Mas, saya jadi ingat masa2 sekolah, ditahun 60an awal. Dik Meuthia ini, adik kelas saya, adalah jebolan SMA Katholik Sancta Ursula, dimana dia sangat aktif dalam kegiatan sosial. Dia menikah dengan dosen saya dahulu, di Fakultas Hukum UI, dimana sang suami mengajar Pengantar Ilmu Ekonomi, mas Sri Edi Swasono. Meuthia adalah wakil dari generasi intellektual wanita, yang mudah mudahan banyak dapat bergebrak untuk memajukan masyarakat kita. Kaum wanita, seringkali terbelenggu tidak saja oleh suasana pengalaman agama yang sempit, namun juga adat istiadat serta budaya. Ucapan Meuthia, yang menanggap dalam budaya terletak chance bagi kaum wanita, mungkin juga bertumpu pada kenyataan, bahwa dia berasal dari keluarga Sumatra barat, Minangkabau, dimana azas matrinlineat berlaku. Namun, kebudayaan dari suku Batak, yang patrilineat, memberikan gambar yang sangat contrary. Jadi, benar, apa yang ditanggapi oleh bu Nafsiah Mboi, ibu saparinah Sadeli dan Sagala, bahwa budaya seringkali malah merupakan jerat bagi posisi dan peran kaum wanita. Pada awalnya kelihatan, bahwa pergeseran masyarakat Europa dan USA dari struktur agraris menjadi industri, akan menguntungkan wanita, namun tidaklah demikian. Wanita dalam proses industrialisasi diperkerjakan pada bidang2 yang berupah rendah, seperti pemintalan, industri textil, dll. Pada masa Perang Dunia ke II, wanita diperkerjakan di pabrik senjata dan mesiu, dimana industri menggunakan band berjalan, dan sangat low tech. Pengalaman di Europa yang cukup modern ini (atau merasa cukup modern), adalah, apabila ada perburukan dalam situasi ekonomis nasional maupun global, maka pekerja pekerja wanitalah, yang dipecat terlebih dahulu, atau tak mendapat pekerjaan. Juga perbedaan upah dan gaji antara pria dan wanita masih merata di Europa. Perbedaan juga terlihat di Europa, antara Europa utara (Skandinavia) yang protestantis dan Europa selatan yang katholis. Ya, Meuthia, masih panjang perjalanan... Salam RM Danardono HADINOTO --- In [EMAIL PROTECTED], Eko Bambang Subiyantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-224%7CX > Kamis, 04 November 2004 > > Doktrin Budaya Meneg PP Meneguhkan Stereotipe Gender Yang Memojokkan Perempuan > Jurnalis : Eko Bambang S > Jurnalperempuan.com - Jakarta. Meutiah Faridah Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan RI menuai sejumlah kritik dalam pertemuannya dengan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta, Kamis, (04/11/04). Kritik aktivis Komnas Perempuan ini terjadi ketika Meutiah Hatta mengusulkan doktrin budaya dan motto nasional Kantor Pemberdayaan Perempuan yang dinilai menegaskan stereotipe gender yang memojokkan perempuan. > > Seperti yang disampaikan Meutiah Hatta, dalam melaksanakan program- program di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan, pihaknya mengusulkan suatu motto nasional yaitu "Bangkitlah Perempuan Indonesia, Demi Kebangkitan Indonesia Raya". Motto ini menurut Meutiah dilandasi oleh budaya nasional yang memuliakan perempuan seperti:"Sorga berada di Telapak Kaki Ibu". Berdasar pada budaya itulah menegaskan suatu doktrin budaya yaitu : Bahwa "Masa Depan Indonesia tergantung pada kemampuan asuh (parenting) ibu-ibu Indonesia terhadap anak-anak mereka. Para Ibulah yang mencetak ketangguhan dan kejayaan bangsa di masa depan", ujar Meutiah. > > Pernyataan Meutiah Hatta ini kontan saja ditanggapi oleh sejumlah anggota dari Komnas Perempuan yang waktu itu sedang berkumpul. Nasfiah Mboi, Wakil Ketua Komnas Perempuan langsung mengajukan keberatannya dengan doktrin budaya itu. Menurut Nafsiah, doktrin budaya itu sama saja menegaskan posisi perempuan yang subordinat dan tidak memberi rasa adil bagi perempuan sehingga perempuan selalu menjadi objek. "Coba saja kalau ada anak yang nakal, pasti yang disalahkan ibunya, kalau anak menjadi bodoh, yang disalahkan ibunya, tetapi kalau anak itu akhirnya berhasil, selalu yang dilihat siapa dulu bapaknya"ujar Nafsiah. Untuk itu menurut nafsiah, masalah pengasuhan anak ini hendaknya jangan hanya diserahkan pada ibu, pengasuhan anak juga menjadi tanggungjawab bapak, ujarnya. > > Saparinah Sadli, dalam kesempatan ini juga mengajukan keberatan. Saparinah menegaskan bahwa doktrin budaya yang disampaikan Meutiah Hatta ini jelas-jelas kembali meneguhkan stereotipe-stereotipe yang memojokkan perempuan. Stereotipe-stereotipe seperti ini telah berkembang ditengah masyarakat kita dan itu sangat merugikan perempuan. Sejumlah tindakan kekerasan yang terjadi pada dasarnya berawal dari stereotipe-stereotipe seperti ini. Untuk itu menurut Saparinah, hendaknya Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan ini mempunyai paradigma baru dalam pemberdayaan perempuan. "Dengan adanya doktrin budaya seperti ini justru memperkuat persepsi masyarakat yang keliru tentang perempuan," ujar Saparinah. > > Sementara itu Valentina Sagala, dari koordinator kebijakan hukum dan kebijakan Komnas Perempuan mengatakan bahwa doktrin budaya tersebut nantinya akan menghambat proses penegakan keadilan bagi perempuan. Doktrin tersebut berimplikasi pada perempuan yang akhirnya tidak berani mengungkapkan kekerasan yang terjadi pada dirinya. Agar tidak terjebak pada masalah dikotomi antara peran laki-laki dan peran perempuan, Mira Diarsi, wakil ketua Komnas Perempuan mengusulkan agar Kementerian Pemberdayaan Perempuan ini mengembangkan wacana relasi gender. Konsep relasi gender ini memungkinkan mewujudkan kesetaraan anatar laki-laki dan perempuan tanpa ada yang harus tersuborninasi. > > Menanggapi sejumlah keberatan itu, Meutiah Hatta mengatakan bahwa sebetulnya pengertian dari motto itu bukan hanya perempuannya yang diberdayakan, tetapi peranan laki-laki juga harus. Jadi tidak bisa hanya tanggungjawab perempuan saja. Dan memang persepsi bisa berbeda tetapi sebetulnya yang dimaksud adalah bukan berarti perempuannya maju sendiri, tetapi parenting role itu lebih mengedepankan ke ayahbundaan. Keayahbundaan itulah yang harus menjadi kesadaran kita,"ujar Meutiah. > > Menurut Meutiah, "mungkin pengertiannya saja yang diluruskan. Masukan teman-teman tadi memang betul ya bahwa parenting itu menunjukkan peran dari kedua belah pihak dan menurut saya ini penting, karena ini merupakan pandangan budaya yang baru merubah pandangan yang lama itu. Revisi untuk kemungkinan membuat kesalahartian mungkin bisa, akan kita pikirkan kembali, tetapi tidak mengenai konteksnya, karena konteksnya sudah benar,"ujar Meutiah. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

