>>>>Sebaiknya bagaimana kita? Menurut penulis, sebaiknya kita tetap terus bersikap kritis, dan dengan tekanan yang terus menerus terhadap SBY, diharapkan ia makin mampu mengambil kebijakan yang pro-rakyat. Kritik dan tekanan perlu terus diarahkan kepada mereka. Kepada SBY terutaman, perlu dibuat shock therapy untuk membuka kesadarannya agar faktor Kalla jangan sampai menentukan kebijakan politiknya. Bahaya paling besar pemerintahan SBY tampaknya ada pada faktor Jusuf Kalla yang membawa gerbong kepentingan sektarian, kelompok kroninya dan kepentingan tersembunyi lainnya. Kalau SBY berhasil menaruh Jusuf Kalla dalam posisi sungguh sebagai wakil presiden, mungkin SBY akan berhasil menemukan kepercayaan diri untuk bekerja bagi kepentingan rakyat. Tetapi bila tidak, SBY akan mengalaminya sebagai bumerang. Tetapi bila SBY sendiri sudah tampak plin-plannya, siapa masih mau memberi dukungan pada dia?<<<<< Pertanyaan, apakah yang dapat kita buat, mungkin hanya bermuara pada satu solusi, yakni memberikan dukungan padanya, hingga dia mampu untuk bertindak sebagai kepala negara, tanpa selalu hjarus berkompromi. Dalam sejarah, kita lihat bagaimana presiden2 kita yang benar2 berhasil membentuk tatanan baru dalam msayarakat Indonesia, yakni bung Karno dan pak Harto, memimpin kabinetnya, termasuk mengendalikan wapres mereka. Bung Karno lah yang mewarnai politik negara kita dalam kurun 1945 hingga 1965, walau ada sebutan Dwi Tunggal (sayangnya, pada ujung episode pemerintahannya, para Waperdam, terutama Dr. Subandriuo sangat menentukan arus politik kala itu). Demikian pula dengan pak Harto, yang tak pernah dimpimpin atau dipengaruhi oleh wapres2nya. Juga walau Adam Malik adalah seorang politician kawakan yang senior, namun yang menentukan politik luar negeri adalah presiden. Secara konstitusional presidenlah yang kelak bertanggung jawab, bukan tanggung jawab ganda, jadi apa gunanya, menempatkan wapres dalam posisi yang malah menentukan jalan pemerintahan? Apalagi, bila benar, JK memunculkan kekuatan sektarian (berbau agama), maka Indonesia akan makin terjepit dalam politik internasional. Kedalam, SBY harus mampu menegakkan hukum nasional. Dan tak membiarkan experiment2 hukum agama kian mengaburkan haluan negara. Salam RM D Hadinoto --- In [EMAIL PROTECTED], Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > SBY, DILEMA ANAK TUNGGAL > > Oleh Tangkisan Letug > > Mengamati reaksi publik terhadap Kabinet Indonesia > Bersatu yang dibentuk SBY-Kalla, penulis hanya > berunjal napas panjang. Begitulah, sekarang para > pemilih SBY-Kalla sendiri yang akan tinggal gigit > jari, mengingat harapan-harapan para pemilihnya sangat > jauh dari realisasi. > > Ada yang mengatakan kabinet itu adalah kabinet hasil > kompromi. Dan itu memang tepat dan sangat jelas > kentara. Sifat peragunya SBY mulai menampakkan > hidungnya. Begitukah dilema seorang anak tunggal yang > menjadi pemimpin? > > Seorang anak tunggal secara psikologis bisa dipahami > memiliki kebutuhan rasa aman yang cukup tinggi. Ada > kecenderungan untuk menyenangkan banyak pihak sekedar > menyelamatkan wajah sendiri untuk tetap disenangi. > Dalam arti ini, sebenarnya ia sangat rapuh. > Kecenderungan untuk mencari "selamat sendiri" atau > menjaga imej untuk tetap disenangi amat kuat, bahkan > begitu dominan sehingga prinsip-prinsip sering > dikurbankan demi keselamatan diri. > > Begitukah kasus SBY? Kita masih perlu melihat lebih > lanjut. Kegamangan demi kegamangan bisa membawa SBY ke > lembang jurang. > > Menjatuhkan SBY? Berbagai isu sekitar penjatuhan SBY > belum tentu menguntungkan seluruh rakyat. Bila SBY > dijatuhkan seperti Gus Dur, kekuasaan akan jatuh pada > Jusuf Kalla, yang dalam hal leadership-nya sudah amat > menampakkan wajah sektarian (Ingat komentar > diskriminatif dan rasis-nya tentang kelompok pengusaha > Tionghoa). > > Menjatuhkan SBY itu seperti mengusir singa dan hanya > akan mendapatkan harimau. SBY dan Kalla bila > diumpamakan bagai Singa dan Harimau, kiranya bisa > menunjuk situasi yang sedang kita alami sekarang ini. > Kedua-duanya sebenarnya berbahaya bagi kepentingan > rakyat. > > Masa berkabung bagi seluruh bangsa Indonesia bisa > terus berlangsung selama keduanya masih di mimbar > kekuasaan. Kini tinggal sejauh manakah ketahanan > masyarakat terhadap berbagai sepak terjang SBY-Kalla. > > Sebaiknya bagaimana kita? > Menurut penulis, sebaiknya kita tetap terus bersikap > kritis, dan dengan tekanan yang terus menerus terhadap > SBY, diharapkan ia makin mampu mengambil kebijakan > yang pro-rakyat. Kritik dan tekanan perlu terus > diarahkan kepada mereka. Kepada SBY terutaman, perlu > dibuat shock therapy untuk membuka kesadarannya agar > faktor Kalla jangan sampai menentukan kebijakan > politiknya. Bahaya paling besar pemerintahan SBY > tampaknya ada pada faktor Jusuf Kalla yang membawa > gerbong kepentingan sektarian, kelompok kroninya dan > kepentingan tersembunyi lainnya. > > Kalau SBY berhasil menaruh Jusuf Kalla dalam posisi > sungguh sebagai wakil presiden, mungkin SBY akan > berhasil menemukan kepercayaan diri untuk bekerja bagi > kepentingan rakyat. Tetapi bila tidak, SBY akan > mengalaminya sebagai bumerang. > > Tetapi bila SBY sendiri sudah tampak plin-plannya, > siapa masih mau memberi dukungan pada dia? > > 25 Oktober 2004 > > > > > _______________________________ > Do you Yahoo!? > Declare Yourself - Register online to vote today! > http://vote.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

