Menurut saya, pecat rektornya.
Kemudian, subsidi jangan terlalu banyak.
Masak di PTN subsidi dihapus, di sini mahasiswa selain
belajar gratis, asrama dan makan gratis, seragam
gratis, dapat uang saku lagi.
Akibatnya terlalu manja dan tidak membaur dengan
rakyat.

Biarlah mereka kos di rumah rakyat. Sehingga selain
membaur juga tidak bisa leluasa menyiksa juniornya.

--- Dian Kurniasari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> 
> [Dian Kurniasari] begini ini nih bom waktunya
> Indonesia.......
> Saya juga turut prihatin dan benar2 berharap sekolah
> " preman" para "pak
> camat" ini tercerahkan, minimal se level keledai
> deh....
> 
>  
>  
> 
> -----Original Message-----
> From: Pitho [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, October 25, 2004 7:47 AM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [ppiindia] Lagi, kasus STPDN - Siapa
> yang Keledai?
> 
> 
> sekali lagi saya ucapkan prihatin dengan tindakan
> calon "pak camat"  dari
> sekolah "preman" ini.
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Rahadian P. Paramita" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, October 25, 2004 5:50 AM
> Subject: [ppiindia] Lagi, kasus STPDN - Siapa yang
> Keledai?
> 
> 
> >
> > Saya betul-betul heran. Bukankah tahun lalu kasus
> seperti ini sudah
> menghilangkan nyawa manusia? Sebenarnya seperti apa
> sih perhatian pemerintah
> pada HAM? Apa belum cukup nyawa satu orang? Butuh
> lebih banyak lagi nyawa?
> >
> > Meski belum ada konfirmasi dari pihak STPDN dalam
> berita ini, tapi
> sungguh, saya sangat menyayangkan kalau STPDN tidak
> pernah belajar dari
> kesalahannya. Bahkan keledai saja tidak terjerembab
> di lubang yang sama.
> Tapi kenapa kasus seperti ini masih saja terdengar?
> >
> > Marah, kecewa, gemas, dan sebagainya. Agak sulit
> menggambarkan perasaan
> saya membaca berita seperti ini. Kebodohan demi
> kebodohan perilaku anak
> bangsa ini sungguh di luar akal sehat. Nyaris tepat
> ungkapan Putu Wijaya,
> bahwa bangsa ini memang sudah absurd. Kalau di luar
> negeri teater absud
> mementaskan cerita-cerita absurd, maka kita
> mementaskan kisah-kisah absurd
> dalam dunia nyata.
> >
> > STPDN, namanya juga sekolah calon pamong praja.
> Mereka bakal jadi pemimpin
> rakyat, yang harus mengerti makna demokratisasi.
> Seperti juga paradigma Good
> Governance. Kalau perilaku seperti ini diteruskan,
> mau jadi apa mereka?
> Tukang pajak yang kerjanya meras? Debt collector?
> >
> > Sungguh luar biasa!
> >
> >
> > Rahadian P. Paramita
> >
> >
> >
> >
> >
> >       Senin, 25 Oktober 2004
> >
> >       Kini Dirawat di RS Al Islam dan Menderita
> Trauma
> >       Calon Praja STPDN Dianiaya Seniornya
> >       BANDUNG, (PR).-
> >       Aksi kekerasan tampaknya masih menjadi
> bagian yang sulit dihilangkan
> dari kampus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri
> (STPDN). Jika tahun
> lalu aksi kekerasan oleh praja senior di kampus
> tersebut merenggut nyawa
> Wahyu Hidayat, praja tingkat II, kali ini aksi
> serupa kembali terulang dan
> memakan korban.
> >
> >       Seorang calon praja asal Nanggroe Aceh
> Darussalam, Ichsan S. (19),
> terpaksa harus dirawat di Rumah Sakit Al Islam,
> menyusul tindakan kekerasan
> dan penganiayaan oleh para seniornya yang dilakukan
> Sabtu (16/10) pekan
> lalu. Ichsan, bukan saja terpaksa tidak dapat
> menjalankan ibadah puasa
> karena masih harus diinfus, lebih berbahaya lagi ia
> masih mengalami trauma
> berat.
> >
> >       Menurut pengakuan Ichsan sebagaimana
> dituturkan kepada Galamedia,
> Minggu (24/10), peristiwa yang menimpa dirinya
> terjadi pada Sabtu (16/10)
> sekira pukul 1.00 WIB. Ketika itu Ichsan masih
> tertidur di baraknya bersama
> rekan-rekan calon praja lainnya. Barak tersebut
> memang disediakan oleh pihak
> STPDN untuk para calon praja cadangan yang tengah
> menunggu hasil pengumuman
> penyeleksian tahap akhir (pantohir) yang akan
> dilaksanakan pada Selasa
> (19/10).
> >
> >       Tiba-tiba dirinya ditarik oleh beberapa
> orang praja untuk pergi ke
> barak para praja yang jaraknya sekira 100 m dari
> barak para calon praja.
> Tanpa memberikan alasan yang jelas, para praja
> memasukkan Ichsan ke sebuah
> ruangan di barak para praja. Saat Ichsan masuk
> ruangan, penerangan sudah
> dimatikan.
> >
> >       Di saat itulah, Ichsan menerima perlakuan
> yang kurang pantas dari
> lima orang seniornya yang berasal sama dengan
> Ichsan. Ichsan dipukul pada
> bagian kepala, dada, dan perut secara bertubi-tubi.
> "Kepala dipukul beberapa
> kali. Setelah di kepala, lalu di perut dan dada.
> Paling sakit ketika dipukul
> di kepala," ujar Ichsan dengan wajah tampak menahan
> rasa sakit.
> >
> >       Usai dipukul di kepala, perut, dan dada,
> Ichsan pun ditanya oleh
> para seniornya dengan nada mengancam.
> >
> >       "Kamu tidak kenal saya kan?" ujar Ichsan
> menirukan para seniornya
> seraya mengatakan, tindakan itu untuk persiapan
> mengikuti latihan dasar.
> Ancaman itu ditujukan kepada Ichsan agar ia tidak
> bercerita atau
> memberitahukan peristiwa tersebut kepada orang lain.
> >
> >       Setelah menerima pukulan bertubi-tubi,
> kondisi fisik Ichsan dalam
> keadaan setengah sadar dan tidak dapat berdiri.
> Bahkan ketika disuruh
> kembali ke baraknya, Ichsan pun harus merangkak.
> Baru beberapa meter
> mendekati baraknya, ada seseorang yang menolongnya.
> "Saya pun tidak ingat
> siapa yang menolong saya," tutur putra ketiga dari
> Kapten Inf. Hanafiah.
> >
> >       Sebelum peristiwa tersebut, sekira pukul
> 22.00 WIB, ia dan beberapa
> teman sebaraknya memang sempat dipanggil oleh para
> praja. Namun panggilan
> itu tidak dipenuhinya karena takut dipelonco oleh
> para praja. Meski mendapat
> perlakuan fisik yang menyebabkan badan sakit, Ichsan
> masih mencoba
> meyakinkan dirinya bahwa besok ia akan dapat bugar
> kembali. Namun, nyatanya
> ia hanya dapat tergeletak di tempat tidur.
> >
> >       Untung ayahnya, Hanafiah menelefon ke Ichsan
> pada Sabtu (16/10) pagi
> melalui telefon selular. Seperti orang tua umumnya,
> Hanafiah menayakan kabar
> tentang anaknya.
> >
> >       Namun saat menjawab pertanyaan Hanafiah,
> suara Ichsan terdengar
> seperti yang menahan rasa sakit. "Saya tidak
> apa-apa, hanya sedikit sakit,"
> ujar Hanafiah menirukan Ichsan.
> >
> >       Setelah sedikit dipaksa, Ichsan akhirnya
> mengaku terus terang kepada
> ayahnya bahwa kondisinya sudah tidak kuat lagi.
> "Saya sudah tidak kuat lagi,
> Pak," ujar Hanafiah kembali menirukan anaknya.
> >
> >       Hanafiah pun berusaha menghubungi kenalannya
> di STPDN untuk dapat
> mengetahui kondisi Ichsan sesungguhnya. Namun karena
> birokrasi yang begitu
> ketat, Hanafiah kesulitan mengetahui kondisi
> anaknya. Ia pun meminta kepada
> temannya untuk secara sembunyi-sembunyi mendatangi
> barak tempat Ichsan
> 
=== message truncated ===


=====
Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.geocities.com/nizaminz


                
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.
http://promotions.yahoo.com/new_mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke