Republika
Jumat, 22 Oktober 2004

Presiden Sebagai Bintang untuk Menarik Investor
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan


Udin Saefudin Noer
Direktur Eksekutif Pusat Komunikasi Ekonomi Syariah (PKES) dan Mahasiswa 
Pascasarjana UI



Menurut Rafael Aguayo dalam The MetaKnowledge Advantage, ''Globalization 
refers to international investments, mobility of labor and capital across 
borders, transnational organizations, and development of a common culture.'' 
Globalisasi adalah proses yang tak terhindarkan. Begitu pun 
kerjasama-kerjasama dengan berbagai lembaga internasional, maupun kerjasama 
dengan berbagai negara menjadi bagian keharusan pergaulan antarbangsa. 
Namun, pelajaran dari globalisasi tidak selalu memberi dampak baik. 
Globalisasi tidak serta merta memberi manfaat yang seimbang di antara para 
pelaku, baik perusahaan maupu negara-negara yang terlibat dalam proses 
globalisasi.
Joseph Stiglitz, pemenang Nobel untuk ekonomi tahun 2001, mantan Chairman of 
Economic Advisers, lembaga penasihat Presiden Amerika Serikat dan Chief 
Economist the World Bank, penulis buku Globalization and its Discontents 
adalah tokoh yang turut mengingatkan sisi-sisi buruk globalisasi dan 
perjanjian kerjasama internasional, khususnya yang di bawah organisasi 
multilateral seperti The International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. 
Ia menulis bahwa banyak pengambilan keputusan di kedua lembaga ini tidak 
sepenuhnya didasari tujuan-tujuan kerjasama untuk membantu Negara anggota. 
Ia menulis, ''I saw that decision were often made because of ideology and 
politics. As a result many wrong--headed actions were taken, ones that did 
not solve the problem at hand but that fit with the interests of beliefs of 
the people in power.''
Pada bagian lain dari Globalization and Its Discontents, ia mengemukakan, 
''Decisions were made on the basis of what seemed a curious blend of 
ideology and bad economics, dogma that sometimes seemed to be thinly veiling 
special interests.'' Ia mengingatkan bahwa selain tujuan-tujuan kerjasama 
yang saling menguntngkan, globalisasi dan lembaga-lembaga internasional juga 
dipenuhi oleh kepentingan-kepentingan negara, pasar, dan pemilik modal yang 
bermain di bursa-bursa dunia, seperti di Wall Street. Namun ia pun 
menyampaikan bahwa sulit membuktikan adanya konspirasi di IMF dan World 
Bank. ''You won't find hard evidence of terrible conspiracy by Wall Street 
and the IMF to take over the world.''
Menurutnya, selain sisi-sisi yang pantas diwaspadai, globalisasi dan 
kerjasama internasional antara negara-negara maju dan berkembang, 
antarnegara yang kaya dan miskin akan sangat membantu apabila masing-masing 
memiliki kebijakan ekonomi yang baik dan saling mendukung dalam hubungan 
yang adil. Menurutnya, ''Good economic policies have the power to change the 
lives of these poor people. I believe governments need to--and can--adopt 
policies that help countires grow but that also ensure that growth is shared 
more equitably.''
Tetapi, di tengah kondisi ketidakseimbangan resources dan hubungan 
antarnegara dan antarlembaga internasional yang tidak selalu menguntungkan, 
tulisan Joseph Stiglitz dapat menjadi referensi perlunya menata kembali 
kerjasama internasional dengan lembaga-lembaga internasional maupun 
lembaga-lembaga multilateral. Para pejabat pemerintahan dan anggota 
parlemen, harus mencermati Article of Agreement of the International 
Monetary Fund (IMF), yang berisi 31 Bab dan begitu detail, secara cermat, 
kata per kata, ayat per ayat dan pasal per pasal. Sebab di sana tergambar 
binding commitments yang juga mengatur hak-hak dan kewajiban anggota, 
termasuk pengaturan cadangan emas dan vote power dalam pengambilan keputusan 
di IMF. Begitu pun aturan-aturan lembaga multilateral lain seperti The World 
Bank, International Finance Corporation (IFC), World Trade Organization 
(WTO), Asian Development Bank (ADB) dan lembaga-lembaga regional lainnya.
Dalam jangka pendek, penelaahan dokumen-dokumen legal lembaga-lembaga 
internasional harus menjadi bagian kegiatan wajib, khususnya bagi 
lembaga-lembaga yang memiliki kerjasama internasional. Adalah sangat riskan 
melakukan kerjasama internasional dengan lembaga-lembaga yang memiliki 
kepentingan yang berbeda dengan Indonesia dan kemungkinan mengikat bangsa 
ini dalam binding commitments yang tidak menguntungkan, sementara kita 
dengan bangga menyampaikannya sebagai bentuk pengakuan internasional.
Langkah lain adalah kerjasama ekonomi dengan fokus dan titik berat kerjasama 
bilateral dan kerjasama regional, dengan mengurangi tekanan kerjasama 
multilateral. Upaya-upaya itu dapat dilakukan dengan pemetaan negara mitra 
dan potensi riilnya bagi upaya memperoleh investasi maupun sebagai pasar 
ekspor. Pada sisi lain, kerjasama ini secara politik dapat diarahkan untuk 
memperkuat penggalangan suara pada forum persidangan Perserikatan 
Bangsa-bangsa (PBB) maupun forum regional, untuk menjaga kepentingan dan 
kedaulatan Indonesia dari ancaman tekanan internasional.
Salah satu langkah adalah dalam 100 hari pertama presiden perlu segera 
melakukan kunjungan luar negeri bagi kerjasama ekonomi internasional dalam 5 
(lima) peta wilayah ekonomi, yaitu; ASEAN, Asia-Eropa, Asia-Pasifik, Afrika, 
dan Organization of Islamic Conferences (OIC) atau Negara-negara Organisasi 
Konferensi Islam (OKI), dan The Islamic Development Bank (IDB) beserta 
anak-anak perusahaanya. Kunjungan ini harus disertai investment prospect 
information, dengan tindak-lanjut mengundang para kepala negara dan dunia 
usaha masing-masing wilayah ekonomi itu dalam suatu ''Investment Conference 
on Indonesia,'' misalnya Asia-Europe Investment Conference on Indonesia, 
APEC Investment Conference on Indonesia, atau OIC and IDB Invesment 
Conference on Indonesia, secara bergiliran, dengan presentasi potensi 
investasi, zona investasi dan rezim investasi yang menarik bagi para 
investor dari wilayah-wilayah ekonomi tersebut. Saat seperti inilah, 
presiden dan wakil presiden menjadi moderator sekaligus presenter utama. 
Inilah diferensiasi kepemimpinan baru yang akan memperkuat citra perubahan, 
propasar dan profesional. Sementara para gubernur, wali kota, dan bupati 
bersama menteri ekonomi dan investasi terkait menjadi narasumber utama dalam 
round table discussion yang semi informal, atau casual style.
Kampanye investasi ini, secara intensif juga perlu didukung kemudahan 
birokrasi, insentif pajak dan praktik pemerintahan yang bersih untuk 
meningkatkan efisiensi dan meningkatkan reputasi Indonesia. Karena itu, tax 
reform menjadi agenda penting. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke