Prof Dr. Slamet Iman Santoso wafat kemarin dalam usia
97 tahun.  Beliau adalah guru untuk semua orang,
termasuk saya.  Padahal saya belum pernah jadi
muridnya, bahkan belum pernah ketemu muka apalagi
berbicara dengan beliau.

Bagi saya, ada dua hal yang membuat saya menghormati
beliau.  Ketika mutu pengajaran sedang menurun tajam,
ketika beliau jadi ketua Komisi Pendidikan awal tahun
1970-an, beliau mengajukan konsep penyerdahanaan mata
pelajaran sekolah dasar dan menengah. Konsepnya adalah
begini: -- Buang mata pelajaran yang tidak ada gunanya
dan hanya membuang waktu dan energi anak; -- Utamakan
3 saja yaitu matematika dan IPA, kemampuan komunikasi
bahasa Indonesia dan Inggris yang benar,
kewarganegaraan dan budi pekerti.  Ternyata hasil
kerja komisi bentukan pemerintah ini tidak dibahas
oleh pemerintah dan dibiarkan berdebu di rak saja.

Kedua, beliau konsekwen dalam kejujurannya, dan
mendidik orang lain untuk berbuat demikian.  Kepada
mahasiswa (banyak diantaranya kemudian jadi
menteri)yang berdemo berantas korupsi tahun 1974
beliau berpesan demikian:  Saya setuju saudara
berantas korupsi. Tapi saudara sendiri bagaimana. 
Saya tahu saudara menyontek di ujian.  Ketahuilah,
bahwa itu menandakan saudara tidak jujur.  Saudara
nanti jadi orang dan pemimpin yang penuh dengan
godaan. Kalau saudara sudah nyontek sekarang, saya
sangsikan kalau saudara setelah jadi pejabat tidak
mencuri uang negara. Camkanlah.

Prof. Dr. Slamet Iman Santoso menggunakan sepenuh
waktunya untuk meneliti dan mengajar di FKUI dan tidak
praktek dokter diluar.  Beliau membuktikan bahwa
dengan hidup sederhana, pendapatannya cukup untuk
hidup sehat dan membesarkan 7 orang anaknya yang
kemudian jadi dokter dan insinyur semua.

Dibawah ini adalah sebuah tulisan tentang beliau dari
arsip lama (1997) tulisan seseorang.

Selamat jalan, Pak Slamet Iman Santoso

Salam,
RM  

------------------------------- 

 Profil  
Prof. Dr. Slamet Iman Santoso 

--------------------------------------------------------------------------------

Saya Ini Orang Jaman Batu dan Akan Menjadi Fosil


--------------------------------------------------------------------------------
Pepatah bilang: ada ubi ada talas. Artinya, ada budi
ada balas. Itulah yang terjadi ketika Prof. Dr. Slamet
Iman Santoso, merayakan ulang tahun yang ke-90 tahun
pada tanggal 7 September kemarin. Seperti ingin
membalas kebaikan sang guru yang telah mengajar
mereka, para tokoh alumni Universitas Indonesia ini,
yang merupakan bekas murid Slamet memberikan kejutan
buat sang guru. Sebuah perayaan yang berlangsung di
Aula Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Salemba, Jakarta, diisi dengan pembacaan kesan-kesan
bekas muridnya.

Memang tidak sedikit mantan muridnya sukses dan
menduduki kursi menteri seperti Fuad Hassan, Sujudi,
dan Wardiman Djojonegoro. Bahkan Mahar Mardjono
(mantan rektor UI), Conny Semiawan (mantan rektor IKIP
Jakarta), Saparinah Sadli (Guru Besar Fakultas
Psikologi Universitas Indonesia) begitu hormat dan
mengagumi figur gurunya ini. Dan masih banyak lagi. Di
mata para muridnya, Slamet memang dikenal sangat akrab
dan suka menularkan pengalamannya kepada mereka. 

Tak berlebihan bila Mahar Mardjono menganggap Slamet
sebagai tokoh yang paling dikagumi dan diteladani.
Konon, Mahar mengaku tanpa sosok guru seperti Slamet,
sulit baginya meraih keberhasilan karir yang
dicapainya selama ini. " Saya beruntung sewaktu
menjadi rektor, Prof. Slamet selalu memberi inspirasi
kepada saya, sehingga UI menjadi universitas yang
berwibawa dan disegani, " kata Mahar Mardjono mengenai
Prof. Slamet. 

Lain lagi dengan Saparinah Sadli. Di mata Saparinah,
Prof. Slamet adalah pribadi yang unik. Seingatnya
sejak pertama menjadi muridnya tahun 1952, Prof.
Slamet selalu mengenakan pakaian putih-putih. "Saya
menilai beliau adalah sosok cendekiawan yang pantas
diteladani. Beliau seorang guru yang jernih
penalarannya, " puji wanita yang kini aktif di Komnas
HAM. Slamet sendiri ketika ditanyakan pendapatnya
mengenai penilaian murid-muridnya, sambil terkekeh
malah berucap, " Biar saja mereka memberikan pendapat.
Toh memang beginilah keadaan saya."

Sebagai pendidik (tahun 1978, IKIP Jakarta pernah
memberikan penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan
Nasional), Slamet dikenal jujur, jernih dan konsisten.
Prinsip hidupnya tak pernah berubah sampai kini. Salah
satu obsesi di bidang pendidikan yang masih
disimpannya adalah pembuatan standarisasi minimum di
tiap jenjang pendidikan. Konon standar ini pernah
diusulkan Slamet kepada pemerintah, tahun 1979-1981,
melalui Komite Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN).

Kendati sempat dibahas dalam beberapa seminar, tapi
tidak diketahui dengan jelas apakah ditindaklanjuti
oleh pemerintah atau tidak. " Saya sampai saat ini
tidak pernah diberi tahu kelanjutan usulan saya. Yang
jelas, salah satu akibat tidak diberlakukan
standarisasi itu, keadaan dunia pendidikan yang
semakin amburadul tetap berlangsung sampai sekarang,"
tutur mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan
(1937-1938) ini. 

Slamet menguraikan bahwa sistem yang diusulkannya itu
bisa memuat berbagai analisis berkaitan dengan
pelaksanaan atau proses pendidikan Indonesia sampai
tuntas. Hal itu mencakup keseluruhan soal personalia,
sarana dan prasarana yang dibutuhkan, kurikulum,
anggaran pendidikan. Semua aspek tersebut harus
disesuaikan dengan jenis jenjang pendidikannya.
"Dengan adanya standar minimum akan mengatur dengan
jelas di SD, SMP, SMU, dan Perguruan Tinggi.
Kriterianya yang dipakai jelas dan fleksibel, sehingga
memungkinkan untuk usul, kritik dan koreksi," jelas
mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
yang juga pernah duduk sebagai anggota Dewan
Pertimbangan Agung pada tahun 1968-1973.

Kendati usulannya tidak mendapat perhatian serius
karena menyita dana yang luar biasa besarnya, Slamet
tidak kecil hati. Ia tetap konsekuen menekuni bidang
pendidikan. Sampai tahun 1980-an, Slamet masih
terlibat aktif mempublikasikan beberapa buku yang
ditulisnya sendiri. Ia juga rajin menulis kolom di
beberapa media massa. Salah satu bukunya yang banyak
diminati orang adalah Pendidikan Indonesia dari Masa
ke Masa yang diterbitkan oleh CV Haji Masagung,
Jakarta, pada tahun 1987. 

Jasa lainnya di dunia pendidikan yang hingga kini
masih dipakai oleh pemerintah adalah program
penerimaan mahasiswa masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Program pembentukan UMPTN dibentuk ketika Slamet
menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional
(KPPN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) pada
tahun 1979-1980. Ketika itu terjadi booming
besar-besaran lulusan SMA. Sebanyak 4000 ribu orang
yang ingin masuk UI. Padahal kapasitasnya ketika itu
baru 800-900 orang. Melalui komite yang diketuainya
dibentuklah satu paket untuk menjaring calon mahasiswa
tersebut. Maka sejak 1979 sampai sekarang bergulirlah
nama-nama Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim
Penerimaan Mahasiswa Baru) dan sekarang dikenal dengan
UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Selain sebagai pendidik ulet, Slamet juga dikenal suka
usil. Tak jarang Slamet selalu mengomentari mantan
muridnya ketika menjabat sebagai menteri. Misalnya
waktu almarhum Mashuri menjabat sebagai Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan dinilai Slamet sebagai
menteri yang pusing kepala. Pasalnya, menurut Slamet
Mashuri harus menghadapi perbagai problema
kependidikan di Indonesia. Beberapa menteri lain
ditundingnya keras kepala. Ada juga menteri yang
dianggapnya besar kepala, serta ada menteri yang
(masih di Pdan K) yang ia nilai berkepala besar. 

Kritik lain yang dilontarakannya ketika murid
kesayangannya Fuad Hassan menjabat sebagai menteri
yang sama. Menurut ayah tujuh orang anak ini, "Kalau
Fuad Hassan, meski dia pernah menjabat sebagai menteri
P dan K yang tugasnya berat, tapi dia kok masih saja
bisa tertawa. Jangan-jangan dia (Fuad Hassan, red)
tidak punya kepala," sentilnya kalem di sela-sela hari
ulang tahunnya kemarin dan mengundang tawa para tamu
yang hadir. 

Slamet dilahirkan dalam keadaan terbungkus, dan
membuat semua penduduk desa meributkannya. Maklum,
ketika itu bayi bungkus memang sangat jarang terjadi.
Kontan saja kelahiran ini disambut dengan seruan,
"Mana bayinya, mana bayinya? " tanya penduduk desa
yang mulai merasa was-was. Untunglah nyonya Tambi,
tetangganya, isteri seorang petani Indo, membantu
membukakan bungkus ari-ari yang menutupinya, sehingga
bayi itupun lahir dengan selamat. Nama inilah yang
kemudian diberikan kepada jabang bayi yang baru lahir
itu. 

Sejak kecil di bawah pengasuhan ayahnya yang Asisten
Wedana Banjaran, Slamet melewati masa bocahnya dengan
keramahan, saling tolong-menolong dan gotong-royong
ciri khas suasana desa. Satu pengalaman yang tidak
dilupakannya adalah ketika di suatu saat dia dan anak
lain sedang sibuk mencari ucen-ucen, buah tanaman liar
yang sangat manis dan biru warnanya. Tiba-tiba Slamet
terpeleset, hampir masuk selokan irigasi yang letaknya
kira-kira lima meter ke bawah. Untunglah anjing Pak
Lurah melompat antara Slamet dan tebing selokan tadi,
sehingga dirinya tertolong. "Ketika kawan-kawan cerita
peristiwa itu ke Bapak-Ibu, sayapun diberi tugas untuk
memberi makan pada si Macan (nama anjing tadi, red)
yang sudah menolong saya," kenang kakek yang kini
memiliki tiga belas orang cucu dan lima orang buyut.

Sebagai orang yang melewati masa pendidikannya di
jaman kolonial Belanda, Slamet memang terkesan sangat
mengagungkan masa kolonial itu. Tetapi Slamet
menyadari kondisi (terutama pendidikan, red) dulu
dengan sekarang berbeda. Bila zamannya bersekolah dulu
Slamet merasakan betapa guru sangat begitu
memperhatikan dan bersatu dengan orang tua murid.
Kenyataan begini sudah jarang terjadi di masa
sekarang. "Para guru dan orang tua saling mengandalkan
diri dan kurang rasa bersatu, " ucap Slamet yang
pernah mendapat penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo
dalam bidang Pengalaman Profesi Kedokteran dari Ikatan
Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989. 

Menurut Slamet, bila saat ini kerap terjadi masalah
tawuran atau perkelahian pelajar, dan soal
kesemrawutan di dunia pendidikan, itu karena kurangnya
koordinasi antara orang tua dan guru dalam mendidik
para muridnya. Slamet juga melihat faktor komunikasi
terutama bahasa yang dipakai dalam proses belajar
sudah sangat lemah. "Salah satu faktanya adalah soal
akronim yang diterapkan oleh pemerintah dan sering
ditiru. Orang lebih senang mengatakan menkes, menhut,
meperindag, dan sebagainya. Karena itu sistem bahasa
kita jadi kacau," tutur ahli neurologi yang berkat
usahanya ikut mendirikan Universitas Andalas dan
Sriwijaya-- masing-masing di Palembang dan Padang,
Universitas Airlangga di Surabaya, dan Universitas
Hasanuddin di Ujungpandang. 

Namun keprihatinan Slamet disadari harus terjadi
karena masuknya Jepang pada masa kemerdekaan."Di
sinilah terasa sekali suasana pendidikan zaman Belanda
yang terkesan akrab (hubungan orang tua-murid-guru,
red) hilang lenyap, diganti dengan jaman pendidikan
Jepang yang mulai awut-awutan," jelas Slamet. Repotnya
lagi, kondisi ini terus berlangsung sampai sekarang.
Buktinya? "Banyak murid yang selalu tergantung dengan
guru. Jaman kami tidak, sekarang mau ujian dikasih
tahu waktu dan bahan-bahan apa saja yang bakal ke
luar," tambahnya lagi. Tetapi Slamet maklum dia tidak
berbuat banyak dengan kondisi sekarang. "Lah, sekarang
saya sudah tua. Orang jaman batu seperti saya mesti
tahu diri," candanya ringan. 

Soal gaji guru pun dianggap Slamet sebagai pemicu
kesemrawutan pendidikan jaman sekarang. Katanya, jaman
Belanda dulu gaji guru lebih besar dua kali lipat
daripada gaji dokter, sehingga tak perlu repot seperti
sekarang harus cari tambahan."Tidak heran akhirnya
dunia pendidikan sekarang dicampurbaurkan dengan
bisnis," ucapnya.

Sebagai ahli psikologi, Prof. Slamet dianggap berjasa
karena pada tahun 1961 pernah memimpin sekitar lima
puluh mahasiswa dari Fakultas Psikologi UI, untuk
memeriksa daerah Tebet dan Penjaringan yang terkena
gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan. Berkat
kunjungan itu terjalin hubungan dan komunikasi antara
mahasiswa Fakultas Psikologi dengan penduduk di kedua
daerah tadi. Sejak saat itulah pogram mahasiswa turun
ke lapangan digiatkan kembali.

Kepiawaian Slamet di bidang neurologi memang tidak
diragukan. Padahal, jauh sebelumnya di masa-masa
psikologi mengalami kesulitan (waktu itu psikologi
hanyalah sebuah jurusan dalam lingkungan FKUI), Slamet
meyakinkan para mahasiswanya dan mengatakan kepada
mereka, " Saya ibarat seorang yang sedang berdiri
seorang diri di tepi pasir yang gersang tanpa pedoman
untuk melintasinya sambil mengajak saudara-saudara
mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini," katanya
dalam sebuah pidato ketika menerima penghargaan
bintang Mahaputra Utama III pada tahun 1973. 

Lelaki tua yang kini menghabiskan masa tuanya dengan
sesekali membaca koran dan jalan-jalan di sekitar
rumah, ternyata juga menerapkan jadwal pendidikan yang
ketat terhadap keluarganya. Terbukti hampir semua
ketujuh anaknya merampungkan pendidikan sampai tingkat
Perguruan Tinggi. Menurut Slamet, keberhasilannya
mengantarkan semua anaknya ke bangku kuliah tak lepas
dari peran wanita yang dinikahinya: almarhumah
Suprapti Sutejo (meninggal pada November 1983). "Kunci
keberhasilan pendidikan anak terletak di tangan isteri
atau ibu, karena dialah yang mengatur urusan rumah
tangga. Jaman sekarang banyak wanita bekerja dan
menelantarkan kewajibannya mengurus anak, hasilnya,
ya, kondisi pendidikan anak-anak seperti sekarang, "
cerita pak tua yang belakangan ini fisiknya sudah
mulai goyah tapi belum pikun ini.

Namun menurut pengamatannya, terlepas dari hal itu
semua, kondisi sekarang baik pendidikan maupun sistem
sosial politik Indonesia memang sudah mengalami
kerancuan. "Maka nggak perlu lagi saya neko-neko
mengajukan usulan macam-macam untuk memperbaiki
situasi sekarang. Saya �kan manusia jaman batu yang
sebentar lagi jadi fosil, " katanya sambil tergelak.
Slamet bahkan menyarankan supaya pemerintah mulai
tanggap karena menghadapi masa depan dengan kondisi
seperti sekarang akan jauh lebih berat daripada jaman
penjajahan dulu. "Yang penting pemerintahnya mau
nggak, mengubah. Lah, sekarang mereka lebih senang
dengan ilmu "duitologi" (bisnis, komersil, red), jadi
apa-apa, ya, pakai uang," sindirnya pelan.


--------------------------------------------------------------------------------
Nama:  Prof. Dr. Slamet Iman Santoso  
Tempat/Tgl.Lahir:  Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September
1907  
Alamat rumah: Jalan Cimandiri No 26, Jakarta Pusat
Telp 323137  
Agama: Islam  
Pendidikan: Europeesche Lagere School (ELS) dan
Hollandsch Inlandsche School (HIS), Magelang
(1912-1920); Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO),
Magelang (1920-1923); MAS-B, Yogyakarta (1923-1926);
Indische Arts, Stovia (1926-1932); Geneeskunde School
of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).
 
Karya Tulis: Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan,
Sinar Hudaya, Jakarta (1977); The Social Background
For Psychotheraphy in Indonesia; Psychiatry dan
Masyarakat; Kesejahteraan Jiwa; School Health in the
Community; Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber
Kesehatan; Dasar Stadium Generale, Pendidikan
Universitas Atas Dasar Teknik dan Keilmuwan,
Dasar-dasar Pokok Pendidikan.
 
Karir: Pendiri Fakultas Psikologi, Universitas
Indonesia (1953-1972); Pembantu Rektor Bidang
Akademis, Universitas Indonesia (1962-1972); Guru
Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi,
Universitas Indonesia (1950-1953); Dosen Lemhannas;
Dewan Kurator Universitas Mercu Buana.
 
Bintang Jasa: Mahaputra Utama (III) pada tanggal 19
Mei 1973.
 

--------------------------------------------------------------------------------




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke