http://www.suarapembaruan.com/News/2004/12/02/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY Tantangan HAM di "Negeri Seribu Preman" Benny Susetyo Pr ASUS yang menimpa pejuang HAM, Munir, merupakan modus terbaru (yang berhasil diungkap) dari semangat yang sangat lama dalam upaya menyingkirkan simbol-simbol kebenaran. Kasus Munir juga merupakan contoh bahwa ajaran kekerasan oleh rezim Orde Baru sampai kini masih dijadikan sebagai terapi kontrol para preman kekuasaan yang merasa eksistensinya diusik. Pembunuhan terencana yang dilakukan kepada tokoh pejuang prinsip-prinsip kemanusiaan sangatlah melukai hati kita semua. Bukanlah ajal yang menjemput Munir yang membuat kita tidak bisa menerima kejadian ini, melainkan cara bagaimana Munir meninggal itulah yang kita protes. Ia menghadap Tuhan akibat tangan-tangan kejam manusia yang tidak senang dengan kebenaran diungkap. Terlepas dari berbagai macam dugaan atas meninggalnya Munir, namun teror yang datang ke rumahnya -walaupun tak pernah bisa membuat Suciwati sang istri merasa takut- dan ke kantor Imparsial merupakan sebentuk kekerasan berdimensi politik yang bertujuan untuk memetik keuntungan tertentu. Teror itu dilakukan oleh para preman, bahkan dengan mengatasnamakan institusi TNI. Mungkin saja ada upaya untuk mem fait a comply keduanya. Para preman itu berusaha memecah belah keadaan, membuyarkan konsentrasi, mengadudomba dan menghina institusi serta yang paling penting adalah untuk membuat takut. Potongan kepala dan kaki ayam dalam kardus paket yang diterima keluarga Munir, membuktikan bahwa bangsa ini belum bisa lepas dari cara-cara kekerasan dan intimidasi. Meninggalnya Munir, dan terbuktinya cara-cara kekerasan yang digunakan oleh si pembunuhnya, adalah kemunduran utama kita dalam berdemokrasi maupun dalam penegakan HAM. "Orang-orang kuat" atau yang boleh kita sebut sebagai preman, masih berkeliaran di sekitar kita. Kita boleh bebas bicara, bebas berpikir, bebas berpendapat, bebas bertindak dan bebas berperilaku sesuai dengan UU, tetapi kebebasan kita "dibatasi" kalau bersentuhan dengan pekerjaan yang membuat kedudukan "orang kuat" terancam. Ia bisa membunuh kita dengan cara yang paling keras sampai yang paling lembut, dari cara yang paling kasar sampai yang paling halus, kapan saja dan di mana saja. Dengan demikian, tantangan kita dalam menegakkan HAM di negeri seribu preman ini semakin kompleks saja. Bukan saja terkait dengan perundangan yang belum sempurna, mentalitas elit yang -meminjam istilah Romo Mangun- "ingin mencari selamat sendiri-sendiri, juga terkait dengan budaya premanisme seperti ini. Kasus Munir membuat kita semakin terpuruk untuk mengungkap siapa dalang kasus-kasus pembunuhan berdimensi politik dari ujung Sabang sampai Merauke. Budaya premanisme yang bercokol di "negeri seribu preman" ini semakin menghilangkan jati diri kita sebagai bangsa yang beradab. Kebenaran selalu diteror oleh mereka-mereka yang merasa "tidak salah"dan "tidak melanggar kemanusiaan". Keberanian untuk mengungkap kebenaran selalu dihadapkan pada ancaman kematian, teror fisik dan mental. Hidup para pejuang kebenaran selalu dihadapkan pada mimpi buruk yang membayangi. Bagi mereka, tantangan utama untuk meraih kebenaran bukanlah soal tentang kebenaran itu sendiri, melainkan bagaimana melewati proses panjang untuk mencapai kebenaran itu sendiri yang penuh onak dan duri. Jika bangsa ini masih membiarkan cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah, niscaya prestasi apapun yang sudah kita raih ikut musnah terbakar. Kendati kita sudah bersorak soraidan bergembira di alam yang disebut-sebut demokratis, tetapi jiwa kebebasan kita masih dipasung oleh kekuatan para preman yang masih bergentayangan. Tindakan mereka bahkan di luar nalar kemanusiaan, seperti manusia barbar yang ingin memakan lainnya dengan cara yang teramat sadis. Karena kekerasan berdimensi politik sering dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan tertentu untuk berbuat demikian, maka seperti yang pernah terjadi selama Orde Baru berlangsung, kekerasan berikutnya masih dimungkin terjadi dengan cara yang lebih baru dan tidak terdeteksi. Kekerasan di samping menjadi budaya juga akan menjadi suatu media efektif untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, dan menjadi cara yang paling jitu yang digunakan oleh para preman tersebut. Dalam menegakkan HAM, nilai kemanusiaan seharusnya dijabarkan dalam pengertian bagaimana bangsa ini memiliki orientasi mengenai kodrat manusia itu sendiri. Manusia bukan sekedar alat eksploitasi, tetapi keberadaan manusia itu melekat dalam kodratnya. Kemanusiaan menjadi acuan dalam segala keputusan politik. Bukan justru mengedepankan realitas politik yang acap kali mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan. Ini merupakan cerminan dari betapa sulitnya mengusut tuntas setiap pelanggaran HAM, sebagai bentuk dari kekerasan politik yang terjadi di setiap sudut pelosok nusantara yang melibatkan orang kuat. Bahkan bisa dikatakan tiada pelanggaran hak asasi manusia tanpa keterlibatan orang kuat. Sayangnya dugaan mereka salah, bahwa dengan membunuh Munir maka human right is finished. Justru dengan kasus Munir ini, semangat bangsa ini untuk menemukan kebenaran semakin membara. Lalu apa yang harus dilakukan di tengah situasi transisi di mana apapun sangat mungkin terjadi ini? Mengusut tuntas siapa pembunuh Munir dan membeberkan kepada publik sejelas-jelasnya adalah tugas kepolisian yang tidak bisa ditawar-tawar lagi jika kita masih ingin disebut oleh internasional sebagai bangsa yang sehat dan beradab. Kelambanan mereka dalam mengusut kematian Munir tidak perlu diulang kembali. Bukan hanya bangsa Indonesia yang menunggu kejelasan dan transparannsi dalam kasus ini. Dunia internasional juga sangat menunggu-nunggu bagaimana kinerja kepolisian Indonesia? Di tangan mereka harkat dan jati diri bangsa ini dipertaruhkan. Apabila saja mereka masih bermain-main dalam berbagai intrik yang menyakitkan hati rakyat, bukan tidak mungkin sinisme dan cercaan akan datang kepada bangsa ini, menggantikan pujian dan elu-elu yang baru saja mereka berikan pasca perhelatan pemilu kemarin. Dunia internasional merasa salah memberikan pujian tentang sukses pelaksanaan demokrasi di Indonesia, mengingat potret buram penegakan HAM yang ada, serta buruknya kinerja aparat kepolisiannya. Sekarang terserah kita, kebenaran atau kesesatan yang ingin kita raih, pujian atau cercaan yang kita damba? Beranikah polisi mengusut keterlibatan "orang kuat" dan para preman -jika memang benar adanya keterlibatan mereka- yang terlibat dalam pembunuhan berencana ini. Beranikah polisi menegakkan hukum seadil-adilnya dalam kasus ini? Bisakah polisi mengubah citra negeri seribu preman ini menjadi negeri yang sungguh-sungguh adil dan menghargai kebenaran? Kita tunggu saja. Penulis adalah Budayawan -------------------------------------------------------------------------------- Last modified: 2/12/04 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

