Firdaus adanya di Bumi, bukan di Surga
 
Pengantar
 
Kawans,
 
Posting kali ini didominasi oleh rekan Aminta Ginting <[EMAIL PROTECTED]> untuk 
'meluruskan' posting sebelumnya.
Opini yang ia uarkan mencakup tentang agama langit, Taman Eden, 
Adam & Hawa, buah apel, Surga & Neraka, Post-Mo, ayat hitungan hari, 
dan juga jenis kelamin Allah. Sekilas, ia juga sempat menyinggung soal 
'serbuan agama-agama asing' ke Indonesia di masa lampau. Dilengkapi 
pendapat dari ustadz H. Muh. Nur Abdurrahman di Makassar, khususnya
tentang penciptaan Adam & Hawa, dan tentang Firdaus. Sebagai catatan,
pak ustadz ini kerap menulis artikel untuk Harian Fajar, Makassar.
Sayangnya, pak ustadz belum punya email, jadi kalau ada hal-hal 'urgent'
yang perlu saya tanyakan, tak cepat terjawab.  
 
Kini jelas sudah, khususnya buat pemeluk agama-agama langit: Taman Eden
atau Firdaus adanya di planet Bumi, bukan di surga. Genesis (Kitab Kejadian) 
lebih rinci memaparkan tentang taman indah yang dihuni Adam & Hawa tersebut, 
sedangkan Al-Quran yang 'turun' belakangan tak menyebutkannya secara rinci. 
Namun berdasarkan penjelasan  dari ustadz H. Muh. Nur Abdurrahman, ada 6 
keberatan kalau Firdaus 
adanya di surga, antara lain terkendala disebutkannya unsur tanah, 
matahari, keberatan setan masuk surga , dan makna 
kata 'turun' yang ternyata senada dengan 'turun gunung', bukan 'turun 
dari langit' seperti dongeng bidadari turun dari kahyangan. Artinya 
Adam diciptakan di sebuah puncak gunung di Bumi, lalu diultimatum Tuhan
untuk bermukim di Firdaus, sebuah taman di dataran rendah - juga di Bumi.
 
Semoga diskusi ini dapat memberi manfaat buat kita semua.
 
Salam Pencerahan!

Radityo Djadjoeri
<[EMAIL PROTECTED]>
 
--------------------------------------------------------------

Menggali yang belum sempat tergali
 
Kini rekan Aminta Ginting" <[EMAIL PROTECTED]> coba
berkomentar soal topik sebelumnya, "Adam & Hawa: Antara ada dan tiada". 
Ia menjelaskan bahwa apa yang ia bahas bukan untuk membenarkan satu agama 
tertentu, juga bukan untuk menyatakan agama tertentu salah.
Ia berharap, diskusi yang kita lakukan adalah dalam perspektif menggali
yang belum sempat digali, bertukar pikiran, dan tidak ada unsur memecah
belah. "Misal saya mengutip Bible, itu bukan bentuk pembenaran diri 
sendiri, tapi karena hanya itu yang saya tahu. Kan nggak lucu kalau 
saya mengutip yang saya nggak pernah tahu. Saya juga akan terbuka bila 
teman-teman mengutip dari kitab suci lain. Ini forum ilmiah," ujar Aminta.
 
Agama langit
 
Aminta kurang sependapat dengan penggunaan istilah 'agama langit' atau
agama samawi. Tentunya istilah 'langit' ditafsirkan sebagai "sesuatu 
yang dari atas". "Padahal, semua agama kan sumbernya dari 'atas', tidak 
ada yang datang dari samping, tidak ada yang dari bawah. Kalau dipakai 
istilah itu, akan mengurangi "keluhuran" dari ajaran agama yang 
'non langit'.
 
Lalu ia berkomentar soal masuknya beragam 'agama-agama asing' ke Indonesia.
Menurutnya, kala itu Indonesia bukanlah suatu pusat kebudayaan, jadi 
jangan harap bahwa kita bisa punya suatu 'agama' tersendiri. Adanya
agama yang datang dari luar itu menurutnya wajar, lalu berubah wujud 
seolah-olah menjadi 'nature' dalam masyarakat kita. Bukankah selama ini
selalu dibilang bahwa Aceh itu identik dengan Islam. Sampai-sampai 
kalau ada warga suku Aceh yang beragam non Islam, tak lagi diakui 
sebagai orang Aceh. Begitu juga orang Batak yang 'kadung' menganggap 
Batak identik dengan Kristen. Kalau ada orang Batak memeluk agama Islam,
sering tidak "comfortable" mencantumkan marga. Padahal, walau apapun 
agamanya, toh darah daging kita tak mungkin bisa diubah.
 
Meluruskan 'tragedi buah apel'
 
Aminta lalu coba meluruskan tentang penggunaan istilah 'buah apel'.
Menurutnya, dalam kitab suci manapun tak ada yang pakai istilah itu. 
Di Perjanjian Lama disebut "buah pohon pengetahuan". Dosa = pelanggaran atas 
hukum 
Allah. Dosa = sudah disuruh jangan dimakan, masih juga dimakan. Lalu 
mereka "diusir" keluar. Di kitab Genesis (Kejadian) ada ayat: 
"Pada waktu kamu memakan buah itu kamu akan mati."
"Nah, setelah dimakan, mereka toh tak langsung mati. Dalam hal ini, 
istilah "mati" itu berarti terpisahnya hubungan antara Pencipta dan 
yang diciptakan. Tuhan itu kelakuannya bukan seperti Pemerintah Indonesia, 
yang hari ini menyebut seseorang jadi 'pahlawan', besok-besoknya dianggap 
bukan siapa-siapa. Begitu juga soal Nabi. Itu adalah hak mutlak Tuhan. 
Susah berdebat untuk sesuatu yang 'monisme'," ujar Aminta.
Catatan moderator: Al-Quran dan Hadits menyebutnya 'buah quldi' dan 
'pohon kayu'. Apakah pohon kayu = pohon pengetahuan?
 
Tentang Surga dan Neraka
 
Aminta meyakini, bahwa Tuhan itu tak kejam. Tuhan itu Adil. Dia ciptakan
Surga dan Neraka. Orang yang tak mau memilih surga, mau ditaruh dimana? 
Satu-satunya tempat ya di Neraka. Bukankah niat awal dari semua 'creation' 
adalah untuk kebaikan? "Dalam agama juga saya masih melihat ada semacam
'escape clause', dimana walaupun suatu agama selalu mengklaim dirinya
yang benar, yang lain tidak benar. Bukan berarti bahwa tidak ada
jalan sama sekali bagi si miskin di India untuk ke sorga. Bukankah
dikatakan bahwa untuk orang-orang yang mati sebelum mendengar kabar
keselamatan, Allah akan menghakimi mereka menurut hati nurani mereka.
Sebab tidak adil dong Tuhan menghukum di neraka orang-orang yang
sudah 'terlanjur dipanggil Tuhan' sebelum dia mengutus
Nabi-Nya untuk menyampaikan kabar keselamatan." Bagaimana caranya? 
"Hanya Tuhan yang tahu caranya, saya tidak," jelas Aminta.
 
Tentang Post-Mo
 
Bahasan tentang Post-Mo adalah tidak lagi diakuinya kebenaran
mutlak. Jadi kalau orang Islam menyatakan kebenaran, dia akan bilang
itu kebenaran relatif. Orang Kristen menyatakan kebenaran, itu akan disebut
kebenaran relatif. Orang Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Tao dan lainnya,
bila menyampaikan kebenaran, juga akan dikatakan sebagai kebenaran 
relatif. Kita harus hati-hati. Bukankah pada tahap ini Post-Mo itu 
sedang mengukuhkan bahwa dirinya satu-satunya kebenaran mutlak itu?
Padahal di dunia ini harus ada (exist) kebenaran mutlak itu. Benda
mutlak jatuh ke bawah. Salah satu agama mutlak ada yang benar. Yang
tidak boleh itu adalah adanya pengklaiman bahwa dirinya kebenaran
mutlak, sambil memaksakan kebenaran itu ke orang lain di ranah
publik. Jadi dalam tatar operasional, kita ini harus kompromi,
toleransi. Tanpa kebenaran mutlak, "we all go nowhere".
 
Tentang hitungan hari
 
Di posting sebelumnya, rekan Caligula pernah menyitir sebuah ayat 
berikut ini:
"Wahai manusia, alam semesta ini dibuat dalam enam hari, yang
satu hari sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu." 
 
Menurut Aminta, ayat tersebut dalam Alkitab ditempatkan dalam 2 buku 
terpisah. "Alam semesta ini dibuat dalam enam hari" - termuat di Kitab 
Kejadian, yang berkisah tentang bagaimana kejadian alam semesta ini. 
Apakah 1 hari disini setara dengan 1 hari sekarang di Bumi?
 
"Satu hari sama dengan seribu tahun" - ada di Perjanjian Baru, tepatnya 
di Kitab Petrus, ditulis Paulus kepada Petrus. Ini kitab penggembalaan
(Apostolis).
 
"Memahami Alkitab itu harus dalam konteksnya, tidak boleh sepenggal-sepenggal. 
Kalau ada waktu, baca deh ayat-ayat sebelumnya. Disana dikatakan bahwa 
anggaplah waktu yang diberikan Allah itu sebagai kesempatan untuk 
bertobat. Allah bukan lalai dalam menepati janjiNya, sebab bagi Allah 
(karena dia tak terikat ruang dan waktu) 1 hari sama dengan seribu 
tahun."
 
"Ada sekte-sekte dalam agama Kristen yang mencoba menafsirkan kapan 
dunia ini kiamat. Menurut saya penafsiran ini lebih condong kepada 
pencarian popularitas, bukan dalam rangka antisipatif. Kalau antisipatif, 
tobat saja, hidup yang bener. Kapan datangnya, kita sudah siap. Sekte 
itu menghitung bahwa menurut Alkitab 1 hari = 1000 tahun. Akhirnya ada 
yang menebak-nebak kapan kiamat. Ternyata sampai saat ini hitungan mereka 
tak juga terbukti benar. Anehnya, masih saja ada yang terus menghitung."
 
Allah tak punya jenis kelamin
 
Ada yang bertanya, apa jenis kelamin Allah? Aminta menjawab: "Allah itu 
tak punya jenis kelamin. Jenis kelamin itu kan berhubungan dengan 
reproduksi. Kalau ada tulisan bahwa Allah menjadikan manusia sesuai
"gambar" (citra diriNya), artinya adalah manusia itu dibuat Allah 
mewarisi "feature" yang dipunyai sang Creator Agung. Gambaran mengenai 
sifat Allah sendiri kadang lebih dominan ke maskulin, tapi kadang juga 
ke arah feminin - misalnya istilah "rahman, rakhim" --> merujuk kepada 
kasih sayang, 'affection' seorang Ibu kepada anaknya. Just a thought."
 
Tentang Taman Eden (Firdaus)
 
Aminta amat yakin bahwa Tuhan telah menciptakan Adam & Hawa. Mereka 
ditempatkan di den, Taman Eden, Firdaus, paradise, yaitu sebuah tempat - 
deskriptif - yang nyaman, semua ada, benar-benar 'gemah ripah loh 
jinawi'  - bukan sekadar semboyan. Jadi Firdaus itu bukan di akhirat, 
bukan juga di alam lain, tapi di planet Bumi. Genesis pada Bible menyebutkan 
ada 4 sungai yang mengalir, salah satunya Sungai Eufrat, sekitar wilayah 
Irak-Iran sekarang. Berarti Taman Eden atau Firdaus itu adanya di 
planet Bumi, bukan di akhirat.
 
Pada posting sebelumnya, rekan Bono Emiry <[EMAIL PROTECTED]> 
juga telah memberikan informasi tentang Taman Eden. Ia mengutip Alkitab 
Perjanjian Lama - tepatnya di Kitab Kejadian (Genesis): Adam & Hawa  
'turun' di Taman Eden yang berlokasi di daerah Mesopotamia (Irak sekarang), 
antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris. 
 
Pendapat itu diperkuat masukan dari ustadz H. Muh. Nur Abdurrahman di 
Makassar. Menurutnya, kalau Adam dan Siti Hawa mula-mula tinggal dalam 
surga (jannah) yang sesungguhnya di akhirat kelak, maka ada enam keberatan, 
dengan alasan 'aqliyah (rasional) dan naqliyah (scriptural).
 
Keberatan pertama:
Adam dan Siti Hawa ibarat dalam cerita 'science fiction' bisa menerobos 
waktu, berjalan mundur dari akhirat ke alam dunia. 
(alasan 'aqliyah)
 
Keberatan kedua: 
Diharamkan bagi setan masuk ke dalam surga di akhirat. Dalam ayat disebut 
'Azallahumasy Syaythanu', setan menipu keduanya dalam jannah. 
(alasan 'aqliyah dan naqliyah)
 
Keberatan ketiga: 
Kalau 'jannah' itu surga di akhirat, mengapa masih ada larangan bagi Adam
& Hawa untuk mendekati pohon itu: 'Janganlah engkau berdua dekati pohon 
kayu ini'. 
(alasan 'aqliyah dan naqliyah)
 
Keberatan keempat: 
Adam dibuat dari tanah: "Engkau jadikan aku (iblis) dari api dan Engkau 
jadikan dia (Adam) dari tanah" (S. Al A'ra-f, 12). Karena Adam dijadikan 
dari tanah, maka ia dibuat di bumi ini. Tidak ada keterangan dalam Al-Quran 
dan Hadits bahwa Adam dan Siti Hawa di-'mi'raj'-kan ke surga.
(alasan 'aqliyah dan naqliyah)
 
Keberatan kelima: 
Kalau itu surga yang sesungguhnya di akhirat, mengapa ada matahari di 
dalamnya: "Sesungguhnya engkau tiada lapar di dalamnya dan tiada pula 
bertelanjang. Dan sesungguhnya tiada engkau haus di dalamnya dan tiada 
(merasa panas) waktu matahari naik." (S. ThaHa, 118 - 119).
(alasan 'aqliyah dan naqliyah)
 
Keberatan keenam: 
"Qulna- hbithuw Ba'dhukum liBa'dhin 'Aduwwun" (S.Al Baqarah 36), 
artinya: "Turunlah kamu, sebahagian menjadi musuh dari sebahagian yang 
lain." Adapun makna perintah Allah ihbithuw, 'turunlah', tidaklah 
seperti bidadari turun dari kayangan dalam dongeng. Kata 'turun', 'habatha', 
dalam Al Quran dipakai untuk pengertian air yang meluncur turun (S.Al Baqarah 
74), 
Nabi Nuh AS turun dari kapalnya (S. Huwd 48) dan Bani Israil disuruh 
turun ke kota, 'go down town' (S.Al Baqarah 61). Jadi perintah Allah 
'ihbithuw', 'turunlah', dalam pengertian topografis, dari tempat ketinggian 
di permukaan bumi ke tempat yang lebih rendah. 
(alasan naqliyah)
 
Apa yang dimaksud Jannah dalam Al Quran?
- Walladziyna A-manuw wa'Amiluw shShaliha-ti Ula-ika Ashha-bul Jannati
Hum Fiyha- Kha-liduwna (S. Al Baqarah 82), artinya: Orang-orang yang
beriman dan beramal salih, mereka itu penghuni al Jannah, mereka kekal 
di dalamnya (2:82). 
- 'Indaha- Janntu lMa'wa- (S. AnNajm, 15), artinya: Dan di dekatnya
Jannah tempat diam.
 
Dalam ayat di atas itu 'al Jannah' dan 'Jannah' berarti surga di akhirat
kelak.
Selanjutnya marilah kita perhatikan ayat berikut ini:
- Wa Matsalu Lladziyna Yunfiquwna Amwa-lahumu bTigha-a Mardha-tiLlah 
wa Tatsbiytan min Anfusihim kaMatsali Jannatin biRabwatin Asha-baha- 
Wa-bilun (S.Al Baqarah, 265), artinya: 
"Umpama orang-orang yang menafkahkan hartanya, karena mengharapkan ridha
Allah dan menetapkan (keimanan) dirinya, seperti Jannah di dataran 
tinggi yang ditimpa hujan lebat."
 
Dalam ayat di atas 'Jannah' berarti taman atau kebun di permukaan bumi ini.
Jadi menurut Al-Quran yang dipergunakan sebagai kamus, 'Jannah' dapat
berarti surga di akhirat, atau dapat pula berarti taman di permukaan 
bumi ini, sesuai dengan konteks ayat itu masing-masing.
 
Walhasil 'jannah' yang dimaksud tempat Adam & Hawa bersenang-senang
kemudian keduanya ditipu setan adalah suatu taman di tempat di permukaan 
bumi ini.
 
Adam & Hawa manusia pertama di Bumi?
 
Menurut mBah Soeloyo <[EMAIL PROTECTED]>, kisah penciptaan Adam & Hawa
termuat pertama kali di Taurat yang turun pada tahun 2.000 SM (BC), 
kemudian ceritanya 'melebar' atau 'menciut' dengan turunnya Injil, 
lalu Al-Quran - dengan penafsiran yang berbeda-beda. Menurut Aminta, 
dalam Alkitab disebut bahwa Adam & Hawa adalah manusia pertama di Bumi. 
Cuma sayangnya, isi Alkitab itu sering sekali berisi sejarah, puisi, 
prosa, dogma, kiasan, dan lainnya. Istilah 'Adam', menurutnya  punya 2 
makna: 1. sebagai nama oknum ; 2. sebagai sebutan untuk "men" (laki-laki).
 
Mengapa uraian 'agama langit' sepertinya saling bertentangan? "Saya 
lihat yang bertentangan itu adalah isi Perjanjian Lama (PL) dan 
Perjanjian Baru (PB) di satu sisi, dan Al-Quran disisi lain. Perbedaan 
itu bisa jadi karena perbedaan tahun penulisan, versi penulisan dan 
lainnya. Soal mana yang benar mana yang salah, tunggu kita semua mati. 
Nanti disana kita tanya sama Tuhan," tegas Aminta.
 
Lantas apakah temuan teori evolusi serta merta mementahkan isi kitab 
suci? "Menurut saya tidak juga. Kitab suci dan sains itu dua jalur yang
berbeda. Metodologinya berbeda. Bahasa yang digunakan beda. Tujuannya 
berbeda pula. Menerjemahkan kitab suci itu susah. Misalnya "satuan hari" 
dalam PL itu susah ditafsirkan: apakah 24 jam, apakah 12 jam? Sebagai 
informasi, di zaman Romawi mula-mula kalender 1 tahun = 10 bulan. Lalu 
ditambah 2 bulan, maka 1 tahun = 12 bulan. Berarti 1 tahun di zaman 
Romawi sebelum perubahan itu, setara dengan 10/12 tahun versi sekarang 
yang mengenal 12 bulan basis. Jadi sebelum ada satuan exact untuk 
mengukur kedua belah pihak, maka susah untuk dikatakan bahwa yang satu 
sudah mengalahkan yang lain. Metode konversinya 'kudu' ketemu dulu." 
 
Menurut ustadz H.Muh. Nur Abdurrahman, menyitir Al-Quran S. Al A'la 1 
dan 2, Allah berfirman: 
Sabbihisma Rabbikal A'la. Alladzie khalaqa fa sawwa, sucikanlah nama 
Maha Pengaturmu Yang Maha Tinggi. Yaitu yang mencipta lalu menyempurnakan. 
 
Allah mengatur hasil ciptaannya dengan TaqdiruLlah yang dapat dipelajari 
oleh manusia dalam batas tertentu. Yaitu proses alamiah yang dapat 
ditangkap oleh panca indera dan instrumen. Ayat yang dikutip di atas itu
menunjukkan makhluk ciptaan Allah itu sesudah diciptakan Allah dimulai 
dari tidak sempurna kemudian berproses menjadi sempurna menurut TaqdiruLlah.
 
Makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna adalah manusia, fiy ahsani
taqwiym, sebaik-baik kejadian. 
Artinya manusia itu adalah akhir dari proses makhluk menjadi sempurna. 

Ini dapat kita lihat dalam S.Al Hijr ayat 29 dan 30:
"Waidzqaala rabbuka li lmala-ikati inniy khaaliqun basyaran min 
shalshaalin min hamain masnuwn. Faidzaa sawwaytuhu- wanafakhtu fiyhi 
min ruwhiy ...,"
 
"dan ingatlah ketika Maha Pengaturmu berkata kepada para malaikat
sesungguhnya Kuciptakan manusia dari tanah kering kehitaman yang 
berubah wujud. Ketika telah Kusempurnakan dia Kutiupkan ruh ciptaanKu 
kedalam tubuhnya..."
 
Dapatkah teori evolusi dipakai sebagai ilmu bantu dalam memahami
proses penyempurnaan makhluk ciptaan Allah menjadi manusia yang fiy 
ahsani taqwiym, sebaik-baik kejadian?
Menurut ustadz, ada dua keberatan: 
Pertama, Adam dan Hawa tinggal dalam 'jannah', bersuka-ria di dalamnya, 
makan buah-buahan apa saja yang mereka inginkan (S.Al Baqarah 35). 
Bagaimana mungkin proses evolusi dapat menjangkau kesana?
(Catatan moderator: sebelumnya pak ustadz bilang bahwa 'jannah' disini 
adanya di Bumi, bukan di akherat. Belum ada penjelasan lebih lanjut dari pak
ustadz tentang hal ini. Kalau 'jannah' adanya di bumi berarti teori
evolusi bisa berlaku).
Kedua, Siti Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam
(Catatan moderator: Akan dibahas terpisah. Intinya, ternyata perempuan 
tak tercipta dari tulang rusuk lelaki).
 
Sebelum Allah memerintahkan Adam, Hawa dan setan turun dari taman,
telah terjadi sebelumnya Allah mengusir iblis keluar dari 'alam malakut'
(S. Shad 77), karena sifat takabur iblis. Jadi kita harus membedakan 
antara alam malakut tempat iblis mula-mula berada bersama para malaikat
dengan 'jannah' tempat Adam, Hawa dan setan diperintahkan turun oleh 
Allah SWT. 
 
Allah berfirman dalam S. Al Baqarah 30 - (sudah dibahas sebelumnya)
Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 4:15 - (sudah dibahas sebelumnya) 
Perbedaan makhluk pra-Adam itu dengan Adam & Hawa, makhluk pra-
Adam hanya diberi naluri saja. Sedangkan Adam & Hawa di samping 
naluri sudah diberi nafsu (jiwa, kedirian, personality) dan ruh oleh 
Allah SWT, dan inilah akhir dari proses penyempurnaan fiy ahsani 
taqwiym, manusia terdiri atas tataran jasmani, nafsani dan ruhani.
 
Dengan ruh itu Adam & Hawa mempunyai tenaga batin dan menjadi makhluk 
berakal. Adam dan Hawa serta keturunannya apabila mati naluri dan 
nafsnya berhenti bekerja dan ruhnya berpindah ke alam barzakh, lalu 
ke alam akhirat. Sedangkan makhluk pra-Adam yang hanya punya naluri 
saja seperti binatang yang lain. Jika nalurinya mati alias 
berhenti bekerja, dan karena tidak punya ruh, tidak mempunyai hari 
kemudian.
 
Adam dan Hawa diciptakan dari tataran nafs (diri) yang satu seperti
firman Allah dalam (S. An Nisa-, 1): Ya-ayyuha nna-su ittaquw rabbakumu 
lladzie khalaqakum min nafsin wa-hidatin wa khalaqa minha- zawjaha- wa 
batstsa minhuma-rija-lan katsiyran wa nisa-an (S. AnNisa-u,1). 
"Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Maha Pengaturmu yang telah 
menciptakan kamu dari diri (jiwa) yang satu dan dari padanya menciptakan 
jodohnya dan dari pada keduanya memperkembang-biakkan laki-laki dan 
perempuan yang banyak."
 
TaqdiruLlah yang tidak ditanam ini seperti: Nabi Muhammad SAW di'isra 
mi'raj'kan oleh Allah, dari sela-sela jari beliau keluar air,
Nabi Ibrahim as tidak dimakan onggokan api, tongkat Nabi Musa as
membelah Laut Merah, Nabi Isa as dilahirkan tanpa ayah serta beliau 
dapat menghidupkan orang mati dengan seizin Allah SWT. Demikian pula 
Adam & Hawa diciptakan langsung dari tanah, tidak mengalami proses evolusi. 
 
Apakah kita semua keturunan Adam & Hawa?
 
Ada satu pertanyaan yang hingga kini masih menggantung: apakah kita 
semua yang hidup di masa kini adalah keturunan Adam & Hawa? Menurut 
rekan Ridwan <[EMAIL PROTECTED]>, 'agama langit' - agama orang Yahudi, 
Kristen, Islam - amat 'lengket' dengan Tanah Arab di Timur Tengah. 
Bangsa-bangsa Arab dan Yahudi - menurut Al Qur'an dan Taurat - adalah 
'orang-orang pilihan Tuhan' alias 'the choosen people'. Jadi sejarah 
yang berkaitan dengan 'agama langit' sebenarnya adalah sejarah 
orang-orang Timur Tengah, alias tidak universal. 
 
Pertanyaan: Jadi, yang bukan keturunan Adam adalah keturunan manusia 
purba alias pra-Adam alias 'banu jan'?
 
Lalu rekan Alli Indo <[EMAIL PROTECTED]> bertutur, bahwa pemikiran yang 
mempertanyakan 'tak semua umat manusia di bumi adalah keturunan Adam 
& Hawa' pernah menjadi bahan diskusi hangat di mata pelajaran 
sejarah sewaktu SMA. "Pak Guru sampai pusing menerangkannya," kenangnya.
 
Namun ia berpendapat, bahwa seseorang yang dicatat oleh sejarah baik
itu melalui kitab suci maupun sejarah suatu bangsa, adalah orang-orang
khusus - karena orang biasa tak mungkin dituliskan atau dicatat 
perjalanan sejarah hidupnya. Ada sebuah adagium: "pemenanglah penulis 
sejarah, sedangkan mereka yang kalah ditelan oleh sejarah." Jadi tidak 
heran seperti peristiwa G30S PKI sampai sekarang pun sejarahnya masih 
buram dan muram. Itu dalam kurun waktu yang relatif masih puluhan tahun, 
apalagi menyangkut kurun yang sampai berabad-abad lamanya.
 
"Apalagi agama samawi yang diturunkan dari 'langit' ke Abraham (Ibrahim)
itu pada awalnya hanyalah semacam ilham atau percakapan
dengan Tuhan secara pribadi. Tidak diterangkan perihal dari awal asal 
manusia melalui Nabi Adam & Hawa. Yang juga menarik adalah sejak kapan 
nama Nabi Adam & Hawa ini masuk dalam kitab-kitab suci agama samawi ini? 
(red: tahun 2.000 SM, saat kitab Taurat 'turun'). Menilik kembali janji 
dari Tuhan untuk menjadikan keturunan dari Abraham (Ibrahim) ini 
memenuhi bumi. Dimana yang jelas keturunan dari Abraham (Ibrahim) ini 
adalah orang-orang Yahudi dan Arab, bukan manusia ras lain," ujar Allindo.
 
Ia punya pendapat bahwa Nabi Adam & Hawa sebagai manusia pertama 
hanyalah bagian dari ajaran agama samawi itu sendiri. Pada agama dan 
kepercayaan lainnya, manusia pertama bukanlah Nabi Adam & Hawa tetapi menurut 
penamaan lokalitas masing-masing. "Jadi tidak sepenuhnya benar kalau 
Nabi Adam & Hawa adalah manusia pertama. Benar untuk kepercayaan agama 
samawi, sedangkan untuk yang lain salah."
 
"Manusia yang beragam ras atau etniknya itu untuk menunjukkan bagaimana
kita bisa saling memberi dan membagi kelebihan serta kekurangan. Bukan 
untuk saling melenyapkan apalagi mendefinisikan dirinya sebagai 
keturunan lain dari muasalnya, dan merasa bangga dan bermetamorforsa 
menjadi ras yang diidentikannya itu," ulas Allindo.
 
Pendapat Allindo diperkuat oleh argumentasi dari rekan Jusfiq Hadjar 
<[EMAIL PROTECTED]> di Belanda: "Masih ingat 
salah satu pelajaran pertama dari antropologi budaya - etnologi, ilmu 
bangsa-bangsa? Tiap budaya itu punya mitos, tepatnya mitos kejadian 
manusia. Bagi yang mau memperdalam pengetahuan harap baca buku Claude 
Levi-Strauss 'Mythologiques' atau tulisan Edmund Leach".
 
"Coba perhatikan cerita berbagai suku yang ada di Indonesia, biasanya 
ada kisah tentang kejadian manusia. Dan 'manusia pertama' buat 
masing-masing suku itu juga biasanya cuma buat konsumsi suku mereka 
saja. Cerita tentang Adam & Hawa itu hanyalah salah satu dari kejadian manusia 
itu -
yaitu manusia di Timur Tengah, bukan manusia yang ada di Jawa, di Papua,
atau di pegunungan Andes sana yang ketika itu juga tidak dikenal oleh 
orang Timur Tengah. Sebenarnya, mitos tentang Adam & Hawa dan tentang 
kejadian manusia semacam itu telah runtuh oleh teori Darwin. Adanya 
Homo floresiensis, Australopithicos afarensis, Millennium Man dan 
lainnya hanyalah untuk memadatkan atau memperjelas - sembari melakukan 
koreksi kecil dari teori Darwin," jelas Jusfiq.
 
Pendapat Jusfiq diamini oleh rekan Eni <[EMAIL PROTECTED]>,
sarjana Arkeologi UGM yang dulu pernah menyusun skripsi tentang 
'totemisme' - jadi mau tak mau harus memahami pemikiran Claude 
Levi-Strauss. 
 
Menurutnya, tiap budaya memang punya mitos, diantaranya 
menceritakan asal-usul masyarakat pendukungnya. "Rock art di beberapa 
tempat di Indonesia didominasi dengan gambar-gambar manusia kadal, dan 
data etnografi menunjukkan bahwa ada kelompok masyarakat tertentu yang 
percaya nenek moyang mereka adalah binatang melata." Lalu, di Manado 
(Sulut) ada juga mitos 'Toar & Lumimuut' yang bertutur tentang asal-usul
orang Kawanua. 
 
Di penutup emailnya Eny lalu menyimpulkan, "Pada satu 
titik tertentu, rasanya agama memang bisa mengikis eksistensi budaya 
yang ada di suatu masyarakat." 
 
Penutup
 
Nah, kawan-kawan semua, pada sebuah diskusi, munculnya pro dan kontra 
adalah hal yang wajar - anggap saja itu biasa. Di lain waktu akan 
saya beberkan issue-issue baru dari hasil pemikiran dan sumbang saran
peserta diskusi lintas milis ini - yang diharapkan analisisnya kian 
menajam, dengan ulasan yang lebih mendalam. Semoga hasil diskusi ini 
kian menambah wawasan kita: 'telanlah yang menurut kata hati Anda 
itu benar, muntahkanlah bila tak memberi manfaat, apalagi itu racun
mematikan'. Apabila Anda ingin melemparkan opini, silakan kirim email 
ke: [EMAIL PROTECTED], atau ke milis-milis yang menampung diskusi
ini.
 
Dirangkum dan disunting seperlunya oleh Radityo Djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]>



                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Discover all that�s new in My Yahoo!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke