Bughat, Pasukan Berani Mati, Santet, dan Gus Dur Malaikat 
 

    Pembelaan orang-orang NU  terhadap Gus Dur/ Abdurrahman Wahid dari goyangan 
yang ingin menurunkan Gus Dur dari kursi kepresidenan karena dianggap 
kepemimpinannya menimbulkan berbagai masalah dan tidak ada tanda-tanda 
kebaikan, tampaknya diujudkan dengan aneka macam. Dan pembelaan itu sendiri 
kelihatannya tidak perduli lagi, entah benar entah salah, pokoknya asal 
membela. 

   Bentuk-bentuk pembelaan itu di antaranya ada yang sesumbar mau menyantet, 
ada yang kiyai-kiyainya kumpul-kumpul untuk mencarikan hukum pakai kitab-kitab 
kuning (kitab berbahasa Arab biasanya kertasnya berwarna kuning) supaya para 
penggoyang Gus Dur yang menginginkan Gus Dur mundur dari kursi kepresidenan itu 
dihukumi sebagai bughot (pemberontak). Kalau sudah dihukumi bughat, maka 
pemerintahan Islam boleh memeranginya. 

   Dikhabarkan, sekitar 20 ulama NU Jawa Timur, Senin (19/3 2001), membahas 
hukum agama tentang bughat. Mereka menilai situasi politik yang ada sudah 
menjurus ke arah bughat kepada pemerintahan yang sah. Pertemuan dipimpin Wakil 
Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Ahmad Subadar. (Republika, 20/3 2001).  

   Weleh-weleh.... Orang NU itu mendirikan partai PKB �Partai Kebangkitan 
Bangsa-- saja tidak doyan asas Islam, dan Gus Dur sendiri menganggap kalau 
Islam dilegalkan atau diformalkan itu berbahaya, kok malah para Kiyai NU Jawa 
Timur capek-capek ramai-ramai membuka kitab kuning untuk mencari hukum bughat 
(pemberontak bersenjata terhadap pemerintahan Islam yang sah). Apa mereka lupa 
bahwa Gus Dur itu memerintah sama sekali tidak memakai syari�at Islam, dan 
bahkan jelas tidak doyan syari�at Islam?  Mestinya, dulu-dulu orang NU itu 
memperjuangkan syari�at Islam, baru kemudian kalau ada yang memberontak pada 
pemerintahan yang menjalankan syari�at Islam dicarikan hukum Islamnya yang 
judulnya bughat. Itu baru namanya para kiyai atau rombongan ulama. Tapi ini 
sudah sejak semula justru tidak doyan syari�at, tahu-tahu ketika dirasa 
kepemimpinannya dhalim dan tidak efektif lantas digoyang orang, maka yang 
menggoyangnya mau dicap sebagai bughat, dan sudah lebih dulu mengirimkan 
Pasukan Berani
 Mati  (PBM) demi membela Gus Dur dan melawan penggoyangnya yang mereka sebut 
bughat. 

   Mereka menolak kalau Syari�at Islam ditegakkaan. Tetapi mereka ingin 
mengklaim bahwa orang yang menggoyang kepemimpinan Gus Dur itu sebagai bughat, 
ini adalah sikap yang nyata-nyata menirukan sikap Yahudi yang telah dikecam 
oleh Allah SWT:

  �Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap 
sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian 
daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Qiyamat 
mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa 
yang kamu perbuat.� (Al-Baqarah: 85).

 Apa itu Bughat?

    Bughat atau bughoh adalah gerombolan (pemberontak) yang menentang kekuasaan 
negeri dengan kekerasan senjata, baik karena salah pengertian ataupun bukan. 

Kata bughoh jama� dari baaghin artinya seorang penantang kekuasaan negeri 
dengan kekerasan senjata.[1] 

   Yang dikatakan kaum bughat, ialah orang-orang yang menolak (memberontak) 
kepada Imam (pemimpin pemerintahan Islam). Adapun yang dikatakan Imam ialah 
pemimpin rakyat Islam yang mengurusi soal-soal kenegaraan dan keagamaanya. 
Adapun cara memberontak ialah dengan:

a.       Memisahkan diri dari wilayah kekuasaan Imamnya.

b.      Atau menentang kepada keputusan Imam, atau menentang perintahnya dengan 
jalan kekerasan senjata. 

Orang-orang golongan manusia yang disebut bughat itu harus memenuhi 
syarat-syarat sebagai berikut:

1.      Mempunyai kekuatan bala tentara serta senjatanya untuk memberontak 
Imamnya.

2.      Mempunyai pimpinan yang ditaati oleh mereka. 

3.      Mereka berbuat demikian, disebabkan karena timbulnya perbedaan pendapat 
dengan Imamnya mengenai politik pemerintahannya, sehingga mereka beranggapan 
bahwa memberontaknya itu menjadi keharusan baginya.

Adapun yang dikatakan Imamul Muslimin, ialah pemegang pemerintahan umum bagi 
kaum Muslimin, mengenai urusan agama dan urusan kenegaraannya dan dia diangkat 
berdasarkan bai�at (kesetiaan) dari masyarakatnya, entah langsung atau melalui 
wakil-wakilnya, yaitu: Para ulama, cendekiawan, dan para terkemuka yang 
disebut: Ahlul Hilli wal �aqdi. Pengangkatan Imam dianggap cukup dengan 
perantaraan mereka, karena mereka itu mudah untuk berkumpul dalam satu tempat, 
sehingga segala persoalan mudah diatasi/ diselesaikan.[2] 

   Kaum Bughat bisa ditumpas dengan jalan:

a.       Mula-mula Imam mengutus utusannya untuk menghubungi mereka guna 
meminta alasan sebab-sebabnya mereka memberontak. Hal ini sebagaimana tindakan 
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra dalam mengutus Ibnu Abbas untuk menghubungi 
golongan Nahrawan.

b.      Kalau disebabkan karena Imamnya berbuat kedzaliman, hendaknya Imam itu 
meninggalkan/ merobah perbuatannya itu supaya menjadi baik.

c.       Kalau Imam itu tidak merasakan bahwa dia itu tidak berbuat dhalim, 
hendaknya diadakan pertukaran fikiran antara Imam dengan pemimpin mereka 
(pemberontak).

d.      Kalau mereka terus membandel, Imam berhak memberikan ultimatum kepada 
mereka, dengan akan diadakannya tindakan tegas, bila mereka tidak segera 
menyerahkan diri. 

e.       Kalau mereka terus membandel juga, Imam berhak untuk mengadakan 
tindakan dengan kekerasan senjata pula sebagai imbangan kepada perbuatan mereka.

Firman Allah:

   �Kalau dua golongan dari golongan orang-orang Mukmin mengadakan peperangan, 
maka damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satunya berbuat menentang 
perdamaian kepada lainnya, maka perangilah orang-orang (golongan) yang 
menentang itu sehingga mereka kembali ke jalan Allah. Kalau mereka kembali, 
maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan memang harus berbuat adillah 
kamu sekalian. Sesungguhnya Allah itu mencintai pada orang-orang yang berlaku 
adil. (Al-Hujuraat: 9).[3]

   Kekhususan dalam Menghadapi Bughat

  Imam Al-Mawardi menjelaskan ada 8 perbedaan antara memerangi para pemberontak 
kaum Muslimin dengan memerangi orang-orang Musyrik dan orang-orang murtad.

1.      Peperangan terhadap para pemberontak kaum muslimin dimaksudkan untuk 
menghentikan pemberontakan mereka dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk 
membunuh mereka. Di sisi lain dibenarkan peperangan terhadap orang-orang 
musyrik dan orang-orang murtad dimaksudkan untuk membunuh mereka.

2.      Para pemberontak kaum muslimin baru boleh diserang, jika mereka maju 
menyerang. Jika mereka mundur dari medan perang, mereka tidak boleh diserang. 
Di sisi lain, diperbolehkan menyerang orang-orang musyrik  dan orang-orang 
murtad; mereka maju menyerang atau mundur.

3.      Orang-orang terluka dari para pemberontak tidak boleh dibunuh. Di sisi 
lain diperbolehkan membunuh orang-orang terluka dari orang-orang musyrik dan 
orang-orang murtad. Pada Perang Jamal, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu 
memerintahkan penyerunya untuk berseru dengan suara keras, �Orang yang telah 
mundur dari medan perang tidak boleh diserang, dan orang yang terluka tidak 
boleh dibunuh.�

4.      Tawanan-tawanan yang berasal dari para pemberontak tidak boleh dibunuh. 
Di sisi lain tawanan-tawanan dari orang-orang musyrik dan orang-orang murtad 
boleh dibunuh. Kondisi tawanan perang dari para pemberontak harus diperhatikan 
dengan cermat ; jika ia diyakini tidak kembali berperang (memberontak), ia 
dibebaskan. Jika ia diyakini kembali berperang (memberontak), ia tetap ditawan 
hingga perang usai. Jika perang telah usai, ia dibebaskan dan tidak boleh 
ditawan sesudah perang. Al-Hajjaj pernah membebaskan salah seorang tawanan  
dari sahabat-sahabat Qathri bin Al-Fuja�ah, karena keduanya saling kenal. 
Al-Qathri berkata kepada tawanan tersebut, �kembalilah berperang melawan musuh 
Allah, Al-Hajjaj.� Tawanan tersebut menjawab, �Aduh, kalau begitu dua tangan 
orang yang telah dibebaskan telah berkhianat, dan memperbudak leher orang yang 
membebaskannya!�

5.      Harta para pemberontak tidak boleh diambil, dan anak-anak mereka tidak 
boleh disandra. Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda, 

#1605;#1606;#1593;#1578; #1583;#1575;#1585; 
#1575;#1604;#1573;#1587;#1604;#1575;#1605; #1605;#1575; 
#1601;#1610;#1607;#1575;#1548; #1608;#1571;#1576;#1575;#1581;#1578; 
#1583;#1575;#1585; #1575;#1604;#1588;#1585;#1603; #1605;#1575; 
#1601;#1610;#1607;#1575;. 
Dilindungi apa saja yang ada di negara Islam, dan dihalalkan apa saja yang ada 
di negara musyrik.6.      Dalam memerangi para pemberontak, negara Islam tidak 
diperbolehkan meminta bantuan orang kafir muahid (yang berdamai dengan kaum 
muslimin), atau orang kafir dzimmi (kafir yang berada dalam jaminan keamanan 
kaum Muslimin dengan membayar jizyah dalam jumlah tertentu), kendati hal 
tersebut dibenarkan ketika negara Islam memerangi orang-orang musyrik, dan 
orang-orang murtad.7.      Negara Islam tidak boleh berdamai dengan mereka 
untuk jangka waktu tertentu dan juga tidak boleh berdamai dengan mereka dengan 
kompensasi uang. Jika komandan perang pasukan Islam berdamai dengan mereka 
dalam jangka waktu tertentu, ia tidak harus memenuhinya. Jika ia tidak sanggup 
memerangi mereka, ia menunggu datangnya bantuan pasukan untuk menghadapi 
mereka. Jika ia berdamai dengan mereka, dengan kompensasi uang, maka perdamaian 
batal, dan uang perdamaian diperhatikan dengan baik; jika uang tersebut
 berasal dari fai� mereka atau berasal dari sedekah (zakat) mereka, maka uang 
tersebut tidak dikembalikan kepada mereka, kemudian sedekah (zakat) tersebut 
didistribusikan kepada para penerimanya dari kaum muslimin, dan fai� 
dibagi-bagikan pada penerimanya. Jika uang perdamaian murni dari mereka, uang 
tersebut tidak boleh dimiliki pasukan Islam dan harus dikembalikan kepada 
mereka.8.      Pasukan Islam tidak boleh menyerang mereka dengan menggunakan 
senjata al-arradat (senjata pelempar batu), rumah-rumah mereka tidak boleh 
dibakar, kurma-kurma dan pohon-pohon mereka tidak boleh ditebang, karena itu 
semua berada di dalam negara Islam yang terlindungi, kendati warganya 
memberontak.[4]   
   Demikianlah pengertian tentang bughat atau pemberontak Muslim di negeri yang 
pemerintahannya Islam. Perlawanan para pemberontak pemerintahan Islam itu 
sendiri apabila pemerintahnya dhalim, masih jadi pembicaraan, sebagai berikut:

   Prof TM Hasbi As-Shiddieqy mengemukakan kaidah sebagai berikut:

�Tidak boleh kita menentang pemerintah atau kepala negara selama mereka belum 
melahirkan kufur yang nyata.�

   Demikian pendapat Jumhur Ulama. Setengah ulama membolehkan, bahkan 
mewajibkan rakyat menentang kepala negara yang lalim, walaupun belum nyata 
kufurnya.[5] 

   Dalam kaidah itu, pemerintahan Islam yang sah saja kalau penguasanya dhalim 
maka sebagian ulama membolehkan bahkan mewajibkan rakyat menentangnya. Lantas, 
bagaimana bisa pemerintahan Gus Dur yang sama sekali tidak doyan Islam itu mau 
didukung-dukung oleh orang-orang NU yang mencari-cari hukum bughat dan akan 
ditimpakan kepada para penentang Gus Dur yang dinilai dhalim? Bahkan sudah ada 
500-an orang yang menyebut dirinya Pasukan Berani Mati (PBM) demi Gus Dur 
didatangkan dari Jawa Timur ke Jakarta. 
Pasukan Berani Mati demi Gus Dur
Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta. Mereka dibekali berbagai jimat dan 
ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang memiliki daya linuwih (melebihi orang 
biasa) itu adalah Pasukan Berani Mati dari Banyuwangi. Pasukan berani Mati 
(PBM) yang dikomandani oleh Abdul Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur 
darat dari Banyuwangi pada hari Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama 
jumlahnya hanya 500 orang, diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. 
Pasalnya, di Banyuwangi sendiri sempat beredar formulir pernyataan kesiapan 
mati demi membela Gus Dur.[6] 

Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar 
terhadap Islam. Pertama, mereka pakai jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus 
Dur.

Masalah jimat, ada larangannya, jelas:

#1605;#1606; #1578;#1593;#1604;#1602; #1578;#1605;#1610;#1605;#1577; 
#1601;#1602;#1583; #1571;#1588;#1585;#1603;.

�Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka sungguh benar-benar dia telah 
syirik�menyekutukan Allah, dosa terbesar-- . (Hadits Riwayat Ahmad).

#1573;#1606; #1575;#1604;#1585;#1602;#1609; 
#1608;#1575;#1604;#1578;#1605;#1575;#1574;#1605; 
#1608;#1575;#1604;#1578;#1608;#1604;#1577; #1588;#1585;#1603;. 
#1602;#1575;#1604;#1608;#1575; #1610;#1575; #1571;#1576;#1575; 
#1593;#1576;#1583; #1575;#1604;#1585;#1581;#1605;#1606; #1607;#1584;#1607; 
#1575;#1604;#1585;#1602;#1609; #1608;#1575;#1604;#1578;#1605;#1575;#1574;#1605; 
#1602;#1583; #1593;#1585;#1601;#1606;#1575;#1607;#1575;#1548; 
#1601;#1605;#1575; #1575;#1604;#1578;#1608;#1575;#1604;#1577;#1567; 
#1602;#1575;#1604;: #1588;#1610;#1569; #1610;#1589;#1606;#1593;#1607; 
#1575;#1604;#1606;#1587;#1575;#1569; #1610;#1578;#1581;#1576;#1576;#1606; 
#1576;#1607; #1573;#1604;#1609; #1571;#1586;#1608;#1575;#1580;#1607;#1606;. 

" Sesungguhnya tangkal, azimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para 
sahabat kemudian bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan 
jimat itu kami telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab: 
Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan 
tiwalah (pelet) itu dicintai oleh suami-suami mereka.� (HR Ibnu Hibban dan 
Hakim).

   Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya dogdeng (tidak mempan 
dibacok):

#1593;#1606; #1593;#1605;#1585;#1575;#1606; #1576;#1606; 
#1581;#1589;#1610;#1606; #1585;#1590;. #1571;#1606; 
#1575;#1604;#1606;#1576;#1610; #1589; #1605;. #1585;#1571;#1609; 
#1585;#1580;#1604;#1575; #1601;#1610; #1610;#1583;#1607; 
#1581;#1604;#1602;#1577; #1605;#1606; #1589;#1601;#1585; 
#1601;#1602;#1575;#1604; : #1605;#1575; #1607;#1584;#1607; #1567; 
#1602;#1575;#1604; #1605;#1606; #1575;#1604;#1608;#1575;#1607;#1606;#1577;. 
#1601;#1602;#1575;#1604; : #1575;#1606;#1586;#1593;#1607;#1575; 
#1601;#1573;#1606;#1607;#1575; #1604;#1575; #1578;#1586;#1610;#1583;#1603; 
#1573;#1604;#1575; #1608;#1607;#1606;#1575; #1601;#1573;#1606;#1603; 
#1604;#1608; #1605;#1578; #1608;#1607;#1610; #1593;#1604;#1610;#1603; 
#1605;#1575; #1571;#1601;#1604;#1581;#1578; #1571;#1576;#1583;#1575;. 
(#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1581;#1605;#1583; #1576;#1587;#1606;#1583; 
#1604;#1575; #1576;#1571;#1587; #1576;#1607;). 

�Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, �Bahwa Nabi melihat seorang laki-laki 
memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, �Apakah ini?�  Orang itu 
menjawab: �Penolak lemah�. Maka bersabda Nabi kepada orang itu, �Tanggalkanlah 
gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, dan apabila 
kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu, tentulah engkau tidak akan selamat 
selama-lamanya.� (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba�sa bih).         

   Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu jelas-jelas 
keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah saw dan 
pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang kalau 
mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw. 

#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1583;#1593;#1609; 
#1573;#1604;#1609; #1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; 
#1608;#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; 
#1602;#1575;#1578;#1604; #1593;#1604;#1609; 
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; #1608;#1604;#1610;#1587; 
#1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1605;#1575;#1578; #1593;#1604;#1609; 
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;. (#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1576;#1608; 
#1583;#1575;#1608;#1583;). 

�Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan �ashobiyah (fanatisme 
kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, 
orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk 
(golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.� (HR Abu 
Dawud).

   Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat seperti itu, bahkan yang mengisi 
jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa mendatangkan bala� terhadap 
lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh 
NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang mengakuinya:

Pertanyaan: Ilmu tersebut dimiliki lewat jimat atau benda apa?

Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada yang memang bentuk ajimat, tapi kalau 
di pesantren kebanyakan mereka ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur�an. Kata Nabi 
dulu, orang dengan membaca bismillahir rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa 
berjalan di atas air. Nah, sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita 
bisa memiliki kekuatan tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.

Pertanyaan: Tekanan terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga 
menggunakan cara lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu 
diperoleh dari mana?

Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam 
itu tidak aneh lagi. Karena para santri yang umumnya mendalami berbagai macam 
kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Kekuatan itu akan muncul 
sesuai dengan batin mereka sendiri.... Di samping itu, ada juga yang 
mendapatkan ilmu dari para ulama khos.  
Apakah ada syarat khusus?
Jawab: Biasanya mereka memperolehnya sebelum menikah, karena pada saat sebelum 
menikah itu ujian dan godaannya sangat berat. Kalau mereka lulus, ya ilmu itu 
memang cocok untuk dirinya. Di samping itu, syarat yang tak kalah penting 
adalah mereka mesti taat dan patuh atas perintah gurunya. Mereka itu, 
istilahnya nyantri. Artinya, mereka mengabdikan dirinya pada guru-gurunya itu. 
Batas pengabdian itu tergantung gurunya. Ada yang cuma 40 hari, tapi ada yang 
sampai berpuluh-puluh tahun. Makin lama dia nyantri sama gurunya, biasanya 
tingkat kesempurnaan itu makin baik. Dan sulit ditandingi orang lain, kecuali 
gurunya sendiri. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28 Maret 2001, halaman 6). 

  Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai Noer Iskandar itu. Justru yang 
menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam Islam itu para Kiyai pesantren 
lingkungan NU. Masih pula Kiyai Iskandar menimpakannya kepada Nabi saw seolah 
beliau adalah seperti para kiyai yang pada hakekatnya adalah dukun-dukun itu. 
Na�udzubillahi min dzalik. Mau dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kiyai 
dukun yang menyebarkan perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak 
santri-santrinya sampai berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang 
kiyai-kiyai dukun hanya agar menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi 
Muhammad saw itu? 

   Tidak mengherankan, hasilnya seperti pengakuan Komandan Lapangan PBM 
(Pasukan Berani Mati) --demi Gus Dur--, Arifin Salam  dalam wawancara seperti 
berikut ini:
T: Apa sebenarnya tujuan anda datang ke DPR/ MPR? 
J: Kami datang sebenarnya dalam rangka menggugat sekaligus minta memorandum itu 
dicabut. Oleh karena itu kami datang bukan untuk dukung-mendukung Gus Dur. Jadi 
kami datang untuk menegakkan perbuatan-perbuatan yang merusak konstitusi. 
T: Maksudnya bagaimana?
J: Kami bersedia mati untuk tegaknya konstitusi. Kami teriak-teriak bukan hanya 
berani dalam ruangan, tapi ini benar-benar murni untuk konstitusi yang telah 
ditegakkan para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, kepergian saudara-saudara 
ini dari tempat yang jauh sudah direlakan isteri-isterinya. Bahkan, 
isteri-isteri mereka sudah siap menjadi janda.

T: Apakah kalau mati ada jaminan bahwa kubu Gus Dur akan merawat anak isteri 
Anda? 

J: Bukan itu persoalannya, kami datang ke sini untuk memerangi pemberontak. Dan 
memerangi bughat (pemberontak) itu hukumnya mati syahid. Yang saya maksud para 
bughat itu adalah mereka yang mengacak-acak konstitusi. 
T: Siapa yang anda maksud dengan bughat yang halal untuk diperangi?
J: Pelaku-pelaku bughat itu mereka yang melecehkan dan menghancurkan 
konstitusi, misalnya Amien Rais.Tapi bukan dia saja, lho, semua yang termasuk 
bughat itu mesti diperangi. 
T: Berarti target dari pasukan Berani Mati ini adalah Amien Rais?
J: Bukan itu maksudnya. Tapi sejauh mana wakil rakyat ini bisa menjalankan 
fungsinya, sehingga tidak menjadi bughat. 
T: Jadi, tuntutan Pasukan Berani Mati itu apa?
J: Kami minta agar memorandum itu dicabut, karena ini bentuk pelecehan. Bahkan, 
katanya, malah akan diberi memorandum kedua. Ini bisa makin gawat. 
T: Apa konsekuensinya, jika permintaan itu tak dikabulkan? 
J: Kami akan terus bergerak untuk mempressure DPR. 

T: Mengapa begitu berani mati untuk konstitusi? Pasukan ini dibekali kekuatan 
apa saja?

J: Begini, ya, dasar dari keberanian mereka itu adalah religius. Di samping 
itu, memang mereka ada yang dibekali beberapa ilmu. Misalnya ilmu kekebalan 
tubuh, dan ilmu anti peluru. 
T: Apakah ilmu dari kekuatan ini efektif untuk menangkal berbagai serangan 
aparat?
J: Kita bukan untuk melawan aparat, tapi ilmu itu akan keluar dengan 
sendirinya, artinya muncul seiring aksi yang spontan. 
T: Dari mana mereka mendapat ilmu kekebalan itu?
J: Dalam hal ini mereka ada yang memiliki secara sendiri-sendiri, ada yang 
melakukan lewat puasa selama seminggu, satu bulan. Dan, ada yang memang diisi.
T: Berapa jumlah PBM yang siap tempur? 
J: Semua total sekitar 500 orang. Yang datang ke DPR/MPR hanya 45 orang. Sedang 
sisanya ditempatkan di beberapa lokasi yang rawan, misalnya Istana, Monas, 
Kramat dan lain-lainnya.
T: Seberapa kuat tingkat kekebalan mereka pada senjata?
J: Kalau memang anda mau lihat, saya akan panggil beberapa orang, silakan anda 
sendiri yang melakukannya, misalnya pakai pedang, golok, pistol, benda-benda 
lainnya. 
T: Kapan PBM ini pulang?
J: Tergantung situasi.
T: Apa kaitan PBM dengan PBNU?
J: Saya pikir, kami tidak ada ikatan dengan PBNU. Jadi, kami tidak tergantung 
dari PBNU. 
T: PBM ini kebanyakan personilnya dari mana saja?
J: Sebagian besar dari Banyuwangi. Dan, kedatangan kami semata-mata untuk 
menegakkan konstitusi. Kami ingin agar konstitusi ini dihormati semua pihak. 
(Aksi, 22 Maret 2001, halaman 5.).  

    Ada bebarapa masalah yang dilakukan oleh Pasukan Berani Mati itu. Katanya 
untuk membela konstitusi, tetapi mengaku berjihad melawan apa yang mereka 
namakan bughat (pemberontak), lalu menghalalkan darah Amien Rais dan lain-lain 
yang mereka anggap bughat.

    Di samping mereka telah melanggar aturan terbesar dalam Islam yaitu 
larangan kemusyrikan karena mereka memakai kekebalan, dan memamerkannya sampai 
mau beratraksi di depan wartawan, masih pula menghalalkan darah Amien Rais 
ketua MPR dan orang-orang DPR lainnya. Betapa besar dosa yang dipikul oleh para 
kiyai dukun dan kiyai-kiyai provokator yang telah mengisi kekebalan dan 
menyuruh atau mengizinkan 500-an Pasukan Berani Mati demi Gus Dur ini. Keizinan 
dengan menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq itu saja kalau sampai 
terlaksana insya Allah sudah bisa memasukkan neraka selama-lamanya. Belum lagi 
masalah kemusyrikan yang mereka sebarkan, dan juga isian aji-aji dogdeng (ilmu 
kebal). Belum lagi keterjerumusan Pasukan Berani Mati ini. Semua itu dosanya 
melimpah pula kepada para kiyai-kiyai dukunnya dan para provokatornya. Belum 
lagi pengajaran salah tentang bughat yang mereka tanamkan kepada orang awam 
yang dijadikan Pasukan Berani Mati demi Gus Dur.

 

 Ancaman Santet dan �Ashobiyah 

Pembelaan terhadap Gus Dur bukan hanya mengenai masalah yang berkaitan dengan 
kedudukannya sebagai presiden. Bahkan tentang skandalnya pun mereka bela.

   Pada tahun 2000 merebak berita tentang skandal Gus Dur dengan Ariyanti Boru 
Sitepu. Fotonya beredar luas, Gus Dur bercelana pendek memangku Ariynti yang 
berstatus isteri orang. Terhadap merebaknya berita skandal itu, seorang Kiyai 
bernama Chalil Bisri dari Rembang Jawa Tengah, tokoh terkemuka NU, dan bahkan 
termasuk penggagas didirikannya PKB, membela Gus Dur dengan ungkapan yang di 
luar batas kewajaran seorang Muslim, seperti berita berikut ini:

...Kalangan ulama Nahdliyin (Nahdlatul Ulama/ NU, pen) dengan terang-terangan 
membela mati-matian Gus Dur. Kyai Cholil Bisri misalnya bahkan secara 
�gila-gilaan� berpendapat apa yang dilakukan Gus Dur dengan fakta gamblang 
dalam foto  memangku wanita bukan isterinya itu dianggapnya sebagai hal yang 
wajar saja. Ia malah mengaku dirinya juga akrab dengan santri-santri watinya, 
juga dengan tokoh artis seperti Neno Warisman. Akrab yang ia maksudkan tentu 
saja setara dengan foto Gus Dur memangku Aryanti Boru Sitepu. Na�udzubillahi 
min dzalik! Belum apa-apa, bahkan tokoh NU ini mengancam jika ia diperlakukan 
seperti Gus Dur ia mengancam semua yang menyebar-nyebarkan berita slingkuh itu 
akan ia santet, tidak peduli apakah itu dosa atau tidak. (Media Dakwah, Rajab 
1421/ Oktober 2000, halaman 8-9).

   Pembelaan seperti itu tampak sekali tidak mempertimbangkan benar atau 
tidaknya tingkah Gus Dur, yang penting asal bela. Itulah tingkah dan sikap 
nyata Kiyai NU, dalam hal ini dilakukan oleh Kiyai Chalil Bisri. Pembelaan asal 
bela, tak mau tahu yang dibela itu salah atau benar, itu adalah satu sikap 
�shobiyah, yaitu tingkah dan ciri utama orang Jahiliyah dahulu kala. Datangnya 
Islam adalah untuk memberantas Jahiliyah, yang di antara sikap jelek 
terutamanya adalah �ashobiyah itu. 

   �Ashobiyah atau Ta�asshub, menurut Dr A Zaki Badawi, adalah fanatisme, yaitu 
berlebih-lebihan (ghuluw) dalam bergantung dengan seseorang atau ideologi 
(fikrah), atau prinsip, atau kepercayaan (bukan fanatik dengan aqidah Islam, 
kalau fanatik dalam hal aqidah Islam maka baik, pen) di mana (kefanatikan 
terhadap seseorang, kelompok dan lain-lain itu)  tidak menyisakan tempat untuk 
toleransi, dan kadang membawa kepada kekerasan dan berani mati.[7]

    Sikap seperti itu sangat dilarang oleh Nabi saw dengan sabdanya:

#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1583;#1593;#1609; 
#1573;#1604;#1609; #1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; 
#1608;#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; 
#1602;#1575;#1578;#1604; #1593;#1604;#1609; 
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; #1608;#1604;#1610;#1587; 
#1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1605;#1575;#1578; #1593;#1604;#1609; 
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;. (#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1576;#1608; 
#1583;#1575;#1608;#1583;). 

�Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan �ashobiyah (fanatisme 
kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami, 
orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk 
(golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.� (HR Abu 
Dawud).

   Tentang membela golongannya yang dalam keadaan salah, Nabi saw melarangnya 
pula, dengan sabdanya:

#1605;#1606; #1606;#1589;#1585; #1602;#1608;#1605;#1607; #1593;#1604;#1609; 
#1594;#1610;#1585; #1575;#1604;#1581;#1602;#1548; #1601;#1607;#1608; 
#1603;#1575;#1604;#1576;#1593;#1610;#1585; #1575;#1604;#1584;#1610; 
#1585;#1583;#1610; #1601;#1607;#1608; #1610;#1606;#1586;#1593; 
#1576;#1584;#1606;#1576;#1607;.

�Barangsiapa membela kaumnya tidak berdasarkan kebenaran , ia ibarat seperti 
unta roboh lalu ia mau berdiri dengan ekornya.� (Tafsir Ibnu Katsir, seperti 
dikutip Sayyid Abil Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi dalam Madza Khosirol �alamu 
bin khithotil Muslimin, Darul Kitabil �Arabi, Beirut,  cetakan  ke-7, 1967/ 
1387H, halaman 100).

   Tentang ancaman santet yang dilancarkan kiyai itu dengan tidak perduli dosa 
atau tidak; maka ucapan dan sikap seperti itu merupakan penentangan terhadap 
Islam benar-benar. Sudah berani melanggar, masih menentang Islam dengan cara 
tidak mau perduli apakah itu berdosa atau tidak. 

   Tentang santet atau sihir atau tenung itu sendiri dalam Islam termasuk 
perbuatan dosa besar. 

#1605;#1606; #1593;#1602;#1583; #1593;#1602;#1583;#1577; #1579;#1605; 
#1606;#1601;#1579; #1601;#1610;#1607;#1575; #1601;#1602;#1583; 
#1587;#1581;#1585; #1608;#1605;#1606; #1587;#1581;#1585; #1601;#1602;#1583; 
#1571;#1588;#1585;#1603;.

�Barangsiapa yang mengikat bundelan (simpulan), kemudian menghembusnya, maka 
sesungguhnya dia menyihir, dan orang yang menyihir maka sungguh ia telah syirik 
(menyekutukan Allah)�. (Hadits Riwayat An-Nasa�i dari Abu Hurairah).

#1575;#1580;#1578;#1606;#1576;#1608;#1575; 
#1575;#1604;#1605;#1608;#1576;#1602;#1575;#1578;: 
#1575;#1604;#1588;#1585;#1603; #1576;#1575;#1604;#1604;#1607; 
#1608;#1575;#1604;#1587;#1581;#1585;. (#1585;#1608;#1575;#1607; 
#1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;).

�Jauhilah hal-hal yang mencelakakan kamu, yaitu syirik kepada Allah dan sihir.� 
(HR Al-Bukhari).

#1593;#1606; #1581;#1601;#1589;#1577; #1585;#1590;#1610; 
#1575;#1604;#1604;#1607; #1593;#1606;#1607;#1575; #1571;#1606;#1607;#1575; 
#1571;#1605;#1585;#1578; #1576;#1602;#1578;#1604; 
#1580;#1575;#1585;#1610;#1577; #1604;#1607;#1575; 
#1587;#1581;#1585;#1578;#1607;#1575; #1601;#1602;#1578;#1604;#1578;. 
(#1585;#1608;#1575;#1607; #1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;).

Hadits dari Hafshah ra mengatakan bahwa ia diperintahkan membunuh budak wanita 
yang menyihirnya, kemudian ia membunuhnya.� (HR Al-Bukhari).

   #1593;#1606; #1576;#1580;#1575;#1604;#1577; #1602;#1575;#1604; 
#1603;#1578;#1576; #1593;#1605;#1585; #1576;#1606; 
#1575;#1604;#1582;#1591;#1575;#1576; : #1571;#1606; 
#1575;#1602;#1578;#1604;#1608;#1575; #1603;#1604; #1587;#1575;#1581;#1585; 
#1608;#1587;#1575;#1581;#1585;#1577; . #1602;#1575;#1604; 
#1601;#1602;#1578;#1604;#1606;#1575; #1579;#1604;#1575;#1579; 
#1587;#1608;#1575;#1581;#1585;. (#1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;). 

Hadits dari Bajjalah mengatakan, bahwa Umar bin Khatthab menetapkan, supaya 
kamu bunuh semua penyihir laki-laki dan wanita. Bajjalah berkata, �kami telah 
membunuh tiga orang penyihir.� (HR Al-Bukhari).

   Setelah jelas masalahnya, betapa besar pelanggaran kiyai itu, yaitu membela 
pemimpin kelompoknya tidak berdasarkan kebenaran, dan masih sesumbar dengan 
mengadalkan santet atau sihir, maka tidak mengherankan kalau orang awamnya atau 
wadyabalanya ada yang menamakan dirinya PBM (Pasukan Berani Mati) demi Gus Dur, 
yang mereka itu mengandalkan ilmu kebal seperti dalam uraian di atas.

   Gus Dur Dianggap Malaikat

   Pembelaan lain ada pula dengan jalan mengkultuskan Gus Dur sebagai malaikat 
atau di dadanya ada malaikatnya. Berikut ini beritanya:

    Sebnyak 36 Kiyai, pengasuh pondok pesantren, dan guru NU dari empat 
kabupaten di Jawa Timur, mendatangi Gedung MPR/DPR, Senayn, Jakarta, Rabu (24/1 
2001). Mereka meminta pimpinan DPR mempertahankan Presiden Abdurrhman Wahid dan 
Wapres Megawati Sukarno Putri sampai 2004. 

   Ketu DPR Akbar Tanjung menemui rombongn yang dipimpin Fawaid As�ad Syamsul 
Arifin, pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Syafe�i, Situbondo. Dalam 
pertemuan itu, mereka juga berharap perbedaan pendapat di antara elite politik 
cukup dijadikan wacana, jangan mempengaruhi masyarakat bawah. 

Wakil ketua DPR RI, Tosari Widjaya, Wakil Ketua Komisi II Ferry Mursyidan 
Baldan, dan anggota Komisi II Yahya Zaini ikut mendampingi Akbar menemui 
rombongan dari Kab Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember itu.

   Menurut Lukman Yasir dari Jember, bagi orang NU, Abdurrahman Wahid bukan  
sekadar presiden, tapi juga malaikat. �Gus Dur bukan saja tangannya yang harus 
dicium, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikat,� ungkapnya. 

   Lukman lantas menyuruh Akbar membaca surah Al-Fatihah sebanyak 2000 kali. 
�Pasti bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi,� kata Lukman. (Harian Republika, Kamis 
25 Januari 2001, halaman 16).

      Sejumlah kiai dari Jawa Timur itu di antara mereka ada yang mengatakan, 
Gus Dur itu di dadanya ada malaikatnya, makanya tidak cukup disalami dengan 
mencium tangannya, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikatnya. Di 
samping itu, kata kiai ini, kalau membaca surat Al-Fatihah 2000 kali, pasti 
ketemu ruh Gus Dur dalam mimpi.

 Ungkapan Kiyai semacam itu menurut Islam telah menyangkut hal ghaib. Islam 
menegaskan, hal-hal yang ghaib itu hanya Allah SWT yang tahu. Demikian pula 
keberadaan malaikat,  termasuk hal ghaib. Jadi hanya Allah yang tahu. 
Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur�an:

   �Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang 
mengetahuinya kecuali Dia sendiri�.� (QS Al-An�aam/ 6: 59).

    Apabila mengatakan hal ghaib tidak berlandaskan keterangan dari wahyu ( 
Al-Qur�an ataupun Hadits Nabi saw yang shahih) maka orang itu telah melanggar 
ayat-ayat Al-Qur�an. Di samping itu, telah mengaku-aku dirinya mengetahui hal 
ghaib, yang hal itu Nabi saw pun tidak pernah melakukannya. Sedangkan 
berita-berita tentang hal ghaib yang disampaikan oleh Nabi saw tak lain hanya 
karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT. 

   Berikut ini  sebuah hadits yang menegaskan betapa kita harus hati-hati 
mengenai hal ghaib.

   Bahwa Utsman bin Madh�un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang 
Rasulullah saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan 
(shahabiyyah) Ummu Al-�Ala� berkata, �Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (�Utsman 
bin Madh�un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu�. Maka Rasulullah saw 
membantahnya dengan berkata:

  #1608;#1605;#1575; #1610;#1583;#1585;#1610;#1603; #1571;#1606; 
#1575;#1604;#1604;#1607; #1602;#1583; #1571;#1603;#1585;#1605;#1607;#1567; 

�Apa yang menjadikan kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?� 

   Ini adalah peringatan yang besar dari Rasulullah saw kepada sahabat wanita 
ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut keghaiban. 
Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal ghaib kecuali Allah SWT. 
Tetapi shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata: 

   �Subhanallaah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan 
kalau Dia tidak memuliakannya?�  Artinya, jika Utsman bin Madh�un ra, tidak 
termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT maka siapa lagi yang masih tersisa 
pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan 
signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya dengan ucapan yang 
lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:

  #1608;#1575;#1604;#1604;#1607; #1573;#1606;#1610; 
#1604;#1585;#1587;#1608;#1604; #1575;#1604;#1604;#1607; #1604;#1575; 
#1571;#1583;#1585;#1610; #1605;#1575; #1610;#1601;#1593;#1604; #1576;#1610; 
#1594;#1583;#1575;.

 

�Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa 
yang Dia perbuat padaku esok.�

   Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati 
dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah. 
Dan di sinilah Ummu Al-�Ala� sampai pada hakekat syara� yang besar, maka dia 
berkata:       �Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci 
terhadap seorang pun selama-lamanya.� (HR Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224, 
8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al-�Ala� Al-Anshariyyah bi 
nahwihi).  

    Dengan demikian, ummat Islam wajib menolak ucapan siapapun menyangkut hal 
ghaib, kecuali ada dalilnya (ayat atau hadits yang shahih).

   Kemudian tentang saran agar membaca  Al-Fatihah 2000 kali supaya bisa 
bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi itu mengandung dua masalah besar. 

Pertama, masalah membuat syari�at berupa membaca surat Al-Fatihah 2000 kali. 
Ini merupakan pelanggaran, sebab tidak ada yang berhak membuat syari�at kecuali 
Allah SWT. Sekalipun membaca Al-Fatihah itu baik, namun kalau disyaratkan 
dengan bilangan 2000 kali, itu harus ada dalilnya. Kalau tidak (dan memang 
tidak ada dalilnya), maka artinya adalah membuat syari�at baru. Ini tidak ada 
hak bagi siapapun, karena syari�at telah sempurna. Allah SWT berfirman, yang 
artinya:

   �Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah 
Ku-cukupkan  kepadamu ni�mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama 
bagimu.� (Al-Maaidah: 3).

    Nabi Muhammad saw bersabda: 

�Jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya 
setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid�ah, dan setiap bid�ah 
adalah sesat.� (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih).

   Dan pada riwyat lain:

   �Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu 
tertolak.� (Diriwayatkan Muslim).

   Rasulullah saw bersabda:

�Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, 
maka itu adalah tertolak.� (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

   Jadi, mensyaratkan dengan membaca Al-Fatihah 2000 kali itu jelas bid�ah, 
tertolak, karena tidak ada di dalam perintah Allah mupun Rasul-Nya.

   Masalah kedua, berbicara tentang ruh, itu hanya Allah SWT yang tahu. Orang 
yang menjanjikan akan bisa bertemu dengan ruh seseorang dengan syarat tertentu 
ataupun tanpa syarat, itu telah melanggar batas-batas yang diperkenankan Islam. 
Bagaimana bisa, orang yang tidak diberi wewenang mengurusi ruh, bahkan tahu 
saja tidak, akan bisa menentukan pertemuan dengan ruh. Nabi saw  yang jelas 
utusan Allah pun ketika ditanya tentang ruh, maka Allah menyuruhnya untuk 
menjawab dengan ucapan bahwa ruh itu termasuk urusan Allah SWT.

   �Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk 
urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.� 
(Al-Israa�/ 17: 85).

   Ayat itu jelas. Namun, kemungkinan orang yang mengaku-ngaku bisa mengurusi 
ruh hingga berani memberi syarat-syarat untuk mempertemukan ruh itu akan 
melandasi kesesatannya dengan menyelewengkan penafsiran ayat tersebut, 
sebagaimana yang pernah saya dengar langsung dari seorang pembela tasawuf sesat 
bahwa lafal min amri robbii itu artinya bukan �termasuk urusan Tuhanku� tetapi 
ia artikan: �termasuk alam amr Tuhanku�. Jadi ruh itu menurut pandangan pembela 
sufi sesat ini, adalah termasuk alam amr (salah satu jenis alam) Tuhan. Orang 
itu tidak menjelaskan, dari mana dia memperoleh penafsiran yang sangat aneh dan 
menyeleweng itu.    

    Kebohongan-kebohongan semacam itu �yaitu mengaku-ngaku dengn mampu 
memastikan akan bertemunya ruh dengan ruh�itu bukan kebohongan biasa, namun 
berakibat fatal, yaitu rusaknya aqidah/ keimanan. 

   Kalau rombongan Kiyai yang datang ke Jakarta untuk melabrak ketua DPR saja 
kepercayaannya sesesat itu, maka betapa lagi kiyai-kiyai yang semodel dengannya 
yang tak berani melabrak ke Jakarta. Dan betapa amburadulnya lagi kepercayaan 
para murid-muridnya dan orang awam yang di bawah tipuan kebohongan mereka.

Dan sangat memprihatinkan sekali, kenapa pengucapnya itu disebut kiyai atau 
ulama. 

    Itu belum pembelaan-pembelaan ngawur yang sifatnya mengadakan pengrusakan 
sarana-sarana Ummat Islam seperti merusak masjid, madrasah, dan kantor-kantor 
Muhammadiyah plus Al-Irsyad serta HMI di berbagai tempat. Kalau kantor-kantor 
Golkar yang dibakar atau dirusak di mana-mana, itu tak ada urusan dalam buku 
ini, masalahnya buku ini lebih memfokuskan pada urusan Ummat Islam atau bahkan 
agama Islam itu sendiri. Termasuk penghalangan jalan dengan menebangi pohon 
lalu dihalangkan ke sepanjang jalan di sebagian wilayah Jawa Timur, serta 
penutupan pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan 
Jawa-Bali yang dilakukan para pendukung Gus Dur, itu adalah salah satu bentuk 
dukungan terhadap Gus Dur dalam bentuk perusakan atau merugikan kepentingan 
umum.

   Betapa ngerinya memandang sosok-sosok model itu. Sudah aqidah mereka itu 
rusak tidak keruan, masih pula perbuatannya pun merusak dan merugikan Islam. 
Semua itu bisa serempak dan meluas serta membesar bahaya pengrusakannya 
lantaran ada wadahnya.   

    Berarti telah sukseslah para perintis pembikinan wadah itu yang telah 
bercapek-capek untuk mewujudkan adanya wadah yang mereka perjuangkan sejak 
zaman penjajahan Belanda. Dan itulah yang insya Allah jadi bekal di alam baqa� 
yang ganjarannya senantiasa mengalir selama wadah itu masih difungsikan, atau 
ajaran wadah itu masih diamalkan orang. 

     Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian. Amien, 
ya Robbal �aalamien.  

     


---------------------------------

[1] Prof Dr TM Hasbi As-Siddieqy,Ahkamul Fiqh Al-Islami, Hukum-hukum Fiqih 
Islm, Bulan Bintang, Jakarta, cetakan ke-6, 1986, halaman 625.


[2] H Moh Anwar, Fiqih Islam, PT Al-Ma�arif, Bandung, cetakan kedua, 1988, 
halaman 318-319. 


[3] Ibid, 319-320.


[4] Imam Al-Mawardi, al-Ahkam As-Sulthaniyyah wal Wilayaat Ad-Diniyyah, Darul 
Fikr, Beirut, cetakan pertama 1960M/ 1380H, halaman 60-61, atau terjemahnya 
halaman 111-113. 


[5] Prof TM Hasbi As-Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqih Islam, halaman 563.


[6] Tabloid Aksi, vol 5 No 314,  22-28 Maret 2001, halaman 4-5).


[7] Dr A Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Sciences, Engleish- French- 
Arabic, Librairie du Liban, Beirut, cetakan pertama., 1978, halaman 154.




                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Meet the all-new My Yahoo! � Try it today! 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke