Kang Letug, Sampeyan ini ampuh tenan. Potret itu memang saya lihat setiap hari tapi saya ndak bisa ngasih label buat potret negara ini. Dan sampeyan secara cespleng mampu memberikan nama yang ciamik. Salut deh. Saya sangat setuju dengan label 'mati rasanya bangsa' kita rasakan yang semakin parah setiap harinya. Saya juga setuju dengan 'terapi hentakan' untuk membuat hati kita peka kembali. Oleh karenanya, tabib-tabib bangsa yang mempunyai kiblat kemanungsan [bukan cuma agama], yang mampu berkonsep, mampu berkata-kata dan yang paling penting mampu berbuat untuk menyembuhkan 'numbness' bangsa kita ini, sangat diperlukan. Barangkali sampeyan bisa jadi salah satu tabib itu. Salam manis, Al-Kafirun
Tangkisan Letug <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dari Sebuah Percakapan: MATI RASA DALAM BERBANGSA Oleh Tangkisan Letug Dalam sebuah konteks konseling, seorang konselor mestinya bisa menyadarkan klien akan keadaan dirinya seperti apa. Menurut kawan yang adalah seorang ahli konseling, banyak masalah kejiwaan berada pada tahap disensitisasi (disensitization). Artinya, seorang menjadi buta akan sesuatu karena kebiasaan. Misalnya, seorang menjadi pecandu obat bius tidak bisa lagi melihat bahayanya untuk terus menerus mengonsumsi obat bius. Begitu juga dalam level psikologi sosial, masyarakat bisa menjadi begitu buta terhadap berbagai kekerasan karena sudah terbiasa melihatnya sebagai berita atau tontonan. Disentisasi telah menjalar ke dalam berbagai bidang kehidupan kita. Juga terhadap bidang kehidupan religius. Nilai-nilai moral dengan begitu gampang dianggap tidak berharga dan berarti ketika segala perilaku imoral dan kekerasan dalam berbagai bentuknya menjadi hidangan media setiap harinya. Orang secara sosial dengan mudah menjadi �mati rasa� (numb) terhadap tuntutan moral. Satu fenomen yang tampak semakin kasat mata adalah �kematian rasa� kita terhadap berbagai kekerasan. Bentuk kekerasan yang terjadi di tanah air kita telah menunjukkan tingkat yang sungguh membahayakan. Bila di jaman Orde Baru kita sudah terbiasa dengan berbagai pembunuhan dan kekerasan, baik yang atas nama negara atau atas nama komplotan penjahat, kita bisa melihat para pelakunya memanglah orang-orang yang sangat dekat dengan kultur kekerasan, seperti tentara dan preman. Korbannya pun biasanya warga sipil, aktivis, atau bahkan para pemimpin agama. Kita ingat para korban dari aktivis pro-demokrasi yang hilang dan mati secara misterius. Kita ingat juga pembantaian kyai di Situbondo. Ditilik dari para pelakunya, pada umumnya masih terkait dengan kelompok penguasa. Oleh karena itu, sampai sekarang hampir tidak ada kasus kekerasan politik yang tuntas. Kita bisa ingat kasus kekersan yang relatif �kecil� seperti kasus Sum Kuning, kasus Udin, kasus Marsinah. Kasus-kasus itu seperti menguap dan hilang dari perbincangan para penegak hukum. Tetapi di masa reformasi kini, kekerasan telah melanda juga di kalangan kaum agama. Para pemimpin agama, atau katakanlah orang-orang yang diharapkan menjadi benteng moral agama, telah terseret ke dalam pelakunya. Kita bisa merujuk ke konflik di Maluku, di Poso, di mana tidak sedikit kaum agamawan mempersenjatai diri dengan senjata perang. Bahkan baru-baru ini diberitakan seorang gadis diperkosa oleh beberapa orang termasuk di antaranya santri dari Pondok Pesantren. Dan hal itu terjadi selama masa lebaran. Kemudian di Poso bom kembali meletus dan seorang kepala desa dipenggal kepalanya. Lalu, ada permintaan dari para kepala desa supaya diberi senjata untuk mempertahankan diri. Di kalangan keluarga-keluarga, terjadi juga kekerasan yang semakin menggila. Suami membunuh isteri, isteri membunuh suami. Anak membunuh ayahnya, ayahnya membunuh anaknya. Anak perempuan diperkosa ayahnya, ayahnya dibunuh anak perempuannya. Inilah kiranya sebuah tahap mengerikan sebuah masyarakat yang bernegara. Baik masyarakat maupun aparatur negara seperti sedang mengalami �mati rasa� terhadap tuntutan moral. Tetapi apakah dengan demikian tidak ada jalan keluar bagi kita? Sebagaimana sebuah krisis psikis, perlulah ada orang yang menghentak kesadaran baik di tingkat elit maupun di tingkat masyarakat, bahwa kita sedang mengalami disensitisasi budaya! Sebagaimana sebuah penyakit yang kritis, perlulah sebuah sentuhan jitu atas titik-titik kunci penyakit kita. Memang akan menyakitkan bagi kesembuhan bangsa dan negara, dan bagi yang terkena butuh pengurbanan sakit yang tak terkira. Tetapi hanya itulah cara kita mampu bangkit dari �kemaitan rasa� sebagai sebuah bangsa dan negara. Bila tidak dilakukan langkah segera, hanya penyebaran penyakit sajalah yang terjadi. Dan itu berarti tubuh bangsa ini akan terus menerus menanggung derita sampai kesudahannya. Apakah titik kritis yang perlu disembuhkan segera bagi kita? Titik kritis itu adalah impunity yang masih dianggap ruang aman bagi para pelaku durjana. Sakit memang menyentuhnya. Penuh resiko, tentu saja. Tetapi, membiarkannya hanya berarti membuat penyakit semakin merajalela menggerogoti seluruh tubuh bangsa. 17 November 2004 __________________________________ Do you Yahoo!? The all-new My Yahoo! - Get yours free! http://my.yahoo.com *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links --------------------------------- Do you Yahoo!? Discover all that�s new in My Yahoo! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

