http://www.indomedia.com/bpost/102004/23/opini/opini1.htm Sabtu, 23 Oktober 2004 01:40
Ramadhan, Menuju Reformasi Spiritual Oleh : Muhammadun AS Ramadhan 1425 H sudah tiba. Dalam momentum bulan yang mulia ini, kita sebagai umat Islam perlu merefleksikan diri kembali. Perefleksian ini penting, karena Islam yang diakui sebagai agama mayoritas negeri ini perlu bertanggungjawab atas hancurnya tatanan kehidupan kebangsaan yang keropos, moralitas yang bobrok dan mengenaskan. Bagaimana pun, prilaku buruk suatu bangsa akan mencerminkan buruk dan rusaknya mayoritas bangsa tersebut. Seorang negarawan, Jean Jaques Rousseau, memberikan statemen menarik seiring pesatnya laju kehidupan manusia --bahwa makin banyak orang pandai, makin sulit mencari orang jujur. Kegelisahan JJ Rousseau menandakan, arus modernisasi yang telah membawa kemajuan dalam berbagai dimensi kehidupan ini ternyata gagal membentuk manusia yang berkarakter jujur, membela kebenaran dan mempunyai jiwa kemanusiaan yang dalam. Yang tumbuh adalah personal yang dengan kelihaian ilmunya digunakan untuk menghegemoni, mengintimidasi, mengeksploitasi, bahkan menyengsarakan umat manusia untuk kepentingan pribadi. Negeri Indonesia yang kita cintai ini pun tidak luput dari konsekwensi kehidupan yang memilukan tersebut. Maraknya reformasi yang menandai terwujudnya tatanan baru kehidupan, ternyata belum mampu menyentuh idealisme yang diharapkan. Malah tidak kalah maraknya, para cerdik mereformasi caranya untuk melakukan KKN di negeri ini. Laju kehidupan yang penuh tipu muslihat dan hilangnya nilai kemanusiaan sekarang, bagi kita umat Islam, harus mampu menjawabnya dengan sikap arif dan bijaksana. Yakni bagaimana agar ajaran Islam yang diyakini umat ini, bisa menjadi spirit untuk mengimplementasikannya dalam realitas kehidupan empirik. Maka bila dulu bangsa ini menggagas reformasi tatanan kebangsaan, maka umat Islam sekarang harus memantapkan Ramadhan kali ini untuk mereformasi spiritual umat yang sedang sakit. Pemantapan ini sangat penting, karena selam ini kita hanya membaca syahadat tetapi tidak mampu mengaktualisasikannya dalam realitas empirik. Maka, memantapkan reformasi spiritual umat ini adalah agenda besar yang harus dilakukan semua elemen bangsa, negara, organisasi kegamaan dan rakyat. Bagimana Ramadhan kali ini kita jadikan momentum reformasi moral spiritual umat? Pertanyaan ini cukup relevan dan signifikan kita ajukan agar Ramadhan dengan berbagai ibadah yang kita jalankan sekarang, benar-benar mengarah pada substansi ibadah tersebut dan implikatif sekaligus reformatif terhadap perilaku dan moralitas kita sehari-hari, baik yang berdimensi politik, sosial, ekonomi maupun hukum. Ini penting, karena Nabi pernah memberikan early warning --sekian banyak orang yang menjalankan puasa, akan tetapi mereka hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga. Sinyalemen Nabi ini perlu kita waspadai agar tujuan puasa tidak kita maknai secara subjektif. Artinya, kita harus mengembalikan kembali elan vital puasa Ramadhan dengan mengambil pesan moral dan nilai etiknya untuk diimplementasikan dalam nilai humanitas. Takwa sebagai tujuan puasa (QS Al-Baqarah : 183) tidak hanya merupakan ketaatan seorang hamba kepada Sang Khaliqnya, tetapi harus mampu menyentuh nilai mendasar kehidupan ini. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar memenuhi perintah syariah an sich, melainkan juga harus melihat kondisi riil bangsa yang kini dilanda demoralisasi individual dan sosial. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dalam memaknai puasa kali ini sebagai pesan moral humanistik Ramadhan. Pertama, puasa akan membentuk tanggung jawab pribadi yang luar biasa. Ini karena puasa merupakan ibadah yang paling pribadi, personal atau privat tanpa kemungkinan orang lain untuk melihat dan mengetahui. Sukses tidaknya orang yang berpuasa tergantung dirinya sendiri menjalankan. Untuk itu, kejujuran dan keikhlasan adalah modal utama puasa ini. Selama sebulan ini, kejujuran individu seseorang dipertaruhkan kepada Allah untuk mencari keridhaan Nya. Sebuah keniscayaan membangun bangsa ini ke depan harus sedini mungkin mencetak orang jujur, karena sifat manipulasi, korupsi, kolusi dan menghamburkan harta negara akan lenyap dengan kekuatan kejujuran yang dimiliki. Kedua, membentuk tanggung jawab kemasyarakatan. Tanggung jawab ini timbul karena dengan berpuasa orang akan merasakan sakit dan susahnya dalam kelaparan dan kehausan. Perasaan ini harus mengingatkan pada sakit dan susah, juga kemiskinan yang melanda anak jalanan, orang kelaparan dan sulitnya mencari kehidupan. Kepekaan seperti ini yang harus bangkit dalam diri orang berpuasa. Jangan malah kita dengan bangganya mengagung-agungkan harta kekayaan, kekuasaan dan jabatan untuk menindas orang lain. Tetapi bagaimana hal itu dialihkan untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan pendidikan umat. Dengan kepekaan ini, kita akan menemukan kembali sifat kemanusiaan kita. Kalau sementara ini banyak manusia yang hanya mempertajam akal, tetapi hati nuraninya digadaikan dan disimpan dalam gedung megah yang sulit ditembus sinar ilahiyah. Ramadhan kali ini merupakan momentum untuk menembus dan menyirami nurani dengan nilai ilahiyah yang berupa kejujuran, keikhlasan, kebenaran dan kemanusiaan. Dua pesan dan nilai etik tersebut menjelaskan, yang menjadi orientasi utama dalam ritualisme puasa, di samping terciptanya kesalehan individu juga kesalehan sosial. Artinya, ibadah puasa di samping lebih bersifat esoterisnya yang membentuk tanggung jawab individu yang jujur, juga mampu menjelma dalam komitmen yang lebih tinggi yakni transformasi pribadi dalam kehidupan sosial kemasayarakatan. Peneliti pada Pusat Studi Agama dan Kebudayaan (Pusaka) Yogyakarta e-mail: [EMAIL PROTECTED] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

