Sekali lagi, Nurwahid membuat kejutan dg sikap2nya yg profesional dan good governance. 
Kali ini dg meminta para pejabat spy menanggalkan jabatannya di partai demi 
profesionalisme dan menghindari ambilavensi kekuasaan. 

Hal2 semacam ini mestinya disambut hangat oleh rakyat indonesia seluruhnya; yg muslim 
atau nonmuslim, yg jawa atau yg batak, yg aceh atau padang, yg dari partai PKS atau 
PDIP. masak sih, kita ribut terus dg urusan tetek bengek dan pernik2 semut semacam 
jilbab, kebaya, dll. 

Penghuni milis ini rata2 orang intelektual semua, semoga lebih tanggap pada hal2 yg 
lebih substansif yg mengarah ke perbaikan ekonomi, sosial, politik, dan martabat 
bangsa ini di mata diri sendiri dan di mata internasional.

Horas, bah! I love Indonesia!
(Razi)

Jumat, 22 Okt 2004,
Menteri Lepas Jabatan Parpol 

Hidayat: Supaya Dapat Konsentrasi ke Pemerintah 
JAKARTA - Ketua MPR Hidayat Nurwahid tiada henti bersikap dan memberikan imbauan untuk 
membangun kehidupan bernegara yang bersih dan sehat. Kali ini, dia mengimbau para 
menteri yang berasal dari partai politik melepas jabatannya di partai.

Hidayat berpandangan, hanya dengan cara itulah, para menteri tersebut bisa 
berkonsentrasi dalam menjalankan roda pemerintahan. "Akan lebih baik bila para menteri 
mundur dari jabatan di partainya," harap mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera 
(PKS) tersebut setelah menghadiri pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu di Istana 
Merdeka, kemarin. 

Hidayat sendiri begitu terpilih sebagai pimpinan tertinggi MPR langsung melepas 
jabatan di partainya. Dua hari setelah menerima palu MPR, kursi presiden PKS dia 
diserahkan kepada Mifatul Rum Sembiring. 

Dengan keputusan itu, kata Hidayat, tenaga dan pikirannnya tidak terbagi antara tugas 
sebagai pejabat negara dan tugas di partai. Selain itu, agar tidak memunculkan konflik 
kepentingan dari kedua tugasnya. 

Dalam kabinet SBY-Kalla, paling tidak ada enam menteri yang memegang jabtan pengurus 
harian partai. Mereka adalah Menko Kesra Alwi Shihab yang menjabat ketua umum PKB, 
Menteri Percepatan Pembangunan Saifullah Yusuf (ketua PKB), Mensesneg Yusril Ihza 
Mahendra (PBB), Menhut M.S. Ka ban (Sekjen PBB), Menhub Hatta Radjasa (Sekjen PAN), 
serta Menkop dan UKM Suryadarma Ali (ketua PPP).

Menurut Hidayat, masuknya sejumlah tokoh dari parpol itu adalah konsekuensi program 
SBY sejak awal. SBY, tambah Hidayat, telah menetapkan kouta kabinet 60 persen 
profesional dan 40 persen berasal dari parpol.

"Hal itu pun -komposisi Kabinet Indonesia Bersatu- kalau dicermati dari yang ada 
apakah mencapai 40 persen dari parpol, itu debatable. Dan menteri dari parpol juga 
orang-orang profesional. Misalnya, Alwi Shihab dan Sugiharto. Itu orang-orang yang 
profesional juga," ungkap Hidayat.

Bagaimana komentar menteri-menteri yang hingga kini masih menjabat pengurus parpol 
itu? Yusril misalnya. Dia tampaknya masih enggan melepaskan jabatannya di parpol. 
Untuk diketahui, saat menjadi Menkeh dan HAM di Kabinet Gotong Royong, Yusril juga 
terus merangkap jabatannya tersebut hingga saat ini. 

Menanggapi imbauan Hidayat itu, di tempat yang sama, Yusril malah balik menilai ketua 
MPR tidak boleh mengeluarkan pernyataan atau anjuran politik seperti itu. "Kalau ada 
hal yang dilakukan seperti Pak Hidayat Nurwahid, saya kira, ketua MPR tak boleh 
mengeluarkan statemen politik. Saya tak melihat ada alasan seorang ketua MPR 
mengeluarkan pernyataan politik selain apa yang diputuskan oleh MPR," kata Yusril. 

Sementara itu, Alwi Shihab, tampaknya, masih hati-hati berkomentar atas imbauan 
Hidayat untuk melepaskan jabatan parpolnya. Menurut Alwi, setiap parpol memiliki 
mekanisme sendiri-sendiri. "Saya kira, paling tidak mengurangi aktivitas di partai dan 
konsentrasi di pemerintahan," kata mantan Menlu pada era Presiden KH Abdurrahman Wahid 
itu di Istana Negara. 

Yang jelas, dia belum bisa memutuskan apakah akan mengundurkan diri dari ketua umum 
PKB atau tidak. Sebab, Alwi mengaku akan melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan 
jajaran partainya. "Kita bisa bicara dulu bagaimana nanti di partai. Tidak bisa 
menyatakan ya atau tidak. Tapi, kalau ada mekanisme, suatu keputusan kita akan 
jalankan," papar Alwi. 

Dia menilai, imbauan Hidayat itu agar kinerja di pemerintahan tidak terganggu oleh 
aktivitas di partai. "Saya kira, anjuran konsentrasi ke pekerjaan di pemerintahan 
sangat penting," tutur Alwi. 

Salah seorang ketua PKB Ali Masykur Musa menjelaskan, rapat internal partainya telah 
membuat kesepakatan agar pengurus partai yang menjabat menteri mundur dari kursi di 
parpol. "Berdasarkan kesepakatan rapat gabungan dewan syura dan dewan tanfidz dulu, 
siapa saja pengurus PKB yang menjabat di kabinet diminta untuk menanggalkan jabatannya 
di kepengurusan partai," tegas Ali kepada pers di DPR/MPR kemarin.

Ali menerangkan, keputusan agar fungsionaris harian PKB mundur dari partai itu 
berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, PKB sebagai institusi yang netral saat pilpres 
berlangsung tidak pada tempatnya meminta jabatan apa pun di kabinet. Kedua, PKB secara 
institusional tidak pernah mengusulkan nama tertentu untuk duduk dalam kabinet SBY. 

"Kita tidak pernah mengadakan rapat untuk mengirim atau meminta nama tertentu dari 
partai menjadi calon menteri di kabinet," tegas ketua FKB DPR yang baru saja 
menggantikan Mahfud M.D. itu.

Jika ada orang PKB yang masuk kabinet, menurut Ali, itu adalah inisiatif mereka 
sendiri. Karena itu, jika menjadi pengurus partai, sebaiknya mereka menanggalkan 
jabatannya. Hanya, ketika ditanya apakah persoalan itu akan dibahas lebih lanjut oleh 
PKB, dia mengaku tak mengetahuinya. 

Masalalah rangkap jabatan itu sudah menjadi persoalan pada era pemerintahan Gus Dur 
dan Megawati. Maklum, sejak pemerintahan "pelangi" itu, sejumlah tokoh teras partai 
duduk di pemerintahan. 

Pengamat politik UI Arbi Sanit mendukung imbauan Hidayat tersebut. Bahkan, Arbi 
berpendapat lebih keras. "Wajib hukumnya para menteri yang berasal dari parpol 
melepaskan jabatan di partai," ujarnya. 

Alasannya, mereka yang merangkap jabatan tidak mungkin akan bekerja dengan penuh. 
Fokus pekerjaan mereka pasti akan terbelah, antara memikirkan parpol dan negara. 
"Karena itu, mereka harus memilih: jadi menteri atau pengurus parpol," ujarnya.

Mengenai tidak adanya dasar hukum yang mengatur rangkap jabatan parpol dan menteri, 
Arbi mengatakan bahwa hal itu masalah moral. "Ini adalah sopan santun berpolitik. 
Seharusnya semua berkaca kepada Ketua MPR Hidayat Nurwahid," katanya. 
(ssk/lex/nur/arm/guh) 





Khairurrazi
Aligarh Muslim University
Uttar Pradesh, India

-- 
India.com free e-mail - www.india.com. 
Check out our value-added Premium features, such as an extra 20MB for mail storage, 
POP3, e-mail forwarding, and ads-free mailboxes!

Powered by Outblaze


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke