CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI: SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [14]
Sekarang bagaimana pandangan Fran�ois Ernenwein? Sastrawan ini antara lain berkata: "Semua merasakan benar bahwa puisi adalah lebih luas dari diri puisi itu sendiri. Lebih penting daripada beberapa patah kata yang dilontarkan untuk menyusun irama. Melalui puisi kita membicarakan secara subtil keadaan dunia dan kejadian-kejadian intern yang memberikan suatu kebahagiaan langgeng. Dengan kekuatannya puisi mampu menyalurkan penyaluran berbagai pertikaian antara aliran lama dan modern, kuasa menjembatani jurang yang memisahi para penyair monumental yang tekun. Puisi adalah suatu keadaan [un �tat], suatu kesediaan [une disponiblit�] dan suatu petualangan [une aventure] sekaligus. Kekuatan puisi juga terletak justru pada ujudnya yang ringkih, terdapat pada kemampuannya yang kurang lebih mengatakan sesuatu yang hakiki, mengungkai buhul-buhul ide yang kusut. Mode berobah-obah, tapi puisi tetap bagaikan tatapan tajam pada dunia, bagaikan suatu tuntutan: letakkan beban dunia. Ketika puisi merobah cara maka puisi mengobah kenyataan. Apa yang diungkapkan oleh puisi menjadi apa yang orang rasakan sebagai yang paling adil dan paling benar. Tanpa kepolosan ini , tanpa elan ini, maka puisi berujung pada kesia-siaan" [Lihat: Harian La Croix, Paris, 6-7 Nopember 2004]. Yang ingin kugarisbawahi dari pandangan Fran�ois Ernenwein di atas adalah kata-kata: "kemampuannya yang kurang lebih mengatakan sesuatu yang hakiki, mengungkai buhul-buhul ide yang kusut", "mengobah kenyataan", dan ciri "kepolosan". Jika masyarakat ditamsilkan sebagai "buhul-buhul" "yang kusut" maka puisi khususnya dan karya sastra umumnya menurut Fran�ois Ernenwein, layak mampu menangkap yang hakiki, atau yang lain dari yang nampak, jika menggunakan istilah Laurence Coss�. Mungkinkah sang sastrawan melihat hakekat dan menangkap yang lain dari yang nampak jika ia hanya berdasarkan naluri tanpa dilengkapi oleh dasar pengetahuan yang padan? Dasar pengetahuan yang padan yang memungkinkannya menganalisa realita ini mungkinkah ia dapatkan jika ia jauh dari kenyataan dan nongkrong di menara gading elitenya? "Kepolosan" adalah kejujuran dan keberanian mengungkapkan hakekat. Untuk bisa "polos" dan berani dari pengarang ada semacam tuntutan yaitu "kemampuan meletakkan beban dunia" artinya kita tidak usah hirau pada segala bentuk tekanan. Menjadi pengarang selayaknya sanggup menghadapi "tekanan-tekanan" yang disebut Ernenwein sebagai "beban dunia" dalam "petualangan" pencarian jawab atas pertanyaan. Jika cara pandang atau pendekatan Ernenwein dan Coss� diterapkan dalam melihat karya-karya kontemporer kita yang "mengeksplorasi tubuh perempuan" maka pertanyaannya kukira menjadi: Apa yang hakiki dari eksplorasi demikian? Apakah masalah "tubuh perempuan" dan hubungan intim di ranjang menjadi masalah hakiki masyarakat kita yang terpuruk? Apakah dengan eksplorasi "tubuh perempuan" kita bisa memberikan sumbangan dalam mengurai buhul-buhul kemelut esensial dan keterpurukan? Kalau perempuan tidak menjadi tuan atas tubuhnya, tentu saja dan tentu saja keadaan begini merupakan salah satu ujud kertertindasan perempuan.Salah satu bagian dari ujud penindasan dalam masyarakat secara keseluruhan. Di mana akar penindasan ini, barangkali di sinilah terdapat masalah esensil yang selayaknya dipegang oleh sastrawan sehingga sastrawan sampai ke soal lain di luar yang kasat mata. Sejak sistem masyarakat kita berkembang sejajar dengan perkembangan cara berproduksi, menuju masyarakat feodal lalu ke kapitalisme, perempuan merupakan lapisan masyarakat yang paling tertindas. Mereka ditindas oleh tiga gunung besar yaitu kekuasaan feodal, kekuasaan lelaki dan imperialisme [lama atau pun baru]. Pada masa feodalisme, perempuan tidak lebih dari obyek yang di atas kukatakan berada pada tingkat "seks pertama". Apakah pada tingkat "seks pertama" penindasan terhadap perempuan kurang hebat dibandingkan dengan tingkat "seks kedua", tingkat "seks ketiga" dan "keempat"? Pada tingkat "seks kedua" dan "ketiga", perempuan sudah mulai menjadi subyek dan tuan atas tubuh mereka. Lalu bagaimana menjelaskan alasan pembenaran bahwa eksplorasi "tubuh perempuan" pada tahap kapitalisme padahal pada tingkat "seks pertama", penindasan pada perempuan tidak kalah dahsyatnya? Kalau aku memperhatikan cerita-cerita rakyat Dayak Kalimantan Tengah [Kalteng], terdapat memang adegan-adegan seks. Misalnya dalam serie cerita Maharaja, Abunawas. Tapi adegan-adegan seks ini tidak dituturkan dengan merendahkan perempuan melainkan disasarkan untuk menelanjangi Maharaja. Ide sentral cerita-cerita seri ini adalah bahwa raja atau maharaja itu jelek, bodoh dan pemalas. Karena itu timbul ungkapan di kalangan masyarakat Dayak Kalteng: "seperti raja" yang identik dengan pemalas, hanya mau dilayani. Secara tidak langsung, cerita-cerita rakyat Dayak serie Maharaja ini menunjukkan akar penindasan.Ide begini menjadi nilai dominan. Sebabnya barangkali oleh kekuasaan Masyarakat Adat masih berdominasi sebagai suatu pemerintahan lokal. Nilai dominan ini banyak mengalami perobahan setelah Orba secara sistematik menghancurkan tatanan Masyarakat Adat. Yang ingin kukatakan dengan contoh ini adalah bagaimana peranan kekuasaan politik terhadap tatanan nilai dalam masyarakat yang akhirnya mempengaruhi pandangan para sastrawan dan karya-karya mereka.Kebudayaan suatu komunitas atau bangsa pada suatu ketika adalah kebudayaan lapisan-lapisan yang berkuasa. Ada hipotesa yang mengatakan bahwa pada zaman pemerintahan Soekarno karya-karya yang mengekplorasi "tubuh perempuan" tidak semarak sekarang disebabkan karena gempuran kapitalisme tidak segencar sekarang. Agaknya pendapat hipotesa ini sejajar dengan melemahnya kekuasaan negara nasional di era globalisasi kapitalisme. Terhadap hipotesa ini aku hanya bisa bertanya: Kekuatan apakah yang merobohkan kekuasaan politik Soekarno? Kapitalisme atau bukan? Apakah dengan bisa dijatuhkannya pemerintahan Soekarno bisa dijadikan bukti tentang lemahnya kekuatan kapitalisme pada masa itu? Sesuai dengan premis di atas, terhadap hipotesa ini aku mencari sebabnya pada politik kebudayaan pemerintahan Soekarno yang terangkum dalam "USDEK" [UUD '45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kebudayaan Yang Berkepribadian Nasional]. Lain pemerintah, lain politiknya, lain pula warna budaya dominannya. Sastra dominan agaknya tidak bisa melepaskan diri dari kerangka besar ini. Paris, Nopember 2004. -------------------- JJ.KUSNI [Bersambung...] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

