CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI:
SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [22] Masalah "ekspresi erotis", eksplorasi dan eksploatasi tubuh perempuan dalam karya sastra barangkali bisa juga dilihat dari segi kebebasan mencipta. Kebebasan memang merupakan syarat penting dalam kerja cipta-mencipta. Di dalam kebebasan ini terdapat keleluasan memilih tema termasuk masalah hubungan ranjang atau tema bagaimana seorang lelaki telah menyetubuhi seekor kambing seperti yang pernah diberitakan oleh media tulis di negeri ini. Di sini pertanyaannya menjadi: Untuk apa kebebasan begini bagi kemanusiaan dan usaha memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat? Pertanyaan ini erat tautannya dengan bagaimana seorang sastrawan melihat posisi dan fungsinya sebagai sastrawan di samping konsepnya tentang kebebasan. Artinya di sini terdapat pertanyaan mendasar bersifat pandangan hidup yang memang adalah pilihan masing-masing. Karya sastra-seni merupakan ungkapan dari pilihan pandangan hidup masing-masing sastrawan. Begitu pandangan hidupnya begitulah karyanya. Sekian dalih, mulai dari yang politis, filosofis dan lain-lain lagi, memang bisa dikerahkan untuk membela pilihan ini. Maka di sinilah debat ide dan kritik sastra yang sehat sangat berguna. Debat ide akan berguna jika dari pesertanya ada kemampuan berpikiran nalar dan mempunyai kejujuran pada diri sendiri yang menyediakan ruang bagi kebenaran pihak lain. Tanpa adanya ruang bagi kebenaran orang lain, maka debat ide akan gampang merosot ke taraf caci-maki dan kekerasan sekalipun bersifat verbal. Ketika sampai pada taraf kekerasan verbal, maka debat ide akan berada di luar lingkup debat ide. Apakah di negeri ini kita mempunyai kemampuan melakukan debat ide yang sehat? Pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab oleh kenyataan yang kita saksikan di dunia maya oleh mereka yang mengaku dan menyebut diri sastrawan serta sikap kita terhadap kritik juga masih tersisanya "budaya" ketakutan, produk pendekatan "keamanan dan stabilitas nasional" Orba yang militeristik sampai pada peracunan Munir sampai meninggal. Di negeri ini kita takut pada keadilan dan kebenaran. Debat ide hanya mungkin terjadi jika ada kebebasan menyatakan pendapat yang tidak disediakan oleh paternalisme, otoritarianisme, militeris atau neo-feodal [yang intinya sama]. Bangsa-bangsa Barat menjadi berkembang maju bukan karena kulit mereka putih tapi justru karena ada keleluasaan bertanya dan mencari jawaban pertanyaan. Sastrawan sebagai warga "republik berdaulat sastra-seni" mempunyai misi manusiawi yang oleh K.H. Musthafa Bisri [Gus Mus] disebut sebagai misi seorang "khalifah". "Saya harus jadi khalifah terhadap karya saya", ujar Gus Mus dalam percakapannya dengan penyair Aguk Irawan [Lihat: Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 13 November 2004]. Dari sudut pandang ini, eksplorasi dan eksploatasi "tubuh perempuan" serta "ekspresi erotis yang merajalela dan tak terkendalikan" kita bisa bertanya:misi "khafilah" yang bagaimanakah yang disandang oleh para penciptanya? Bagaimana melihat misi "khafilah" ini dari statusnya sebagai warga "republik berdaulat sastra-seni"? Seperti dikatakan oleh Gus dalam wawancaranya dengan Aguk Irawan: "Namun bagaimanapun bebasnya seni itu, toh nantinya akan berbenturan dengan manusia. Nah, menurut Gus Mus, sampai di mana batas kebebasan karya seni dalam interaksinya dengan manusia? Kebebasan itu berhenti ketika berbenturan dengan kebebasan orang lain. Kebebasan dibatasi juga oleh kebebasan. Jadi misalkan saya mendengarkan radio, karena telinga milik saya sendiri dan radio saya sendiri yang membeli. Tetapi orang lain juga bebas beristirahat, bebas untuk tidak mendengarkan apa pun. Maka dalam keadaan itu saya harus berhenti" [Aguk Irawan, "K.H.Mustahafa Bisri, "Seni Itu Untuk Manusia", Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 13 November 2004]. Kemudian Aguk bertanya: "Tetapi Gus, pandangan mereka jika seni itu untuk seni, maka bisa menembus bidang budaya, agama, politik dan ekonomi global. Artinya ia tidak dibatasi oleh batas-batas politik, agama dan daerah. Ia bisa menembus batas-batas teritorial". Dan Gus Mus menjawab: "Tidak. Untuk apa jika seni untuk seni. Menurut saya ya seni untuk manusia. Haha... Itu hanya sok-sok-an. Kalau sampeyan melukis yang bagus-bagus bukan untuk manusia, terus buat apa? Gak ada pameran lukisan. Jadi untuk disimpan saja di gudang? Kalau saya, seni untuk manusia. Dia akan memperkaya batin manusia dan seterusnya". Kekayaan batin apa gerangan yang kita peroleh dari eksplorasi, eksploatasi "tubuh perempuan" serta "ekspresi erotis" yang "tak terkendalikan"? Paris, Nopember 2004. -------------------- JJ.KUSNI Lampiran: K.H.Musthafa Bisri,"Seni Itu untuk Manusia!" http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/13/khazanah/lainnya1.htm Penyair Aguk Irawan pada 5 Agustus 2004 lalu bertemu dengan K.H. Musthafa Bisri (Gus Mus), di Kairo-Mesir. Pertemuan yang cukup langka itu dimanfaatkan Aguk untuk bercakap-cakap dengan dirinya tentang seputar perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia saat ini, khususnya yang tumbuh dan berkembang di pesantren. Di bawah ini petikan wawancara tersebut menarik untuk diapresiasi, semoga bermanfaat adanya. GUS MUS kalau diibaratkan Anda ini bagai mobil, maka Anda adalah mobil yang tidak lelah bekerja, di seret sana-sini. Ada silaturahmi NU diseret, ada pertemuan seniman diseret, ada kumpul penyair diseret. Anda terlibat di mana-mana. Ya. Di luar itu ada juga kumpulan anak lintas agama, lintas organisasi, lintas politik yang bikin buku tentang saya dibiayai oleh Ford Foundation. Judulnya Ngalor-ngidul Ketemu Gus Mus. Motivasi apa yang mendorong Gus Mus tampil di mana-mana? Saya hanya menyukai manusia. Saya mempunyai prinsip setiap manusia punya kelebihan. Artinya, setiap orang bisa saya jadikan guru. Kenapa saya jadikan guru? Karena sekolah saya nggak jelas. Yang tamat hanya di SD dan Al Azhar. Selanjutnya blank; kisah tentang DO. Dan sekarang saya hanya punya ijazah Al Azhar. Ijazah SD saya hilang. Karena itu saya merekayasa untuk mengkaji pada semua manusia. Bahkan saya bisa belajar dari cucu saya. Bagaimana dia belajar berjalan, saya bisa belajar. Saya suka bergaul, karena dari pergaulan saya bisa mendapatkan yang awalnya tidak saya miliki. Bagaimana Gus Mus bisa tertarik dengan sastra dan seni lukis? Sebetulnya di pesantren diajarkan ilmu sastra. Dan saya keluaran pesantren. Sejak dahulu, tradisi ilmu sastra di pesantren tidak hanya untuk mengapresiasi Alquran, tetapi (juga) untuk memproduksi (sastra) sendiri. Kita lihat Imam Syafi'ie mempunyai diwan, (puisi) juga Hadratus Shaikh Hasyim Asy'ari mempunyai diwan walaupun hingga kini masih dicari. Bahkan kabarnya beliau bisa irtijalan, improvisasi, seperti penyair arab. Penyair Indonesia belum ada yang bisa begitu. Kiai Hamid Pasuruan yang terkenal sebagai wali itu, sebenarnya juga seorang sastrawan aktif. Beliau mempunyai tulisan-tulisan syair. Kiai-kiai lain juga banyak yang menulis dengan bahasa Arab atau bahasa ibunya, bahasa daerah. Kalau saya, bedanya menggunakan bahasa Indonesia. Soal sastra di pesantren sudah merupakan tradisi sejak lama. Nah sejak ada mikrofon, tradisi sastra berubah menjadi sastra lisan. Sebenarnya semacam flash back; sastra jahiliyah kan sastra lisan. Sekarang ini, banyak kiyai yang lebih suka berbicara daripada menulis. Saya belajar sastra dari pesantren itu. Dan saya tidak saja menggunakan sastra untuk mengapresiasi Alquran saya coba juga untuk memproduksi karya-karya sastra. Jika tradisi sastra memang telah ada sejak dulu di lingkungan pesantren, bahkan lebih jauh lagi pada masa nabi, mengapa ulama-ulama kita masih banyak yang menganggap nyeleneh kegiatan bersastra? Bahkan ada yang mengharamkan seni lukis. Kiai sebagai orang pertama di dalam pesantren, sebenarnya hanya meneruskan saja tradisi ulama-ulama sebelumnya. Kalau Anda mengatakan sekarang tokoh-tokoh pesantren tidak ada yang menonjol sebagai sastrawan, itu karena mereka bisa dikatakan hampir tidak ada atau jarang sekali yang menggunakan bahasa Indonesia. Tapi kalau dulu ada Hamzah Fansuri dan kiai-kiai lain yang dari pesantren yang menggunakan bukan bahasa Indonesia, misalkan bahasa Arab. Karena mereka lebih akrab dengan bahasa itu. Dulu kan tulisannya pun pake tulisan Arab. Bahasa Jawa pun memakai tulisan Arab. Ayah saya Kiai Bisri, mempunyai syair-syair dalam bahasa Jawa dan sudah menjadi milik masyarakat. Salah satu yang dipopulerkan oleh Emha Ainun Nadjib adalah Tombo Ati. Kiai Ali Krapyak juga mempunyai syair-syair berbahasa Jawa. Mereka tidak menonjol karena tidak menggunakan bahasa Indonesia atau menulis tentang sastra daerah. Barangkali yang terkenal hanya Ajip Rosidi yang menulis sastra Sunda. Setelah itu tak ada lagi yang tekun memperkenalkan bahasa daerah di Indonesia. Bahkan pernah di Madura itu, saya dianggap Kiai nyeleneh karena saya berpuisi. Saya menjawab bahwa yang nyeleneh itu Kiai yang tidak berpuisi. Karena tradisinya, mulai kanjeng Nabi Muhammad sampai Imam Nawawi semua berpuisi. Kanjeng Nabi sendiri walaupun tidak penyair, karena memang la yanbaghi ma allamnahu as-syi'ra wama yanbaghilah, tetapi beliau bisa berapresiasi. Buktinya pada perang Khandak beliau berpuisi, meskipun puisinya tidak baik karena beliau memang bukan penyair. Bukti lain lagi, ketika Ka'b bin Zuhair membacakan syair Banat Su'ad, Rasulullah memberikan penghargaan. Belakangan, Abu Bakar, Umar. Utsman dan Ali berpuisi semua. Setelah itu banyak sekali ulama-ulama bersyair. Kemudian kenapa banyak kiai-kiai yang kelihatannya menjauh dari kesenian, ini menurut saya karena berbarengan dengan pemikiran seni untuk seni, art to art, yang berkembang di Barat. Menurut kiai-kiai di pesantren hal ini dianggap kebablasan. Sehingga akhirnya kesenian tidak berkembang di pesantren, karena secara irsyad kiai-kiai tadi membatasi santri-santrinya. Paling-paling yang berkembang ya hadrah, terbangan dan zifinan. Untuk seni lukis atau kaligrafi, selain Arab, pesantren tampaknya terpengaruh Cina. Misalkan alat tulis atau tinta yang dipakai. Dan umumnya, di pesantren-pesantren kita, stressing-nya lebih kepada fikih dari pada yang lain. Hingga melukis pun dibatasi dengan alasan hadits. Sedangkan fikih perbandingan baru berkembang belakangan. Sehingga pendapat-pendapat beragam tentang hukum menggambar atau patung tidak banyak menyentuh kalangan pesantren. Tetapi sekarang sudah banyak pesantren-pesantren yang punya tempat mengapresiasikan aktivitas-aktivitas kesenian. Itu terutama di pesantren-pesantren yang stressing-nya tidak pada fikih. Sebenarnya Gus, mungkin kita mendapatkan warisan yang banyak dari para ulama kita. Tetapi barangkali dokumentasinya tidak baik. Ronggowarsito sendiri ribuan tahun yang lalu telah ada, terus Mas Marco yang menulis dengan bahasa Jawa dan seterusnya. Yang tidak ada itu perhatian terhadap sastra kita. Amir Hamzah, Hamzah Fansuri itu kan dari kalangan pesantren sebetulnya. Bahkan Ronggowarsito yang menulis dengan bahasa Jawa juga dikategorikan sebagai penyair pesantren. Seperti saya katakan, kalau berbahasa Jawa atau Indonesia, mungkin masih bisa (ditemukan peninggalannya). Sebab pemimpin-pemimpin kita kebanyakan Jawa. Hanya Habibie yang bukan Jawa. Tetapi kalau berbahasa Arab, itu akan susah sekali. Seperti misalnya Kiai Zaini, itukan dari desa terpencil sekali, jauh dari pusat informasi, akhirnya tidak terjangkau. Tetapi sekarang dengan bermuculannya sastrawan-sastrawan dari kalangan pesantren, seperti Jamal D. Rahman, Zawawi Imron, atau Acep Zamzam Noor dan seterusnya, mungkin itu nanti bisa mendapat perhatian. Seperti misalnya Hamka dulu; dia dapat menampilkan sastra pesantren karena dia sendiri sudah mendapat tempat. Ini saya yakin sekali. Karena kini juga ada Festival Sastra Pesantren. Jadi perhatian itu tergantung minat dari dunia pesantren di kita. Tentang Art to Art, Gus, Anda setuju dengan hal ini? Tidak. Untuk apa kalau seni untuk seni. Tetapi Gus, pandangan mereka jika seni itu untuk seni, maka bisa menembus bidang budaya, agama, politik dan ekonomi global. Artinya ia tidak dibatasi oleh batas-batas politik, agama dan daerah. Ia bisa menembus batas-batas teritorial. Tidak. Untuk apa jika seni untuk seni. Menurut saya ya seni untuk manusia. Haha... Itu hanya sok-sok-an. Kalau sampeyan melukis yang bagus-bagus bukan untuk manusia, terus buat apa? Gak ada pameran lukisan. Jadi untuk disimpan saja di gudang? Kalau saya, seni untuk manusia. Dia akan memperkaya batin manusia dan seterusnya. Kebebasan di kita itu tidak demikian; masih terbatas. Terus kalau ditanya yang membatasi itu siapa, ya Gusti Allah. Fenomena sufisme tampaknya bukan seni untuk manusia Gus. Namun mengarah bahwa seni bagi golongan ini adalah ekspresi keimanan mereka, sehingga mereka merasa bebas, lepas dari ikatan manusia kemudian menyetubuhi seni itu. Tanggapan Gus Mus? Kalau menurut saya seni bagi kaum sufi itu tidak demikian. Seni bagi mereka adalah untuk Tuhan. Sufi itu pendekatannya adalah keindahan, adalah cinta. Seperti kisah Rabi'ah al Adwiyah; dia tidak perduli pada apa pun kecuali pada Allah. Jadi apa pun yang dia ekspresikan hanya untuk Allah, tidak untuk siapa-siapa. Sedangkan bagi orang awam seperti saya, seni itu untuk manusia. Manusia itulah yang untuk Allah. Jadi kalau seperti Rumi atau Umar Kayam, semua sufi-sufi itu adalah penyair, karena mereka mengekspresikan cinta kasih. Dan cinta kasih itu kepada Tuhan. Berbeda dengan ulama fikih. Mereka melihat Tuhan itu dengan pendekatan khauf (takut). Tetapi kalau sufi dengan cinta. Ini implementasinya dalam kehidupan akan berbeda. Kaum sufi kelihatannya bebas sekali, karena menggunakan pendekatan cinta. Kalau saya beribadah, itu karena Allah. Jika saya tidak melakukan kemungkaran, itu karena saya cinta Allah. Itu berbeda dengan orang yang melakukan ibadah karena takut kepada Allah, tidak melakukan kemungkaran karena takut Allah. Itu memengaruhi prilaku. Orang-orang sufi akan kelihatan lebih bebas. Kenapa? Karena jika orang itu hanya mau dijajah oleh Allah, maka ia akan menjadi orang yang sangat bebas. Dan dia kreatif sekali karena dia sangat bebas. Oleh karena itu, jika ditanya tentang konsep saya berkesenian, itu tetap la ilaha illa Allah. Siapa yang akan melarang saya melukis matahari dengan warna hijau misalnya. Saya harus jadi khalifah terhadap karya saya itu. Itu semua kunci dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Dan sekali lagi tidak art to art. Namun bagaimanapun bebasnya seni itu, toh nantinya akan berbenturan dengan manusia. Nah, menurut Gus Mus, sampai di mana batas kebebasan karya seni dalam interaksinya dengan manusia? Kebebasan itu berhenti ketika berbenturan dengan kebebasan orang lain. Kebebasan dibatasi juga oleh kebebasan. Jadi misalkan saya mendengarkan radio, karena telinga milik saya sendiri dan radio saya sendiri yang membeli. Tetapi orang lain juga bebas beristirahat, bebas untuk tidak mendengarkan apa pun. Maka dalam keadaan itu saya harus berhenti. Kalau Gus Mus masih terikat dengan kalimat la ilaha illa Allah dalam mengekspresikan seni, berarti Gus Mus tidak bebas, sebab masih terikat agama? Oh, tidak. Saya sangat bebas. Buktinya tidak ada yang mengikat saya. Jika orang mengatakan puisi saya puisi kritik sosial, religius kek atau apa gitu, itu bukan urusan saya. Melukis kaligrafi pun saya tidak terikat dengan bentuk khat, apakah itu diwani dan sebagainya. Orang juga bebas untuk menilai, menyukai atau tidak menyukai. Sekarang ada kecenderungan mengikat sastra ke dalam Islam, seperti yang dilakukan Helvy dan kawan-kawan melalui FLP. Mereka berpendapat bahwa sastra harus bertujuan dakwah terhadap manusia. Apakah ini juga mengikat kebebasan? Itu terserah mereka. Saya tidak mau membatasi mereka. Tetapi kalau menurut saya tidak. Allah yang Mahaindah tidak akan menghambat keindahan, malah mencintai keindahan. Inna Allah Jamil yuhibbul jamal. Allah thayyib, wa la yuqbalu illat thayyib. Ada penyair Indonesia yang sangat terkenal. Menurut saya , dulu syair-syairnya sangat indah. Tetapi ketika dia berpretensi untuk berdakwah, malah karyanya buruk. Menurut saya kalau mau dakwah jadi dai saja, jangan jadi penyair. Itu saya, orang lain boleh berbeda. Saya menilai sastra sebagai religius atau tidak dengan melalui dua pendekatan. Goenawan Mohammad melihat karya, bukan melihat pekerjanya. Kalau melihat karyanya, menurut saya karya yang Islami adalah karya yang tidak bebicara semau-maunya. Di Alquran, di akhir surat Syu'ara ada istitsna: illa al-ladzina amanu wa'amilu al-shalihati wa dzakaru allaha katsiraw wantasharu min ba'di ma dhulimu. Nah yang dimaksud tidak sesat adalah penyair-penyair yang berbicara tentang keimanan, berzikir pada Allah, kemudian membela dari kezaliman. Kalau tidak, misalkan berbicara tentang kuda saja, atau cewek saja, soal macem-macem yang tidak ketahuan kepentingannya pada manusia, itu dikecam oleh Tuhan. Tetapi bisa juga melihat dari pekerjanya. Jadi kalau kita melihat dari penyairnya, maka jika penyair itu muslim, seharusnya karya yang dihasilkan religius. Namun kalau kita tidak tahu siapa penyairnya, kita bisa lihat karyanya. Misalnya Rendra, sebelum dia masuk Islam, dia sudah menulis puisi-puisi yang membela orang-orang lemah dari kezaliman. Saya mengatakan ini puisi Islami. Karena karyanya pembelaan (terhadap yang terzalimi). Jika orang seperti saya harus menulis puisi yang Islami, maka apa nanti bisa diterima oleh orang lain yang bukan muslim? Lo, itu tidak usah diniati. Saya nulis tidak pernah diniati. Niat dakwah ya tidak, niat ber-Islam-Islam ya tidak. Nulis saja. Sampeyan jadi penyair, tulis aja apa pun. Itu otomatis, jadi ngak perlu pake niat. Wong sampeyan Islam kok. Kalau sampeyan itu Islam sejati, apa yang anda lakukan harus selalu Islami mestinya. Contohnya kalau sampeyan mau minum begini, terus mengucapkan bismillah, nah bismillah-nya tidak usah niat. Itu otomatis. Wong orang yang bukan muslim saja, syair-syairnya ada yang Islami, karena naluri Islam itu fitrah. Kalau tidak dipengaruhi apa-apa, seorang penyair yang bukan muslim pun akan menulis secara Islami. Itu fitrah. Karena karya cipta itu dia mengerahkan seluruh cipta karsa. Semua itu keluar otomatis sebagai identitasnya. Tardji bahkan ketika minum arak sekalipun, saat menulis puisi sangat-sangat religius. (Aguk Irawan)*** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

