Suara Karya
28/10/2004
Jadikan Bahasa Indonesia Lebih Bermartabat
Oleh Wahyu Kuncoro SN
Salah satu butir dari Sumpah Pemuda, "Berbahasa Satu Bahasa Indonesia,"
adalah merupakan komitmen bersama yang masih terawat dengan baik dan relatif tidak
menimbulkan persoalan. Lain halnya dengan kesepakatan-kesepakatan untuk bersumpah
bertanah air satu dan berbangsa satu, Indonesia -- pada 28 Oktober 1928 lalu -- yang
kerap kali menghadapi cobaan, gugatan dan ancaman. Dan, untuk mempertahankan dan
menyelamatkannya, tak jarang, diperlukan tumpahan darah antarsesama anak negeri. Kita
sudah tidak bisa menghitung pengorbanan yang dilakukan untuk mempertahankan wilayah
Aceh, Papua ataupun Timor-Timor agar tetap merasa nyaman dalam naungan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Dalam konteks tersebut, kita tampaknya acapkali melalaikan nilai sejarah
tersebut. Kearifan etnis Jawa yang pada waktu itu jumlahnya 70% dari keseluruhan
masyarakat Indonesia untuk menerima bahasa Melayu sebagai bahasa nasional tentu bukan
sikap yang sia-sia.
Bahkan kearifan itulah sesungguhnya merupakan salah satu kearifan terbesar
dalam sejarah kita. Namun ironisnya, pilihan sikap para pemimpin kita dulu tidak
dibaca sebagai harta kekayaan yang musti diagungkan dan diposisikan sebagai sesuatu
yang bermartabat.
Eksplanasi di atas penting untuk diungkapkan mengingat kondisi sekarang
ini nilai keagungan dan harta terbesar dalam merajut kebersamaan bangsa melalui bahasa
Indonesia tidak mendapatkan apresiasi yang pantas. Yang justru terjadi adalah bahwa
bahasa kita hari ini ternyata malah terpuruk pada posisi yang menyedihkan,
terpinggirkan, dan bahkan bisa jadi suatu saat akan dicampakkan.
Sebagai contoh, pencitraan bahasa Indonesia sekarang tampaknya tenggelam
di balik sikap mengagungkan bahasa-bahasa asing. Masyarakat kita biasanya tidak akan
terlalu menghargai seseorang yang menguasai betul bahasa Indonesia. Dan mungkin, orang
akan memberi pujian yang setinggi langit ketika melihat ada orang yang menguasai
secara betul bahasa Inggris, Perancis, Jepang, Mandarain, Arab dan bahasa asing
lainnya. Bahkan dalam berbagai kesempatan, beberapa institusi pendidikan mengajarkan
kita untuk memakai bahasa asing dalam pergaulan sehari-hari.
Dan, keprihatinan semakin menjadi-jadi ketika secara telanjang kita
melihat betapa terjadi campur aduk penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing,
tapi juga makin maraknya ragam dialek Jakarta (Betawi) dalam sajian sejumlah acara di
televisi, seperti sinetron.
Kondisi tersebut, telah melalaikan komitmen bangsa ini pada penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar yang dicanangkan oleh Presiden RI pada 1995.
Pencanangan itu mengamanatkan masyarakat harus menggunakan bahasa Indonesia secara
baik dan benar.
Setelah pencanangan tersebut memang telah ditindaklanjuti dengan berbagai
aksi, seperti penertiban sejumlah papan reklame dan nama-nama sejumlah papan nama di
perusahaan, kantor-kantor pemerintah maupun swasta yang menggunakan kata atau bahasa
asing.
Komitmen penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus
dipertahankan. Hal ini juga dilakukan oleh negara-negara lain di dunia, seperti Korea,
Jepang, Jerman, Prancis. Kalau mereka saja, bahasanya banyak digunakan di luar
negaranya, mengapa kita tidak bisa mempertahankannya.
Di sisi lain, saat ini masih banyak anggota masyarakat atau penduduk
Indonesia tidak mampu berbahasa Indonesia karena mereka buta aksara. Saat ini
sedikitnya ada sekitar 15,6 juta penduduk Indonesia yang buta aksara. Karena itu,
untuk mempertahankan penggunaan bahasa Indonesia dan sastra yang baik dan benar telah
diupayakan langkah preventif melalui komitmen yang dibuat antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah, yakni lewat program pemeliharaan bahasa dan sastra diserahkan
kepada pemerintah daerah.
Kekhawatiran sejumlah pakar dan pemerhati bahasa Indonesia pun sangat
beralasan mengingat dalam beberapa tahun terakhir ini, bangsa lain justru lebih peduli
terhadap bahasa Indonesia.
Di Australia, misalnya, sejumlah perguruan tinggi membuka Fakultas Bahasa
Indonesia. Banyak penduduk Australia yang justru lebih pandai berbahasa Indonesia
daripada penduduk Indonesia. Kalau orang lain sangat kagum terhadap bahasa Indonesia,
mengapa kita tidak?
Realitas lain, misalnya, kita cukup prihatin dengan nasib Jurusan Bahasa
Indonesia di kampus-kampus yang sekedar menjadi jurusan yang tidak bergengsi bahkan
menjadi pilihan paling belakang. Sementara di pihak lain, minat dunia untuk mengkaji
tentang bahasa Indonesia sangat tinggi. Sekedar catatan, hari ini berbagai universitas
besar di Belanda, Amerika dan Australia tengah bersemangat untuk melakukan kajian yang
serius tentang bahasa Indonesia.
Dan, jurusan-jurusan bahasa Indonesia di universitas-universitas
negara-negara tersebut sangat diminati. Bukan itu saja, masyarakat dunia juga begitu
bergairah untuk menerjuni dan mempelajari budaya dan kekayaan etnis kita. Sehingga
bukan hal yang aneh kalau nantinya kita musti belajar menari, karawitan,
gendhing-gendhing Jawa, dari negara-negara asing. Kenyataan ini memang tidak perlu
kita tangisi atau terus kita ratapi. Namun harus mempu menyentakkan kesadaran kita
sebagai bangsa untuk bangkit dan mengukuhkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang
membanggakan.
Keterpurukan bahasa kita tentu bukan terjadi dengan sendirinya, namun juga
akibat politik bahasa kita yang memang tidak pernah memihak pada upaya mengukuhkan
martabat bahasa. Akibat penghargaan kita terhadap bahasa sendiri yang demikian rendah
kita pun akhirnya juga dilecehkan oleh politik bahasa-bahasa negara lain.
Sebagai ilustrasi, ketika masyarakat kita ingin belajar ataupun bekerja di
Inggris, Amerika atau negara asing lainnya kita diwajibkan untuk menguasai bahasa
Inggris dengan standar TOEFL minimal 550 atau bahkan lebih. Demikian juga kita sibuk
membuat program pendidikan bahasa bagi para TKI/TKW (tenaga kerja Indonesia/tenaga
kerja wanita) kita yang ingin bekerja di luar negeri. Sementara mengapa kita tidak
menerapkan aturan sebaliknya, yakni bagi para mahasiswa atau tenaga kerja yang ingin
belajar atau bekerja di Indonesia juga wajib menguasai kemampuan standar bahasa
Indonesia.
Memberdayakan Bahasa Indonesia
Semangat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang bermartabat
dapat ditilik dari tema Kongres Bahasa Indonesia VIII, Oktober 2003 lalu yang berbunyi
"Pemberdayaan Bahasa Indonesia Memperkukuh Budaya Bangsa dalam Era Globalisasi".
Dari tema tersebut upaya untuk memberdayakan bahasa memerlukan komitmen
semua pihak. Tema memberdayakan bahasa Indonesia semakin relevan untuk disuarakan
dengan mencermati betapa bahasa Indonesia semakin terpuruk di hadapan masyarakatnya
sendiri. Realitas ini dapat dibaca ketika, misalnya, kita melihat penghargaan
masyarakat terhadap bahasa Indonesia yang malah menyedihkan.
Ada upaya positif yang patut dikembangkan sebagai langkah untuk
menggairahkan minat masyarakat untuk berbahasa yang baik. Penghargaan terhadap tokoh
nasional seperti; Susilo Bambang Yudhoyono, Yusril Ihza Mahendra, Nurcholish Madjid,
Eep Saefulloh Fattah sebagai sosok yang bertutur secara baik tentu harus dikembangkan.
Artinya, bukan saja pada tingkat nasional saja, namun juga pada level daerah. Dan
juga, tidak hanya tokoh/figur namun juga media ataupun institusi/kelompok dalam
masyarakat yang dinilai mampu menjadi contoh dalam berbahasa secara baik dan benar.
Bahwa ketentuan untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar hanya pada
forum resmi, mempunyai makna bahwa aparat birokrasi sesungguhnya merupakan ujung
tombak dalam membudayakan berbahasa yang baik. Oleh karena itu, langkah untuk
menghadirkan birokrat-birokrat yang mampu berbahasa secara baik akan menjadi kebutuhan
yang tidak terelakkan lagi. Dan, inilah salah satu tugas birokrasi kita, yakni mampu
menjadi contoh bagi masyarakat, khususnya dalam hal berbahasa yang baik dan benar.
Wallahu'alam Bish-shawwab. ***
(Penulis adalah peneliti pada PubliC Sphere Center, alumnus ITS,
Surabaya).
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/