Betul sekali dengan apa yang telah dikemukakan mengenai acara2 TV yang
bersifat membodohi bangsa. Untuk itu saya dan teman2 di Jakarta
bergabung dalam sebuah perkumpulan yang bernama "Perkumpulan Para Korban
Komersialisasi Televisi" dan kami sudah mendapatkan 800 tanda tangan
yang lalu dikirimkan kepada seluruh instansi media terutama Televisi
untuk menuntut agar acara2 sadistis, mistisisme diberhentikan. Karena
salah satu dari anak teman kami yang baru berumur 6 tahun ingin bunuh
diri akibat saking takut melihat dunia melalui berita2 seperti acara
Buser, Sergap ( walaupun anak2 sdh dilarang menonton acara2 spt itu
namun tetap saja lolos dr sensor). 

Apa yang akan kita wariskan kepada para tunas bangsa dengan menyuguhkan
acara2 yang sangat tidak mendidik? Sepertinya instansi2 TV sangat
terlalu concern dengan "rating" sehingga lupa perannya yang di UU
dituliskan bahwa mereka bertanggung jawab u/ mendidik bangsa. Sebetulnya
kita sebagai masyarakat bisa menuntut mereka secara hukum jika mereka
tetap tdk menggubriskan permasalahan ini.

Dengan tingginya "rating" acara2 spt itu juga mencerminkan jiwa bangsa
Indonesia yang sudah tidak sehat. Ini sangat mengkhawatirkan. Coba
bayangkan masa depan Indonesia dengan mentalitas bangsa yang seperti
itu......

Love n peace,
Maya S Muchtar


-----Original Message-----
From: rm_danardono [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, October 29, 2004 8:38 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [ppiindia] Renungan akhir minggu




Budaya Instan TV
 

"Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh 
tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika 
terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu." (Matius 
6:22-23).

Akhir-akhir ini kekuatiran para orang tua, pendidik dan banyak 
kalangan ditujukan pada tayangan-tayangan TV yang menonjolkan tema 4S 
yang dianggap telah mendatangkan budaya instan dan dampak buruk pada 
masyarakat.

Dalam bulan-bulan terakhir ini berbagai forum dan media memuat 
artikel yang membahas pengaruh tayangan TV atas perilaku pemirsa. 
Natara lain, di bulan Juni 2004 di Jakarta, Senakki (Sekertariat Kine 
Klub Indonesia) menggelar seminar sehari membahas tontonan 
pornografi, sadistis, dan mistis, dan menuntut segera dihentikannya 
tayangan-tayangan yang ditengarai telah merusak moral masyarakat 
Indonesia itu. Majalah Tempo dalam edisinya tanggal 5-11 Juli 2004 
memuat dua artikel berjudul: Seks dan Mistik, Sang Primadona, dan 
Sebuah Dunia Tanpa Hantu.

Bulan September, kepedulian dan keprihatinan masyarakat akan siaran 
TV yang cenderung merusak dinyatakan dalam berbagai tulisan di mass-
media atau dibicarakan di seminar. Unisba di Bandung menggelar talk 
show pada 4 September 2004 dengan judul `Efek Tayangan Mistis, 
Kekerasan, dan Pornoaksi.' Harian Pikiran Rakyat tanggal 7 & 8 
September 2004 memuat artikel berjudul `"Junk Food News" Di Televisi 
Kita' ini mendapat gema dalam tulisan di harian Sinar Harapan tanggal 
22 September 2004 dengan judul `"Junk Food News" di Televisi'. Harian 
Kompas memuat sajian khusus Bisnis & Komunikasi yang membahas 
berbagai aspek tontonan TV pada 28 September 2004.

Apakah yang umumnya dipesankan dalam pertemuan dan bahasan di atas? 
Setidaknya ada beberapa budaya instan yang ditularkan melalui 
tayangan khususnya TV, yaitu yang dapat disingkat sebagai 4S 
(selebritas, seks, sadisme, satanisme). 4S ini sekalipun ditengarai 
sebagai mendatangkan pengaruh negatif atas perilaku pemirsa tragisnya 
justru merupakan siaran-siaran yang laku dan biasa ditayangkan pada 
waktu utama (prime time) diantara jam 18.00 s/d 22.00 dimana 
diperkirakan seluruh anggota keluarga sudah berada di rumah dan 
mencari hiburan TV setelah seharian didera kesibukan belajar dan 
kerja.

Kehidupan budaya instan TV banyak menonjolkan pengaruh pertama S1 
berupa budaya kehidupan Selebritas yang a.l. dipenuhi: gemilang uang 
seperti iklan-tawaran hidup dan hadiah mobil dan rumah mewah; demam 
panggung dengan tayangan AFI, Indonesian Idol, Cantik Indonesia dan 
sejenisnya yang menanamkan pola berfikir untuk menuju puncak 
kehidupan glamour dalam waktu singkat; kehidupan penuh kemewahan 
dimana kebanyakan sinetron menonjolkan kehidupan dengan setting mewah 
dengan rumah luas bertingkat. Belum lagi pengaruh iklan komersial 
merangsang tumbuhnya konsumerisme masyarakat pemirsa.

Pengaruh kedua S2 yang disorot adalah Seks atau seksualitas. Baik 
pornografi maupun pornoaksi tidak terlepas dari kategori ini, dimulai 
dengan makin minimnya pakaian para bintang TV dan tayangan-tayangan 
sinetron yang menonjolkan sensualitas, goyangan Inul yang menimbulkan 
kontroversi, bahkan kehidupan kawin cerai yang ditonjolkan kisah-
kisah selebriti dan gossip show, dan tema-tema sinetron termasuk 
telenovela yang menonjolkan kehidupan kekeluargaan yang rapuh dengan 
bumbu perselingkuhannya penuh menghiasi siaran televisi di Indonesia.

Pengaruh ketiga S3 yaitu Sadisme atau kekerasan makin sering 
ditayangkan TV, mulai dari cerita-cerita perang, laga dan kejahatan 
(crime), maupun ulasan berita kriminal semacam bidik dan buser 
menurut para pengamat lebih menonjolkan adegan sadismenya daripada 
berita dibalik penyebab dan penanggulangan kejahatan itu sendiri. 
Tidak kalah ramanya adalah tayangan adu-laga semacam smackdown dan 
ultimate fighting championship menonjolkan kesadisan adu domba yang 
banyak mempengaruhi perilaku anak-anak, lebih lagi pada umumnya film-
film kartun anak-anak justru mengulang-ulang kekerasan dalam setiap 
adegan. Coba simak adegan-adegan kartun `Celebrity Death Match.'

Pengaruh keempat S4 yaitu Satanisme atau biasa disebut tayangan 
mistik dan misteri sudah makin mempengaruhi pemirsa sehingga tidak 
salah kalau sutradara Garin Nugroho menyebut "pemirsa lebih takut 
Hantu daripada Tuhan.' Nyaris semua siaran TV menghadirkan tayangan 
berbau satanisme yang menonjolkan kisah-kisah misteri, roh-roh alam 
gaib, sampai kuasa setan. Banyak anak mengalami mimpi buruk karena 
sering menonton adegan satanisme, bahkan banyak pembantu rumah tangga 
makin takut ditinggal sendirian menjaga rumah di malam hari.

Bisa dimaklumi mengapa para pendidik, para pemuka agama, para orang 
tua yang mulai mempermasalahkan tayangan TV demikian yang 
menghadirkan kehidupan konsumerisme dan utopia kemewahan yang boros. 
Bayangkan banyak orang tua mengeluh karena anaknya menghabiskan 
tagihan telpon genggam lebih dari sejuta rupiah karena anaknya 
mengirimkan puluhan SMS yang masing-masing dikenai biaya 2 ribu 
rupiah itu (premium call tilpon 3 ribu). Banyak pemuka agama mengeluh 
karena kegiatan agama menjadi sepi pengunjung bila diadakan pada jam 
yang bertepatan dengan tayangan AFI, Indonesian Idol atau KDI. 
Kehidupan sekular lebih berdaya tarik daripada kehidupan rohani.

Dalam buku `Sex, Violence and the Media' dibahas adanya 5 tingkat 
pengaruh yang bisa mengubah perilaku pemirsa, yaitu dimulai dengan: 
(1) imitasi; (2) identifikasi; (3) runtuhnya rem pengaman; (4) 
stimulasi; dan (5) katharsis. Pertama seseorang yang terpengaruh TV 
atau film mulai meniru pakaian, senyum, atau gaya rambut tokoh-tokoh 
idolanya, kemudian ia lebih lanjut akan mengidentifikasikan diri 
dengan perilaku idolanya. Seseorang tidak sekedar meniru penampilan 
luar idolanya tetapi ia ingin berperilaku seperti perilaku idolanya. 

Biasanya manusia sudah mempunyai rem pengaman yang tertanam dalam 
dirinya karena nilai-nilai tradisi, ajaran orang tua dan guru maupun 
bimbingan agama, namun ini bisa runtuh bila menghadapi serangan 
gencar tayangan 4S, apalagi tayangan 4S cenderung secara aktif 
merangsang pemirsa sehingga jangan heran kalau pelaku 4S kemudian 
menjadi pelaku pemirsa dan ujung-ujungnya kalau terjadi katharsis, 
pemirsa bisa meluapkan perilaku 4S yang telah melekat dalam dirinya.

Umat beragama diharapkan memiliki keteguhan iman untuk menghadapi 
pengaruh gencar budaya instan tayangan TV yang kuat sekali 
pengaruhnya itu. Dan seperti firman Yesus di atas, mata adalah 
jendela efektif masuknya budaya instan 4S ke dalam kepribadian 
manusia, karena itulah mata dengan segala hilir mudik informasi 
visual yang melaluinya perlu benar-benar dijaga agar kepribadian 
seseorang tidak dirusak oleh karenanya. 

Setidaknya seseorang bisa mengurangi pengaruh budaya instan 4S TV 
dengan cara: (1) mengurangi kecanduan acara-acara demikian; (2) 
selektif dalam memilih acara yang baik; (3) mengurangi jam nonton TV 
dengan banyak melakukan aktivitas kreatif lainnya non-TV; dan (4) 
jangan lupa merenungkan firman Tuhan dan berdoa agar Roh Tuhan 
menguatkan kita menghadapi serbuan informasi yang umumnya kurang 
mendidik itu. Rasul Paulus menasehati:

"Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan 
kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang 
hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu 
yang sejati. Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi 
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan 
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan 
yang sempurna." (Roma 12:1-2)











************************************************************************
***
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
************************************************************************
***
________________________________________________________________________
__
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links



 








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke