Masykur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: [EMAIL PROTECTED] From: Masykur Date: Mon, 29 Nov 2004 18:10:47 -0800 (PST) Subject: [ppidimalaysia] (unknown) Note: forwarded message attached. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Site resmi PPI se-Malaysia: http://www14.brinkster.com/ppim/ Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppidimalaysia/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > ATTACHMENT part 2 message/rfc822 To: [EMAIL PROTECTED] From: yuli erina Date: Mon, 29 Nov 2004 14:46:29 +0000 (GMT) Subject: [alumni_mipaUnsyiah] nasib ISLAM? E-book : ANCAMAN ISLAM Mitos atau Realitas? (The Islamic Threat: Myth or reality?) John L. Esposito Penerbit Mizan Jln. Yodkali 16, Bandung 40124 Telp. (022) 700931 - Fax. (022) 707038 PERANG SALIB Beberapa peristiwa mempunyai pengaruh yang lebih menggetarkan dan tahan lama pada hubungan Muslim-Kristen daripada Perang Salib. Dua mitos meliputi persepsi Barat mengenai Perang Salib: pertama, kemenangan Kristen; kedua bahwa Perang Salib itu dilakukan hanya untuk pembebasan Yerusalem. Bagi banyak orang Barat, fakta-fakta khusus yang menyangkut Perang Salib hanya diketahui secara samar-samar.[1] Sebenarnya banyak orang tidak mengetahui siapa yang memulai peperangan itu, mengapa berperang, atau bagaimana peperangan itu dimenangkan. Bagi kaum Muslim, kenangan mengenai Perang Salib itu tetap hidup, yang merupakan contoh Kristen militan paling jelas, pertanda awal agresi dan imperialisme Barat Kristen, kenangan yang hidup akan permusuhan awal Kristen terhadap Islam.Jika banyak orang menganggap Islam sebagai agama pedang, maka kaum Muslim selama berabad-abad telah membicarakan ambisi dan mentalitas Tentara Salib Barat. Karena itu, untuk hubungan Muslim-Kristen, hal itu bukan meru pakan masalah mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam Perang Salib melainkan bagaimana hal-hal tersebut diingat. Perang Salib (Crusades), yang namanya diambil dari "Cross" (Crux dalam bahasa latin), merupakan delapan ekspedisi militer yang terjadi sejak abad ke-11 hingga 13 yang membuat orang-orang Kristen (tentara Kristen Franks) melawan Islam (tentara Muslim Saracens). Abad ke-11 ditandai sebagai saat yang menentukan dalam hubungan Barat dengan dunia Islam. Hingga tahun 1000, Barat merupakan daerah miskin, terbelakang, dan buta huruf. Mereka mempertahankan diri dari serangan bangsa barbar yang terjadi di darat dan di laut... Selama empat abad, Islam mengalami kedamaian dan keamanan intern, sehingga mampu membangun kebudayaan urban yang, cemerlang dan mengesankan. Kini situasinya benar-benar berubah... Perdagangan hidup kembali (di Barat), kota dan pasar bermunculan; penduduk bertambah... seni serta ilmu pengetahuan mengalami kemajuan sedemikian rupa sejak masa Kerajaan Roma.[2] Bangsa Barat yang bangkit dari zaman kegelapan, mengadakan penyerangan untuk mengusir kaum Muslim dan Spanyol, Italia, Sisilia, dan Mediterrania pada saat dunia Islam telah mengalami kemajuan dalam perjuangan politik dan agama. Ketika kekuatannya dikalahkan oleh tentara Abbasiyah di akhir abad ke-15, Raja Byzantium, Alexius I, yang merasa khawatir bahwa tentara Muslim akan memenangkan seluruh Asia dan menduduki ibukota kerajaan, Konstantinopel, memohon bantuan Barat. Ia mengimbau kepada sesama penguasa Kristen dan Paus untuk mengusir kaum Muslim dengan "berziarah" untuk membebaskan Yerusalem dan sekitarnya dari tangan pemerintah Muslim. Yerusalem adalah kota suci bagi ketiga agama berdasarkan ajaran Nabi Ibrahim. Kota tersebut telah direbut oleh tentara Islam tahun 638 pada masa bangsa Arab melakukan ekspansi dan penaklukan. Di bawah pemerintahan orang-orang Muslim, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak pernah diganggu. Tempat-tempat suci dan peninggalan-peninggalan Kristen menjadi tempat yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi yang sejak lama dilarang tinggal di tempat itu oleh pemerintah Kristen, kini diperbolehkan kembali tinggal dan beribadah di kota Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Orang-orang Muslim membangun sebuah tempat ibadah, Dome of the Rock (Kubah Batu) dan Al-Aqsha di dekat The Wailing Wall (Tembok Ratapan), sisa-sisa terakhir Istana Sulaiman, dan menjadi tempat yang sangat khusus bagi Yudaisme. Lima abad hidup berdampingan dengan damai kini porak-poranda karena perang-perang suci yang membuat Kristen berperang melawan Islam dan berakibat terciptanya perasaan tidak percaya serta salah paham yang tak berkesudahan. Peperangan Salib itu dimulai dengan tanggapan Paus Urban II terhadap permohonan Raja Alexius. Pada tahun 1095, Urban menyerukan pembebasan Tanah Suci dari tangan orang-orang kafir, dan mengadakan perang suci yang sudah menjadi tradisi. Bagi Paus, panggilan untuk membela agama dan Yerusalem memberikan suatu kesempatan untuk memperoleh pengakuan atas otoritas kepausannya dan peranannya untuk mengabsahkan pemerintah sementara, dan untuk mempersatukan kembali gereja-gereja Timur (Yunani) dan Barat (Latin). Seruan peperangan Paus -"Itulah kehendak Tuhan!"- terbukti berhasil. Pendekatan agama berhasil memikat pikiran orang dan memanfaatkan kepentingan diri banyak orang, yang menghasilkan persatuan dan kembalinya kekuatan Kristen. Para pemerintah, pedagang, dan ksatria Kristen terdorong oleh keuntungan-keuntungan ekonomi dan politik yang akan dipetik dengan tegaknya kerajaan Latin di Timur Tengah. Para ksatria dari Perancis dan bagian-bagian lain Eropa Barat, yang terdorong oleh fanatisme agama dan harapan akan pampasan perang, bersatu melawan orangorang "kafir" dalam suatu peperangan yang tujuannya adalah membebaskan kota suci: "Mungkin Tuhan memang menghendakinya, tetapi yang pasti tidak ada bukti bahwa orang-orang Kristen Yerusalem mempunyai harapan itu, atau ada sesuatu yang luar biasa dalam sejarah yang tertadi pada jamaat di sana sehingga pada saat itu mereka memberikan tanggapan yang demikian.[3] Perang Salib diilhami oleh dua institusi Kristen, yaitu ziarah ke tempat suci dan perang suci: pembebasan tempat-tempat suci dari tangan kaum Muslim berkarakterkan keduanya. Ziarah memainkan peran penting bagi kesalehan Kristen. Mendatangi tempat-tempat suci, menghormati peninggalan keramat dan melakukan penebusan dosa memberikan (orang-orang yang mengecam akan mengatakan "membeli") janji pengampunan dosa. Yerusalem, pusat lahirnya Kristen, merupakan lambang kota Tuhan, yang karenanya merupakan tempat suci. Pada waktu yang sama, gagasan perang suci mengubah dan menyucikan peperangan di abad-abad pertengahan beserta gagasan kehormatan dan keksatriaannya. Para pejuang itu menang, baik mereka memenangkan peperangan di dunia maupun tidak. Memerangi musuh artinya terhormat dan mulia, ganjaran yang diterima oleh semua yang berperan dalam Perang Salib berupa jaminan diampuni dosanya dan masuk surga. Mati dalam peperangan adalah meninggal sebagai pahlawan agama dan langsung masuk surga walaupun mempunyai dosa-dosa di masa yang lalu. Dalam keadaan terpecah-pecah, reaksi kaum Muslim yang pertama tidak efektif; tentara Salib yang pertama mencapai Yerusalem dan merebutnya pada tahun 1099. Namun keberhasilan kaum Kristen tidak berlangsung lama: "Para pejuang Salib... lebih merupakan gangguan daripada ancaman serius bagi dunia Islam."[4] Pada pertengahan abad ke-12, pasukan Islam menanggapi secara efektif. Di bawah kepemimpinan Saladin yang mumpuni (Shalah Al-Din, wafat 1193), salah seorang jenderal dan pemerintah Muslim paling terkenal, Yerusalem direbut kembali pada tahun 1187. Keadaan berubah dan momentumnya tetap berada di tangan pasukan kaum Muslim. Pada abad ke-13, Perang Salib telah berubah menjadi perang saudara Kristen, perang melawan musuh-musuh yang oleh Paus dikatakan sebagai sesat. Akhirnya, sesuatu yang ditakutkan yang telah menimbulkan perang suci Kristen itu, dengan seruannya agar kaum Kristen bersatu untuk merebut kekuasaan kaum Muslim, terjadi pada tahun 1453 ketika ibukota Byzantium, Konstan tinopel, jatuh dan diberi nama baru, Istanbul, yang kemudian menjadi kedudukan Kerajaan Utsmaniyah. Impian penguasa dan tentara Muslim yang muncul sejak abad ketujuh menjadi kenyataan. Sebaliknya, ketakutan kaum Kristen dan ancaman Islam yang kuat, ekspansif dan terus-menerus makin meluas sampai ke Eropa Timur, yang sebagian besarnya dikuasai Kerajaan Utsmaniyah. Warisan Perang Salib ini tergantung pada tempat seseorang berpijak dalam sejarah. Kaum Kristen dan Muslim bersaing dalam visi dan kepentingan serta masing-masing senantiasa ingat pada komitmennya terhadap agama, dan kisah-kisah kepahlawanan melawan kaum "kafir." Bagi banyak orang di Barat, dugaan mengenai kemenangan Kristen didasarkan pada sejarah yang diromantiskan untuk merayakan kepahlawanan pejuang Salib dan juga kecenderungan untuk menginterpretasikan sejarah melalui pengalaman kolonialisme Eropa dari kekuasaan Amerika selama dua abad yang baru lalu ini. Masing-masing agama melihat satu sama lain sebagai militan, agak barbaris dan fanatik, cenderung menjajah, mengubah atau memusnahkan yang lainnya, dan itulah suatu halangan dan ancaman bagi terealisasikannya kehendak Allah. Pertentangan mereka berlanjut terus selama masa Utsmaniyah, melalui arus kolonialisme Eropa, dan akhirnya ke dalam persaingan negara-negara adidaya pada abad ke-20. Catatan kaki: [1]: Untuk sejarah Perang Salib, lihat S. Runciman, A History of the Crusades, 3 jilid (Cambridge: Cambridge University Press, 1951-54), dan J. Prawer, Crusader Institutions (Oxford: Oxford University Press, 1980) [2]: J.J. Saunders, A History Medieval Islam (London: Routledge and Kegan Paul, 1965), hlm. 154. [3]: Peters, "Early Muslim Empires," hlm. 85. [4]: Saunders, History, hlm. 161. KERAJAAN UTSMANIYAH: MUSUH EROPATak lama setelah Perang Salib berlalu, Eropa sekali lagi harus berhadapan dengan ancaman kekuatan kaum Muslim yang berupa kerajaan Utsmaniyah. Kerajaan Utsmaniyah adalah salah satu di antara tiga kesultanan besar Muslim abad pertengahan: Utsmaniyah, Safawiyah di Iran, dan Mogul di India. Seperti yang ditulis oleh C.E. Bosworth, lebih daripada kerajaan lain sejak masa awal penaklukan dan ekspansi Arab, "Orang Turki Utsmaniyah telah menimbulkan ketakutan di hati Eropa Kristen, sehingga Richard Knollys, ahli sejarah Turki di masa Elizabeth mengungkapkannya sebagai 'teror dunia masa kini.'"[1] Setelah merebut Konstantinopel pada tahun 1453, Utsmaniyah mulai membangun negara besar yang benar-benar terorganisasi, hirarkis dan efisien. Ibukota kerajaan, Istanbul, dengan penduduk yang tumbuh menjadi 700.000 -dua kali lebih besar dari negara lawan, Eropa- menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan internasional.[2] Utsmaniyah menjadi pasukan besar Islam yang menciptakan kerajaan dunia yan g meliputi pusat Muslim yang utama seperti Kairo, Baghdad, Damaskus, Makkah, dan Madinah. Mereka mengancam Eropa selama hampir dua abad. Deretan sultan-sultan yang cakap (seperti Mehmet Sang Penakluk 1451-81 , Sulaiman Yang Agung 1520-66), memimpin angkatan darat dan laut Utsmaniyah yang menguasai sebagian besar Mediterania dan Samudera India. Mereka menciptakan kerajaan yang ukuran, kemakmuran, pemerintahan, dan kebudayaannya menyaingi Abbasiyah. Kerajaan Utsmaniyah menguasai negara-negara Balkan yang Kristen dan juga sebagian besar Timur Tengah serta Afrika Utara. Seperti pada awal penaklukan Arab, kebijaksanaan mereka terhadap Kristen Ortodoks dan minoritas agama lainnya seringkali diterima dengan baik oleh penduduk: "Kebijaksanaan 'hidup dan biarkan hidup' ini sangat kontras dengan kefanatikan negara-negara Kristen pada saat itu. Kaum petani Balkan pada masa Mehmet seringkali berucap: 'Lebih baik turban Turki daripada tiara Paus.'"[3] Namun, kalau di Balkan banyak orang menganggap Utsmaniyah sebagai pembebas, Eropa tampaknya mengalami trauma. Para penulis dan ahli agama berusaha memperbaharui kecaman-kecaman terhadap musuh yang menjadi ciri masa Perang Salib... Kardinal Bessanon, yang menulis kepada The Doge of Venice setelah jatuhnya Kollstantinopel, menentukan nada bagi perlakuan buruk selama satu abad: "Sebuah kota yang sedemikian maju... kemuliaan dan keagungan Timur... tempat segala keindahan, telah direbut, dirusak, dan benar-benar dirampas oleh bangsa barbar yang paling tidak manusiawi... oleh binatang buas yang paling menakutkan... Bahaya mengancam Italia, belum lagi tempat-tempat lainnya, jika musuh besar barbar yang sangat menakutkan itu tidak dicegah.[4] Kata-kata yang kasar dan propaganda dipopulerkan oleh karya terlaris Bartholomew Gregevich dari Kroasia, Miseries and Tribulations of the Christians Held in Tribute and Slavery by the Turks.[5] Turki yang bermusuhan, yang lebih banyak diinformasikan dengan hawa nafsu daripada dengan nalar, mengalahkan kalangan suara minoritas diplomat dan ilmuwan yang benar-benar melihat Turki atau mempelajari Turki dengan adil dan, seperti ahli filsafat politik Perancis, Jean Bodin, yang dapat mencatat: Raja Turki yang memerintah sebagian besar Eropa melindungi ritus agama dan para pangeran di dunia ini. Dia tidak memaksa seorang pun, tetapi justu mengizinkan orang untuk hidup sesuai dengan panggilan jiwanya. Lebih lagi, di istananya di Pera ia mengizinkan praktek empat macam agama, Yahudi, Kristen menurut ritus Roma, dan menurut ritus Yunani, serta Islam.[6] Ancaman Utsmaniyah memberikan kontribusi pada perkembangan "Eropa" sebagai pusat identitas dari ikatan bersama di dalam Kristen Eropa yang terpecah-pecah sebagai akibat reformasi. Karena itu, "Erasmus mendesak bangsa Eropa tidak lagi menyebutnya sebagai kekuatan Kristen- untuk memerangi Turki."[7] Kekuasaan dan keagungan Utsmaniyah terjadi berkat perkembangan sistem pelatihan para pemuda dalam kemiliteran dan administrasi. Hal itu menghasilkan birokrasi dan militer kelas satu yang benar-benar bertumpu pada para ulamanya serta satuan pejabat dan tentara budak elite, Janisari (salah satu bagian invanteri Turki - penerjemah). Para pemuda Kristen diambil dari penduduk Balkan yang ditaklukkan, dan setelah itu dari Anatolia, mereka masuk Islam dan dikirim ke sekolah-sekolah khusus yang melatih dan menghasilkan bergenerasi-generasi pejabat Utsmaniyah. Gabungan pejabat yang berkualitas tinggi dan militer yang terlatih dan berdisiplin dan mampu memantaatkan serbuk mesiu menjadikan Utsmaniyah dapat menaklukkan wilayah besar Arab dan Eropa: "Disiplin dan daya tembak tentara inilah (tentara Utsmaniyah menggunakan artileri dan senjata tangan...) yang menciptakan citra keperkasaan dan kekuatan Utsmaniyah di Eropa.[8] Kira-kira delapan ratus tahun setelah ancaman pertama Arab ke Erop a, Islam, yang kini berada di tangan Turki, tampak lebih mengancam. Setelah menguasai Balkan, tampaknva mereka siap menguasai Eropa Barat. Sejak abad ke- 15 hingga 17 pasukan Utsmaniyah tampaknya terlalu kuat untuk kaum Kristen Eropa. Namun kekalahan angkatan laut Utsmaniyah di Lepanto pada tahun 1571 merupakan titik balik yang dianggap sebagai kemenangan Kristen Eropa melawan Muslim Turki, dan keberhasilan pertahanan Wina pada tahun 1683 memperkuat runtuhnya ancaman Utsmaniyah dan pergeseran kekuasaan ke tangan Eropa yang kini percaya diri dan memperoleh kekuatannya kembali. "Bencana Kristen" segera menjadi "orang sakit Eropa."[9] Perang Salib dan kerajaan Utsmaniyah jelas menunjukkan bahwa walaupun akar teologis Kristen dan Islam sama, kepentingan politik dan agama yang terus bersaing menghasilkan sejarah konfrontasi dan peperangan dimana Eropa Kristen selama berabad-abad sering bertahan terhadap tentara Muslim, yang tampaknya kadangkala bertempur demi eksistensinya. Catatan kaki: [1]: C.E. Bosworth, "The Historical Background Of Islamic Civilization," dalam R.M. Savory, ed., Introduction to Islamic Societes (New York: Cambridge University Press, 1980), hlm. 25. [2]: Ira Lapidus, A History of Islamic Societes. (New York: Cambridge University Press, 1988), hlm. 132. [3]: Arthur Goldschmidt, Jr. A Concise History of the Middle East, edisi ketiga (Boulder, Colorado: Westview Press, 1988), hlm. 132. [4]: Paul Coles, The Ottoman Impcat on Europe (New York: Harcourt, Brace and World, 1968), hlm. 146-147. [5]: Ibid., hlm. 147. [6]: Ibid., hlm. 151. [7]: Ibid., hlm. 148. [8]: Bosworth, "Historical Background," hlm. 25. [9]: Ibid., hlm. 139. CITRA ISLAM DI EROPAEfek negatif dan peristiwa sejarah Kristen-Muslim tercermin dalam pandangan mengenai Islam yang muncul dari literatur dan pemikiran Barat. Walaupun ada saat-saat berhubungan. saling mengetahui, dan pertukaran yang bersifat membangun, pada umumnya ekspansi Muslim ke Eropa, dari penaklukan Arab hingga Perang Salib dan Kerajaan Utsmaniyah, menghasilkan permusuhan dan ketidakpercayaan terhadap Islam, yang terutama dipandang sebagai ancaman bagi Kristen. Warisan ini, seperti yang dikatakan oleh Albert Hourani, "masih ada dalam kesadaran Eropa, yang masih takut dan pada umumnya masih salah paham."[1] Rasa takut dan penghinaan yang bersatu dengan etnosentrisme Eropa mengakibatkan citra Islam dan Muslim yang terdistorsi dan menjadikan para ilmuwan beralih dari studi tentang kontribusi Islam ke pemikiran Barat. "Sebelum tahun-tahun di antara dua Perang Dunia, usaha yang serius dilakukan untuk memahami kontribusi Islam pada perkembangan pemikiran Barat dan dampaknya pada masyarakat Bar at yang berada di lingkungan Islam."[2] Pada penaklukan-penaklukan Arab abad ke-7, Kristen sekali lagi merasakan Islam sebagai ancaman ganda, baik secara teologis maupun politis. Perang Salib untuk pertama kalinya telah membuat Islam sangat dikenal di Eropa abad pertengahan, walaupun tidak dipahami. R.W. Southern menulis: "Sebelum tahun 1100, saya menemukan hanya satu kali sebutan nama Muhammad dalam literatur abad pertengahan di luar Spanyol dan Italia Selatan. Tetapi sejak tahun 1120 setiap orang di Barat mempunyai gambaran mengenai apa arti Islam dan siapa Muhammad. Gambaran itu sangat jelas, tetapi itu bukan pengetahuan... Para penulisnya menikmatkan diri dalam kebodohan akan imajinasi kemenangan."[3] Kebodohan ini bukan hanya mencerminkan pengetahuan yang kurang tetapi juga kecenderungan manusia pada umumnya baik di antara orang-orang terpelajar maupun tidak terpelajar untuk mengecam dan menjelek-jelekkan musuhnya, untuk merasa unggul dan memusnahkan hal-hal yang menantang dan mengancam kepercayaan atau kepentingannya dengan mencapnya sebagai sesuatu yang jelek, sesat, fanatik, atau irasional. Gambaran atau karikatur yang menjelek-jelekkan Muhammad dan Islam diciptakan -atau lebih tepatnya, dikarang- dengan tidak memperhatikan ketepatan. Acapkali kepercayaan dan praktek seperti politeisme, memakan daging babi, minum minuman keras, dan promiskuitas seksual -yang sangat bertentangan dengan kepercayaan dasarnya- diarahkan kepada Islam dan Muhammad. Muhammad difitnah sebagai pembohong dan anti-Kristus yang menggunakan sihir dan keajaiban untuk mencoba menghancurkan gereja. Seperti diakui oleh penulis (non-Muslim) sebuah biografi awal Nabi Muhammad yang diterbitkan di Barat, "Adalah aman untuk mengatakan hal-hal jelek tentang seseorang yang kejahatannya melampaui segala perbuatan jahat yang dapat dikatakan."[4] Epik besar pada saat itu menyebarkan kebodohan dan distorsi, yang menggambarkan kaum Muslim yang menyembah patung sedang menyembah Tuhan mereka, Muhammad, "di sinagog (dengan demikian semakin mendekatkan Islam kepada kepercayaan Yahudi yang tidak dapat diterima) atau di mahomeri." Maxime Rodinson berkata: "Fiksi murni, yang sasarannya hanya untuk menarik perhatian pembaca dicampur a duk dalam proporsi yang beraneka ragam dengan kesalahpahaman yang mengobarkan kebencian musuh."[5] Pada masa Reformasi, setelah berabad-abad dalam ketakutan dan permusuhan, Islam terbukti merupakan alat yang tepat dalam serangan-serangan polemik di antara kaum Kristen, lambang bahaya anti-Kristus. Martin Luther memandang Islam "dalam gaya abad pertengahan, sebagai suatu gerakan kekerasan untuk melayani anti-Kristus; itu tidak dapat diubah karena tertutup bagi akal; hanya dapat dihentikan dengan pedang dan bahkan dengan suatu usaha yang sulit."[6] Pada abad-abad berikutnya, Islam terus dipergunakan sebagai sesuatu yang jelek bagi para penulis yang mengunggulkan prinsip dan kebajikan Pencerahan. Fanaticism, or Muhammad the Prophet karya Voltaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagai tiran yang teokratis. Ernest Renan, dalam sebuah kuliah yang sering dikutip, mengunggulkan sains dan nalar serta kemajuan manusia, dengan mengatakan bahwa Islam tidak sesuai dengan sains, dan bahwa kaum Muslim tidak mampu belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.[7] Stereotip tradisi agama yang statis, irasional, tidak ada kemajuan dan antimodern ini diabadikan oleh para pakar dan teori pembangunan dalam abad ke-20. Walaupun dunia Islam dan Kristen sangat membanggakan agama dan kekayaan tradisi belajar dan peradaban mereka, dinamika sejarah hubungan Islam-Kristen kerap menjumpai kedua umat tersebut bersaing, dan terkadang terperangkap dalam peperangan, untuk mendapatkan kekuasaan, tanah dan jiwa. Akibatnya, mereka lebih sering bermusuhan daripada bersikap sebagai sesama Ahlul Kitab yang berusaha mematuhi dan mengabdi kepada Tuhan mereka. Bagi Kristen, Islam terbukti sebagai ancaman ganda, baik dalam hal agama maupun politik, yang sering mengancam untuk menyerang Eropa, mula-mula di Poitiers dan akhirnya di gerbang Wina. Bukan lelucon jika beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa jika tentara Muslim tidak dikalahkan di Poitiers, mungkin bahasa Oxford, dan juga bahasa Eropa sendiri, adalah bahasa Arab! Gereja Kristen yakin memiliki kebenaran dan ditakdirkan untuk mengemban misi menyelamatkan maksud-maksud kepausan dan kerajaan yang absah. Selain itu, ia memperkuat perasaan unggul dan benar yang memberikan alasan bagi mencemarkan nama musuh secara religius, intelektual dan kultural. Sikap-sikap yang sama ini membuahkan keberhasilan bagi tentara Muslim dan penyebaran Islam yang cepat oleh para tentara, pedagang, dan da'i yang lebih merupakan tantangan bagi agama dan kekuasaan Kristen. Kalau sepuluh abad pertama tampak sebagai pertandingan yang tidak seimbang di mana Kristen lebih sering terkepung, masa awal kolonialisme Eropa menunjukkan adanya pergeseran kekuasaan: sejak itu kolonialisme mendominasi sejarah dan jiwa kaum Muslim, dan terus menerus, dan kadang-kadang secara dramatis, mempengaruhi hubungan antara Isla m dan Barat sampai kini. Dengan adanya Revolusi Iran tahun 1978-1979 dan yang lebih akhir, Perang Teluk 1991, citra pejuang Salib dan imperialisme Barat tetap hidup, suatu pengalaman yang benar-benar hidup dalam kesadaran dan retorika politik kaum Muslim. [] Catatan kaki: [1]: Hourani, Europe and the Middle East, hlm. 10. [2]: R.W. Southern, Western View of Islam and the Middle Ages (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1962), hlm. 2. [3]: Ibid., hlm. 28. [4]: Ibid., hlm. 31. [5]: Rodinson, "Western Image," hlm. 14. [6]: Hourani, Europe and the Middle East, hlm. 10. [7]: Ibid., hlm. 12. --------------------------------- Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now --------------------------------- Do you Yahoo!? The all-new My Yahoo! � What will yours do? [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $9.95 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

