(Darwin vs Adam & Hawa) Mereka Yang 'Anti Teori Darwin' Bersuara PENGANTAR
Kawans, Diskusi lintas milis ini muncul, berawal dari penemuan Homo floresiensis (Hf) yang dirilis pertengahan Oktober 2004 lalu. Agar lebih terarah, diskusi ini sengaja saya beri tajuk "Darwin vs Adam & Hawa." Walau dimasa lampau Charles Darwin sama sekali tak mengutak-atik eksistensi Adam & Hawa, namun teori yang diciptakannya berkaitan erat dengan manusia ciptaan Tuhan yang 'dibuang' ke bumi akibat 'tragedi buah apel' itu. Mau tidak mau, pembuktian atas teorinya akan 'bergesekan' dengan 'agama langit' yang dalam kitab-kitabnya jelas menyebut bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama di muka bumi. Namun menurut pandangan para arkeolog, wujud Adam & Hawa bisa dikategorikan sebagai jenis Homo sapiens, sedangkan jauh sebelumnya di muka bumi ini sudah dihuni wujud manusia yang lalu berevolusi menjadi Homo sapiens, dan manusia masa kini masuk kategori Homo sap sap. Di awal diskusi, saya pernah melempar rangkaian pertanyaan kepada Anda semua: "Dengan penemuan berbagai fosil yang usianya ribuan tahun hingga jutaan tahun, apakah ini membuktikan bahwa jauh sebelum Adam & Hawa 'dibuang' ke bumi, planet bundar ini telah dihuni makhluk hidup ribuan tahun sebelumnya? Kalau begitu, apakah sebagian dari kita adalah keturunan Adam & Hawa, dan sebagian lagi keturunan Homo erectus, Homo sapiens dan Homo Floresiensis, andai kita percaya bahwa Adam dan Hawa pernah 'dibuang' ke bumi? Bagaimana opini Anda?" Tak sampai 10 menit saya posting, muncul email dari rekan Andika Fahmi Basya <[EMAIL PROTECTED]> tertanggal 1 November 2004 yang bertanya tentang agama yang saya peluk. Saya jawab dengan singkat: "Saya beragama Islam karena kedua orang tua saya juga beragama Islam, dan itu tercantum di KTP." Lalu ia balas email saya: "Alhamdulillah, mudah- mudahan Anda memang meyakini Islam bukan karena keturunan dan bukan di KTP saja." Menurutnya, selaku orang Islam terdapat banyak bukti keberadaan Adam & Hawa sebagai makhluk pertama di dunia: "Sudah seharusnya kita tak perlu menyangsikannya lagi. Itu semua harus kita yakini karena ada pembuktiannya di Al Qur-an yang jadi pedoman dasar umat Islam di seluruh dunia," ujarnya. Ia lalu merujuk pada kitab suci Al Qur'an surat Al-Baqarah ayat 30 dan surat An-Nissa ayat 1, juga tafsir Ibnu Katsir. Apa isinya? Tolong dibuka, lalu baca, dan hayati dengan sepenuh hati.... Salam Pencerahan! Radityo Djadjoeri -------------------------------------------------- ALUR DISKUSI Pada tahap awal, saya sajikan terlebih dahulu opini dari mereka yang masuk kelompok 'Anti Teori Darwin'. Sebagian dari mereka mengacu pada tulisan Adnan Oktar aka Harun Yahya (website: http://www.harunyahya.com/indo/buku/keruntuhan001.htm s/d http://www.harunyahya.com/indo/buku/keruntuhan018.htm). Menurut mereka, ulasan Harun Yahya <[EMAIL PROTECTED]> sangat ilmiah dan lengkap, juga disertai bukti-bukti dan logika ilmiah. Sebagai catatan, versi online dari buku-buku Harun Yahya sedang dalam persiapan untuk ditayangkan dalam Bahasa Indonesia. Menurut Hery Romadan <[EMAIL PROTECTED]> di Samarinda, pada awalnya ia sangat percaya dengan Teori Darwin karena dari SMP sampai kuliah selalu dicekoki bahwa teori itu mengandung kebenaran. Namun ia lalu membaca buku karya Harun Yahya yang dengan tegas membantah teori tersebut. Usai membaca buku itu, ia semakin percaya bahwa setiap mahluk diciptakan sesuai kekhasannya. Dan kalaupun ada Hf yang hidup 18.000 tahun lalu, itu adalah makhluk yang sudah punah dan tidak mungkin berevolusi. Pendapat senada dikemukakan oleh rekan Didiet Y Joehono <[EMAIL PROTECTED]> di Jakarta. Menurutnya, Adnan Oktar aka Harun Yahya membuktikan bahwa fosil semut yang berusia jutaan tahun, 'exactly the same' dengan semut yang saat ini masih berkeliaran di ruang makan dan dapur rumah kita. Artinya semut sudah diciptakan sebagai produk jadi yang tidak perlu ada 'transitional form' segala. Ia menyayangkan Darwin keburu tiada, sehingga tak sempat mencari 'evidence' cukup lengkap untuk mendukung teori-teorinya, "Sehingga pihak rohaniwan pada era itu dan pada lingkungannya Darwin 'off course', juga langsung 'jump to conclusion' untuk melahap semua teorinya dan menyesuaikannya untuk kebutuhan pembenaran teori agama mereka." Menurut pendapat pribadinya, ia menilai bahwa si Homo floresiensis hanyalah salah satu dari keanekaragaman hayati yang diciptakan Allah untuk untuk menjadi petunjuk bagi kita semua. Namun rekan Didiet tak setuju ada pembedaan antara pendekatan ilmiah dengan pendekatan agama. Ia menanggapi pernyataan rekan Tular Sudarmadi, <[EMAIL PROTECTED]> dosen arkeologi UGM yang pernah jadi 'murid'nya Mike J. Morwood - sang penemu Hf - S2 di University of New England (UNE), Australia. Kala itu Tular bilang bahwa untuk berdiskusi tentang manusia purba dan keberadaan Adam Hawa harus dibahas dalam kerangka pikir yang berbeda. Arkeologi sebagai ilmu pengetahuan menyimpulkan secara obyektif adanya manusia purba dari data yang ditemukan. "Kalau menurut definisi dalam sistimatika zoologi manusia, ciri fisik manusia yang hidup di bumi saat ini adalah Homo sapiens sapiens. Nenek moyangnya adalah Homo sapiens. Nah kalau Homo erectus dan lain-lain secara fisiologi belum seutuhnya punya ciri manusia. Jadi kalau definisi manusia adalah Homo sapiens sapiens, maka Adam & Hawa wujudnya memang seperti manusia yang hidup saat ini," tutur Tular. Masih menurut Tular, keberadaan Adam Hawa dalam agama bersifat dogmatis. "Artinya kita harus yakin bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama. Kalau kita sangkal nanti bisa dicap bi'dah. Intinya filosofi ilmu pengetahuan berangkat dari menyangsikan, sedangkan filosofi agama berangkat dari meyakini. Jadi tidak perlu adanya pembuktian." Namun Didiet menyanggah: "Ini salah kaprah. Agama tidak selalu dogmatic, selalu ada ruang untuk melakukan pendekatan baru (ijtihad)," ujarnya. "Yang jadi problem adalah keengganan orang untuk terus berijtihad dan melupakan lelah untuk selalu mencari jawaban atas pertanyaan "why". Saya setuju dengan pandangan ilmuwan untuk selalu menyangsikan semuanya sampai ada pembuktian yang bisa diterima akal manusia, walaupun saya yakin otak manusia yang volumenya cuma beberapa liter tidak akan mungkin mencerna semua petunjuk yang sudah terhampar 'cetha wela-wela' di depan matanya," tambahnya. Secara pribadi ia meyakini bahwa Al Quran diturunkan untuk menjadi manual manusia di dunia dalam memahami universe dengan segala isinya, "Tinggal kita mau menggunakannya apa tidak. Dan beragam science 'sak ubarampe'nya seharusnya menjadi alat untuk membuktikan segala kesangsian manusia atas agama." Menurut Didiet, teori evolusi (yang berbasis pada Darwinisme dan menjadi rujukan beberapa keyakinan di luar Islam) secara de facto sudah menentang kaidah Kun Fayakun: "Yang terjadi, terjadilah". Mengapa Allah yang dianggap maha pintar, begitu bodohnya dan memerlukan waktu jutaan tahun untuk sekadar menciptakan produk yang dinamai manusia. Kalau memang maha pintar maha kuasa tentu tidak ada halangan sedikitpun bagiNya untuk langsung menciptakan produk jadi seperti apa yang dikehendaki. "Bandingkan dengan Bill Gates yang untuk sampai pada OS XP Profesional harus melewati DOS versi bla bla, kemudian Windows versi bla bla bla banjur Win 98, ME, dst." Menurut opini rekan Bharata Kusuma <[EMAIL PROTECTED]>, Adam & Hawa yang diceritakan dalam Al Qur'an sebetulnya tidak bersifat dogmatis. "Hanya seringkali para imam yang lalu membuatnya jadi dogmatis. Padahal Tuhan menciptakan manusia tanpa awal dan tanpa akhir. Dalam Al Qur'an sendiri ada ayat yang tersurat (apa adanya) dan tersirat, dan mengenai Adam & Hawa termasuk yang tersirat, sehingga menggunakan bahasa simbolik," ungkap Bharata. "Perilaku para nabi dan pembawa agama lainnya yang harusnya kita contoh adalah: bagaimana mereka berhubungan langsung dengan Tuhan? Tetapi seringkali muncul masalah, yaitu ketika para imam yang berusaha menteorikan dan menceritakan hubungan tersebut. Karena seharusnya tiap manusia bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan tanpa perantaraan ajaran para imam. Ini berlaku bagi semua agama," tambahnya. Di penutup email ia menyatakan, "Jika agama - sebagai institusi - bersikeras bahwa mereka masing-masing yang terbaik, lalu mereka menanamkan dogma demi dogma, tidak akan heran jika 100 tahun ke depan para generasi baru akan mem-bypass ajaran agama dengan langsung berhubungan dengan Tuhan." Rekan Upie Guava <[EMAIL PROTECTED]> punya pendapat senada: "Pembahasan tentang ilmu pengetahuan dan agama itu tak bertentangan, kecuali agama tersebut mengajarkan hal-hal yang tidak benar. Lha wong agama itu datang dari Tuhan. Hanya Tuhan yang menciptakan alam semesta, manusia, binatang, sampai otak manusia yang batasannya belum tereksplorasi (manusia baru menggunakan sekitar 11% dari otaknya) dan ilmu pengetahuan pun Tuhan nyang bikin. Sampai-sampai manusia yang (konon katanya) pinter sehingga nggak percaya Tuhan pun merupakan produk dari 'otak' dan 'ilmu' yang modalnya dari pemberian Tuhan beri (cuma mungkin dia terlalu sombong, sehingga bias melihatnya)." Menurut Upie, dalam agama Islam, bahasa yang digunakan Al-Quran adalah bahasa Arab kuno dimana bahasa Arab merupakan bahasa yang cukup luas dimana pengertian tiap katanya punya makna yang dalam. Misal dalam surat Al-Baqoroh terdapat ayat yang artinya: "Aku akan menciptakan manusia dimuka Bumi", kata Allah kepada Malaikat. Lalu Malaikat berkata: "Untuk apa Engkau menciptakan manusia dimuka bumi ya Allah kalau akhirnya mereka hanya akan melakukan perusakan". Kata 'manusia' pada ayat tersebut muncul pada beberapa terjemahan Al-Quran di Indonesia. Padahal bahasa Arabnya adalah 'Khalifah' dimana 'khalifah' pada bahasa aslinya (Arab) juga bisa berarti "pemimpin". "Kalau kita baca-baca lagi buku tentang sifat-sifat malaikat, mereka tidak punya sifat-sifat bisa meramal, tapi kok malaikat tahu dan 'complain' pada Tuhan bahwa untuk apa menciptakan manusia kalau ujung- ujungnya hanya merusak bumi? Kecuali mereka (para malaikat) itu memang sudah melihat "sejenis manusia" yang merusak sudah ada dibumi," jelas Upie. Sebagai catatan, dalam ayat-ayat Al Quran bahasa aslinya biasanya disebut 'basyar', sedangkan manusia biasanya disebut "khalifah" atau "insan". Upie mengaku punya beberapa bukti lain tapi belum sempat diungkapkan disini. Namun ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama di muka bumi, tapi dari hasil evolusi - dalam fisiknya sebagai homo sapiens/manusia. "Jadi Adam merupakan 'titik' pertama kesempurnaan proses evolusi manusia menjadi sempurna. Standar patokan homo sapiens/ manusia modern adalah volume otak yang diameternya tertentu, dimana setelah Adam, volume otak manusia relatif tidak bertambah ataupun berkurang. Kalau kita mau bener-bener 'ngulik' Al-Quran, ada kok 'clue-clue' yang mendukung ilmu Fisika, Kimia dan lainnya. Ayat pertama Al-quran yaitu 'Iqra', artinya 'bacalah', atau belajarlah. Maka hal nomer satu yang Allah minta sama manusia adalah belajar, belajar dan terus belajar!" Terakhir opini dari rekan M. Yayat Afianto <[EMAIL PROTECTED]> yang ikut merasa bangga atas penemuan Hf di Pulau Flores. Namun ia menentang keras Teori Darwin. "Sudah jelas bagi saya, setiap mahluk hidup diciptakan sempurna adanya dan tidak akan berubah dari reptil menjadi aves dan dari kera menjadi manusia." Lalu rekan IGG Maha Adi <[EMAIL PROTECTED]> di Jakarta meluruskan pendapat Yayat. "Di buku 'Origin of the Species and the Voyage of Beagle', Charles Darwin tak secuilpun menulis bahwa manusia adalah hasil evolusi dari seekor monyet. Kalau Darwin mengatakan ada kemiripan, itu keniscayaan. Ya memang mirip kok. Tapi mengatakan manusia keturunan kera, itu lain soal. Implikasinya sangat besar. Ya kan?" tegas Adi. PENUTUP Nah, kawan-kawan semua, pada sebuah diskusi, munculnya pro dan kontra adalah hal yang wajar - anggap saja itu biasa. Di lain waktu akan saya beberkan opini dari kubu yang pro Teori Darwin - dan mungkin saja lebih dari itu. Semoga hasil diskusi ini dapat kian menambah wawasan kita. Apabila Anda masih ingin melemparkan opini (yang pro maupun yang kontra), silakan email ke: [EMAIL PROTECTED] Dirangkum dan diedit seperlunya oleh Radityo Djadjoeri ----------------------------------------------- Satisfaction is the death of desire. "Kenali dirimu maka kau akan mengenal Tuhanmu" - Muhammad SAW Our Services: Media Center - Media Monitoring - News Clipping Service - Publishing Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare -- _______________________________________________ Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10 ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

