Romo Hadi,
Kalau disuruh milih sekuler atau teokratis ya jelas dong milih sekuler.
Mengapa, karena negara-negara teokratis biasanya adalah negara yg
tertinggal dan warga negara yang mempercayainya biasanya adalah
keledai-keledai yang picik.
MSAN
Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---dibusek---
RMDH: Ini berarti pembubaran NKRI, yang berdiri diatas semua agama warga
Indonesia. Republik Indonesia ini tak mungkin berbentuk khalifah.
Tinggallah, rakyat RI mau pilih yang mana.
RMD Hadinoto
---dibusek---
syabab muslim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Politisasi Agama Dan Sekularisme
Oleh: Muhammad Shiddiq al-Jawi
Partai-partai Islam yang memperjuangkan syariah Islam atau menegakkan negara
Khilafah, sering kali dituduh melakukan �politisasi agama�. Yaitu berpolitik
atas nama agama atau membawa-bawa agama dalam dunia politik.
Tentu tuduhan politisasi agama ini yang cukup menyudutkan partai-partai Islam
sebab tuduhan itu mengandung makna �peyoratif� (memberikan citra buruk).
Memang, jika �politisasi agama� diartikan penyalahgunaan agama untuk
menjustifikasi kepentingan politik sesaat, jelas tidak bisa dibenarkan.
Seperti, misalnya, kampanye untuk meraih massa dengan cara mendiskreditkan
parpol berlambang pohon (beringin) seraya menyitir ayat (yang artinya),
�Janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.� (Qs. Al-Baqarah [2]: 35). Ini tentu tidak benar sebab hanya
merupakan pembodohan massa dan penyalahgunaan ayat tidak pada tempatnya.
Tetapi akan lain masalahnya jika yang dimaksud �politisasi agama� adalah
berpolitik atas dasar agama dengan asumsi bahwa agama itu harus netral atau
terpisah dari politik. Di sinilah kita perlu mengkaji secara kritis term
�politisasi agama� dalam arti tersebut, sebab istilah itu membawa virus
ideologis yang perlu diwaspadai.
Menolak Term Politisasi Agama
Istilah �politisasi agama� (tasyiis al-diin) sebenarnya bukanlah istilah
netral, melainkan istilah yang terkait dengan suatu pandangan hidup (worldview,
weltanschauung) tertentu, yaitu sekularisme. Sebab dalam masyarakat sekuler
Barat, pemisahan agama dari gereja (agama) adalah suatu keniscayaan. Karenanya,
politisasi agama dipandang ilegal.
Robert Audi (2002) menjelaskan bahwa dari sekularisme diturunkan tiga prinsip
dalam kehidupan bernegara, yaitu prinsip kebebasan (libertarian), prinsip
kesetaraan (equality), dan prinsip netralitas (neutrality). Berdasarkan prinsip
terakhir, suatu negara haruslah mengambil sikap netral di antara agama-agama
(lihat Robert Audi, Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal, hal.
48-50). Implikasinya, jika negara mengutamakan atau mengadopsi suatu agama
tertentu (di antara beragam agama) untuk mengatur kehidupan bernegara, berarti
negara itu telah melanggar satu prinsip dasar sekulerisme. Inilah �politisasi
agama�, yang dianggap penyimpangan (corruption) dalam logika sekuler, karena
agama memang harus dipisahkan dari urusan politik. Maka wajarlah jika kaum
sekuler akan menolak jika agama dibawa-bawa dalam berpolitik, atau orang
berpolitik atas nama agama (lihat Abdul Qadir Sholeh, �Agama� Kekerasan, hal.
39-42).
Mengapa logika sekuler menolak campur tangan agama dalam kehidupan politik? Hal
ini tak terlepas dari trauma masyarakat Barat di Abad Pertengahan (abad ke-5
s/d ke-15 M) ketika gereja dan negara berkolaborasi mendominasi segala aspek
kehidupan masyarakat. Mulai dari urusan keluarga, ekonomi, politik, sosial,
seni, hingga teologi dan ilmu pengetahuan, semuanya harus tunduk pada ketentuan
gereja. Struktur masyarakat yang seperti ini, ternyata telah menimbulkan
kerugian yang luar biasa atas kemanusiaan di segala bidang, sehingga abad-abad
itu dikenal dengan �Masa Kegelapan� (The Dark Ages) (lihat Henry S. Lucas,
Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan, hal. 39-40). Akal manusia terbelenggu
oleh dogma-dogma gereja buatan para gerejawan yang kaku lagi palsu. Copernicus
misalnya yang mencetuskan teori heliosentris dalam bukunya De Revolutionibus
pada tahun 1507, mendapat tentangan hebat dari gereja yang berpaham geosentris.
Galileo Galilei yang membela Copernicus dalam bukunya The System
of the World (terbit tahun 1632), diancam hukuman mati dan akhirnya mati
mengenaskan di penjara.
Masa Kegelapan ini mulai didobrak pada abad ke-16 melalui sekularisasi terhadap
gereja, dengan Reformasi (perbaikan terhadap penyimpangan gereja Katolik),
Renaissance (�kelahiran kembali� dengan menghidupkan warisan Yunani-Romawi),
dan Humanisme (menjadikan manusia, bukan agama, sebagai penentu segala
sesuatu). Abad-abad selanjutnya (abad ke-17 s/d ke-19) merupakan kelanjutan dan
pematangan sekularisasi dengan adanya Abad Pencerahan (Aufklarung,
Enlightenment). Abad-abad ini ditandai dari karya berjudul Novum Organum oleh
Francis Bacon (1620) sampai ke Critique of Pure Reason oleh Immanuel Kant
(1781). Dalam periode ini, para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan,
politikus dan lain-lain menyerukan penyingkiran (deconsecration) nilai-nilai
agama dari kancah kehidupan. Mereka menyerukan semangat rasionalisasi dan
menitikberatkan aspek kemanusiaan, kebebasan, dan keadilan. Upaya pemisahan
gereja dari negara ini mencapai puncaknya pada Revolusi Perancis (1789) yang
bersemboyankan �gantunglah raja terakhir dengan usus pendeta terakhir.�
Dari tinjauan historis ini, dapat dipahami, bahwa proses sekularisasi adalah
hal yang niscaya bagi Peradaban Barat yang Kristen. Tanpa sekularisasi, Barat
akan tetap dalam kemunduran dan kegelapan di bawah tindasan gereja Kristen.
Tepatlah jika Friedrich Gogarten (w. 1967), seorang teolog Protestan terkemuka
dari Jerman, mengatakan,�...[secularization] is a legitimate consequence of the
Christian faith.� (Sekularisasi adalah konsekuensi yang sah dari keimanan
Kristen). (lihat bukunya Verhagnis und Hoffnung der Neuzeit : die
Sakularisierung als Theologisches Problem (Nasib dan Harapan Zaman Kita :
Sekularisasi Sebagai Suatu Problem Teologis), Stuttgart, 1958). Sejalan dengan
Gogarten, Gabriel Vahanian, seorang teolog Calvinis mengatakan,�Sekular adalah
keharusan seorang Kristiani.�
Walhasil, paham sekularisme yang menafikan agama dalam kehidupan inilah yang
mendasari penolakan �politisasi agama�. Karenanya, jika ada partai politik atau
kelompok dakwah yang mengusung misi politik bernuansa agama, misalnya penegakan
syariah Islam dalam kehidupan bernegara, atau misi mendirikan negara Khilafah,
maka ini akan mudah dicap sebagai �politisasi agama�. Tentunya stigma yang
demikian bukanlah berdasarkan perspektif Islam, melainkan berdasarkan
perspektif asing, yaitu paham sekularisme yang tumbuh dalam masyarakat Barat
yang Kristen.
Islam Dan Politik
Secara normatif dan historis-empiris, Islam mempunyai pandangan sangat berbeda
dengan sekularisme dalam masalah politik. Politik adalah bagian integral dari
keseluruhan norma Islam. Dikatakanlah, �Al-Islam diin wa minhu al-dawlah.�
(Islam adalah agama, dan politik adalah bagian darinya). Definisi politik
(as-siyasah) dalam perspektif Islam adalah pengaturan urusan-urusan masyarakat
�dalam dan luar negeri-- berdasarkan hukum-hukum syariah Islam. Politik ini
dilaksanakan secara langsung oleh negara Islam (Khilafah) dan diawasi oleh
individu dan kelompok rakyat (lihat Taqiyuddin An-Nabhani, Mafahim Siyasiyah li
Hizb Al-Tahrir, hal. 1). Itulah makna politik yang diistinbath dari berbagai
dalil, di antaranya dari hadits Nabi SAW :
�Adalah Bani Israil, yang mengatur urusan mereka adalah para nabi. Setiap kali
meninggal seorang nabi, maka digantikan oleh nabi yang lain dan bahwasanya
tidak ada nabi sesudahku dan akan ada para Khulafa` dan kemudian akan banyak
sekali (jumlahnya).� [Shahih Muslim, hadits no. 1842].
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Juz VI hal. 497) memberi syarah
(penjelasan) hadits di atas, �...di dalam hadits ini ada isyarat bahwa tidak
boleh tidak rakyat harus mempunyai seseorang yang mengurus berbagai urusan
mereka, membawa rakyat ke jalan yang baik, dan menolong orang yang dizhalimi
dari orang yang berbuat zhalim.� Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim (Juz VI
hal. 231) mensyarah hadits di atas dengan mengatakan, �Mereka (para nabi Bani
Israil) mengatur berbagai urusan Bani Israil itu, sebagaimana yang dikerjakan
oleh para pemimpin (umara`) dan para gubernur/wali (wulah) terhadap rakyat. Dan
politik (as-siyasah) adalah melaksanakan sesuatu dengan apa yang membuatnya
menjadi baik (al-qiyaam �ala al-syai` bimaa yushlihuhu).�
Jelaslah, politik adalah bagian integral dari Islam, seperti halnya sholat yang
jelas merupakan bagian integral dari Islam. Islam tanpa politik ibarat Islam
tanpa sholat.
Maka dari itu, tidak heran jika para banyak ulama menekankan, bahwa politik dan
agama adalah ibarat dua saudar kembar (taw`amaani). Atau seperti dua sisi dari
sebuah mata uang. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Iqtishad fi Al-I�tiqad hal.
199 berkata,�...oleh karena itu, dikatakanlah agama dan kekuasaan (as-sulthan)
adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula, agama adalah pondasi (asas) dan
kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yag tidak berpondasi niscaya akan
runtuh, dan segala sesuatu yang tanpa penjaga niscaya akan hilang.� Ibnu
Taymiyah dalam Majmu� Al-Fatawa Juz 28 hal. 394 berkata, �Jika kekuasaan
(as-sulthan) terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan,
niscaya keadaan manusia akan rusak.�
Dalam terminologi Islam, sistem politik Islam dinamakan Khilafah atau Imamah.
Kewajibannya secara normatif dalam Islam adalah sesuatu yang tidak dapat
diragukan lagi. Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali
telah bersepakat bulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh
Abdurrahman Al-Jaziri menegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh �Ala Al
Madzahib Al Arba�ah, jilid V, hal. 308:
�Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi�i, dan Ahmad) --rahimahumullah--
telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya...�
Tak hanya kalangan Ahlus Sunnah saja yang mewajibkan Khilafah, bahkan seluruh
kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah, juga kalangan Khawarij dan Mu�tazilah, tanpa
kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkat seorang Khalifah. Imam
Asy-Syaukani dalam Nailul Authar jilid 8 hal. 265 mengatakan:
�Menurut golongan Syi'ah, mayoritas Mu'tazilah dan Asy'ariyah, (Khilafah)
adalah wajib menurut syara'.�
Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa' Wan Nihal Juz 4 hal. 87 mengatakan:
�Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji'ah, seluruh Syi'ah, dan
seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah)��
Walhasil, Khilafah Islam �sebagai bentuk sistem pemerintahan Islam� yang akan
menjalankan politik Islam di dalam dan luar negeri, adalah memang suatu
kewajiban syar�i. Kalau pun ada segelintir orang yang tidak mewajibkan
Khilafah, maka pendapatnya itu tidak perlu dianggap, karena bertentangan dengan
nash-nash syara� yang telah jelas. Lagi pula, di tengah dominasi paham
sekularisme dewasa ini, penolakan politik Islam jelas bukan merujuk pada norma
dan pengalaman sejarah Islam, melainkan merujuk pada norma dan sejarah
masyarakat Eropa yang Kristen. Jelas ini adalah bentuk taklid buta yang sangat
menyesatkan kaum muslimin.
Kesimpulan
Politisasi agama merupakan istilah yang bermuatan ideologi demokrasi-kapitalis
yang sekular. Asumsi dasarnya adalah agama harus dipisahkan dari dunia politik.
Maka menurut paham sekuler, �politisasi agama� adalah suatu penyimpangan.
Sebaliknya, Islam dan politik adalah suatu kesatuan integral. Politik adalah
bagian dari Islam sebagaimana sholat adalah bagian inegral dari Islam. Islam
tanpa politik adalah ibarat Islam tanpa sholat.
Perwujudan sistem politik Islam adalah sistem Khilafah yang keberadaannya
adalah wajib secara syar�i. Menolak kewajiban Khilafah adalah pandangan syadz
(ganjil) dalam khazanah pemikiran Islam dan hanya merupakan bentuk taklid buta
kepada sekularisme yang merupakan ideologi kaum imperialis yang kafir.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - Helps protect you from nasty viruses.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
---------------------------------
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups SponsorADVERTISEMENT
---------------------------------
Yahoo! Groups Links
To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/