Dimana Hati Nurani Para Aparat??? seandainya jika mereka bersalah apa tidak 
bisa ditunda satu atau dua hari??? Kenapa harus di Malam Takbiran??? Kenapa 
Harus Di Hari Pertama Idul Fitri??? Apakah Kata "Fitri" ini ditrapkan untuk 
Menandakan Kemenagan untuk Mengusur Mereka ???.atau MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
YA, TEMPAT KALIAN AKAN KAMI HANCURKAN,  Kenapa yang Menyelewengkan Ijin tempat 
Hiburan menjadi Tempat Masiat ngak di Apa2in ???

Dalam proses pembuatan surat ini, Ersianih mengaku sudah
mengeluarkan uang 3 juta.
Sitindjak, Kepala Seksi Operasi Trantib Jakarta Barat, dalam 
kesempatan terpisah mengatakan bahwa memang ada pegawainya yang mengail di air 
keruh dalam kasus ini.

Kok sudah tahu tidak dipecat dan Oknumnya di Expose ke media masa ???
Seharusnya Komandan Tramtip inilah yang Pantas di demo

salam

budiman.

----- Original Message ----- 
From: yerww 
To: [EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, November 16, 2004 4:01 PM
Subject: [ppiindia] "Lebaran kok gini?" , Duka Parman Di Malam Takbiran



TEMPO Interaktif, Minggu, 14 November 2004.

Duka Parman Di Malam Takbiran
oleh: Fanny Febiana

Minggu, 14 November 2004 | 19:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sial nian nasib Parman. Semalam, mestinya 
menjadi
malam takbiran yang meriah nan menghibur anak dan istrinya. Tapi yang
terjadi justru nahas: gubuk tempat tinggal keluarga miskin ini 
dirubuhkan
oleh aparat Ketentraman dan Ketertiban (Trantib), Jakarta Barat. 
Parman tak
berdaya. Ia cuma bingung, cemas dan sementara istrinya cuma bisa
meraung-raung. Sang istri itu masih tersedu-sedu hingga aparat 
trantib itu
berpindah ke lain tempat.

Rumah reot milik Parman itu adalah satu dari puluhan rumah yang 
digusur
aparat pada malam Takbiran semalam. Rumah-rumah berdinding kayu itu 
terletak
di sepanjang Jalan Outer Ring Road, Cengkareng, Jakarta Barat. Selama
setengah jam aparat merobohkan bangunan dan membakar bagunan liar dan
gerobak milik segenap penghuninya. Dan warga cuma bisa pasrah. "Ya 
Allah,
tega amat," isak Ersianih saat melihat gubuk tempat tinggalnya 
dirobohkan.

Parman bersama keluarganya sudah empat tahun menetap di situ. Saban 
hari
mereka memulung barang-barang bekas untuk dijual. Bersama lima 
karibnya ,
Parman mendorong gerobak sejak fajar menyinsing hingga petang. 
Gerobak itu
bak nyawa bagi para pemulung ini, sebab tanpa gerobak barang-barang 
itu
tidak bisa dibawa, tak bisa dijual, tak ada uang dan tak bisa makan. .
Ersianih pilu hatinya melihat gerobak-gerobak milik mereka dilalap 
api,
"Modal saya habis,"isaknya.

Dalam kebingungan terus mengamankan barang-barangnya. Pria berusia 43 
tahun
ini memelas, "Lebaran kok gini?" Ketika Trantib hendak mengambil 
barang yang
dikumpulkan Parman, sembari terisak Ersianih memohon, "Yang itu 
jangan Pak,
itu modal saya." Modal yang disebut Ersianih itu adalah ban-ban dan 
kayu
hasil pulungan yang siap dijual. Untung aparat trantib jatuh 
iba. "Modal"
Ersianih tak jadi diambil.

Empat tahun meniti hidup gubuk reot itu, Parman tak menyangka kalau
"kekalahan" datang tengah malam apalagi di malam takbiran, saat 
kemenangan
harusnya dirayakan. Empat bulan lalu, Parman memang mau pindah. Tapi 
sebelum
pindah, kisah Ersianih, mereka dipanggil pegawai kecamatan. Pegawai
kecamatan itu meminta mereka membuat surat. Isi surat itu menyatakan 
bahwa
selama lokasi gubuk Parman dan Ersianih belum dipakai untuk jalan, 
mereka
tidak akan diutak-atik. "Saya punya suratnya, Mbak," kata Parman pada 
Tempo
malam itu.Dalam proses pembuatan surat ini, Ersianih mengaku sudah
mengeluarkan uang 3 juta.

Sitindjak, Kepala Seksi Operasi Trantib Jakarta Barat, dalam 
kesempatan
terpisah mengatakan bahwa memang ada pegawainya yang mengail di air 
keruh
dalam kasus ini.

Yang lebih tragis adalah nasibnya Mbah Sono. Pria 82 tahun itu 
seorang diri
tinggal di sebuah gubuk reot di kawasan ini. Sudah 10 tahun ia di 
situ.
Dimakan usia badannya terlihat rapuh. Saat gubuknya dirobohkan, Mbah 
Sono
cuma bisa termenung menatap tanah. Tak seperti warga lainya yang sibuk
mengamankan barang, Mbah Sono seperti terpaku sebab tak ada harta 
yang perlu
diselamatkan, walau cuma gerobak. Dulu ia mendirikan gubuk itu karena 
tak
punya tempat tinggal, "Ketimbang kehujanan, saya bikin gubuk di
sini,"tuturnya dengan wajah murung.

Sehari-hari Sono membuat arang dari kayu buangan. Pendapatannya sangat
kecil, dalam waktu setengah bulan, ia cuma dapat menjual 1 karung 
arang.
Harganya pun hanya Rp 20.000,-. Ia tidak punya satu orang kerabat pun 
di
Jakarta. Setelah gubuknya rata dengan tanah, Sono tak tahu harus 
tinggal di
mana. Anak pun ia tak punya.

Operasi penertiban pemukiman liar di sepanjang Jl. Outer Ring Road ini
dilaksanakan mulai pukul 24.00 WIB sampai 02.00 WIB di hari pertama 
Idul
Fitri 1425 H. Trantib Pemerintah Kodya Jakarta Barat yang dipimpin 
oleh
Sitindjak, bergabung dengan Trantib Kecamatan Cengkareng. Dalam apel 
sebelum
operasi, Wakil Camat Sengkareng, Rohali, memberi pengarahan bahwa 
target
operasi penertiban malam itu adalah tempat mandi liar, tempat tidur 
liar,
dan tempat pemulung. Jl. Outer Ring Road ini, menurut Rohali, adalah 
jalan
menuju bandara. Banyaknya pemukiman liar ini, membuat kesan kumuh, 
tidak
bagus dilihat. "Ini bukan kampung, tapi kota," katanya.

Fanny Febiana----Tempo




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke