Betul sekali. Franz Magnis juga mengingatkan itu barusan di Radio News 97.5 FM, 
Jakarta. Dalam hal apapun negara tidak boleh membiarkan warga bertindak sendiri. 
Lama-lama kalau dibiarkan akan menjadi yg disebut Gagal Negara.
 
Dalam kasus sang timur dan razia FPI terlihat sekali state selalu terlambat atau 
kurang tegas. Kasus sang timur malah yg salah satu pelanggar hukum adalah camat 
sendiri. Seorang agen negara ikut rame-rame membangun tembok dan kemudian mengatakan 
perjuangan kita sudah tercapai. Padahal waktu itu persetujuan untuk tidak beribadat di 
sekolah San Timur baru saja ditanda tangani. Di sini TOPIKnya bukan tujuan camat itu 
bener atau nggak. Tapi Franz Magnis lebih melihat si camat sbg camat / agen negara yg 
seharusnya memberi contoh untuk menyelesaikan konflik MELALUI HUKUM. Nah kalao agen 
negara malah kasi contoh sebaliknya yah... Franz Magnis mengatakan: "aku malu punya 
orang sendiri spt itu".
 
Tepat sekali ungkapan Magnis, walaupun agamanya berbeda dgn camat, tapi jelas camat 
itu adalah camatku. Sbg warga negara pegawai negeri adalah pegawainya warga negara.
 
Tapi ya nggak heran lah kalau STPDN sejak awal sudah dilatih jadi Preman. Lagipula 
Franz Magnis mungkin lupa Amin Rais yg Profesor Dr pernah melakukan yg sama (waktu 
gatel jatuhin Gus Dur), sewaktu bergabung dengan gerakan extra parlementer bersama 
mahasiswa berdemonstrasi menuju gedung DPR. Sbg ketua lembaga negara TERTINGGI tidak 
seharusnya dia menuntut turunya GD bersama gerakan extra parlementer.
 
Sekali lagi TOPIKnya bukan apakah GD pantas diturunkan atau tidak, tapi cara yg 
ditempuh menghormati LEMBAGA NEGARA atau tidak? Jika seorang Amin Rais/Ketua MPR lupa 
dan bisa berbuat seperti itu tentu saja bisa dimaklumi jika seorang camat berbuat 
demikian (walaupun tetap harus dihukum). Gara-gara mimpin demonstrasi tsb Amin sempet 
ribut ama Akbar Tanjung. Salah satu pendukung Amin mengatakan pada saya, mungkin pak 
Amin terlalu bersemangat ... like always.
 
Akhir kata perlu disampaikan satu lagi hasil wawancara Radio Jak News dengan Franz 
Magnis, yaitu kenyataan bahwa dialog antar umat beragama, antar etnis  di 
daerah-daerah, di bawah,  masih kurang. 
 
Dengan semangat ini saya sampaikan salam pada semua teman dan khususnya Mas Danardono. 
Selamat berjuang!
Bobby Budiarto
 


rm_danardono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas, repotnya, masalah agama, yang cukup melelahkan ini (dan tak 
perlu sebenarnya) bukanlah sekedar pertarungan agama, seperti yang 
terlihat dipermukaan.

Issue ini adalah wahana yang bagus sekali untuk pengukuhan kekuasaan. 
Jadi, dibelakangnya adalah perebutan pengaruh, yang menjurus pada 
kekuasaan.

Mungkin, yang dituju etnis tertentu, tetapi paling mudah, digusur via 
agama. Balik lagi, balik lagi, kesenjangan sosial.

Pemerintah harus tegas, dan menyatakan, tak boleh issue agama di-
usung2 lagi didalam wilayah publik. Persengketaan antar kaum adalah 
wajar, namun ini masalah perdata, pemerintah baik dari level bawah 
sampai atas, jangan ikut campur.

Kalau ini saja tak beres, jangan mimpi, negara kita akan melompat 
maju. ya melompat, tetapi kebelakang, ribuan tahun...


Salam

RM D hadinoto

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Address AutoComplete - You start. We finish.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke