CATATAN MENYAMBUT MATAHARI PAGI:
SURAT TENTANG SASTRA KEPADA ANAS AGE [24] Pikiran dan perasaan seorang sastrawan umumnya diungkapkan melalui figur-figur utama yang ditopang oleh tokoh-tokoh figuran. Tokoh figuran berperan untuk menonjolkan tokoh utama atau sang pahlawan. Dalam sejarah sastra dunia, perempuan memang banyak sekali dan sering diangkat sebagai tokoh utama. Sebabnya barangkali tidak hanya didapatkan pada karena yang sastrawan itu seorang lelaki tetapi juga barangkali terletak pada segi-segi lain. Perempuan sejak mereka berfungsi sebatas alat reproduksi, di tingkat "seks pertama", [artinya di lihat dari segi sejarah perkembangan masyarakat, mode of the production, hubungan manusia dengan alat-alat produksi!], perempuan merupakan lapisan masyarakat yang paling tertindas. Jika menggunakan istilah Mao Zedong, perempuan dihimpit oleh "tiga gunung besar" yaitu :imperialisme, feodalisme dan kekuasaan lelaki. Dalam posisi begini, perempuan merupakan lambang paling mewakili [representatif] kehidupan mayoritas penduduk negeri bahkan dunia. Sehingga mengangkat perempuan sebagai tokoh utama dalam karya, sastrawan sekaligus membicarakan tentang kehidupan mayoritas umat manusia. Perempuan dari segi jumlah dan potensi serta peran, oleh orang Tiongkok disebut sebagai "penyangga separo langit". Pembebasan umat manusia dalam arti mencapai taraf manusia, kehidupan dan masyarakat yang manusiawi tidak akan mungkin tanpa pembebasan perempuan. Faktor lain yang tidak bisa diabaikan bahwa perempuan merupakan manusia yang sangat peka. Kepekaan mereka menjadi lebih dibandingkan dengan lelaki [tidak dalam pengertian absolut!] justru ditumbuhkan oleh posisi mereka sebagai kelompok yang paling tertindas. Keadaan sosial demikianlah yang membentuk perasaan dan pikiran mereka jadi lebih peka. Keadaan sosial lain, seperti Ny.Tien Soeharto, yang mendekati posisi maharani,akan membuat perempuan jenis ini mati rasa kemanusiaan. Dalam hal ini aku tidak membicarakan perempuan jenis maharani. Perempuan-perempuan yang dihimpit oleh "tiga gunung besar" begini umumnya peka terhadap ide-ide keadilan dan kemanusiaan. Hal ini dibuktikan oleh Mbok Kerti yang dilahirkan oleh Gerakan Aksi Sepihak Untuk Melaksanakan UU Perobahan Agraria [UUPA] dan UU Peraturan Bagi Hasil [UUPBH] di daerah kabupaten Klaten pada tahun 1963-'65 sebagai pimpinan petani. Sekali mereka bangkit, dibangkitkan oleh kesadaran mereka, mereka akan berjuang dengan gagah perkasa untuk mewujudkan usaha pemanusiawian diri dan masyarakat yang saling taut-menaut. Dari mereka kita bisa menyaksikan budaya baru dalam menghadapi yang disebut di Perancis sebagai budaya ajal [la culture de mort]. Tokoh perempuan beginilah yang dijadikan lambang oleh Republik Perancis hingga sekarang dengan menggambarkan figur Marianna dengan dada terbuka karena pakaiannya sobek mengacungkan kepalan mengajak bangsanya bergerak maju. Sebelah tangannya menggenggam bendera Perancis yang berwarna biru putih merah. Pelacur-pelacur Pigalle, yang pada suatu saat merupakan pusat pelacuran di Paris, pernah turut memberontak melawan serbuan asing yang mengepung Paris. Lukisan Marianna dengan payudara yang nampak di bawah mata yang menyala tidak mengekspolrasi dan mengeksploatasi tubuh perempuannya untuk kepentingan uang dan merendahkan perempuan. Payudara Marianna yang nampak karena pakaiannya sobek oleh pertarungan hidup mati secara harafiah di tengah pertempuran, justru merupakan gugahan artistik demi pemanusiawian perempuan dan masyarakat Perancis. Yang melihat lukisan Marianna, tidak bakal merasakan birahinya digelitik. Apakah karya-karya sastra kita sekarang yang mengeksploatasi "tubuh perempuan" secara "tidak terkendali" mempunyai wawasan seperti pelukis Marianna? Jawaban terhadap pertanyaan ini kukira menjawab isi kepala dan nurani para sastrawan tersebut. Pengeksploatasian dan pengeksplorasian "tubuh perempuan" secara "tidak terkendali" dalam sastra kita pun, kukira bisa dibahas dari segi heroisme [Lihat: Lampiran!]. Adakah eksplorasi dan eksploatasi "tak terkendalikan" ini mempunyai nilai kepahlawanan? Kalau Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan pahlawan sebagai: "pejuang yang gagah berani;orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran" [hlm.636], di mana letak nilai "kebenaran" dan "kepahlawanan" dalam karya perangsang birahi? Heroisme merangsang birahi, apakah sangat diperlukan masyarakat kita sekarang sementara di kanan-kiri bertimbun masalah penting mendesak menagih jawab? Atau barangkali bagaimana bersanggama dan hasrat bersanggama memang lebih mendesak dari semua masalah sosial, politik dan budaya lainnya?! Memuja karya-karya begini , kukira langsung atau tidak langsung menjawab pertanyaan ini dengan: "Ya memang demikian!". Kapitalisme yang memuncak pada globalisasi mewajibkan kita menjual kemanusiaan, tubuh perempuan dan harga diri demi uang dan nama yang juga akhirnya demi uang! Demikiankah nalar yang dijajakan? Jika demikian, tidak heran apabila Indonesia jadi "debu" di dalam "deru". Cepat atau lambat, meneruskan pikiran begini, Indonesia adalah nama dari manusia semutu "debu" dalam "deru" perkembangan maju dunia. "Deru campur debu", Chairil Anwar telah mencanangkan sejak lebih setengah abad silam. Kalau para sastrawan yang mengeksploatasi dan mengeksplorasi "tubuh perempuan" secara "tidak terkendali" disebut "pembidas", "pelopor" bahkan mungkin "pahlawan" sastra kekinian, barangkali predikat-predikat itu sinonim dari kemunafikan dan kemerosotan atau "heroisme sloganistik" jika menggunakan istilah Toto Suparto dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kemunafikan memang menandai masyarakat kita sekarang. Paris, November 2004. -------------------- JJ.KUSNI Lampiran: Mempersoalkan Heroisme Sloganistik BEBERAPA waktu yang lalu, kita menyaksikan sejumlah anggota Dewan yang sedang mengikuti rapat paripurna DPR dengan penuh emosi menggebrak-nggebrak meja, bertolak pinggang, dan saling menunjuk dan sikap menantang. Sepertinya mereka ingin saling melabrak, meluluhlantakkan pihak lain yang dinilai menghalangi atau mengganggu misi yang sedang diperjuangkannya. Perjuangan anggota Dewan untuk membela yang diyakini perlu dibela itu sangat pas digunakan sebagai bahan refleksi sejauh mana semangat heroisme mewarnai kehidupan saat ini. Ketika nilai asketik meluntur akan menjadi menarik untuk mempertanyakan adakah orang-orang heroik? Heroik bisa multimakna. Ada sedramatis Antigone, seorang tokoh perempuan yang dilahirkan dalam lakon karya Jean Anouilh (1910-1987), dramawan Prancis. Tokoh Antigone merupakan wakil dari sebuah kekuatan semangat yang menentang dan menyerukan perlawanan terhadap tirani raja Creon. Antigone digambarkan sebagai perempuan heroik yang berani berkata: 'Tidak!', saat banyak orang berseru 'Ya'. Sepanjang hidupnya akrab dengan kesulitan sehingga ia menjadi perempuan kurus dan tidak cantik. Lebih mengenaskan, ia nyaris tak mengenal makna cinta, apalagi setelah lelaki yang ia kagumi lari ke pelukan perempuan lain. Keheroikannya juga dibayar dengan kematian yang baginya merupakan pilihan terbaik. Narasi heroisme bisa juga terinspirasi Naga Bonar maupun Pancho Villa. Orang-orang 'hitam' bisa pula menoreh sejarah dari heroisme yang mereka pertunjukkan. Si pencopet Naga Bonar dipandang sebagai hero karena memperjuangkan kepentingan rakyat. Begitu pun Pancho Villa, tokoh Meksiko (1877-1923), dikenang sebagai hero setelah memenangi dua revolusi, walau sebenarnya ia merupakan buron kriminal. Naga Bonar, Pancho Villa maupun Antigone merupakan mitos heroisme. Mereka menyandang hero yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga diartikan sebagai orang yang dihormati karena keberanian, atau orang yang dikagumi karena kecakapan, prestasi, atau juga karena sebagai idola [hal.397]. Dari pijakan ini heroisme diartikan keberanian dalam membela keadilan dan kebenaran. Hakikatnya bisa diukur sejauh mana kesediaan berbuat, berjuang bahkan berkorban demi kemanusiaan dan nilai luhur universal. Narasi heroisme itu mencuat saat kampanye pemilu legislatif maupun presiden tempo hari. Jika berkesempatan memerhatikan 'pidato politik', 'orasi', atau 'jual kecap' para peserta pemilu maka kesan pertama muncul adalah mereka ingin menjadi hero. Kesan itu terbaca dari kesanggupan mereka untuk memberantas korupsi yang merajalela, atau kesanggupan mengatasi persoalan pengangguran yang melilit bangsa, atau membela nasib para tenaga kerja Indonesia di perantauan, atau pendek kalimat: membela kepentingan rakyat. Heroisme para anggota legislatif mulai terbukti bahwa narasi itu sekadar sloganistik, sebagai alat perayu untuk memperdayakan pemilih. Sekarang terbukti heroisme sloganistik itu melanda anggota legislatif di Dewan Perwakilan Rakyat [DPR].Kalimat 'membela kepentingan rakyat' yang didengungkan saat kampanye dilupakan begitu saja. Mereka bersikeras 'membela kekuasaan' tanpa memedulikan kepentingan rakyat. Para anggota DPR menderita 'mati nurani' dengan melupakan makna akuntabilitas. Politikus yang accountable akan menyadari dirinya berasal dari rakyat, dan karena itu sewajarnya bila berkewajiban mengembalikan sesuatu yang diperolehnya itu kepada rakyat. Tetapi, lebih sebulan para anggota DPR dilantik, rakyat belum memperoleh apa-apa, kecuali kekecewaan melihat perseteruan dua kubu. Ternyata,anggota DPR memang bukan Naga Bonar, Pancho Villa maupun Antigone. Tetapi, bisa saja kita meyakini bahwa anggota Dewan itu sebenarnya sedang menjalani perannya sebagai pembela dari kekuatan lain yang harus ditopang, atau mereka sekadar menjalankan tugas tanpa memedulikan dampak yang ditimbulkannya. Peran ganda Dewan, di satu sisi dirinya sebagai representatif masyarakat yang memilihnya pada pemilu lalu dan di lain pihak sebagai kepanjangan dari partai yang mengirimnya ke Senayan, memang akan menimbulkan sebuah kepribadian ganda. Bila mereka berhadapan dengan rakyat saat berkampanye atau melakukan kunjungan kerja, maka jiwa heroiknya muncul untuk membela rakyat. Sebaliknya, bila mereka berada dalam posisi yang mengharuskan membela kepentingan partai, maka saat itu juga secara heroik mereka membela kepentingan partai. Bila kepentingan partai bertabrakan dengan kepentingan rakyat, mereka pasti akan membela partai, karena rakyat tidak memiliki hak recall, sedangkan partai bisa menarik wakilnya bila dirasa tidak lagi bisa diatur. Atau bisa saja sebaliknya, tontonan yang diperlihatkan wakil rakyat dengan menggebrak meja, berteriak dan saling tunjuk itu adalah tipuan untuk disebut sebagai telah melakukan tindakan heroik membela sebuah kekuatan tertentu, sehingga sang empunya kekuatan yang dibela itu melihat bahwa ada orang yang membelanya sampai mati-matian. Akhir-akhirnya adalah sang empunya kuasa memberikan ganjaran mungkin berupa kekuasaan, perhatian, atau setidak-tidaknya tercatat sebagai orang yang pernah memberi pembelaan. Perilaku heroik, tidak lagi selalu utuh mencerminkan sikap kejujuran sesungguhnya, tetapi juga bisa berubah menjadi pentas teater yang dusta karena hanya sekadar seolah-olah. Heroisme presiden terpilih sedang diuji. Apakah juga tergolong heroisme sloganistik? Jika janji-janji kampanye dikumpulkan maka akan terlihat betapa para kandidat pasangan calon presiden dan wapres menempatkan diri sebagai 'jagoan'. Mereka sangat yakin krisis multidimensi bisa diatasi dalam lima tahun, dan pilar-pilar untuk mengatasinya sudah bisa dibangun dalam 100 hari pertama pemerintahan. Keyakinan itulah merepresentasikan percaya diri yang berlebihan. Sampai-sampai mereka pun sangat yakin bisa menjadi penyelamat bangsa. Ini sesungguhnya sebuah pertanda heroisme sloganistik. Artinya, saat presiden terpilih mengumbar janji pada masa kampanye, ia pun telah mempraktikkan heroisme sloganistik. Problem dari heroisme sloganistik adalah sikap percaya diri berlebihan tanpa mengukur kekurangan diri yang ada. Sekarang inilah saatnya presiden terpilih membuktikan bahwa tak benar itu sebagai heroisme sloganistik. Apa yang dikatakannya merepresentasikan sifat heroik sesungguhnya. Oleh karena itu, janji itu semestinya sebangun dengan realitas. Janji itu mesti ditepati. Sungguh proses pembuktian yang mahaberat. Demi memudahkan proses mahaberat itu, langkah awal yang patut ditempuh adalah mengubah paradigma kepemimpinan. Hal ini mengingatkan kepada materi kampanye calon wakil presiden Agum Gumelar (di Bandar Lampung pada 4 Juni) bahwa pemimpin harus mengubah paradigma dari penguasa menjadi pelayan. Selama ini penguasa dilayani rakyat, sehingga penguasa itu lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kepentingan atas kekuasaan. Sekonyong-konyong diubah menjadi pelayan rakyat, mungkinkah? Konsekuensi perubahan itu cukup berat, karena penguasa itu mesti berwatak populis. Pijakan tindakannya adalah atas nama kepentingan umum dalam masyarakat. Penguasa itu mesti mengembalikan dukungan rakyat dalam bentuk upayanya mewujudkan kesejahteraan rakyat, bukan kesejahteraan segelintir orang atau kelompok tertentu. Itulah yang disebut oleh mantan vice president AT&T Robert K Geenleaf sebagai kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Filosofi kepemimpinan macam itu sangatlah sederhana, yakni bagaimana seorang penguasa menggunakan kekuasaan dan otoritas untuk menolong (rakyat). Meski sederhana tetapi bukan soal mudah untuk mewujudkannya. Parameter servant leadership ini yang paling menonjol adalah sejauh mana rakyat bisa percaya bahwa pemimpin mereka mengusung semangat altruisme. Ukuran tindakan altruistis, merujuk kepada kriteria Pearl M.Oliner (1988), di antaranya segala tindakan demi menolong orang lain, tindakan itu mengandung risiko tinggi, tindakan itu tanpa mengharap pamrih, imbalan atau bentuk penghargaan lain, dan tindakan itu dijalani dengan sukarela. Dengan menggunakan ukuran itulah kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan, apakah presiden terpilih melakukan tindakan altruistis?Terlalu dini untuk menjawabnya. Keputusan presiden menentukan personal yang duduk di Kabinet Indonesia Bersatu bisa digunakan untuk mengukur, tetapi hasilnya khawatir kurang akurat. Memang butuh waktu untuk mengukur secara tepat, setidaknya 100 hari pertama dalam pemerintahannya. Barangkali yang patut dipegang rakyat, agar tidak selalu mengalami kekecewaan, bahwa banyak orang bijak mengingatkan tidak semua aman melahirkan pahlawan.*** [Sumber:Toto Suparto,Program Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Kompas, Jakarta, 18 November 2004. http://www.mediaindo.co.id/] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

