Kawans,

Penemuan fosil Homo floresiensis ternyata berbuntut sengketa.
Teuku Jacob dari UGM ingin menggugat Mike Moorwood di Australia.
Bagaimana kisah kelanjutannya?

Salam,

RD

----------------------------------------------


From: "Dr.No" <[EMAIL PROTECTED]> 

Hari ini ada sanggahan (terlampir) dari Teuku Jacob, mantan rektor 
UGM, yang mengatakan bahwa Homo Floresiensis yang baru saja 
diberitakan sebenarnya ialah Homo Sapiens. Terlepas mana yang benar, 
ijinkanlah saya mengkritisi Teuku Jacob, karena alasan2 dibawah ini:

1. Dalam dunia ilmu pengetahuan, perbedaan pendapat serta perdebatan 
   diantara sesama pakar adalah suatu hal yang wajar, dan disitulah
   indahnya "ilmu pengetahuan" itu.

2. Dalam forum ilmiah (dimana majalah "Nature", tempat terbitnya 
   manuskrip "Home Floresiensis" yang di-author-i oleh P. BROWN, 
   T. SUTIKNA2, M. J. MORWOOD, R. P. SOEJONO, JATMIKO, 
   E. WAYHU SAPTOMO & ROKUS AWE DUE), ada tempat khusus untuk
   melakukan sanggahan terhadap manuskrip yang telah dipublikasi.
   Forum itu sering dikenal sebagai "Letter to Editor", dimana
   seorang penyanggah akan memaparkan sanggahannya, serta akan di-
   lampiri dengan jawaban dari penulis aslinya (dalam hal ini
   P. Brown et al.) yang menanggapi apakah sanggahan tersebut
   bisa dibenarkan. Sanggahan dan counter-sanggahan ini bisa ber-
   langsung ber-kali2 sejauh Editor dari forum ilmiah itu masih
   melihat apakah sanggahan dan counter-sanggahan masih berman-
   faat.

3. Sanggahan dari Teuku Jacob sarat sekali muatan ilmiahnya, sehing-
   ga tidaklah layak kalau Teuku Jacob cuma memuat sanggahannya di
   Detik.Com, yang bukan forum ilmiah. Akan lebih baik kalau Teuku
   Jacob mengirimkan sanggahannya (dalam bentuk "Letter to Editor")
   ke majalah "Nature", dan disana pula para penulis aslinya (yaitu 
   P. Brown et al.) akan memberikan tanggapannya apakah sanggahan dari
   Teuku Jacob bisa dibenarkan, dan kalau tanggapan P. Brown et al.
   tidak memuaskan Teuku Jacob, maka Teuku Jacob bisa melakukan 
   sanggahan berikutnya.. dst.. dst.

4. Saya tidak setuju dengan Teuku Jacob yang mengatakan bahwa nama
   "Homo Floresiensis" disebutkan oleh dua peneliti Australia, Mike 
   Morwood dan Peter Brown. Kenyataannya, manuskrip "Homo Flores-
   iensis" ditulis oleh 7 (tujuh) orang, dua diantaranya orang
   Australia diatas, serta 5 (lima) orang lainnya ialah orang In-
   donesia, yaitu T. SUTIKNA, R. P. SOEJONO, JATMIKO, E. WAYHU 
   SAPTOMO & ROKUS AWE DUE. Kalau penamaan "Homo Floresiensis"
   cuma ditimpakan kepada dua orang Australia tsb, itu namanya
   tidak adil, karena dalam suatu manuskrip yang ditulis secara
   ber-sama2, maka semua co-authors harus bertanggung jawab atas
   isi dari manuskrip yang mereka publikasi.

5. Soal istilah "terorisme" (walaupun saat ini sedang marak diper-
   gunakan), saya tidak setuju kalau Teuku Jacob ikut2an mengguna-
   kan istilah ini, apalagi kalau pemakaiannya di-kait2-kan dengan
   "ilmu pengetahuan". Biarkan saja istilah "terorisme" dipergunakan
   oleh George W. Bush di dunia politik, dan kita2 yang di bagian
   science jangan ikut2an, nanti runyam jadinya. Dan lagi, manuskrip
   tentang "homo floresiensis" kalau terbukti salah secara ilmiah
   kan masih bisa didebat di majalah "Nature". Jadi, istilah "teror-
   isme ilmiah" sangat tidak pada tempatnya untuk diucapkan oleh
   seorang ilmuwan.

Salam
Dr.No

====================================================================
LAMPIRAN

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2004/bulan/11/tgl/
05/time/172021/idnews/236899/idkanal/10

Pakar: Tengkorak di Flores adalah Homo Sapiens

Reporter: Bagus Kurniawan

detikcom - Jakarta, Tengkorak yang ditemukan di Flores dan diklaim 
peneliti Australia sebagai spesies baru keluarga manusia dari Flores 
disangkal sebagai temuan baru. Temuan itu diyakini sebagai spesies 
homo sapiens yaitu manusia modern, sama seperti manusia sekarang ini.

"Yang dikatakan sebagai homo floresiensis itu nyata-nyata adalah homo 
sapiens. Sama dengan kita cuma bentuknya kecil," kata pakar paleo 
antropologi Prof Dr T. Jacob kepada wartawan di Lab Paleo Antropologi 
UGM Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (5/11/2004).

Oleh karena termasuk homo sapiens, kata Jacob, maka sama seperti 
manusia modern seperti sekarang ini cuma tubuhnya pigmi atau kate 
dengan kepala kecil atau disebut mikro sefali (micro cephali).

Menurut dia, pada orang kate itu juga terdapat micro sefali, yakni 
suatu keadaan patologis yang tidak normal. Namun tidak seluruh 
populasi yang ditemukan di Flores itu otaknya kecil.

"Dengan volume otak 380 cc itu, otak tidak bisa mengerjakan banyak. 
Itu berarti lebih rendah dari simpanse dan jelas lebih kecil dari 
pigmi Afrika atau negrito di Andaman dan Nikobar di utara Pulau 
Sumatera," kata Jacob didampingi Prof Dr RP Soejono, Kepala Pusat 
Penelitian Arkeologi Nasional (Puslitarkenas).

Bukan Ras Baru

Jacob menegaskan, penamaan homo floresiensis yang ditemukan di Liang 
Bua sejak September 2003 lalu itu bukanlah ras baru seperti yang 
disebutkan dua peneliti Australia, Mike Morwood dan Peter Brown, 
sebagai Homo Floresiensis.  Fosil yang ditemukan di Flores itu 
termasuk homo sapiens yang hidup sekitar 1.300 hingga 1.800 tahun 
yang lalu.

Menurut Jacob, terjadinya kekerdilan itu disebabkan oleh evolusi 
insiter. Evolusi ini terjadi akibat lingkungan hidup yang mereka 
tempati di pulau-pulau kecil. Makhluk hidup yang tinggal di pulau-
pulau kecil yang terpisah dengan pulau besar dalam jangka waktu lama 
akan menyesuaikan dengan kondisi lingkungannya.

"Proses pengerdilan ini tidak hanya terjadi pada manusia, namun juga 
terjadi pada binatang," katanya.

Dia menambahkan, tengkorak dan sejumlah tulang yang ditemukan di 
Liang Bua itu belum bisa disebut sebagai fosil tetapi sub-fosil. Bila 
fosil, maka semuanya sudah membatu. Sedangkan sub-fosil masih bisa 
ditemukan jaringan hidup, sehingga diharapkan masih bisa dilakukan 
penelitian DNA. "Kalau sudah berupa fosil, tidak lagi bisa dilakukan 
penelitian DNA," kata mantan Rektor UGM itu.

Setelah meneliti secara seksama, Jacob juga tidak sependapat dengan 
pernyataan Mike Morwood dan Peter Brown dari University of New 
England Australia yang mengatakan bahwa tengkorak kepala yang 
ditemukan di Liang Bua itu berjenis kelamin perempuan, tetapi laki-
laki. Diperkirakan juga meninggal berumur di atas 30 tahun.

"Kalau dilihat dari bentuk rongga mata serta lengkungan tulang 
pinggul yang lebih cenderung ke arah laki-laki," ujarnya.

Jacob menambahkan penelitian di Flores sebenarnya juga sudah banyak 
dilakukan oleh peneliti Indonesia di antaranya oleh Puslitarkenas 
yang dipimpin Prof Dr RP Soejono. Jadi tidak seperti yang diberitakan 
berbagai media saat ini yang dinyatakan penelitian baru dilakukan 
oleh ilmuwan dari Australia.

Liang Bua ini sebenarnya sudah diselidiki sejak tahun 1950-an oleh 
seorang pastor Belanda yang bekerja di Maumere yakni Pastor 
Verhoeven. Pada awalnya dia akan menggunakan gua tersebut untuk 
mengajar anak-anak Flores sekolah tapi ditemukan banyak tulang-tulang.

"Tulang-tulang itu dibawa ke Belanda dan saya sempat mempelajari 
temuan milik Verhoeven ketika mengambil doktor," kat Jacob.<br />

Terorisme

Menanggapi adanya klaim oleh peneliti Australia itu, Soejono 
mengatakan, pihaknya tidak mau berpolemik dan komplain. Secara etika 
seharusnya diumumkan secara bersama bukan satu pihak dan harus 
lengkap. Bahkan mengajak Prof Dr T Jacob dalam penelitian tersebut, 
juga tidak diperbolehkan. "Saya rasa memang ada yang kurang tepat. 
Bukan karena 'I am the master' dan 'I am the funding'. Ya sudahlah," 
kata Soejono.

Jacob  menilai pengumuman temuan fosil itu dinilai tidak etis karena 
dilakukan di Australia dan tanpa melibatkan peneliti Indonesia. Ada 
kesan peneliti Australia juga telah memaksakan pendapatnya dengan 
menyebut temuan itu sebagai fosil manusia dengan ras khusus (homo 
florensiesis).

"Mereka telah melakukan 'terorisme' ilmiah karena telah memaksakan 
gagasannya. Kita tidak boleh tunduk kepada mereka," tandas Jacob.

==================================================

Our Services:
Media Center - Media Monitoring - News Clipping Service - Publishing

Mailing list: http://groups.yahoo.com/group/mediacare



-- 
_______________________________________________
Find what you are looking for with the Lycos Yellow Pages
http://r.lycos.com/r/yp_emailfooter/http://yellowpages.lycos.com/default.asp?SRC=lycos10



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke