Media Indonesia Jum'at, 12 November 2004 OPINI
Alienasi Islamis, Modal Kultural bagi Aktivis Islamis ISLAMISME sebagai sebuah paham keislaman sering kali diperhatikan hanya pada tingkat pandangan dan sikap kelompok Islam yang memperjuangkan agenda-agenda sosial politik yang didasarkan atas pemahaman tertentu atas ajaran-ajaran Islam. Walaupun penting tapi pendekatan demikian tidak cukup konkret untuk memahami seberapa besar wujud nyata dari Islamisme tersebut dalam kehidupan umat Islam kita. Kalaupun ada upaya mencermati aktivitas dari kelompok Islamis tersebut biasanya kurang sistematik, lebih banyak bersandar pada laporan jurnalistik. Karena itu mencermati secara sistematik aktivitas Islamis dan aktivis Islamis bisa mengenai sasaran yang lebih nyata. Aktivis Islamis adalah seorang muslim atau kelompok muslim yang melakukan aktivitas atau tindakan kolektif yang berkaitan dengan kepentingan publik dengan tujuan menegakan agenda-agenda Islamis tertentu yang mereka yakini sebagai perintah ajaran Islam. Agenda-agenda Islamis itu pada dasarnya adalah segala bentuk pemberlakuan apa yang diyakini sebagai perintah ajaran Islam di ruang publik tanpa memerhatikan keragaman paham keagamaan di ruang publik tersebut. Aktivitas Islamis misalnya saja aksi-aksi kolektif untuk menghentikan suatu kegiatan kelompok lain, muslim ataupun nonmuslim, yang dipandang maksiat, demonstrasi atau rapat umum sebagai bentuk solidaritas eksklusif terhadap penderitaan yang dialami kelompok muslim di berbagai belahan dunia karena mereka muslim, boikot terhadap barang atau jasa yang dipandang bertentangan dengan ajaran Islam, dan banyak lagi jenis-jenis kegiatan yang bersifat Islamis seperti ini. Media massa biasa melaporkan bagaimana Front Pembela Islam (FPI) melakukan razia atau sweeping tempat-tempat hiburan malam yang mereka pandang bertentangan dengan ajaran Islam. Aktivis Partai Keadilan melakukan demonstrasi menentang tindakan brutal pemerintah Thailand terhadap muslim di Thailand selatan karena mereka sama-sama saudara seagama. Aktivis Majelis Mujahidin melakukan aksi menentang apa yang mereka yakini sebagai campur tangan Amerika dalam proses pengadilan tokoh Islamis, Abu Bakar Ba'asyir. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan pawai untuk mengampanyekan pemberlakuan syariat Islam dalam kehidupan berbangsa. Dan banyak lagi contoh-contoh dari aktivitas Islamis ini. Aktivitas Islamis memang sering mendapat perhatian luas karena liputan media massa. Seratus ribu peserta demonstrasi menentang pengeboman Afghanistan oleh Amerika pasti sudah cukup memenuhi Jalan Thamrin dan membuat kemacetan. Seratus ribu? Angka yang kecil kalau dibandingkan dengan penduduk muslim Indonesia sekarang yang mencapai lebih dari 200 juta. Aksi-aksi semacam itu dapat menyesatkan perhitungan tentang berapa luas perilaku Islamis di antara umat Islam Indonesia. Kita memang tidak tahu pasti berapa banyak sebenarnya warga Muslim Indonesia yang pernah ikut serta dalam aktivitas Islamis setidaknya dalam lima tahun terakhir ketika keterbukaan politik sudah bergulir, ketika setiap warga dapat bicara dan berkumpul bebas. Di dalam survei nasional PPIM-FI-JIL, tiga bentuk pertanyaan digunakan untuk menggali dan mengestimasi populasi aktivitas dan aktivis Islamis ini: Apakah dalam lima tahun terakhir pernah ikut serta dalam 1) pemboikotan atas barang atau jasa yang dipandang bertentangan dengan ajaran Islam, 2) razia tempat-tempat hiburan/restoran/hotel yang dipandang menyelenggarakan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam atau maksiat, dan 3) ikut serta dalam demonstrasi sebagai wujud dari solidaritas terhadap penderitaan yang dialami oleh umat Islam di Tanah Air atau di mana pun di dunia. Tentu saja kita bisa menambahkan item-item yang dipandang valid untuk menggali keluasan dan kedalaman perilaku Islamis dari warga muslim Indonesia. Tapi studi tersebut membatasi hanya pada tiga item tersebut. Sangat kecil tapi penting Kalau menggunakan tiga ukuran dari aktivitas Islamis tersebut terlihat bahwa jumlah aktivis Islamis di Tanah Air sangat kecil (lihat grafik 2). Dalam lima tahun terakhir warga muslim yang pernah ikut serta satu dari tiga aktivitas Islamis tersebut hanya 6,5%, dua dari tiga 0,9%, dan ketiganya 0,5%. Selebihnya tidak pernah. Secara umum dapat dikatakan bahwa hanya sekitar satu dari seratus muslim Indonesia dewasa yang pernah ikut serta dalam satu di antara tiga jenis aktivitas Islamis tersebut dalam lima tahun terakhir. Sangat sedikit. Proporsi yang kecil ini sebenarnya tidak mengherankan. Partisipasi dalam aktivitas kolektif semacam itu, baik yang bersifat Islamis maupun tidak, di negara muslim maupun bukan, memang sangat jarang. Tidak berarti aktivitas yang jarang tersebut tidak penting. Demonstrasi, mogok, boikot, dan lain-lain dari tindakan politik langsung semacam itu biasanya memang tidak membutuhkan banyak partisipan tapi tidak jarang punya pengaruh penting terhadap kebijakan-kebijakan publik. Kalau jumlah penduduk dewasa kita sekarang sekitar 150 juta, maka setengah persen saja dari mereka yang pernah ikut serta dalam aksi kolektif seperti itu sebenarnya sudah cukup banyak, yakni sekitar 700 ribu sampai satu juta orang. Kalau semuanya turun berbarengan cukup untuk memadati Jalan Thamrin dan Sudirman di Jakarta. Cukup untuk merepotkan polisi dan pemerintah pada umumnya. Tidak perlu melibatkan ratusan atau ribuan orang untuk melakukan aksi Islamis seperti yang dilakukan Imam Samudera dan kawan-kawan di Bali. Cukup beberapa orang saja, tapi pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan politik domestik maupun internasional. Keterlibatan dalam aksi Islamis semacam itu biasanya punya risiko cukup tinggi, misalnya saja kemungkinan terjadi kecelakaan, tidak disukai orang, dan lain-lain, dibanding berpartisipasi misalnya dalam pemilihan umum. Biasanya hanya aktivis yang mau mengambil risiko demikian yang berpartisipasi. Sementara kebanyakan anggota masyarakat, termasuk mereka yang mendukung aktivitas atau aksi-aksi Islamis semacam itu hanya menonton, menjadi semacam free rider: Menikmati hasil kerja orang lain dalam proporsi yang kurang lebih sama tanpa keluar tenaga, waktu, dan biaya. Ini terlihat dari proporsi dukungan, bukan ikut serta langsung, terhadap aktivitas atau perjuangan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi gerakan Islamis seperti FPI, MMI, Jamaah Islamiyah, dan Hizbut Tahrir. Dalam survei PPIM-FI-JIL digali pengetahuan masyarakat tentang organisasi-organisasi gerakan Islamis tersebut. Seperti terlihat dalam Grafik 3, Jamaah Islamiyah ternyata paling dikenal (setidaknya dari mendengar, membaca, atau mengikuti berita TV) luas, yakni oleh 41,8% dari warga muslim dewasa di Tanah Air. Kemudian FPI, oleh 36,7%, MMI oleh 35,9%, dan HTI oleh 12,7%. Bagi mereka yang tahu organisasi-organisasi gerakan Islamis tersebut, walaupun hanya umum saja sifatnya, kemudian ditanyakan apakah mereka setuju dengan apa yang diperjuangkan oleh organisasi-organisasi gerakan itu. Dibanding seluruh populasi muslim dewasa, sekitar 18% setuju dengan yang diperjuangkan FPI, 15% dengan yang diperjuangkan MMI, 13% dengan yang diperjuangkan JI, dan sekitar 5,2% dengan yang diperjuangkan HTI. Jadi, rata-rata dua kali lipat lebih banyak pendukung organisasi-organisasi tersebut dibanding jumlah mereka yang terlibat langsung dalam aktivitas Islamis. Sebagian dari mereka kemungkinan hanya free rider tadi. Energi psikologis Di samping kalkulasi untung-rugi, banyak faktor lain yang dipercaya mempengaruhi seorang Muslim mau mengambil risiko dan menjadi aktivis Islamis. Salah satu di antaranya yang penting adalah faktor ideologis dan psikologis yang terkait dengan Islamisme. Di antara faktor ini apa yang disebut sebagai efikasi Islamis dalam kasus muslim Indonesia tampaknya paling menentukan. Setidaknya demikianlah keyakinan sebagian masyarakat. Dalam psikologi politik atau gerakan sosial, efikasi adalah suatu perasaan seseorang bahwa dirinya penting, mampu, dan berarti untuk melakukan sesuatu yang diharapkan. Ada optimisme di situ, yang merupakan energi psikologis pendorong suatu tindakan. Dalam penelitian PPIM-FI-JIL konsep efikasi politik ini dikembangkan dalam konteks aktivitas Islamis. Dalam Islam ada nilai-nilai yang diperkirakan dapat mendorong seorang muslim menjadi aktivis Islamis. Pertama, jihad untuk mempertahankan agama Allah dipercaya sebagai suatu kewajiban, dan seorang muslim yang meninggal dalam berjihad akan masuk surga. 'Jihad' punya pengertian yang diperebutkan (contested) oleh kelompok-kelompok muslim. Karena itu ada yang memahaminya dalam pengertian sangat luas sehingga sangat sulit mengidentifikasinya. Misalnya, menyatakan ketidaksetujuan di dalam hati atas suatu perbuatan yang diyakini bertentangan dengan ajaran agama termasuk jihad. Menahan hawa nafsu juga disebut sebagai jihad, bahkan dipercaya sebagai jihad besar. Sebaliknya, ada juga yang memahaminya secara agak khusus, yakni perang fisik melawan kekuatan yang dipandang mengancam eksistensi Islam, termasuk dengan mengangkat senjata. Bila meninggal karena jihad seperti ini maka ia akan masuk surga. Pengertian yang khusus dari jihad ini dan ganjaran yang akan diperolehnya potensial menjadi energi psikologis yang dapat mendorong seorang muslim berani mengambil risiko mati sekalipun. Kedua, nilai yang tumbuh dari keyakinan bahwa pada akhirnya umat Islam akan menang dalam perjuangan menentang lawan-lawannya. Perasaan optimis akan menang ini menjadi semacam energi psikologis lain yang mendorong seorang muslim terlibat dalam aktivitas Islamis. Agak sulit membayangkan bagaimana seorang Muslim yang pesimis dengan hasil yang akan dicapai untuk melakukan tindakan berisiko. Di samping efikasi Islamis, energi psikologis yang diperkirakan mendorong seorang muslim terlibat dalam aktivitas Islamis adalah alienasi Islamis. Alienasi adalah suatu perasaan terasing seseorang dari lingkungannya. Apa yang terjadi di sekitar lingkungan hidupnya bertentangan dengan apa yang diyakininya sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi. Dalam riset PPIM-FI-JIL, konsep ini dikembangkan dalam konteks aktivis Islamis. Di dalam Islam sendiri ada nilai-nilai yang tumbuh dari suatu keyakinan bahwa umat Islam adalah umat terbaik, dibanding umat-umat lainnya. Tapi dalam kenyataan hidup modern sekarang, sering muncul perasaan sebaliknya di kalangan umat Islam. Kontradiksi antara keyakinan bahwa umat Islam merupakan umat terbaik di satu pihak, dan di pihak lain pengalaman sehari-hari yang sebaliknya tentang umat Islam, potensial menumbuhkan perasaan untuk menyalahkan kekuatan di luar umat Islam. Potensial muncul perasaan bahwa umat Islam diperlakukan tidak adil. Kekuatan di luar umat Islam potensial dipandang sebagai faktor yang menyebabkan keterpurukan umat Islam. Keadaan psikologis ini potensial mendorong seorang muslim menjadi aktivis Islamis, sebagai wujud dari protes atas ketidakadilan yang dilakukan oleh kekuatan di luar umat Islam sendiri. Dalam studi PPIM-FI-JIL efikasi Islamis dicermati lewat dua ukuran, yakni sejauh mana seorang Muslim yakni bahwa pada akhirnya umat Islam akan memenangkan perjuangan melawan lawan-lawan umat Islam, dan seberapa besar keinginan meninggal dalam perjuangan membela agama Allah. Sementara itu, alienasi Islamis dicermati lewat satu ukuran, yakni seberapa setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa umat Islam di dunia ini sering diperlakukan secara tidak adil oleh umat lain. Dalam studi tersebut ditemukan sangat besar dari umat Islam Indonesia yang yakin bahwa pada akhirnya perjuangan umat Islam akan berhasil melawan musuh-musuhnya (79,2%), dan lebih besar lagi yang menginginkan mati ketika sedang membela agama Allah (83,7%). Sementara itu yang teralienasi, yakni mereka yang merasa umat Islam diperlakukan secara tidak adil oleh umat lain cukup besar juga (45%) meskipun bukan proporsi mayoritas. Di antara dua faktor psikologis tersebut yang punya hubungan positif secara signifikan terhadap aktivitas Islamis ternyata adalah alienasi Islamis. Yang merasa umat Islam diperlakukan tidak adil, dibanding yang merasa diperlakukan adil, lebih banyak yang terlibat dalam aktivitas Islamis seperti aksi sweeping, demonstrasi solidaritas bagi umat Islam, dan boikot terhadap barang dan jasa yang dipandang haram. Perbedaannya sekitar 6%. Sementara itu, efikasi Islamis berhubungan secara berarti dengan dukungan terhadap kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi gerakan Islamis, bukan dengan aktivitas Islamis. Terutama efikasi tentang keinginan untuk sahid. Mereka yang ingin sahid, dibanding yang tidak ingin, lebih banyak yang mendukung organisasi gerakan Islamis tersebut dibanding yang tidak mendukung. Perbedaannya sekitar 12%. Kelompok terpelajar Yang menarik juga dari studi tersebut adalah ditemukannya kecenderungan lebih kuatnya dukungan terhadap kelompok aktivis Islamis di kalangan yang lebih terpelajar ketimbang yang kurang terpelajar. Di antara yang berpendidikan perguruan tinggi, 48,7% mendukung apa yang diperjuangkan kelompok aktivis Islamis, sementara yang hanya berpendidikan setingkat SD hanya 20,7% yang mendukung perjuangan kelompok tersebut. Ini memberikan gambaran yang lebih sistematis atas kesan selama ini bahwa basis sosial dari organisasi-organisasi aktivis Islamis seperti gerakan-gerakan Tarbiyah, Partai Keadilan, dan Hizbut Tahrir adalah kampus-kampus. Kampus nampaknya tidak lagi identik dengan lembaga di mana nilai-nilai sosial-politik sekuler diajarkan dan ditanamkan. Sekarang kampus juga telah menjadi lembaga yang memperkuat identitas, efikasi, dan alienasi Islamis. Kampus menjadi sumber rekrutmen bagi aktivis Islamis, dan menjadi tempat diproduksinya modal budaya bagi tumbuhnya aktivis Islamis. *** ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

