Catatan Seorang Klayaban: REPUBLIK DAN INDONESIA:GANTANG PENAKAR PENGUSUTAN TUNTAS KEMATIAN MUNIR.
Bahwa pergantian kekuasaan, apalagi melalui pemilihan langsung presiden dan wakil presiden, tanpa disertai pertumpahan darah [dalam pengertian relatif] suatu hal menggembirakan dan mempunyai arti penting dalam proses kita belajar berdemokrasi [pada tahap sekarang, karena Patrick Martin-Genier, pengajar pada Universitas Jean-Moulin, Lyon III, Perancis, menunjukkan adanya tahap lain yaitu "parlementarisme rasional" yang berbeda dari tingkat "parlementarisme perwakilan", "demokrasi otentik", jika menggunakan istilah Amiral Pierre Lacoste [lihat: Amiral Pierre Lacoste, "Les mafias contre la d�mocratie", Editions JC latt�s, Paris,1992,215 hlm] atau "parlementarisme partisan"]. Keadaan begini patut digarisbawahi karena dengan demikian kita tunjukkan kepada diri sendiri dan dunia bahwa pertumpahan darah tidak menjadi tradisi saban ada pergantian kekuasaan. Tapi hasil menggembirakan ini, berdasarkan pandangan Patrick Martin-Gernier, masih merupakan taraf awal saja dari proses kita belajar berdemokrasi. Tingkat demokrasi kita masih pada tingkat rendah, sekalipun memadai jika dilihat bahwa kita baru saja lepas dari kerangkeng otoritarinisme Orde Baru [Orba]. Hasil taraf awal ini pun sekarang masih dalam ujian dalam pengertian tidakkah pemerintahan SBY-Kalla akan menjadikan Indonesia sebagai kerangkeng model Orba di masa jabatannya? Terhadap pertanyaan ini, sekali lagi pemerintahan SBY-Kalla diuji dalam kesungguhannya mengusut sampai tuntas masalah kematian Munir. Mau tidaknya pemerintahan SBY-Kalla mengusut tuntas masalah ini menjadi batu ujian [test-case] bagi pemerintahan SBY-Kalla menjunjung nilai republiken dan keindonesiaan, di mana masalah demokratisasi negeri tercakup. Kepercayaan para pemilih selanjutnya pun akan ditentukan oleh sikap pemerintah SBY-Kalla dalam soal ini karena kiranya masalah kematian Munir jika diusut tuntas -- dan bukan menggunakan "metode kambing hitam" serta mengorbankan "ikan-ikan kecil" [bilis, kata orang Dayak], akan menyangkut masalah lebih mendasar. Karena itu bersifat signifikatif. Sejauh ini pemerintahan SBY-Kalla tidak menyatakan apapun tentang masalah kematian Munir. Padahal seperti dikatakan oleh Mulya Lubis ""Seharusnya, Presiden di awalpemerintahannya mampu mengungkap pembunuhan politik atas diri Munir" [lihat: milis "temu_ [EMAIL PROTECTED] , 22 November 2004]. Pengusutan tuntas juga test-case bagi jajaran angkatan bersenjata apakah angkatan bersenjata negara ini benar setia pada tradisi Tentara Rakjat Indonesia [TRI], benar-benar menjadi angkatan bersenjata Republik Indonesia dengan segala kandungan nilainya. Nilai-nilai ini merupakan patokan bagi semua anak negeri dan bangsa. Termasuk angkatan bersenjatanya. Karena itu disebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Tuntutan begini kepada ABRI adalah tuntutan dari Republik dan Indonesia sendiri. Republik dan Indonesia sendiri pun ditakarkan kadar kerepubliken dan keindonesiaannya dengan nilai-nilai ini juga --- nilai kesepakatan bersama anak negeri dan bangsa. Saya kira, tidak satu golongan manapun yang berdiri di atas nilai-nilai republiken dan keindonesiaan ini. Adanya teror dalam berbagai bentuk mulai dari "jeroan busuk" sampai kepada "surat kaleng" terhadap keluarga Munir, lebih mendesak perlunya ketegasan sikap pemerintahan SBY-Kalla. Siapakah yang bertanggungjawab atas keamanan warganegara di negara sendiri jika bukan pemerintah? Membiarkan, bentuk teror-teror begini berlanjut dan apalagi jika sampai mmembiarkan Suciwati mengalami teror fisik, kita layak mempertanyakan di mana tanggungjawab pemerintahan SBY-Kalla terhadap warganegara Republik ini? Membiarkan berlanjutnya teror terhadap warganegara barangkali bisa dilihat sebagai membiarkan demokrasi dan proses demokratisasi diteror. Membiarkan terorisme dalam segala bentuk akan membuat Indonesia sebagai "Rumah Bisu" [la Maison du Sourd] jika menggunakan istilah Bernard Frank,kroniker Majalah Le Nouvell Observateur, Paris. Saya kira sangatlah nalar apa yang dinyatakan oleh Anggota DPR dari Fraksi PDI-P Trimedya Pandjaitan bahwa "Kematian Munir harus diusut serius. Kalau tidak, ini bisa menjadi ancaman kematian demokrasi". Akankah pemerintahan SBY-Kalla membiarkan "kematian demokrasi" pada masa pemerintahannya? Atas dasar itu, pada sidang pertama setelah libur Lebaran ini maka Trimedya Pandjaitan berencana mengusulkan fraksinya dan Komisi III meminta DPR bersama Polri dan LSM membentuk tim bersama. Tim ini diharapkan dapat mengawasi terus kinerja kepolisian yang sedang menyelidiki kasus Munir.Alasannya, jika tidak ada tim pengawas yang independen, dia khawatir aparat kepolisian tidak serius menjalankan tugasnya."Soalnya,dalam kasus kematian Munir diperkirakan ada kelompok kuat di belakangnya". Kesungguhan DPR pun [cq.Fraksi PDI-P dan fraksi-fraksi lainnya pun] di sini akan diuji. Tapi adanya pernyataan begini saja sudah merupakan suatu hal positif dari pada kebungkaman. Bungkam dan tidak mengusut masalah kematian ini sampai tuntas akan melanjutkan sejarah negeri dan bangsa sebagai "sejarah orang-orang bisu" [histoires de sourds]. Akankah bangsa ini menjadi bangsa yang bungkam dan rela dibungkamkan?*** Paris, November 2004. -------------------- JJ.KUSNI [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

