebih-lebihkan bisa
saja bermunculan. Penyesatan informasi lebih mudah
berlangsung.
Di sisi lain, dengan tidak memberitakan, media mungkin
justru membuat masyarakat terlena dan tidak siap
melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk
mencegah konflik berkembang menjadi lebih buruk. Media
massa seharusnya berfungsi sebagai bagian dari apa
yang disebut ''early warning system''. Kalau konflik
antarumat diperlakukan sebagai nonberita, masyarakat
akan terus mengira bahwa keadaan baik-baik saja,
sementara korban-korban terus berjatuhan.
Bahwa, pemberitaan konflik semacam itu harus dilakukan
dengan ekstrahati-hati, tentu benar. Yang jelas tidak
boleh dilakukan adalah pemberitaan bergaya sensasional
dan berdarah-darah. Narasumber yang dikutip sebaiknya
yang memang otoritatif dan dikenal cenderung
mendamaikan. Konteks konflik harus disajikan secara
mendalam. Penggambaran tentang korban konflik harus
memperoleh prioritas. Dengan kata lain,
memberitakannya adalah keniscayaan, tapi cara
memberitakannya tidaklah mudah.
Sejauh ini media cetak yang bisa saya rujuk hanyalah
majalah Tempo yang melaporkan insiden Ciledug itu
dalam edisi 17 Oktober. Majalah tersebut menggambarkan
bahwa memang tak ada penghancuran gereja. Kesan brutal
bisa saja tercipta karena ada pembakaran ban yang
asap-hitamnya mengawang di langit, serta ada
demonstran yang tampil dengan berpidato berapi-api.
Tapi yang lebih penting, Tempo menunjukkan bahwa kasus
ini tidak berdiri sendiri. Empat bulan lalu, kata
Tempo, ada empat gereja yang hampir hancur dibakar
massa. Dalam kasus terakhir, tempat peribadatan itu
ditutup karena dianggap menyalahgunakan sekolah.
Namun, menurut versi sekolah, itu terpaksa dilakukan
karena selama lebih dari 10 tahun upaya resmi untuk
mendirikan gereja selalu terhalang oleh birokrasi,
padahal umat Katolik di daerah itu mencapai sekitar
9.000 orang.
Bangsa ini sudah kehilangan ribuan nyawa akibat
konflik antarumat beragama selama ini. Saatnya kini
kita membasmi segenap kondisi yang menyulutnya.
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/