Masykur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: [EMAIL PROTECTED]
From: Masykur 
Date: Mon, 29 Nov 2004 18:10:47 -0800 (PST)
Subject: [ppidimalaysia] (unknown)



Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Site resmi PPI se-Malaysia: http://www14.brinkster.com/ppim/ 


Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT


---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppidimalaysia/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



> ATTACHMENT part 2 message/rfc822 
To: [EMAIL PROTECTED]
From: yuli erina 
Date: Mon, 29 Nov 2004 14:46:29 +0000 (GMT)
Subject: [alumni_mipaUnsyiah] nasib ISLAM?



E-book : ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas?
(The Islamic Threat: Myth or reality?)
John L. Esposito
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali 16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038

PERANG SALIB Beberapa peristiwa mempunyai pengaruh yang lebih menggetarkan dan 
tahan lama pada hubungan Muslim-Kristen daripada Perang Salib. Dua mitos 
meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen; 
kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan Yerusalem. Bagi 
banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya 
diketahui secara samar-samar.[1] Sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa 
yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu 
dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, 
yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan 
imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen 
terhadap Islam.Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka 
kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas 
Tentara Salib Barat. Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan
 meru pakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Salib 
melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat.

Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari "Cross" (Crux dalam bahasa 
latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 
hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan 
Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang 
menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam.

Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. 
Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat 
dan di laut... Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan 
intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan 
mengesankan. Kini situasinya benar-benar berubah... Perdagangan hidup kembali 
(di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah... seni serta ilmu 
pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma.[2]

Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk 
mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat 
dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama.

Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja 
Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan 
memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, 
memohon bantuan Barat. Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus 
untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk membebaskan Yerusalem dan 
sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim. Yerusalem adalah kota suci bagi 
ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh 
tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan 
penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang 
beragama Kristen tidak pernah diganggu. Tempat-tempat suci dan 
peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh 
orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang sejak lama dilarang tinggal di 
tempat itu oleh pemerintah Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan 
beribadah di kota Nabi Sulaiman
 dan Nabi Daud. Orang-orang Muslim membangun sebuah tempat ibadah, Dome of the 
Rock (Kubah Batu) dan Al-Aqsha di dekat The Wailing Wall (Tembok Ratapan), 
sisa-sisa terakhir Istana Sulaiman, dan menjadi tempat yang sangat khusus bagi 
Yudaisme. Lima abad hidup berdampingan dengan damai kini porak-poranda karena 
perang-perang suci yang membuat Kristen berperang melawan Islam dan berakibat 
terciptanya perasaan tidak percaya serta salah paham yang tak berkesudahan.

Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban II terhadap permohonan 
Raja Alexius. Pada tahun 1095, Urban menyerukan pembebasan Tanah Suci dari 
tangan orang-orang kafir, dan mengadakan perang suci yang sudah menjadi 
tradisi. Bagi Paus, panggilan untuk membela agama dan Yerusalem memberikan 
suatu kesempatan untuk memperoleh pengakuan atas otoritas kepausannya dan 
peranannya untuk mengabsahkan pemerintah sementara, dan untuk mempersatukan 
kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin).

Seruan peperangan Paus -"Itulah kehendak Tuhan!"- terbukti berhasil. Pendekatan 
agama berhasil memikat pikiran orang dan memanfaatkan kepentingan diri banyak 
orang, yang menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para 
pemerintah, pedagang, dan ksatria Kristen terdorong oleh keuntungan-keuntungan 
ekonomi dan politik yang akan dipetik dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur 
Tengah. Para ksatria dari Perancis dan bagian-bagian lain Eropa Barat, yang 
terdorong oleh fanatisme agama dan harapan akan pampasan perang, bersatu 
melawan orangorang "kafir" dalam suatu peperangan yang tujuannya adalah 
membebaskan kota suci: "Mungkin Tuhan memang menghendakinya, tetapi yang pasti 
tidak ada bukti bahwa orang-orang Kristen Yerusalem mempunyai harapan itu, atau 
ada sesuatu yang luar biasa dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana 
sehingga pada saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang 
Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke tempat suci dan
 perang suci: pembebasan tempat-tempat suci dari tangan kaum Muslim 
berkarakterkan keduanya. Ziarah memainkan peran penting bagi kesalehan Kristen. 
Mendatangi tempat-tempat suci, menghormati peninggalan keramat dan melakukan 
penebusan dosa memberikan (orang-orang yang mengecam akan mengatakan "membeli") 
janji pengampunan dosa. Yerusalem, pusat lahirnya Kristen, merupakan lambang 
kota Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang sama, gagasan 
perang suci mengubah dan menyucikan peperangan di abad-abad pertengahan beserta 
gagasan kehormatan dan keksatriaannya. Para pejuang itu menang, baik mereka 
memenangkan peperangan di dunia maupun tidak. Memerangi musuh artinya terhormat 
dan mulia, ganjaran yang diterima oleh semua yang berperan dalam Perang Salib 
berupa jaminan diampuni dosanya dan masuk surga. Mati dalam peperangan adalah 
meninggal sebagai pahlawan agama dan langsung masuk surga walaupun mempunyai 
dosa-dosa di masa yang lalu.

Dalam keadaan terpecah-pecah, reaksi kaum Muslim yang pertama tidak efektif; 
tentara Salib yang pertama mencapai Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. 
Namun keberhasilan kaum Kristen tidak berlangsung lama: "Para pejuang Salib... 
lebih merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia Islam."[4] Pada 
pertengahan abad ke-12, pasukan Islam menanggapi secara efektif. Di bawah 
kepemimpinan Saladin yang mumpuni (Shalah Al-Din, wafat 1193), salah seorang 
jenderal dan pemerintah Muslim paling terkenal, Yerusalem direbut kembali pada 
tahun 1187. Keadaan berubah dan momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum 
Muslim. Pada abad ke-13, Perang Salib telah berubah menjadi perang saudara 
Kristen, perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus dikatakan sebagai sesat. 
Akhirnya, sesuatu yang ditakutkan yang telah menimbulkan perang suci Kristen 
itu, dengan seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut kekuasaan kaum 
Muslim, terjadi pada tahun 1453 ketika ibukota Byzantium, Konstan
 tinopel, jatuh dan diberi nama baru, Istanbul, yang kemudian menjadi kedudukan 
Kerajaan Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim yang muncul sejak abad 
ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan kaum Kristen dan ancaman Islam 
yang kuat, ekspansif dan terus-menerus makin meluas sampai ke Eropa Timur, yang 
sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah. 

Warisan Perang Salib ini tergantung pada tempat seseorang berpijak dalam 
sejarah. Kaum Kristen dan Muslim bersaing dalam visi dan kepentingan serta 
masing-masing senantiasa ingat pada komitmennya terhadap agama, dan kisah-kisah 
kepahlawanan melawan kaum "kafir." Bagi banyak orang di Barat, dugaan mengenai 
kemenangan Kristen didasarkan pada sejarah yang diromantiskan untuk merayakan 
kepahlawanan pejuang Salib dan juga kecenderungan untuk menginterpretasikan 
sejarah melalui pengalaman kolonialisme Eropa dari kekuasaan Amerika selama dua 
abad yang baru lalu ini. Masing-masing agama melihat satu sama lain sebagai 
militan, agak barbaris dan fanatik, cenderung menjajah, mengubah atau 
memusnahkan yang lainnya, dan itulah suatu halangan dan ancaman bagi 
terealisasikannya kehendak Allah. Pertentangan mereka berlanjut terus selama 
masa Utsmaniyah, melalui arus kolonialisme Eropa, dan akhirnya ke dalam 
persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20. 

Catatan kaki:
[1]: Untuk sejarah Perang Salib, lihat S. Runciman, A History of the Crusades, 
3 jilid (Cambridge: Cambridge University Press, 1951-54), dan J. Prawer, 
Crusader Institutions (Oxford: Oxford University Press, 1980) 
[2]: J.J. Saunders, A History Medieval Islam (London: Routledge and Kegan Paul, 
1965), hlm. 154.
[3]: Peters, "Early Muslim Empires," hlm. 85. [4]: Saunders, History, hlm. 161. 

 KERAJAAN UTSMANIYAH: MUSUH EROPATak lama setelah Perang Salib berlalu, Eropa 
sekali lagi harus berhadapan dengan ancaman kekuatan kaum Muslim yang berupa 
kerajaan Utsmaniyah. Kerajaan Utsmaniyah adalah salah satu di antara tiga 
kesultanan besar Muslim abad pertengahan: Utsmaniyah, Safawiyah di Iran, dan 
Mogul di India. Seperti yang ditulis oleh C.E. Bosworth, lebih daripada 
kerajaan lain sejak masa awal penaklukan dan ekspansi Arab, "Orang Turki 
Utsmaniyah telah menimbulkan ketakutan di hati Eropa Kristen, sehingga Richard 
Knollys, ahli sejarah Turki di masa Elizabeth mengungkapkannya sebagai 'teror 
dunia masa kini.'"[1] Setelah merebut Konstantinopel pada tahun 1453, 
Utsmaniyah mulai membangun negara besar yang benar-benar terorganisasi, 
hirarkis dan efisien. Ibukota kerajaan, Istanbul, dengan penduduk yang tumbuh 
menjadi 700.000 -dua kali lebih besar dari negara lawan, Eropa- menjadi pusat 
kekuasaan dan kebudayaan internasional.[2] Utsmaniyah menjadi pasukan besar 
Islam yang
 menciptakan kerajaan dunia yan g meliputi pusat Muslim yang utama seperti 
Kairo, Baghdad, Damaskus, Makkah, dan Madinah. Mereka mengancam Eropa selama 
hampir dua abad.

Deretan sultan-sultan yang cakap (seperti Mehmet Sang Penakluk 1451-81 , 
Sulaiman Yang Agung 1520-66), memimpin angkatan darat dan laut Utsmaniyah yang 
menguasai sebagian besar Mediterania dan Samudera India. Mereka menciptakan 
kerajaan yang ukuran, kemakmuran, pemerintahan, dan kebudayaannya menyaingi 
Abbasiyah. Kerajaan Utsmaniyah menguasai negara-negara Balkan yang Kristen dan 
juga sebagian besar Timur Tengah serta Afrika Utara. Seperti pada awal 
penaklukan Arab, kebijaksanaan mereka terhadap Kristen Ortodoks dan minoritas 
agama lainnya seringkali diterima dengan baik oleh penduduk: "Kebijaksanaan 
'hidup dan biarkan hidup' ini sangat kontras dengan kefanatikan negara-negara 
Kristen pada saat itu. Kaum petani Balkan pada masa Mehmet seringkali berucap: 
'Lebih baik turban Turki daripada tiara Paus.'"[3] Namun, kalau di Balkan 
banyak orang menganggap Utsmaniyah sebagai pembebas, Eropa tampaknya mengalami 
trauma.

Para penulis dan ahli agama berusaha memperbaharui kecaman-kecaman terhadap 
musuh yang menjadi ciri masa Perang Salib... Kardinal Bessanon, yang menulis 
kepada The Doge of Venice setelah jatuhnya Kollstantinopel, menentukan nada 
bagi perlakuan buruk selama satu abad: "Sebuah kota yang sedemikian maju... 
kemuliaan dan keagungan Timur... tempat segala keindahan, telah direbut, 
dirusak, dan benar-benar dirampas oleh bangsa barbar yang paling tidak 
manusiawi... oleh binatang buas yang paling menakutkan... Bahaya mengancam 
Italia, belum lagi tempat-tempat lainnya, jika musuh besar barbar yang sangat 
menakutkan itu tidak dicegah.[4]

Kata-kata yang kasar dan propaganda dipopulerkan oleh karya terlaris 
Bartholomew Gregevich dari Kroasia, Miseries and Tribulations of the Christians 
Held in Tribute and Slavery by the Turks.[5] Turki yang bermusuhan, yang lebih 
banyak diinformasikan dengan hawa nafsu daripada dengan nalar, mengalahkan 
kalangan suara minoritas diplomat dan ilmuwan yang benar-benar melihat Turki 
atau mempelajari Turki dengan adil dan, seperti ahli filsafat politik Perancis, 
Jean Bodin, yang dapat mencatat:

Raja Turki yang memerintah sebagian besar Eropa melindungi ritus agama dan para 
pangeran di dunia ini. Dia tidak memaksa seorang pun, tetapi justu mengizinkan 
orang untuk hidup sesuai dengan panggilan jiwanya. Lebih lagi, di istananya di 
Pera ia mengizinkan praktek empat macam agama, Yahudi, Kristen menurut ritus 
Roma, dan menurut ritus Yunani, serta Islam.[6]

Ancaman Utsmaniyah memberikan kontribusi pada perkembangan "Eropa" sebagai 
pusat identitas dari ikatan bersama di dalam Kristen Eropa yang terpecah-pecah 
sebagai akibat reformasi. Karena itu, "Erasmus mendesak bangsa Eropa tidak lagi 
menyebutnya sebagai kekuatan Kristen- untuk memerangi Turki."[7]

Kekuasaan dan keagungan Utsmaniyah terjadi berkat perkembangan sistem pelatihan 
para pemuda dalam kemiliteran dan administrasi. Hal itu menghasilkan birokrasi 
dan militer kelas satu yang benar-benar bertumpu pada para ulamanya serta 
satuan pejabat dan tentara budak elite, Janisari (salah satu bagian invanteri 
Turki - penerjemah). Para pemuda Kristen diambil dari penduduk Balkan yang 
ditaklukkan, dan setelah itu dari Anatolia, mereka masuk Islam dan dikirim ke 
sekolah-sekolah khusus yang melatih dan menghasilkan bergenerasi-generasi 
pejabat Utsmaniyah. Gabungan pejabat yang berkualitas tinggi dan militer yang 
terlatih dan berdisiplin dan mampu memantaatkan serbuk mesiu menjadikan 
Utsmaniyah dapat menaklukkan wilayah besar Arab dan Eropa: "Disiplin dan daya 
tembak tentara inilah (tentara Utsmaniyah menggunakan artileri dan senjata 
tangan...) yang menciptakan citra keperkasaan dan kekuatan Utsmaniyah di 
Eropa.[8] Kira-kira delapan ratus tahun setelah ancaman pertama Arab ke Erop a,
 Islam, yang kini berada di tangan Turki, tampak lebih mengancam. Setelah 
menguasai Balkan, tampaknva mereka siap menguasai Eropa Barat. Sejak abad ke- 
15 hingga 17 pasukan Utsmaniyah tampaknya terlalu kuat untuk kaum Kristen 
Eropa. Namun kekalahan angkatan laut Utsmaniyah di Lepanto pada tahun 1571 
merupakan titik balik yang dianggap sebagai kemenangan Kristen Eropa melawan 
Muslim Turki, dan keberhasilan pertahanan Wina pada tahun 1683 memperkuat 
runtuhnya ancaman Utsmaniyah dan pergeseran kekuasaan ke tangan Eropa yang kini 
percaya diri dan memperoleh kekuatannya kembali. "Bencana Kristen" segera 
menjadi "orang sakit Eropa."[9]

Perang Salib dan kerajaan Utsmaniyah jelas menunjukkan bahwa walaupun akar 
teologis Kristen dan Islam sama, kepentingan politik dan agama yang terus 
bersaing menghasilkan sejarah konfrontasi dan peperangan dimana Eropa Kristen 
selama berabad-abad sering bertahan terhadap tentara Muslim, yang tampaknya 
kadangkala bertempur demi eksistensinya.

Catatan kaki:
[1]: C.E. Bosworth, "The Historical Background Of Islamic Civilization," dalam 
R.M. Savory, ed., Introduction to
Islamic Societes (New York: Cambridge University Press, 1980), hlm. 25.
[2]: Ira Lapidus, A History of Islamic Societes. (New York: Cambridge 
University Press, 1988), hlm. 132.
[3]: Arthur Goldschmidt, Jr. A Concise History of the Middle East, edisi ketiga 
(Boulder, Colorado: Westview Press,
1988), hlm. 132.
[4]: Paul Coles, The Ottoman Impcat on Europe (New York: Harcourt, Brace and 
World, 1968), hlm. 146-147.
[5]: Ibid., hlm. 147.
[6]: Ibid., hlm. 151.
[7]: Ibid., hlm. 148.
[8]: Bosworth, "Historical Background," hlm. 25.
[9]: Ibid., hlm. 139. 

 CITRA ISLAM DI EROPAEfek negatif dan peristiwa sejarah Kristen-Muslim 
tercermin dalam pandangan mengenai Islam yang muncul dari literatur dan 
pemikiran Barat. Walaupun ada saat-saat berhubungan. saling mengetahui, dan 
pertukaran yang bersifat membangun, pada umumnya ekspansi Muslim ke Eropa, dari 
penaklukan Arab hingga Perang Salib dan Kerajaan Utsmaniyah, menghasilkan 
permusuhan dan ketidakpercayaan terhadap Islam, yang terutama dipandang sebagai 
ancaman bagi Kristen. Warisan ini, seperti yang dikatakan oleh Albert Hourani, 
"masih ada dalam kesadaran Eropa, yang masih takut dan pada umumnya masih salah 
paham."[1] Rasa takut dan penghinaan yang bersatu dengan etnosentrisme Eropa 
mengakibatkan citra Islam dan Muslim yang terdistorsi dan menjadikan para 
ilmuwan beralih dari studi tentang kontribusi Islam ke pemikiran Barat. 
"Sebelum tahun-tahun di antara dua Perang Dunia, usaha yang serius dilakukan 
untuk memahami kontribusi Islam pada perkembangan pemikiran Barat dan dampaknya 
pada
 masyarakat Bar at yang berada di lingkungan Islam."[2]

Pada penaklukan-penaklukan Arab abad ke-7, Kristen sekali lagi merasakan Islam 
sebagai ancaman ganda, baik secara teologis maupun politis. Perang Salib untuk 
pertama kalinya telah membuat Islam sangat dikenal di Eropa abad pertengahan, 
walaupun tidak dipahami. R.W. Southern menulis: "Sebelum tahun 1100, saya 
menemukan hanya satu kali sebutan nama Muhammad dalam literatur abad 
pertengahan di luar Spanyol dan Italia Selatan. Tetapi sejak tahun 1120 setiap 
orang di Barat mempunyai gambaran mengenai apa arti Islam dan siapa Muhammad. 
Gambaran itu sangat jelas, tetapi itu bukan pengetahuan... Para penulisnya 
menikmatkan diri dalam kebodohan akan imajinasi kemenangan."[3]

Kebodohan ini bukan hanya mencerminkan pengetahuan yang kurang tetapi juga 
kecenderungan manusia pada umumnya baik di antara orang-orang terpelajar maupun 
tidak terpelajar untuk mengecam dan menjelek-jelekkan musuhnya, untuk merasa 
unggul dan memusnahkan hal-hal yang menantang dan mengancam kepercayaan atau 
kepentingannya dengan mencapnya sebagai sesuatu yang jelek, sesat, fanatik, 
atau irasional. Gambaran atau karikatur yang menjelek-jelekkan Muhammad dan 
Islam diciptakan -atau lebih tepatnya, dikarang- dengan tidak
memperhatikan ketepatan. Acapkali kepercayaan dan praktek seperti politeisme, 
memakan daging babi, minum minuman keras, dan promiskuitas seksual -yang sangat 
bertentangan dengan kepercayaan dasarnya- diarahkan kepada Islam dan Muhammad. 
Muhammad difitnah sebagai pembohong dan anti-Kristus yang menggunakan sihir dan 
keajaiban untuk mencoba menghancurkan gereja. Seperti diakui oleh penulis 
(non-Muslim) sebuah biografi awal Nabi Muhammad yang diterbitkan di Barat, 
"Adalah aman untuk mengatakan hal-hal jelek tentang seseorang yang kejahatannya 
melampaui segala perbuatan jahat yang dapat dikatakan."[4] Epik besar pada saat 
itu menyebarkan kebodohan dan distorsi, yang menggambarkan kaum Muslim yang 
menyembah patung sedang menyembah Tuhan mereka, Muhammad, "di sinagog (dengan 
demikian semakin mendekatkan Islam kepada kepercayaan Yahudi yang tidak dapat 
diterima) atau di mahomeri." Maxime Rodinson berkata: "Fiksi murni, yang 
sasarannya hanya untuk menarik perhatian pembaca dicampur a duk
 dalam proporsi yang beraneka ragam dengan kesalahpahaman yang mengobarkan 
kebencian musuh."[5]

Pada masa Reformasi, setelah berabad-abad dalam ketakutan dan permusuhan, Islam 
terbukti merupakan alat yang tepat dalam serangan-serangan polemik di antara 
kaum Kristen, lambang bahaya anti-Kristus. Martin Luther memandang Islam "dalam 
gaya abad pertengahan, sebagai suatu gerakan kekerasan untuk melayani 
anti-Kristus; itu tidak dapat diubah karena tertutup bagi akal; hanya dapat 
dihentikan dengan pedang dan bahkan dengan suatu usaha yang sulit."[6]

Pada abad-abad berikutnya, Islam terus dipergunakan sebagai sesuatu yang jelek 
bagi para penulis yang mengunggulkan prinsip dan kebajikan Pencerahan. 
Fanaticism, or Muhammad the Prophet karya Voltaire menggambarkan Nabi Muhammad 
sebagai tiran yang teokratis. Ernest Renan, dalam sebuah kuliah yang sering 
dikutip, mengunggulkan sains dan nalar serta kemajuan manusia, dengan 
mengatakan bahwa Islam tidak sesuai dengan sains, dan bahwa kaum Muslim tidak 
mampu belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.[7]
Stereotip tradisi agama yang statis, irasional, tidak ada kemajuan dan 
antimodern ini diabadikan oleh para pakar dan
teori pembangunan dalam abad ke-20. 

Walaupun dunia Islam dan Kristen sangat membanggakan agama dan kekayaan tradisi 
belajar dan peradaban mereka, dinamika sejarah hubungan Islam-Kristen kerap 
menjumpai kedua umat tersebut bersaing, dan terkadang terperangkap dalam 
peperangan, untuk mendapatkan kekuasaan, tanah dan jiwa. Akibatnya, mereka 
lebih sering bermusuhan daripada bersikap sebagai sesama Ahlul Kitab yang 
berusaha mematuhi dan mengabdi kepada Tuhan mereka. Bagi Kristen, Islam 
terbukti sebagai ancaman ganda, baik dalam hal agama maupun politik, yang 
sering mengancam untuk menyerang Eropa, mula-mula di Poitiers dan akhirnya di 
gerbang Wina. Bukan lelucon jika
beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa jika tentara Muslim tidak dikalahkan di 
Poitiers, mungkin bahasa Oxford, dan juga bahasa Eropa sendiri, adalah bahasa 
Arab! Gereja Kristen yakin memiliki kebenaran dan ditakdirkan untuk mengemban 
misi menyelamatkan maksud-maksud kepausan dan kerajaan yang absah. Selain itu, 
ia memperkuat perasaan unggul dan benar yang memberikan alasan bagi mencemarkan 
nama musuh secara religius, intelektual dan kultural. Sikap-sikap yang sama ini 
membuahkan keberhasilan bagi tentara Muslim dan penyebaran Islam yang cepat 
oleh para tentara, pedagang, dan da'i yang lebih merupakan tantangan bagi agama 
dan kekuasaan Kristen. Kalau sepuluh abad pertama tampak sebagai pertandingan 
yang tidak seimbang di mana Kristen lebih sering terkepung, masa awal 
kolonialisme Eropa menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan: sejak itu 
kolonialisme mendominasi sejarah dan jiwa kaum Muslim, dan terus menerus, dan 
kadang-kadang secara dramatis, mempengaruhi hubungan antara Isla m dan
 Barat sampai kini. Dengan adanya Revolusi Iran tahun 1978-1979 dan yang lebih 
akhir, Perang Teluk 1991, citra pejuang Salib dan imperialisme Barat tetap 
hidup, suatu pengalaman yang benar-benar hidup dalam kesadaran dan retorika 
politik kaum Muslim. []

Catatan kaki:
[1]: Hourani, Europe and the Middle East, hlm. 10. 
[2]: R.W. Southern, Western View of Islam and the Middle Ages (Cambridge, 
Mass.: Harvard University Press, 1962), hlm. 2.
[3]: Ibid., hlm. 28.
[4]: Ibid., hlm. 31.
[5]: Rodinson, "Western Image," hlm. 14.
[6]: Hourani, Europe and the Middle East, hlm. 10.
[7]: Ibid., hlm. 12.



 




---------------------------------
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download 
Messenger Now 


                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 The all-new My Yahoo! � What will yours do?

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke