http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/08/opi4.htm
Senin, 08 Nopember 2004WACANA

Mahalnya Pendidikan Kejuruan
Oleh: Tawan Rosidi

DALAM undang-undang, anggaran untuk pendidikan dialokasikan sebesar 20%, 
sehingga diharapkan pendidikan di Indonesia dapat lebih maju bila dibanding 
tahun-tahun sebelumnya.
Pengalokasian anggaran sebesar itu kenyataannya belum dapat terealisasi 
sepenuhnya sampai saat ini. Penyebabnya banyak. Yang jelas anggaran untuk 
pendidikan sampai saat masih kurang dari kebutuhan yang seharusnya. Oleh 
karena itu wajarlah kalau mutu pendidikan di Indonesia masih tergolong 
rendah.
Pendidikan tingkat menengah dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu 
pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan 
menengah umum seperti SMA atau sejenisnya. Sedangkan pendidikan menengah 
kejuruan, seperti SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).
Pengelolaan dua kelompok sekolah ini sangat berbeda jauh. Untuk SMA, tujuan 
utamanya adalah tamatannya dapat diterima/melanjutkan ke jenjang pendidikan 
yang lebih tinggi. Sedangkan SMK tamatannya diharapkan dapat bekerja pada 
perusahaan/instansi/orang lain atau menciptakan lapangan kerja sendiri.
Oleh karena itu pendidikan di SMK diharapkan dapat membekali para 
siswaya/tamatannya berupa keterampilan yang dapat menjadi bekal hidup kelak 
di kemudian hari.
Untk mencetak tamatan seperti tersebut di atas dibutuhkan biaya tidak 
sedikit. Apalagi di SMK yang menyelenggarakan beberapa bidang keahlian 
(jurusan), jelas biaya sangat tinggi. Misalnya satu SMK menyelenggarakan 
bidang keahlian teknik mesin dan bidang keahlian Bisnis dan Manajemen, maka 
pengeluaran biaya untuk kegiatan belajar - mengajarnya harus selalu 
tersedia, kalau kegiatan itu ingin lancar.
Praktik
Secara umum kegiatan belajar- mengajar di SMK meliputi teori dan praktik. 
Kegiatan belajar teori pada prinsipnya sama dengan sekolah umum. Sedangkan 
kegiatan belajar praktik merupakan kegiatan belajar yang seharusnya lebih 
banyak dibanding dengan kegiatan teori. Oleh karena itu sebenarnya untuk SMK 
ruang teori bukan merupakan hal sangat penting, karena siswa seharusnya 
lebih banyak di ruang praktik.
Untuk menunjang kegiatan belajar praktik di SMK, diperlukan dana untuk 
penyediaan peralatan maupun bahan praktik yang dibutuhkan.
Tanpa tersedianya alat dan bahan tersebut, maka SMK akan menjadi SMK teori 
atau dikenal juga istilah SMK sastra. Alat dan bahan yang dibutuhkan 
kegiatan praktik siswa rata-rata harganya relatif mahal, sehingga untuk 
kelancaran praktik tersebut diperlukan biaya yang banyak/besar.
Disamping itu, untuk mencapai sasaran yang diharapkan diperlukan tenaga 
pengajar/guru yang mempunyai kompetensi di bidangnya. Untuk mendapatkan guru 
yang seperti ini tidak mudah. Apalagi teknologi terus berkembang sesuai 
dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Seharusnya guru selalu mengikuti 
perkembangan teknologi agar tidak ketinggalan teknologi. Diharapkan mereka 
mengajarkan teknologi yang terkini. Hal ini pun masih terdapat kendala, 
karena pendidikan memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga yang diajarkan 
sekarang mungkin pada saat siswa tamat, teknologi tersebut sudah 
ketinggalan.
Sangat Perlu
Pelatihan atau kursus merupakan suatu hal yang sangat diperlukan guru SMK, 
agar tidak ketinggalan teknologi. Beberapa cara, baik pelatihan di dalam 
maupun di luar negeri. Diadakan/diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh 
sekolah itu sendiri secara mandiri, jika sekolah itu mampu.
Mengirim guru untuk meng-ikuti pelatihan yang dibiayai sendiri oleh sekolah, 
perlu memperhitungkan biaya yang dikeluarkan. Selain biayanya menjadi cukup 
tinggi, juga perlu dihitung secara cermat agar pengiriman mengikuti 
pelatihan tidak mengganggu kegiatan di sekolah.
Mungkin juga dapat dicari tempat-tempat pelatihan yang dapat membantu 
pelatihan guru.
Jika mengirim guru untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh 
pemerintah, sekolah harus menunggu program pemerintah. Pelatihan apa yang 
akan diselenggarakan dan kapan pelaksanaannya, sehingga walaupun kita sudah 
sangat butuh guru mempunyai kompetensi tertentu, kalau pemerintah belum 
menyelenggarakan, maka guru tetap menunggu. Di sisi lain pemerintah masih 
menunggu anggaran yang tepat untuk itu.
Berbeda dengan pelatihan yang direncanakan dan dibiayai sendiri oleh 
sekolah. Jenis pelatihan apa yang dibutuhkan dan kapan akan dilaksanakan 
dapat segera diadakan.Dengan cara ini sekolah tidak mengalami kesulitan 
mendapatkan kompetensi guru yang sangat dibutuhkan.
Disamping kegiatan belajar teori dan praktik di sekolah, siswa juga 
diwajibkan mengikuti kegiatan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Sekarang 
disebut juga dengan istilah Praktik Kerja Industri (Prakerin). Semua siswa 
SMK wajib mengikuti program ini. Pelaksanaannya dapat dimulai dari kelas 1 
sampai kelas 3. Namun biasanya prakerin ini dilaksanakan mulai dari kelas 2 
dan 3. Karena kalau mulai dari kelas 1, dianggap belum siap.
Lama kegiatan prakerin ini antara satu sekolah dengan sekolah lain 
bervariasi (tidak sama). Juga antara bidang keahlian yang satu dengan yang 
lain pun waktunya tidak sama. Tempat prakerin pun menentukan lama tidaknya 
prakerin tersebut. Oleh karena itu banyak hal yang menentukan lama tidaknya 
waktu prakerin. Secara umum lama prakerin berkisar antara tiga bulan sampai 
enam bulan.
Tempat/lokasi prakerin dapat dibicarakan antara siswa dengan sekolah. Karena 
tempat prakerin ini dapat dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah. Bagi 
sekolah yang kegiatan Unit Produksinya sudah berkembang dapat digunakan 
untuk prakerin.
Unit produksi di SMK merupakan kegiatan usaha yang bertujuan untuk 
memperoleh nilai tambah/keuntungan dari kegiatan usaha. Baik kegiatan usaha 
jasa atau kegiatan produksi, sehingga diharapkan ada tambahan pemasukan 
untuk sekolah, yang dapat mendukung Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah.
Bagi sekolah yang unit produksinya belum berkembang, pelaksanaan prakerin 
dilaksanakan di luar sekolah. Pengertian di luar sekolah yaitu dilaksanakan 
di dunia usaha atau dunia industri. Riilnya tempat pelaksanaan prakerin di 
instansi pemerintah atau swasta dan dapat pula dilaksanakan di 
perusahaan-perusahaan baik milik pemerintah maupun swasta yang ada di 
Indonesia.
Bagi sekolah yang sudah maju dan mampu, prakerin tidak hanya dilaksanakan di 
dalam negeri tetapi dilaksanakan juga di luar negeri, dengan waktu 
pelaksanaan relatif lebih lama. Rata-rata waktunya lebih lama bila dibanding 
dengan prakerin yang dilaksanakan di Indonesia (dalam negeri).
Negara tujuan perlu disesuaikan dengan bidang keahlian dari sekolah pengirim 
peserta prakerin. Untuk kelancaran prakerin sekolah perlu mempersiapkan, 
baik siswanya ataupun pelengkapan administrasinya.,sehingga siswa tidak 
mengalami hambatan untuk keberangkatannya ke luar negeri.
Untuk melaksanakan prakerin ini, kalau tempatnya di luar sekolah/di luar 
luar propinsi atau bahkan di luar negeri, sudah barang tentu juga diperlukan 
dana yang tidak sedikit, baik yang menjadi beban siswa itu sendiri maupun 
beban sekolah.
Biaya itu antara lain untuk transportasi dan kalau prakerin ke luar negeri 
disamping biaya transportasi juga untuk penyelesaian 
surat-surat/administrasi.
Kalau biaya-biaya itu dikumpulkan atau dihitung dari awal, siswa masuk 
sampai siswa tamat dari SMK, maka jumlahnya menjadi sangat besar. Bila 
dibandingkan dengan sekolah umum, bedanya sangat jauh/besar. Hal ini 
kadang-kadang orang tua/wali siswa ada yang belum menyadari, sehingga kalau 
pihak sekolah mengajukan anggaran belum sepenuhnya diterima oleh 
masyarakat/orang tua siswa.
Memang pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan 
(Dikmenjur) telah menawarkan beberapa program untuk membantu kelancaran 
pelaksanaan program di SMK. Namun tidak semua SMK dapat mengajukan bantuan 
tersebut karena ada beberapa faktor persyaratan yang sulit/tidak dapat 
dipenuhi. Disamping itu dari pemerintah Provinsi atau Kabupaten juga 
kadang-kadang ada bantuan untuk SMK.
Namun lagi-lagi belum dapat menjangkau ke semua sekolah karena jumlah SMK 
baik dalam hitungan tingkat provinsi maupun kabupaten jumlahnya cukup 
banyak, sehingga yang mendapat bantuan pun menjadi sangat terbatas. Maka 
tinggal pandai-pandainya sekolah bersaing untuk mendapatkan bantuan 
tersebut.
Dari jumlah SMK yang hitungannya banyak itu untuk wilayah Provinsi Jawa 
Tengah dan kabupaten-kabupaten yang ada , jumlah SMK negerinya sangat 
sedikit. Sebagian besar adalah sekolah swasta yang kondisinya sangat 
bervariasi. Dari sekolah kondisinya sangat baik sampai sekolah yang 
kondisinya kurang baik.
Keberadaan/lokasi SMK inipun sangat beragam. Ada SMK yang lokasinya di kota 
dan sangat strategis sampai dengan SMK yang lokasinya jauh dari kota atau di 
desa. Letak/lokasi keberadaan SMK ini sangat mempengaruhi perkembangan 
sekolah.
Rata-rata SMK yang berada di kota lebih cepat mengikuti perkembangan ilmu 
dan teknologi, dibanding sekolah yang jauh dari kota. Hal ini dikarenakan 
adanya dorongan dari luar sekolah yang selalu terjadi 
perubahan/perkembangan, sehingga mau tidak mau sekolah terpacu untuk 
mengikuti perkembangan yang ada di sekitarnya.
Untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar - mengajar baik itu sekolah 
negeri maupun swasta diperlukan dana. Dana dapat digali melalui beberapa 
sumber. Namun bagi sekolah swasta sumber dana utama adalah dari orang tua 
siswa. Padahal yang masuk SMK terutama rata-rata dari kalangan ekonomi 
menengah ke bawah dan sebagian besar berada jauh dari kota. Karenanya kalau 
orang tua siswa dimintai biaya sekolah yang tinggi merasa keberatan. 
Seharusnya biaya yang dikeluarkan orang tua siswa SMK jauh lebih besar 
dibanding biaya untuk sekolah umum.
Bagi sekolah swasta disamping untuk membiayai kegiatan-kegiatan seperti 
tersebut di atas, juga untuk membayar honorarium guru. Sebagian besar 
sekolah swasta gurunya juga guru swasta, yang pembayaran honorarium/gajnya 
tergantung sekolah atau yayasan sebagai penyelenggara.
Antara biaya dan prestasi sekolah merupakan suatu hal saling berhubungan. 
Sekolah dapat maju dan berkembang apabila ditunjang dengan dana yang cukup. 
Akan tetapi kalau dana tersebut dibebankan kepada orang tua siswa maka 
bebannya menjadi berat. Mungkin jumlah siswa di SMK sedikit, karena tidak 
mampu membayar sekolah.
Dari kenyataan tersebut di atas maka SMK sulit melakukan perkembangan. Yang 
terjadi saat ini pada sekolah-sekolah terutama yang kesulitan dana, hanya 
melaksanakan kurikulum apa adanya. Tuntutan perkembangan masih menjadi 
anggaran atau impian saja. Kecuali kalau ada donatur/intitusi yang dengan 
suka rela membantu sekolah yang sedang mengalami kesulitan dana 
tersebut.(18)
- Ir Tawan Rosidi, Pengawas SMK Kabupaten Banjarnegara. 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke