Melawan penindas dengan kekerasan, hanya akan melahirkan kekerasan baru. Mending bubarin aja lah tu STPDN.
______________________________________ rahadian p. paramita at http://prajnas.blogspot.com ========================================================== Selasa, 26 Oktober 2004 Polisi Bakal Panggil Beberapa Praja STPDN Kepala Ichsan Tertimpa Barbel BANDUNG, (PR).- Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, polisi menemukan adanya tindak kekerasan yang dilakukan terhadap Ichsan Suheri (19), calon praja (capra) Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang kini terbaring di RS Al Islam (RSAI) Bandung. Hal itu disampaikan Kapolres Sumedang, AKBP Yoyok Subagiyo, usai menjenguk Ichsan di RSAI, Senin (25/10). Yoyok juga mengatakan, pihaknya juga sudah mengantongi beberapa nama yang diduga melakukan aksi kekerasan terhadap korban. Para pelaku, ujar Yoyok, adalah praja STPDN tingkat madya. "Kekerasan itu akan kita buktikan dengan memanggil beberapa orang. Kita butuh waktu dua hari. Korban memang menunjuk beberapa nama, nanti kita kembangkan," ujarnya. Ditambahkan, aksi kekerasan terhadap korban berupa pemukulan dan tugas mengangkat barbel dengan satu tangan yang seharusnya dilakukan oleh dua tangan. Akibat mengangkat barbel dengan berat sekira 30 kg itulah, Ichsan tertimpa dan mengalami cedera di kepala. Meski demikian, ujar Yoyok, berdasarkan visum yang diperoleh kepolisian pada Senin (25/10) pagi, cedera fisik di tubuh korban tidak terlalu berat. "Yang berat justru trauma psikisnya, sehingga korban diharuskan beristirahat selama 2-3 bulan," katanya. Trauma psikis Sementara itu, Ketua STPDN, Nyoman Sumaryadi juga mengatakan hal senada. Usai menjenguk korban, Senin (25/10), Nyoman Sumaryadi mengatakan kepada wartawan, berdasarkan keterangan dokter, korban mengalami trauma psikis yang cukup berat. "Berdasarkan penjelasan dokter dan hasil investigasi kita di kampus, dari awal tidak ada gores sedikit pun di tubuhnya, secara fisik semuanya mulus. Secara fisik ia fit kondisinya. Karena itu kita harus mendalami, kenapa ia mengalami trauma," jelasnya. Mengutip pengakuan Ichsan saat ditemui di kamar rumah sakit, Nyoman Sumaryadi menyebutkan, Ichsan terluka hanya karena tertimpa barbel. Itu pun tidak sungguh-sungguh tertimpa dan hanya meleset. "Akan kita dalami semuanya dan akan kami sampaikan kepada teman-teman pers secara jujur. Kalau instrumen di STPDN tidak ada, akan ada instrumen di pihak kepolisian untuk mendalami itu," jelasnya. Nyoman juga mengatakan, ada kesimpangsiuran informasi mengenai dugaan penganiayaan terhadap Ichsan. Ada informasi yang menyebutkan Ichsan terluka hanya karena tertimpa barbel, namun di lain pihak ada yang mengatakan korban dipukuli. Ketika dikonfirmasi kepada pihak yang diduga menjadi pelaku, mereka menulis surat pernyataan tidak terjadi pemukulan atau penganiayaan. Namun, informasi terakhir yang dikatakan oleh Ichsan, dirinya sempat dipukul di bagian perut. "Karena itu, kami akan mengumpulkan data secara komprehensif baik dari praja yang bersangkutan (Ichsan), orang tuanya, maupun dari senior di STPDN, yang sudah kami record semua datanya. Tim investigasi dibentuk setelah pendalaman dan pengumpulan data itu dilakukan secara konkret," jelasnya. Lebih lanjut I Nyoman Sumaryadi mengatakan, STPDN akan menindak siapa pun yang melanggar aturan institusi tersebut. Seraya menegaskan, tindak kekerasan atau perpeloncoan sudah dilarang seiring dengan keluarnya Instruksi Mendagri No. 1 dan No. 2 tahun 2003. "Saya tetap menyangkal adanya tindak kekerasan di STPDN. Tapi kalau itu terjadi, mari kita buktikan bersama dan akan kita tindak sesuai dengan aturan yang ada," tegasnya. Ia juga mengatakan, Ichsan merupakan calon praja yang telah lulus seleksi masuk ke STPDN. I Nyoman Sumaryadi mengatakan, dirinya masih belum memiliki data yang jelas, apakah peristiwa yang menimpa Ichsan terjadi sebelum atau sesudah yang bersangkutan lulus seleksi menjadi praja, karena banyak nama praja yang serupa. Mendapat pukulan Sementara itu, orang tua korban, Hanafiah mengatakan, anaknya belum bisa dimintai keterangan karena kondisi psikologisnya belum normal. Kemungkinan, Ichsan baru bisa memberikan keterangan setelah menjalani pengobatan selama satu bulan. Namun demikian, Hanafiah menegaskan, anaknya memang pernah mendapatkan pukulan di perutnya, tapi yang menjadi persoalan saat ini adalah cedera di kepalanya dan trauma psikologisnya. Menurut Hanafiah, cedera di kepala itu memang akibat tertimpa barbel. Hanafiah juga berencana membawa Ichsan untuk pulang dan berobat di kampung halamannya, di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dalam waktu dekat ini. Bila telah selesai pengobatan, dirinya pribadi menginginkan Ichsan untuk kembali ke STPDN. Namun demikian, ujarnya, keputusan terakhir tergantung keinginan Ichsan sendiri. Menurut Nyoman Sumaryadi, bagi praja yang cuti dan akan kembali ke STPDN harus menempuh beberapa prosedur. Praja tersebut harus memiliki surat keterangan dari gubernur di provinsi tempat asalnya dan harus mengantongi surat keterangan sehat dari kepala dinas kesehatan dan dokter di provinsinya. Di samping itu, harus ada surat pernyataan yang diketahui orang tua, bahwa yang bersangkutan sanggup untuk mengikuti dan menjalani pendidikan di STPDN. Panggil praja Menurut informasi yang diperoleh "PR", Senin (25/10), berkaitan kasus dugaan penganiayaan calon praja oleh praja senior STPDN, jajaran Kepolisian Resort (Polres) Sumedang akan memanggil dan memeriksa beberapa praja senior. Polisi berusaha mengumpulkan keterangan, serta bukti-bukti lain di balik dugaan kasus penganiayaan itu, termasuk sebuah barbel yang sempat disebut-sebut sebagai penyebab trauma pada kepala korban. Kapolres Sumedang, AKBP Yoyok Subagiono menyatakan, pihaknya masih berusaha mencari kebenaran atas apa yang terjadi di kampus STPDN itu. "Kita masih terus berupaya mengembangkan kasus ini. Saat ini, memang masih terdapat simpang siur informasi. Karena ada pula yang menyebutkan, korban mengalami trauma akibat terkena benturan barbel," jelasnya. Sementara itu, tim reserse dari Mapolres Sumedang, Senin (25/10) juga telah mendatangi RSAI Bandung, serta berusaha meminta keterangan dari dua orang dokter yang menangani korban. "Tapi, kita baru bisa mendapat keterangan dari dr. Sri, turut menangani kondisi korban," ucap sumber petugas seraya menyebutkan, dari informasi yang diperoleh petugas, masih terdapat kesimpangsiuran atas kejadian yang sebenarnya.(A-132/A-98)*** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

