Bughat, Pasukan Berani Mati, Santet, dan Gus Dur Malaikat
Pembelaan orang-orang NU terhadap Gus Dur/ Abdurrahman Wahid dari goyangan
yang ingin menurunkan Gus Dur dari kursi kepresidenan karena dianggap
kepemimpinannya menimbulkan berbagai masalah dan tidak ada tanda-tanda
kebaikan, tampaknya diujudkan dengan aneka macam. Dan pembelaan itu sendiri
kelihatannya tidak perduli lagi, entah benar entah salah, pokoknya asal
membela.
Bentuk-bentuk pembelaan itu di antaranya ada yang sesumbar mau menyantet,
ada yang kiyai-kiyainya kumpul-kumpul untuk mencarikan hukum pakai kitab-kitab
kuning (kitab berbahasa Arab biasanya kertasnya berwarna kuning) supaya para
penggoyang Gus Dur yang menginginkan Gus Dur mundur dari kursi kepresidenan itu
dihukumi sebagai bughot (pemberontak). Kalau sudah dihukumi bughat, maka
pemerintahan Islam boleh memeranginya.
Dikhabarkan, sekitar 20 ulama NU Jawa Timur, Senin (19/3 2001), membahas
hukum agama tentang bughat. Mereka menilai situasi politik yang ada sudah
menjurus ke arah bughat kepada pemerintahan yang sah. Pertemuan dipimpin Wakil
Rais Syuriyah PWNU Jatim, KH Ahmad Subadar. (Republika, 20/3 2001).
Weleh-weleh.... Orang NU itu mendirikan partai PKB �Partai Kebangkitan
Bangsa-- saja tidak doyan asas Islam, dan Gus Dur sendiri menganggap kalau
Islam dilegalkan atau diformalkan itu berbahaya, kok malah para Kiyai NU Jawa
Timur capek-capek ramai-ramai membuka kitab kuning untuk mencari hukum bughat
(pemberontak bersenjata terhadap pemerintahan Islam yang sah). Apa mereka lupa
bahwa Gus Dur itu memerintah sama sekali tidak memakai syari�at Islam, dan
bahkan jelas tidak doyan syari�at Islam? Mestinya, dulu-dulu orang NU itu
memperjuangkan syari�at Islam, baru kemudian kalau ada yang memberontak pada
pemerintahan yang menjalankan syari�at Islam dicarikan hukum Islamnya yang
judulnya bughat. Itu baru namanya para kiyai atau rombongan ulama. Tapi ini
sudah sejak semula justru tidak doyan syari�at, tahu-tahu ketika dirasa
kepemimpinannya dhalim dan tidak efektif lantas digoyang orang, maka yang
menggoyangnya mau dicap sebagai bughat, dan sudah lebih dulu mengirimkan
Pasukan Berani
Mati (PBM) demi membela Gus Dur dan melawan penggoyangnya yang mereka sebut
bughat.
Mereka menolak kalau Syari�at Islam ditegakkaan. Tetapi mereka ingin
mengklaim bahwa orang yang menggoyang kepemimpinan Gus Dur itu sebagai bughat,
ini adalah sikap yang nyata-nyata menirukan sikap Yahudi yang telah dikecam
oleh Allah SWT:
�Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap
sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian
daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Qiyamat
mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa
yang kamu perbuat.� (Al-Baqarah: 85).
Apa itu Bughat?
Bughat atau bughoh adalah gerombolan (pemberontak) yang menentang kekuasaan
negeri dengan kekerasan senjata, baik karena salah pengertian ataupun bukan.
Kata bughoh jama� dari baaghin artinya seorang penantang kekuasaan negeri
dengan kekerasan senjata.[1]
Yang dikatakan kaum bughat, ialah orang-orang yang menolak (memberontak)
kepada Imam (pemimpin pemerintahan Islam). Adapun yang dikatakan Imam ialah
pemimpin rakyat Islam yang mengurusi soal-soal kenegaraan dan keagamaanya.
Adapun cara memberontak ialah dengan:
a. Memisahkan diri dari wilayah kekuasaan Imamnya.
b. Atau menentang kepada keputusan Imam, atau menentang perintahnya dengan
jalan kekerasan senjata.
Orang-orang golongan manusia yang disebut bughat itu harus memenuhi
syarat-syarat sebagai berikut:
1. Mempunyai kekuatan bala tentara serta senjatanya untuk memberontak
Imamnya.
2. Mempunyai pimpinan yang ditaati oleh mereka.
3. Mereka berbuat demikian, disebabkan karena timbulnya perbedaan pendapat
dengan Imamnya mengenai politik pemerintahannya, sehingga mereka beranggapan
bahwa memberontaknya itu menjadi keharusan baginya.
Adapun yang dikatakan Imamul Muslimin, ialah pemegang pemerintahan umum bagi
kaum Muslimin, mengenai urusan agama dan urusan kenegaraannya dan dia diangkat
berdasarkan bai�at (kesetiaan) dari masyarakatnya, entah langsung atau melalui
wakil-wakilnya, yaitu: Para ulama, cendekiawan, dan para terkemuka yang
disebut: Ahlul Hilli wal �aqdi. Pengangkatan Imam dianggap cukup dengan
perantaraan mereka, karena mereka itu mudah untuk berkumpul dalam satu tempat,
sehingga segala persoalan mudah diatasi/ diselesaikan.[2]
Kaum Bughat bisa ditumpas dengan jalan:
a. Mula-mula Imam mengutus utusannya untuk menghubungi mereka guna
meminta alasan sebab-sebabnya mereka memberontak. Hal ini sebagaimana tindakan
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra dalam mengutus Ibnu Abbas untuk menghubungi
golongan Nahrawan.
b. Kalau disebabkan karena Imamnya berbuat kedzaliman, hendaknya Imam itu
meninggalkan/ merobah perbuatannya itu supaya menjadi baik.
c. Kalau Imam itu tidak merasakan bahwa dia itu tidak berbuat dhalim,
hendaknya diadakan pertukaran fikiran antara Imam dengan pemimpin mereka
(pemberontak).
d. Kalau mereka terus membandel, Imam berhak memberikan ultimatum kepada
mereka, dengan akan diadakannya tindakan tegas, bila mereka tidak segera
menyerahkan diri.
e. Kalau mereka terus membandel juga, Imam berhak untuk mengadakan
tindakan dengan kekerasan senjata pula sebagai imbangan kepada perbuatan mereka.
Firman Allah:
�Kalau dua golongan dari golongan orang-orang Mukmin mengadakan peperangan,
maka damaikanlah antara keduanya. Kalau salah satunya berbuat menentang
perdamaian kepada lainnya, maka perangilah orang-orang (golongan) yang
menentang itu sehingga mereka kembali ke jalan Allah. Kalau mereka kembali,
maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan memang harus berbuat adillah
kamu sekalian. Sesungguhnya Allah itu mencintai pada orang-orang yang berlaku
adil. (Al-Hujuraat: 9).[3]
Kekhususan dalam Menghadapi Bughat
Imam Al-Mawardi menjelaskan ada 8 perbedaan antara memerangi para pemberontak
kaum Muslimin dengan memerangi orang-orang Musyrik dan orang-orang murtad.
1. Peperangan terhadap para pemberontak kaum muslimin dimaksudkan untuk
menghentikan pemberontakan mereka dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk
membunuh mereka. Di sisi lain dibenarkan peperangan terhadap orang-orang
musyrik dan orang-orang murtad dimaksudkan untuk membunuh mereka.
2. Para pemberontak kaum muslimin baru boleh diserang, jika mereka maju
menyerang. Jika mereka mundur dari medan perang, mereka tidak boleh diserang.
Di sisi lain, diperbolehkan menyerang orang-orang musyrik dan orang-orang
murtad; mereka maju menyerang atau mundur.
3. Orang-orang terluka dari para pemberontak tidak boleh dibunuh. Di sisi
lain diperbolehkan membunuh orang-orang terluka dari orang-orang musyrik dan
orang-orang murtad. Pada Perang Jamal, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu
memerintahkan penyerunya untuk berseru dengan suara keras, �Orang yang telah
mundur dari medan perang tidak boleh diserang, dan orang yang terluka tidak
boleh dibunuh.�
4. Tawanan-tawanan yang berasal dari para pemberontak tidak boleh dibunuh.
Di sisi lain tawanan-tawanan dari orang-orang musyrik dan orang-orang murtad
boleh dibunuh. Kondisi tawanan perang dari para pemberontak harus diperhatikan
dengan cermat ; jika ia diyakini tidak kembali berperang (memberontak), ia
dibebaskan. Jika ia diyakini kembali berperang (memberontak), ia tetap ditawan
hingga perang usai. Jika perang telah usai, ia dibebaskan dan tidak boleh
ditawan sesudah perang. Al-Hajjaj pernah membebaskan salah seorang tawanan
dari sahabat-sahabat Qathri bin Al-Fuja�ah, karena keduanya saling kenal.
Al-Qathri berkata kepada tawanan tersebut, �kembalilah berperang melawan musuh
Allah, Al-Hajjaj.� Tawanan tersebut menjawab, �Aduh, kalau begitu dua tangan
orang yang telah dibebaskan telah berkhianat, dan memperbudak leher orang yang
membebaskannya!�
5. Harta para pemberontak tidak boleh diambil, dan anak-anak mereka tidak
boleh disandra. Diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda,
#1605;#1606;#1593;#1578; #1583;#1575;#1585;
#1575;#1604;#1573;#1587;#1604;#1575;#1605; #1605;#1575;
#1601;#1610;#1607;#1575;#1548; #1608;#1571;#1576;#1575;#1581;#1578;
#1583;#1575;#1585; #1575;#1604;#1588;#1585;#1603; #1605;#1575;
#1601;#1610;#1607;#1575;.
Dilindungi apa saja yang ada di negara Islam, dan dihalalkan apa saja yang ada
di negara musyrik.6. Dalam memerangi para pemberontak, negara Islam tidak
diperbolehkan meminta bantuan orang kafir muahid (yang berdamai dengan kaum
muslimin), atau orang kafir dzimmi (kafir yang berada dalam jaminan keamanan
kaum Muslimin dengan membayar jizyah dalam jumlah tertentu), kendati hal
tersebut dibenarkan ketika negara Islam memerangi orang-orang musyrik, dan
orang-orang murtad.7. Negara Islam tidak boleh berdamai dengan mereka
untuk jangka waktu tertentu dan juga tidak boleh berdamai dengan mereka dengan
kompensasi uang. Jika komandan perang pasukan Islam berdamai dengan mereka
dalam jangka waktu tertentu, ia tidak harus memenuhinya. Jika ia tidak sanggup
memerangi mereka, ia menunggu datangnya bantuan pasukan untuk menghadapi
mereka. Jika ia berdamai dengan mereka, dengan kompensasi uang, maka perdamaian
batal, dan uang perdamaian diperhatikan dengan baik; jika uang tersebut
berasal dari fai� mereka atau berasal dari sedekah (zakat) mereka, maka uang
tersebut tidak dikembalikan kepada mereka, kemudian sedekah (zakat) tersebut
didistribusikan kepada para penerimanya dari kaum muslimin, dan fai�
dibagi-bagikan pada penerimanya. Jika uang perdamaian murni dari mereka, uang
tersebut tidak boleh dimiliki pasukan Islam dan harus dikembalikan kepada
mereka.8. Pasukan Islam tidak boleh menyerang mereka dengan menggunakan
senjata al-arradat (senjata pelempar batu), rumah-rumah mereka tidak boleh
dibakar, kurma-kurma dan pohon-pohon mereka tidak boleh ditebang, karena itu
semua berada di dalam negara Islam yang terlindungi, kendati warganya
memberontak.[4]
Demikianlah pengertian tentang bughat atau pemberontak Muslim di negeri yang
pemerintahannya Islam. Perlawanan para pemberontak pemerintahan Islam itu
sendiri apabila pemerintahnya dhalim, masih jadi pembicaraan, sebagai berikut:
Prof TM Hasbi As-Shiddieqy mengemukakan kaidah sebagai berikut:
�Tidak boleh kita menentang pemerintah atau kepala negara selama mereka belum
melahirkan kufur yang nyata.�
Demikian pendapat Jumhur Ulama. Setengah ulama membolehkan, bahkan
mewajibkan rakyat menentang kepala negara yang lalim, walaupun belum nyata
kufurnya.[5]
Dalam kaidah itu, pemerintahan Islam yang sah saja kalau penguasanya dhalim
maka sebagian ulama membolehkan bahkan mewajibkan rakyat menentangnya. Lantas,
bagaimana bisa pemerintahan Gus Dur yang sama sekali tidak doyan Islam itu mau
didukung-dukung oleh orang-orang NU yang mencari-cari hukum bughat dan akan
ditimpakan kepada para penentang Gus Dur yang dinilai dhalim? Bahkan sudah ada
500-an orang yang menyebut dirinya Pasukan Berani Mati (PBM) demi Gus Dur
didatangkan dari Jawa Timur ke Jakarta.
Pasukan Berani Mati demi Gus Dur
Massa Pro Gus Dur masuk lagi ke Jakarta. Mereka dibekali berbagai jimat dan
ilmu. Di antara pendukung Gus Dur yang memiliki daya linuwih (melebihi orang
biasa) itu adalah Pasukan Berani Mati dari Banyuwangi. Pasukan berani Mati
(PBM) yang dikomandani oleh Abdul Latief tersebut mulai bergerak melalui jalur
darat dari Banyuwangi pada hari Minggu (18 Maret 2001). Bila gelombang pertama
jumlahnya hanya 500 orang, diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah.
Pasalnya, di Banyuwangi sendiri sempat beredar formulir pernyataan kesiapan
mati demi membela Gus Dur.[6]
Apa yang dilakukan pendukung Gus Dur itu paling kurang ada 2 pelanggaran besar
terhadap Islam. Pertama, mereka pakai jimat. Kedua, mereka siap mati demi Gus
Dur.
Masalah jimat, ada larangannya, jelas:
#1605;#1606; #1578;#1593;#1604;#1602; #1578;#1605;#1610;#1605;#1577;
#1601;#1602;#1583; #1571;#1588;#1585;#1603;.
�Barangsiapa menggantung-gantungkan jimat maka sungguh benar-benar dia telah
syirik�menyekutukan Allah, dosa terbesar-- . (Hadits Riwayat Ahmad).
#1573;#1606; #1575;#1604;#1585;#1602;#1609;
#1608;#1575;#1604;#1578;#1605;#1575;#1574;#1605;
#1608;#1575;#1604;#1578;#1608;#1604;#1577; #1588;#1585;#1603;.
#1602;#1575;#1604;#1608;#1575; #1610;#1575; #1571;#1576;#1575;
#1593;#1576;#1583; #1575;#1604;#1585;#1581;#1605;#1606; #1607;#1584;#1607;
#1575;#1604;#1585;#1602;#1609; #1608;#1575;#1604;#1578;#1605;#1575;#1574;#1605;
#1602;#1583; #1593;#1585;#1601;#1606;#1575;#1607;#1575;#1548;
#1601;#1605;#1575; #1575;#1604;#1578;#1608;#1575;#1604;#1577;#1567;
#1602;#1575;#1604;: #1588;#1610;#1569; #1610;#1589;#1606;#1593;#1607;
#1575;#1604;#1606;#1587;#1575;#1569; #1610;#1578;#1581;#1576;#1576;#1606;
#1576;#1607; #1573;#1604;#1609; #1571;#1586;#1608;#1575;#1580;#1607;#1606;.
" Sesungguhnya tangkal, azimat, dan tiwalah itu adalah kemusyrikan. Para
sahabat kemudian bertanya: Wahai Abu Abdir Rahman, tangkal (mantra-mantra) dan
jimat itu kami telah tahu, tetapi apakah yang namanya tiwalah itu? Ia menjawab:
Tiwalah (pelet) adalah sesuatu yang dibuat oleh para wanita supaya dengan
tiwalah (pelet) itu dicintai oleh suami-suami mereka.� (HR Ibnu Hibban dan
Hakim).
Larangan memakai aji-aji, kekebalan atau supaya dogdeng (tidak mempan
dibacok):
#1593;#1606; #1593;#1605;#1585;#1575;#1606; #1576;#1606;
#1581;#1589;#1610;#1606; #1585;#1590;. #1571;#1606;
#1575;#1604;#1606;#1576;#1610; #1589; #1605;. #1585;#1571;#1609;
#1585;#1580;#1604;#1575; #1601;#1610; #1610;#1583;#1607;
#1581;#1604;#1602;#1577; #1605;#1606; #1589;#1601;#1585;
#1601;#1602;#1575;#1604; : #1605;#1575; #1607;#1584;#1607; #1567;
#1602;#1575;#1604; #1605;#1606; #1575;#1604;#1608;#1575;#1607;#1606;#1577;.
#1601;#1602;#1575;#1604; : #1575;#1606;#1586;#1593;#1607;#1575;
#1601;#1573;#1606;#1607;#1575; #1604;#1575; #1578;#1586;#1610;#1583;#1603;
#1573;#1604;#1575; #1608;#1607;#1606;#1575; #1601;#1573;#1606;#1603;
#1604;#1608; #1605;#1578; #1608;#1607;#1610; #1593;#1604;#1610;#1603;
#1605;#1575; #1571;#1601;#1604;#1581;#1578; #1571;#1576;#1583;#1575;.
(#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1581;#1605;#1583; #1576;#1587;#1606;#1583;
#1604;#1575; #1576;#1571;#1587; #1576;#1607;).
�Dari Imran bin Hushain ra dinyatakan, �Bahwa Nabi melihat seorang laki-laki
memakai gelang kuningan di tangannya. Beliau bertanya, �Apakah ini?� Orang itu
menjawab: �Penolak lemah�. Maka bersabda Nabi kepada orang itu, �Tanggalkanlah
gelang itu, karena ia tidak akan menambah kamu kecuali kelemahan, dan apabila
kamu mati sedangkan ia masih di tanganmu, tentulah engkau tidak akan selamat
selama-lamanya.� (HR Ahmad dan Al-Hakim dengan sanad laa ba�sa bih).
Adapun Pasukan Berani Mati demi Gus Dur, maka mereka itu jelas-jelas
keberaniannya itu merupakan tingkah yang diingkari oleh Rasulullah saw dan
pelakunya tidak diakui sebagai golongan umat Nabi Muhammad saw. Sedang kalau
mati, maka ia tidak termasuk golongan umat Nabi Muhammad saw.
#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1583;#1593;#1609;
#1573;#1604;#1609; #1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548;
#1608;#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606;
#1602;#1575;#1578;#1604; #1593;#1604;#1609;
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; #1608;#1604;#1610;#1587;
#1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1605;#1575;#1578; #1593;#1604;#1609;
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;. (#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1576;#1608;
#1583;#1575;#1608;#1583;).
�Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan �ashobiyah (fanatisme
kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami,
orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk
(golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.� (HR Abu
Dawud).
Anehnya, yang menyerukan untuk berbuat seperti itu, bahkan yang mengisi
jimat, kekebalan, atau ilmu yang dianggap bisa mendatangkan bala� terhadap
lawan itu justru para kiyai NU. Buktinya, KH Noer Muhammad Iskandar SQ tokoh
NU, dalam suatu wawancara dengan terus terang mengakuinya:
Pertanyaan: Ilmu tersebut dimiliki lewat jimat atau benda apa?
Jawab KH Noer Muhammad Iskandar SQ: Ada yang memang bentuk ajimat, tapi kalau
di pesantren kebanyakan mereka ambil dari ayat-ayat suci Al-Qur�an. Kata Nabi
dulu, orang dengan membaca bismillahir rahmanir rahiem sebanyak 113 kali bisa
berjalan di atas air. Nah, sebagaimana dengan membaca ayat sebanyak itu, kita
bisa memiliki kekuatan tersebut. Tentu ada proses-proses lainnya.
Pertanyaan: Tekanan terhadap anggota DPR oleh massa Pro Gus Dur tampaknya juga
menggunakan cara lain, misalnya, adanya Pasukan Berani Mati. Kekuatan itu
diperoleh dari mana?
Jawab KH Noer Iskandar SQ: Sebenarnya dalam dunia pesantren, ilmu-ilmu semacam
itu tidak aneh lagi. Karena para santri yang umumnya mendalami berbagai macam
kitab agama, juga dibekali ilmu kekebalan tubuh. Kekuatan itu akan muncul
sesuai dengan batin mereka sendiri.... Di samping itu, ada juga yang
mendapatkan ilmu dari para ulama khos.
Apakah ada syarat khusus?
Jawab: Biasanya mereka memperolehnya sebelum menikah, karena pada saat sebelum
menikah itu ujian dan godaannya sangat berat. Kalau mereka lulus, ya ilmu itu
memang cocok untuk dirinya. Di samping itu, syarat yang tak kalah penting
adalah mereka mesti taat dan patuh atas perintah gurunya. Mereka itu,
istilahnya nyantri. Artinya, mereka mengabdikan dirinya pada guru-gurunya itu.
Batas pengabdian itu tergantung gurunya. Ada yang cuma 40 hari, tapi ada yang
sampai berpuluh-puluh tahun. Makin lama dia nyantri sama gurunya, biasanya
tingkat kesempurnaan itu makin baik. Dan sulit ditandingi orang lain, kecuali
gurunya sendiri. (Tabloid Aksi, vol 5 no. 314, 22-28 Maret 2001, halaman 6).
Betapa ngerinya mendengar jawaban Kyai Noer Iskandar itu. Justru yang
menyebarkan ilmu kebal yang telah dilarang dalam Islam itu para Kiyai pesantren
lingkungan NU. Masih pula Kiyai Iskandar menimpakannya kepada Nabi saw seolah
beliau adalah seperti para kiyai yang pada hakekatnya adalah dukun-dukun itu.
Na�udzubillahi min dzalik. Mau dikemanakan orang-orang NU ini oleh para Kiyai
dukun yang menyebarkan perdukunannya di pesantren-pesantren dengan memperbudak
santri-santrinya sampai berpuluh-puluh tahun untuk mengabdi pada sang
kiyai-kiyai dukun hanya agar menjadi orang yang tidak termasuk ummat Nabi
Muhammad saw itu?
Tidak mengherankan, hasilnya seperti pengakuan Komandan Lapangan PBM
(Pasukan Berani Mati) --demi Gus Dur--, Arifin Salam dalam wawancara seperti
berikut ini:
T: Apa sebenarnya tujuan anda datang ke DPR/ MPR?
J: Kami datang sebenarnya dalam rangka menggugat sekaligus minta memorandum itu
dicabut. Oleh karena itu kami datang bukan untuk dukung-mendukung Gus Dur. Jadi
kami datang untuk menegakkan perbuatan-perbuatan yang merusak konstitusi.
T: Maksudnya bagaimana?
J: Kami bersedia mati untuk tegaknya konstitusi. Kami teriak-teriak bukan hanya
berani dalam ruangan, tapi ini benar-benar murni untuk konstitusi yang telah
ditegakkan para pendiri bangsa ini. Oleh karena itu, kepergian saudara-saudara
ini dari tempat yang jauh sudah direlakan isteri-isterinya. Bahkan,
isteri-isteri mereka sudah siap menjadi janda.
T: Apakah kalau mati ada jaminan bahwa kubu Gus Dur akan merawat anak isteri
Anda?
J: Bukan itu persoalannya, kami datang ke sini untuk memerangi pemberontak. Dan
memerangi bughat (pemberontak) itu hukumnya mati syahid. Yang saya maksud para
bughat itu adalah mereka yang mengacak-acak konstitusi.
T: Siapa yang anda maksud dengan bughat yang halal untuk diperangi?
J: Pelaku-pelaku bughat itu mereka yang melecehkan dan menghancurkan
konstitusi, misalnya Amien Rais.Tapi bukan dia saja, lho, semua yang termasuk
bughat itu mesti diperangi.
T: Berarti target dari pasukan Berani Mati ini adalah Amien Rais?
J: Bukan itu maksudnya. Tapi sejauh mana wakil rakyat ini bisa menjalankan
fungsinya, sehingga tidak menjadi bughat.
T: Jadi, tuntutan Pasukan Berani Mati itu apa?
J: Kami minta agar memorandum itu dicabut, karena ini bentuk pelecehan. Bahkan,
katanya, malah akan diberi memorandum kedua. Ini bisa makin gawat.
T: Apa konsekuensinya, jika permintaan itu tak dikabulkan?
J: Kami akan terus bergerak untuk mempressure DPR.
T: Mengapa begitu berani mati untuk konstitusi? Pasukan ini dibekali kekuatan
apa saja?
J: Begini, ya, dasar dari keberanian mereka itu adalah religius. Di samping
itu, memang mereka ada yang dibekali beberapa ilmu. Misalnya ilmu kekebalan
tubuh, dan ilmu anti peluru.
T: Apakah ilmu dari kekuatan ini efektif untuk menangkal berbagai serangan
aparat?
J: Kita bukan untuk melawan aparat, tapi ilmu itu akan keluar dengan
sendirinya, artinya muncul seiring aksi yang spontan.
T: Dari mana mereka mendapat ilmu kekebalan itu?
J: Dalam hal ini mereka ada yang memiliki secara sendiri-sendiri, ada yang
melakukan lewat puasa selama seminggu, satu bulan. Dan, ada yang memang diisi.
T: Berapa jumlah PBM yang siap tempur?
J: Semua total sekitar 500 orang. Yang datang ke DPR/MPR hanya 45 orang. Sedang
sisanya ditempatkan di beberapa lokasi yang rawan, misalnya Istana, Monas,
Kramat dan lain-lainnya.
T: Seberapa kuat tingkat kekebalan mereka pada senjata?
J: Kalau memang anda mau lihat, saya akan panggil beberapa orang, silakan anda
sendiri yang melakukannya, misalnya pakai pedang, golok, pistol, benda-benda
lainnya.
T: Kapan PBM ini pulang?
J: Tergantung situasi.
T: Apa kaitan PBM dengan PBNU?
J: Saya pikir, kami tidak ada ikatan dengan PBNU. Jadi, kami tidak tergantung
dari PBNU.
T: PBM ini kebanyakan personilnya dari mana saja?
J: Sebagian besar dari Banyuwangi. Dan, kedatangan kami semata-mata untuk
menegakkan konstitusi. Kami ingin agar konstitusi ini dihormati semua pihak.
(Aksi, 22 Maret 2001, halaman 5.).
Ada bebarapa masalah yang dilakukan oleh Pasukan Berani Mati itu. Katanya
untuk membela konstitusi, tetapi mengaku berjihad melawan apa yang mereka
namakan bughat (pemberontak), lalu menghalalkan darah Amien Rais dan lain-lain
yang mereka anggap bughat.
Di samping mereka telah melanggar aturan terbesar dalam Islam yaitu
larangan kemusyrikan karena mereka memakai kekebalan, dan memamerkannya sampai
mau beratraksi di depan wartawan, masih pula menghalalkan darah Amien Rais
ketua MPR dan orang-orang DPR lainnya. Betapa besar dosa yang dipikul oleh para
kiyai dukun dan kiyai-kiyai provokator yang telah mengisi kekebalan dan
menyuruh atau mengizinkan 500-an Pasukan Berani Mati demi Gus Dur ini. Keizinan
dengan menghalalkan darah seorang muslim tanpa haq itu saja kalau sampai
terlaksana insya Allah sudah bisa memasukkan neraka selama-lamanya. Belum lagi
masalah kemusyrikan yang mereka sebarkan, dan juga isian aji-aji dogdeng (ilmu
kebal). Belum lagi keterjerumusan Pasukan Berani Mati ini. Semua itu dosanya
melimpah pula kepada para kiyai-kiyai dukunnya dan para provokatornya. Belum
lagi pengajaran salah tentang bughat yang mereka tanamkan kepada orang awam
yang dijadikan Pasukan Berani Mati demi Gus Dur.
Ancaman Santet dan �Ashobiyah
Pembelaan terhadap Gus Dur bukan hanya mengenai masalah yang berkaitan dengan
kedudukannya sebagai presiden. Bahkan tentang skandalnya pun mereka bela.
Pada tahun 2000 merebak berita tentang skandal Gus Dur dengan Ariyanti Boru
Sitepu. Fotonya beredar luas, Gus Dur bercelana pendek memangku Ariynti yang
berstatus isteri orang. Terhadap merebaknya berita skandal itu, seorang Kiyai
bernama Chalil Bisri dari Rembang Jawa Tengah, tokoh terkemuka NU, dan bahkan
termasuk penggagas didirikannya PKB, membela Gus Dur dengan ungkapan yang di
luar batas kewajaran seorang Muslim, seperti berita berikut ini:
...Kalangan ulama Nahdliyin (Nahdlatul Ulama/ NU, pen) dengan terang-terangan
membela mati-matian Gus Dur. Kyai Cholil Bisri misalnya bahkan secara
�gila-gilaan� berpendapat apa yang dilakukan Gus Dur dengan fakta gamblang
dalam foto memangku wanita bukan isterinya itu dianggapnya sebagai hal yang
wajar saja. Ia malah mengaku dirinya juga akrab dengan santri-santri watinya,
juga dengan tokoh artis seperti Neno Warisman. Akrab yang ia maksudkan tentu
saja setara dengan foto Gus Dur memangku Aryanti Boru Sitepu. Na�udzubillahi
min dzalik! Belum apa-apa, bahkan tokoh NU ini mengancam jika ia diperlakukan
seperti Gus Dur ia mengancam semua yang menyebar-nyebarkan berita slingkuh itu
akan ia santet, tidak peduli apakah itu dosa atau tidak. (Media Dakwah, Rajab
1421/ Oktober 2000, halaman 8-9).
Pembelaan seperti itu tampak sekali tidak mempertimbangkan benar atau
tidaknya tingkah Gus Dur, yang penting asal bela. Itulah tingkah dan sikap
nyata Kiyai NU, dalam hal ini dilakukan oleh Kiyai Chalil Bisri. Pembelaan asal
bela, tak mau tahu yang dibela itu salah atau benar, itu adalah satu sikap
�shobiyah, yaitu tingkah dan ciri utama orang Jahiliyah dahulu kala. Datangnya
Islam adalah untuk memberantas Jahiliyah, yang di antara sikap jelek
terutamanya adalah �ashobiyah itu.
�Ashobiyah atau Ta�asshub, menurut Dr A Zaki Badawi, adalah fanatisme, yaitu
berlebih-lebihan (ghuluw) dalam bergantung dengan seseorang atau ideologi
(fikrah), atau prinsip, atau kepercayaan (bukan fanatik dengan aqidah Islam,
kalau fanatik dalam hal aqidah Islam maka baik, pen) di mana (kefanatikan
terhadap seseorang, kelompok dan lain-lain itu) tidak menyisakan tempat untuk
toleransi, dan kadang membawa kepada kekerasan dan berani mati.[7]
Sikap seperti itu sangat dilarang oleh Nabi saw dengan sabdanya:
#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1583;#1593;#1609;
#1573;#1604;#1609; #1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548;
#1608;#1604;#1610;#1587; #1605;#1606;#1575; #1605;#1606;
#1602;#1575;#1578;#1604; #1593;#1604;#1609;
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;#1548; #1608;#1604;#1610;#1587;
#1605;#1606;#1575; #1605;#1606; #1605;#1575;#1578; #1593;#1604;#1609;
#1593;#1589;#1576;#1610;#1577;. (#1585;#1608;#1575;#1607; #1571;#1576;#1608;
#1583;#1575;#1608;#1583;).
�Tidak termasuk (golongan) kami, orang yang menganjurkan �ashobiyah (fanatisme
kekabilahan, golongan dan sebagainya, pen) dan tidak termasuk (golongan) kami,
orang yang berperang membela fanatisme kekabilahan, dan tidak termasuk
(golongan) kami, orang yang mati mempertahankan fanatisme kekabilahan.� (HR Abu
Dawud).
Tentang membela golongannya yang dalam keadaan salah, Nabi saw melarangnya
pula, dengan sabdanya:
#1605;#1606; #1606;#1589;#1585; #1602;#1608;#1605;#1607; #1593;#1604;#1609;
#1594;#1610;#1585; #1575;#1604;#1581;#1602;#1548; #1601;#1607;#1608;
#1603;#1575;#1604;#1576;#1593;#1610;#1585; #1575;#1604;#1584;#1610;
#1585;#1583;#1610; #1601;#1607;#1608; #1610;#1606;#1586;#1593;
#1576;#1584;#1606;#1576;#1607;.
�Barangsiapa membela kaumnya tidak berdasarkan kebenaran , ia ibarat seperti
unta roboh lalu ia mau berdiri dengan ekornya.� (Tafsir Ibnu Katsir, seperti
dikutip Sayyid Abil Hasan Ali Al-Hasani An-Nadawi dalam Madza Khosirol �alamu
bin khithotil Muslimin, Darul Kitabil �Arabi, Beirut, cetakan ke-7, 1967/
1387H, halaman 100).
Tentang ancaman santet yang dilancarkan kiyai itu dengan tidak perduli dosa
atau tidak; maka ucapan dan sikap seperti itu merupakan penentangan terhadap
Islam benar-benar. Sudah berani melanggar, masih menentang Islam dengan cara
tidak mau perduli apakah itu berdosa atau tidak.
Tentang santet atau sihir atau tenung itu sendiri dalam Islam termasuk
perbuatan dosa besar.
#1605;#1606; #1593;#1602;#1583; #1593;#1602;#1583;#1577; #1579;#1605;
#1606;#1601;#1579; #1601;#1610;#1607;#1575; #1601;#1602;#1583;
#1587;#1581;#1585; #1608;#1605;#1606; #1587;#1581;#1585; #1601;#1602;#1583;
#1571;#1588;#1585;#1603;.
�Barangsiapa yang mengikat bundelan (simpulan), kemudian menghembusnya, maka
sesungguhnya dia menyihir, dan orang yang menyihir maka sungguh ia telah syirik
(menyekutukan Allah)�. (Hadits Riwayat An-Nasa�i dari Abu Hurairah).
#1575;#1580;#1578;#1606;#1576;#1608;#1575;
#1575;#1604;#1605;#1608;#1576;#1602;#1575;#1578;:
#1575;#1604;#1588;#1585;#1603; #1576;#1575;#1604;#1604;#1607;
#1608;#1575;#1604;#1587;#1581;#1585;. (#1585;#1608;#1575;#1607;
#1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;).
�Jauhilah hal-hal yang mencelakakan kamu, yaitu syirik kepada Allah dan sihir.�
(HR Al-Bukhari).
#1593;#1606; #1581;#1601;#1589;#1577; #1585;#1590;#1610;
#1575;#1604;#1604;#1607; #1593;#1606;#1607;#1575; #1571;#1606;#1607;#1575;
#1571;#1605;#1585;#1578; #1576;#1602;#1578;#1604;
#1580;#1575;#1585;#1610;#1577; #1604;#1607;#1575;
#1587;#1581;#1585;#1578;#1607;#1575; #1601;#1602;#1578;#1604;#1578;.
(#1585;#1608;#1575;#1607; #1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;).
Hadits dari Hafshah ra mengatakan bahwa ia diperintahkan membunuh budak wanita
yang menyihirnya, kemudian ia membunuhnya.� (HR Al-Bukhari).
#1593;#1606; #1576;#1580;#1575;#1604;#1577; #1602;#1575;#1604;
#1603;#1578;#1576; #1593;#1605;#1585; #1576;#1606;
#1575;#1604;#1582;#1591;#1575;#1576; : #1571;#1606;
#1575;#1602;#1578;#1604;#1608;#1575; #1603;#1604; #1587;#1575;#1581;#1585;
#1608;#1587;#1575;#1581;#1585;#1577; . #1602;#1575;#1604;
#1601;#1602;#1578;#1604;#1606;#1575; #1579;#1604;#1575;#1579;
#1587;#1608;#1575;#1581;#1585;. (#1575;#1604;#1576;#1582;#1575;#1585;#1610;).
Hadits dari Bajjalah mengatakan, bahwa Umar bin Khatthab menetapkan, supaya
kamu bunuh semua penyihir laki-laki dan wanita. Bajjalah berkata, �kami telah
membunuh tiga orang penyihir.� (HR Al-Bukhari).
Setelah jelas masalahnya, betapa besar pelanggaran kiyai itu, yaitu membela
pemimpin kelompoknya tidak berdasarkan kebenaran, dan masih sesumbar dengan
mengadalkan santet atau sihir, maka tidak mengherankan kalau orang awamnya atau
wadyabalanya ada yang menamakan dirinya PBM (Pasukan Berani Mati) demi Gus Dur,
yang mereka itu mengandalkan ilmu kebal seperti dalam uraian di atas.
Gus Dur Dianggap Malaikat
Pembelaan lain ada pula dengan jalan mengkultuskan Gus Dur sebagai malaikat
atau di dadanya ada malaikatnya. Berikut ini beritanya:
Sebnyak 36 Kiyai, pengasuh pondok pesantren, dan guru NU dari empat
kabupaten di Jawa Timur, mendatangi Gedung MPR/DPR, Senayn, Jakarta, Rabu (24/1
2001). Mereka meminta pimpinan DPR mempertahankan Presiden Abdurrhman Wahid dan
Wapres Megawati Sukarno Putri sampai 2004.
Ketu DPR Akbar Tanjung menemui rombongn yang dipimpin Fawaid As�ad Syamsul
Arifin, pimpinan Pondok Pesantren (ponpes) Salafiyah Syafe�i, Situbondo. Dalam
pertemuan itu, mereka juga berharap perbedaan pendapat di antara elite politik
cukup dijadikan wacana, jangan mempengaruhi masyarakat bawah.
Wakil ketua DPR RI, Tosari Widjaya, Wakil Ketua Komisi II Ferry Mursyidan
Baldan, dan anggota Komisi II Yahya Zaini ikut mendampingi Akbar menemui
rombongan dari Kab Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Jember itu.
Menurut Lukman Yasir dari Jember, bagi orang NU, Abdurrahman Wahid bukan
sekadar presiden, tapi juga malaikat. �Gus Dur bukan saja tangannya yang harus
dicium, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikat,� ungkapnya.
Lukman lantas menyuruh Akbar membaca surah Al-Fatihah sebanyak 2000 kali.
�Pasti bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi,� kata Lukman. (Harian Republika, Kamis
25 Januari 2001, halaman 16).
Sejumlah kiai dari Jawa Timur itu di antara mereka ada yang mengatakan,
Gus Dur itu di dadanya ada malaikatnya, makanya tidak cukup disalami dengan
mencium tangannya, tapi dadanya harus dipeluk, karena ada malaikatnya. Di
samping itu, kata kiai ini, kalau membaca surat Al-Fatihah 2000 kali, pasti
ketemu ruh Gus Dur dalam mimpi.
Ungkapan Kiyai semacam itu menurut Islam telah menyangkut hal ghaib. Islam
menegaskan, hal-hal yang ghaib itu hanya Allah SWT yang tahu. Demikian pula
keberadaan malaikat, termasuk hal ghaib. Jadi hanya Allah yang tahu.
Sebagaimana Allah SWT tegaskan dalam Al-Qur�an:
�Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang
mengetahuinya kecuali Dia sendiri�.� (QS Al-An�aam/ 6: 59).
Apabila mengatakan hal ghaib tidak berlandaskan keterangan dari wahyu (
Al-Qur�an ataupun Hadits Nabi saw yang shahih) maka orang itu telah melanggar
ayat-ayat Al-Qur�an. Di samping itu, telah mengaku-aku dirinya mengetahui hal
ghaib, yang hal itu Nabi saw pun tidak pernah melakukannya. Sedangkan
berita-berita tentang hal ghaib yang disampaikan oleh Nabi saw tak lain hanya
karena beliau diberi wahyu oleh Allah SWT.
Berikut ini sebuah hadits yang menegaskan betapa kita harus hati-hati
mengenai hal ghaib.
Bahwa Utsman bin Madh�un ra, seorang sahabat pilihan, ketika wafat, sedang
Rasulullah saw hadir di sisinya dan mendengar seorang sahabat besar perempuan
(shahabiyyah) Ummu Al-�Ala� berkata, �Kesaksianku atasmu Abu As-Saib (�Utsman
bin Madh�un), bahwa Allah sungguh telah memuliakanmu�. Maka Rasulullah saw
membantahnya dengan berkata:
#1608;#1605;#1575; #1610;#1583;#1585;#1610;#1603; #1571;#1606;
#1575;#1604;#1604;#1607; #1602;#1583; #1571;#1603;#1585;#1605;#1607;#1567;
�Apa yang menjadikan kamu tahu bahwa Allah sungguh telah memuliakannya?�
Ini adalah peringatan yang besar dari Rasulullah saw kepada sahabat wanita
ini karena dia telah menetapkan hukum dengan hukum yang menyangkut keghaiban.
Ini tidak boleh, karena tidak ada yang menjangkau hal ghaib kecuali Allah SWT.
Tetapi shahabiyyah (sahabat wanita) ini membalas dengan berkata:
�Subhanallaah, ya Rasulallah!! Siapa (lagi) kah yang akan Allah muliakan
kalau Dia tidak memuliakannya?� Artinya, jika Utsman bin Madh�un ra, tidak
termasuk orang yang dimuliakan Allah SWT maka siapa lagi yang masih tersisa
pada kita yang akan dimuliakan Allah SWT. Ini jawaban yang sangat mengena dan
signifikan/ cukup bermakna. Tetapi Rasul saw menolaknya dengan ucapan yang
lebih mengena dari itu, di mana beliau bersabda:
#1608;#1575;#1604;#1604;#1607; #1573;#1606;#1610;
#1604;#1585;#1587;#1608;#1604; #1575;#1604;#1604;#1607; #1604;#1575;
#1571;#1583;#1585;#1610; #1605;#1575; #1610;#1601;#1593;#1604; #1576;#1610;
#1594;#1583;#1575;.
�Demi Allah, saya ini benar-benar utusan Allah, (tetapi) saya tidak tahu apa
yang Dia perbuat padaku esok.�
Ini adalah puncak perkara. Rasul sendiri yang dia itu orang yang dirahmati
dan disalami oleh Allah, beliau wajib berhati-hati dan mengharap rahmat Allah.
Dan di sinilah Ummu Al-�Ala� sampai pada hakekat syara� yang besar, maka dia
berkata: �Demi Allah, setelah ini saya tidak akan menganggap suci
terhadap seorang pun selama-lamanya.� (HR Al-Bukhari 3/385, 6/223 dan 224,
8/266 dalam Fathul Bari, dan Ahmad 6/436 dari Ummi Al-�Ala� Al-Anshariyyah bi
nahwihi).
Dengan demikian, ummat Islam wajib menolak ucapan siapapun menyangkut hal
ghaib, kecuali ada dalilnya (ayat atau hadits yang shahih).
Kemudian tentang saran agar membaca Al-Fatihah 2000 kali supaya bisa
bertemu ruh Gus Dur dalam mimpi itu mengandung dua masalah besar.
Pertama, masalah membuat syari�at berupa membaca surat Al-Fatihah 2000 kali.
Ini merupakan pelanggaran, sebab tidak ada yang berhak membuat syari�at kecuali
Allah SWT. Sekalipun membaca Al-Fatihah itu baik, namun kalau disyaratkan
dengan bilangan 2000 kali, itu harus ada dalilnya. Kalau tidak (dan memang
tidak ada dalilnya), maka artinya adalah membuat syari�at baru. Ini tidak ada
hak bagi siapapun, karena syari�at telah sempurna. Allah SWT berfirman, yang
artinya:
�Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu ni�mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama
bagimu.� (Al-Maaidah: 3).
Nabi Muhammad saw bersabda:
�Jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya
setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid�ah, dan setiap bid�ah
adalah sesat.� (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dia berkata hadits hasan shahih).
Dan pada riwyat lain:
�Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu
tertolak.� (Diriwayatkan Muslim).
Rasulullah saw bersabda:
�Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya,
maka itu adalah tertolak.� (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Jadi, mensyaratkan dengan membaca Al-Fatihah 2000 kali itu jelas bid�ah,
tertolak, karena tidak ada di dalam perintah Allah mupun Rasul-Nya.
Masalah kedua, berbicara tentang ruh, itu hanya Allah SWT yang tahu. Orang
yang menjanjikan akan bisa bertemu dengan ruh seseorang dengan syarat tertentu
ataupun tanpa syarat, itu telah melanggar batas-batas yang diperkenankan Islam.
Bagaimana bisa, orang yang tidak diberi wewenang mengurusi ruh, bahkan tahu
saja tidak, akan bisa menentukan pertemuan dengan ruh. Nabi saw yang jelas
utusan Allah pun ketika ditanya tentang ruh, maka Allah menyuruhnya untuk
menjawab dengan ucapan bahwa ruh itu termasuk urusan Allah SWT.
�Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: Roh itu termasuk
urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.�
(Al-Israa�/ 17: 85).
Ayat itu jelas. Namun, kemungkinan orang yang mengaku-ngaku bisa mengurusi
ruh hingga berani memberi syarat-syarat untuk mempertemukan ruh itu akan
melandasi kesesatannya dengan menyelewengkan penafsiran ayat tersebut,
sebagaimana yang pernah saya dengar langsung dari seorang pembela tasawuf sesat
bahwa lafal min amri robbii itu artinya bukan �termasuk urusan Tuhanku� tetapi
ia artikan: �termasuk alam amr Tuhanku�. Jadi ruh itu menurut pandangan pembela
sufi sesat ini, adalah termasuk alam amr (salah satu jenis alam) Tuhan. Orang
itu tidak menjelaskan, dari mana dia memperoleh penafsiran yang sangat aneh dan
menyeleweng itu.
Kebohongan-kebohongan semacam itu �yaitu mengaku-ngaku dengn mampu
memastikan akan bertemunya ruh dengan ruh�itu bukan kebohongan biasa, namun
berakibat fatal, yaitu rusaknya aqidah/ keimanan.
Kalau rombongan Kiyai yang datang ke Jakarta untuk melabrak ketua DPR saja
kepercayaannya sesesat itu, maka betapa lagi kiyai-kiyai yang semodel dengannya
yang tak berani melabrak ke Jakarta. Dan betapa amburadulnya lagi kepercayaan
para murid-muridnya dan orang awam yang di bawah tipuan kebohongan mereka.
Dan sangat memprihatinkan sekali, kenapa pengucapnya itu disebut kiyai atau
ulama.
Itu belum pembelaan-pembelaan ngawur yang sifatnya mengadakan pengrusakan
sarana-sarana Ummat Islam seperti merusak masjid, madrasah, dan kantor-kantor
Muhammadiyah plus Al-Irsyad serta HMI di berbagai tempat. Kalau kantor-kantor
Golkar yang dibakar atau dirusak di mana-mana, itu tak ada urusan dalam buku
ini, masalahnya buku ini lebih memfokuskan pada urusan Ummat Islam atau bahkan
agama Islam itu sendiri. Termasuk penghalangan jalan dengan menebangi pohon
lalu dihalangkan ke sepanjang jalan di sebagian wilayah Jawa Timur, serta
penutupan pelabuhan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang menghubungkan
Jawa-Bali yang dilakukan para pendukung Gus Dur, itu adalah salah satu bentuk
dukungan terhadap Gus Dur dalam bentuk perusakan atau merugikan kepentingan
umum.
Betapa ngerinya memandang sosok-sosok model itu. Sudah aqidah mereka itu
rusak tidak keruan, masih pula perbuatannya pun merusak dan merugikan Islam.
Semua itu bisa serempak dan meluas serta membesar bahaya pengrusakannya
lantaran ada wadahnya.
Berarti telah sukseslah para perintis pembikinan wadah itu yang telah
bercapek-capek untuk mewujudkan adanya wadah yang mereka perjuangkan sejak
zaman penjajahan Belanda. Dan itulah yang insya Allah jadi bekal di alam baqa�
yang ganjarannya senantiasa mengalir selama wadah itu masih difungsikan, atau
ajaran wadah itu masih diamalkan orang.
Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kita sekalian. Amien,
ya Robbal �aalamien.
---------------------------------
[1] Prof Dr TM Hasbi As-Siddieqy,Ahkamul Fiqh Al-Islami, Hukum-hukum Fiqih
Islm, Bulan Bintang, Jakarta, cetakan ke-6, 1986, halaman 625.
[2] H Moh Anwar, Fiqih Islam, PT Al-Ma�arif, Bandung, cetakan kedua, 1988,
halaman 318-319.
[3] Ibid, 319-320.
[4] Imam Al-Mawardi, al-Ahkam As-Sulthaniyyah wal Wilayaat Ad-Diniyyah, Darul
Fikr, Beirut, cetakan pertama 1960M/ 1380H, halaman 60-61, atau terjemahnya
halaman 111-113.
[5] Prof TM Hasbi As-Shiddieqy, Hukum-Hukum Fiqih Islam, halaman 563.
[6] Tabloid Aksi, vol 5 No 314, 22-28 Maret 2001, halaman 4-5).
[7] Dr A Zaki Badawi, A Dictionary of The Social Sciences, Engleish- French-
Arabic, Librairie du Liban, Beirut, cetakan pertama., 1978, halaman 154.
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Meet the all-new My Yahoo! � Try it today!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/