Catatan Menyambut Matahari Pagi: SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [6].
Kemudian pada alinea kedua suratnya Anas Age menulis: "Dan kini perubahan dunia begitu cepat. Isu-isu feminisme yang diusung oleh beberapa negara di Barat telah masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah isu-isu tentang tubuh perempuan. Tentang tubuh perempuan ini, Simon de Bevoir dengan cermat menulis dalam Second Sex. Tema-tema tubuh perempuan inilah yang dieksplorasi oleh penulis-penulis perempuan seperti Dinar Rahayu, Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu. Saya sepakat bila para penulis perempuan ini sebenarnya sedang mengadakan "perlawanan" dengan tubuhnya sendiri terhadap gempuran kapitalisme, atau melawan patriarki". Dari alinea ini saya ingin mengangkat soal-soal berikut: [1]. Ide femininisme Barat; [2]. Tubuh perempuan dan sastra; [3]. The Second Sex. [2]. Tubuh perempuan dan sastra: Yang dimaksudkan dengan "tubuh perempuan" di sini dijelaskan oleh kalimat Anas Age berikut: "Tema-tema tubuh perempuan inilah yang dieksplorasi oleh penulis-penulis perempuan seperti Dinar Rahayu, Ayu Utami, Jenar Maesa Ayu". Dari kalimat ini maka nampak [paling tidak demikianlah penafsiran dan pemahamanku] yang dimaksudkan dengan "tema-tema tubuh perempuan" adalah hubungan seks yang dilukiskan oleh penulis-penulis perempuan Indonesia yang disebutkan oleh Anas. Masalahnya di sini bukanlah adanya lukisan tentang hubungan seks, tetapi masalah hubungan seks yang "dieksplorasi". Kalau pemahamanku benar, pengertian "dieksplorasi" di sini berarti penonjolan lukisan ini di dalam karya. Pelukisan yang berbeda dengan yang kita dapatkan dalam karya-karya sastra lisan di berbagai etnik negeri ini. Artinya, adanya lukisan hubungan seks dalam sastra kita bukanlah hal baru. Tapi pelukisannya tidak jadi tema sentral.Sekali lagi tidak ditonjolkan. Kalau mengambil sastra Perancis sebagai perbandingan, soal hubungan seks ini pun bukanlah asing. Karya yang paling terkenal dan paling banyak dibaca dengan tema ini adalah Emmanuelle -- sebuah karya anonim. Tapi ia diolah dengan pendekatan filosofis, sosilogis, antropologis dan tentu saja dengan pendekatan psikhologis sehingga dengan membacanya kita dapatkan kandungan nilai yang lebih dalam daripada hanya pengetahuan tekhnis hubungan seks. Pertanyaan berikut dari penonjolan dan "eksplorasi" tema "tubuh perempuan" oleh penulis-penulis perempuan: "Mengapa tema demikian di eksplorasi atau mesti "dieksplorasi"?". Anas Age mencoba memahaminya sebagai untuk "mengadakan "perlawanan" dengan tubuhnya sendiri terhadap gempuran kapitalisme, atau melawan patriarki". Dengan senjata "tubuh" melawan "gempuran kapitalisme" dan "patriarki" untuk kebebasan dan kesetraan? Bisakah "kapitalisme" dan "patriarki" dikalahkan dengan mengeksplorasi tema "tubuh perempuan"? Yang jelas dengan mengeksplorasi tema begini, karya-karya sebagai barang dagangan akan memperoleh pasar yang relatif gampang dan luas. Apalagi jika ditopang oleh sokongan penilaian pujian dari tokoh-tokoh bernama. Penulisnya terangkat sebagai sastrawan tenar dalam waktu singkat dan relatif mulus, karyanya akan laris. Tapi jika demikian, di mana letak "perlawanan"nya terhadap kapitalisme apabila karya dan penulisnya sendiri sebenarnya berada di alur kapitalisme itu sendiri? Bandingkan dengan karya-karya Pulau Buru Pram. Secara ide, barangkali jika dilihat dari melawan "kapitalisme" dalam bentuk penjajahan, karya-karya Pulau Buru Pram jauh lebih menusuk kapitalisme daripada karya-karya yang mengeksplorasi "tubuh perempuan". Dalam karya-karya tersebut, Pram juga melukiskan tentang hubungan sek. Tapi tidak dia tonjolkan. Pram melukiskannnya sebagai ilustrasi wajar dalam hubungan manusiawi. Tentang kebebasan dan kesetaraan. Mungkinkah dengan eksplorasi begini kebebasan dan kesetaraan perempuan dicapai? Barangkali jika dibandingkan dengan usaha R.A. Kartini, usaha Kartini melalui korespondensinya jauh lebih bermakna daripada eksplorasi seks untuk usaha emansipasi perempuan. Eksplorasi seks atau tubuh perempuan, dari segi isi, kukira bisa berdampak justru mengembangkan kapitalisme dan merendahkan diri perempuan itu sendiri sehingga akhirnya melawan patriarki pun hanya jadi omongkosong. Barangkali eksplorasi tubuh perempuan oleh penulis-penulis perempuan, ada kaitannya dengan pemahaman tentang sejarah femininisme Barat yang terdiri dari berbagai aliran. Penonjolan kebebasan seks, hanyalah merupakan salah satu aliran saja dari gerakan feminis [lebih lanjut aku akan singgung ketika membicarakan "The Second Sex", "Seks Kedua"]. Dengan kata lain menyangkut masalah wawasan dan pengetehuan. Emansipasi perempuan, kukira, jalan paling hakiki adalah menyatukan diri dengan gerakan pembebasan lapisan masyarakat seperti yang kusaksikan di Vi�t Nam selama perang melawan agresi imperialis Amerika Serikat, di mana perempuan menjadi kekuatan pokok garis belakang perang. Emansipasi perempuan tidak bisa dilepaskan dan satu dengan gerakan pembebasan rakyat dan bangsa. Karena itu orang Tiongkok menyebut perempuan sebagai "penyangga separo langit". Mereka menjadi "penyangga separo langit" karena potensi mereka. Sebuah nasion tidak akan bebas benar jika perempuannya masih tertindas, terkungkung dan berada dalam posisi obyek, bukan subyek. Bisakah posisi sebagai subyek dicapai dengan eksplorasi hubungan seksual? Wawasan dan pengetahuan akan mencerminkan diri dalam tekhnik pengungkapan alias karya. Coba kita perhatikan nama-nama penulis yang disebut oleh Anas Age satu persatu. Siapa dari mereka yang menyatukan diri dengan gerakan pembebasan lapisan mayoritas masyarakat negeri ini? Di mana mereka berada dalam tatanan masyarakat? Simon de Beauvoir atau George Sand, Veil, Louise Michele, jika mengambil beberapa contoh saja dari sejarah sastra Perancis, mereka adalah tokoh-tokoh yang tidak terpisah dari gerakan pembebasan nasion dan lapisan mayoritas masyarakatnya. Sikap mereka terhadap tubuh mereka hanyalah bagian kecil dari usaha mereka dalam kegiatan besar. Dalam sejarah sastra Indonesia, barangkali nama-nama seperti Rukiah S. Kertapati, Sugiarti Siswadi bisa diangkat sebagai sastrawati yang berjuang untuk emansipasi perempuan tanpa mengeksplorasi "tubuh perempuan". Kembali kepada roman Emmanuelle. Karya tipe Emmanuelle dari segi statistik sangat minim jumlahnya di dalam sejarah Perancis. Roman "Serie Noire" yang lokasinya umumnya daerah-daerah "lampu merah" juga tidak mengeksplorasi "tubuh perempuan". Aku tidak mentabukan pelukisan hubungan seks dalam karya sastra, yang aku persoalkan patutkah tema ini dieskplorasi atas nama emansipasi dan perlawanan , alasan yang kukira tidak mendasar tapi lebih mendekati sensasional murahan. Kalau Anas Age menulis:""Dan kini perubahan dunia begitu cepat. Isu-isu feminisme yang diusung oleh beberapa negara di Barat telah masuk ke Indonesia", maka ingin kukatakan isu dan isu feminisme dari negara di Barat itu ada macam-macam. Kita mengambil isu laku sebagai barang dagangan dalam era globalisasi, tingkat baru dari perkembangan kapitalisme yang tidak meruntuhkan patriarki. Malangnya masalah emansipasi di negeri sendiri asing atau masih asing dari pengetahuan kita oleh kilau pengaruh Barat yang menguasai dunuia pendidikan kita. Dari keadaan ini, pertanyaan usang tapi aktual kembali muncul: Siapa diri kita sesungguhnya? Di sini kita lagi-lagi kembali kepada masalah "jati diri". Paris, Nopember 2004 ------------------------ JJ. Kusni. [Bersambung.....] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

