CATATAN SEORANG KLAYABAN: 


TENTARA TIPE LAIN [2]



Pemberontakan bersenjata oleh para teoritisi militer Marxis dipandang sebagai 
bentuk tertinggi perjuangan politik. Artinya sebelum sampai kepada keputusan 
menggunakan bentuk tertinggi ini, maka terlebih dahulu dilakukan berbagai 
bentuk perjuangan non bersenjata lainnya. Apabila bentuk-bentuk perjuangan non 
bersenjata lainnya sudah tertutup maka barulah bentuk tertinggi perjuangan 
politik ini digunakan.

Hal ini diperlihatkan oleh sejarah  negeri-negeri lain seperti Vi�t Nam 
misalnya untuk mengambil satu contoh saja. Untuk melawan pendudukan kaum 
militeris Jepang dan Perancis, pejuang-pejuang kemerdekaan Vi�t Nam di bawah 
pimpinan Ho Chi Minh mendirikan Pasukan Propaganda Bersenjata yang dikomandani 
oleh oleh Jendral Vo Nguyen Giap berbasiskan pasukan gerilya yang dibentuk oleh 
Jendral Chu Van T�n [di Vi�t Nam, Chu Van T�n disebut sebagai "raja etnik-etnik 
minoritas Vi�t Nam] di daerah pegunungan Vi�t Bac [Vi�t Nam Utara]. Dari nama 
Pasukan Propaganda Bersenjata nampak bahwa titikberat perjuangan adalah 
mempropagandakan arti penting ide kemerdekaan nasional sehingga ide ini menjadi 
milik seluruh rakyat dan dari ide berobah menjadi kekuatan material. Pasukan 
ini dipersenjatai agar mereka  mempunyai kekuatan membela diri dan tidak dalam 
strategi ofensif. Pandangan serupa juga dianut oleh Mao Zedong yang mengatakan 
bahwa perjuangan kebudayaan merupakan persiapan perjuangan politik yang lebih 
besar dan di Russia yang dikuasai oleh Tsar juga dipraktekkan oleh Lenin. Dari 
pendapat dan praktek di atas nampak bahwa perjuangan politik yang 
sungguh-sungguh tidak bisa dilakukan oleh segelintir pembidas saja seperti yang 
dianjurkan oleh teori focusisme Che Guevara. Penolakan terhadap focusisme ini 
lebih digarisbawahi oleh teoritisi militer Vi�t Nam, seperti Le Duan, Truong 
Chinh, Van Tien Dung dan lain-lain  yang mengajukan jalan keluar "kebangkitan 
massa bersenjata". Barangkali untuk menghadapi kemungkinan ini maka rezim Orba 
Soeharto menangkalnya dengan teori "massa dan desa mengambang" sesuai dengan 
pandangan S.Huntington yang sekarang lebih dikenal dengan teori "benturan 
budaya"nya.

Arti penting perjuangan non bersenjata tetap digarisbawahi oleh Ho Chi Minh dan 
Mao ketika mereka memimpin perjuangan bersenjata, sekarang sedang diperlihatkan 
oleh pimpinan Maois Nepal yang sedang memimpin perjuangan bersenjata di negeri 
pegunungan tersebut. Hanya dengan perjuangan bersenjata saja dan mengabaikan 
bentuk-bentuk perjuangan lainnya, akan membuat bentuk tertinggi perjuangan 
politik ini mengalami keterpencilan kemudian kegagalan. Barangkali pengalaman 
ini ditunjukkan oleh Chin Peng di semenanjung Malaya. 

Perjuangan politik untuk apa? Tentu saja untuk merebut kekuasaan politik agar 
menjadi tuan di dunia politik. Karena pada galibnya perjuangan politik itu 
tidak pernah lepas dari keinginan menguasai kekuasaan politik alias negara. 
Politik merupakan pencerminan terpusat dari segala kepentingan terutama 
kepentingan ekonomi, dan melalui penguasaan negara, sebagai bangunan atas 
[super structure] dimungkinkan adanya akselarasi perobahan bangunan dasar 
[basic structure] yang selalu lambat perobahannya dibandingkan dengan bangunan 
atas. 

Adanya perjuangan politik yang dilakukan oleh etnik-etnik minoritas Myanmar 
[waktu itu masih bernama Birma] sampai menggunakan bentuk tertinggi perjuangan 
politik,menunjukkan bahwa etnik-etnik minoritas Myanmar mengalami penindasan 
dan penghisapan luar biasa dari pemerintah pusat di Rangoon. Perlawanan adalah 
barang angkutan yang dibawa oleh kendaraan politik pemerintah pusat Birma. 
Tidak akan ada asap jika tidak api, ujar tetua kita. 

Sesuai dengan teori "mata rantai terlemah" maka Partai Komunis Birma [PKB] 
bergerak di kalangan etnik-etnik minoritas dan setelah ide kemerdekaan dan 
pembebasan dikhayati oleh etnik-etnik minoritas di daerah terpencil, mereka pun 
secara berprakarsa melancarkan perjuangan bersenjata untuk menjadi tuan di 
kampung kelahiran sendiri [baca: wilayah geografis komunitas] dalam kerangka 
"Birma Baru". Artinya perlawanan etnik-etnik minoritas Birma tidak berangkat 
dari keinginan merdeka tapi membebaskan diri dari penindasan dan penghisapan 
oleh orang Birma sendiri agar menjadi tuan di kampung kelahiran dalam wadah 
tunggal bangsa dan negeri Birma [sekali lagi waktu itu Myanmar masih bernama 
Birma]. Jadi perlawanan etnik-etnik minoritas ini arah dan konsepnya relatif 
jelas. Terarah. Sekali pun mereka berada di gunung-gunung terpencil tapi 
wawasannya luas melampaui lingkup gunung dan komunitas. Melancarkan perjuangan 
bersenjata tanpa kejelasan wawasan atau berangkat dari kesempitan pandangan 
barangkali tindak demikian sama dengan melakukan otomasakre. Apalagi jika 
penggunaan bentuk perjuangan tertinggi, menggunakan kemarahan sebagai pedoman 
dan memberinya etiket "kemerdekaan". Saya khawatir tuntutan kemerdekaan jenis 
ini hanya melahirkan lapisan nomenklatura dan penindas baru sedangkan 
kemerdekaan tidak lebih dari kemerdekaan dan kebebasan semu atau kuda pacuan 
liar tanpa tali kendali.  Kemerdekaan dan kebebasan jauh dari usaha 
memanusiawikan manusia, kehidupan dan masyarakat.

Dalam hal ini, saya teringat akan pertemuan saya dengan sekelompok anak-anak 
muda Indonesia penuh semangat dan kebencian pada Orba. Mereka mencaci-maki saya 
sebagai tidak berbuat apa-apa dan ingin  agar segera dilancarkan perjuangan 
bersenjata untuk menggulingkan Orba. Mereka saya tanyakan:

- Kalian bisa menembak? Bisa menggunakan AK, bazoka, mortir, tahu cara 
menghadapi helikopter, F-111, tank, tahu bagaimana menembak tepat tanpa 
menghambur-hamburkan peluru, bagaimana membuat AK seperti senapan mesin, tahu 
bagaimana menghadapi perang kimia, menembak dalam kelam gulita, tahu bagaimana 
membuat perlindungan dalam waktu 15 menit, apa arti parit tempur, tahu 
bagaimana membuat dinamit dari TNT, menggunakan belerang, tahu membuat rencana 
tempur,  dan lain-lain? Saya termasuk orang kalah, tapi kalian bukan pula 
pemenang.

Mereka tersentak oleh pertanyaan-pertanyaanku. Kepongahan sering membuat rabun 
dan mengantar kita ke tepi jurang bencana tanpa sadar. Kepongahan sering 
membuat kita "mengukur dalam laut dengan kail panjang sejengkal".  

-Sekali pun kalian mempunyai kemampuan tekhnis yang bisa dipelajari dalam waktu 
relatif pendek, tapi perjuangan bersenjata, saya kira, bukan berarti asal 
melepaskan peluru. Perjuangan bersenjata adalah suatu konsep militer bagian 
dari ilmu militer.Perjuangan bersenjata dan revolusi sosial adalah suatu teori 
perobahan sosial. Bukan kemarahan dan bukan pula perasaan. Katakanlah saya 
termasuk generasi bernilai di bawah nol, tapi jika kalian meneruskan semangat 
buta dan kemarahan tanpa kendali, kalian akan jadi pembunuh bangsa sendiri 
secara sia-sia. Melakukan otomasakre.

Anak-anak muda bersemangat ini kemudian pulang ke Indonesia. Dan ketika kami 
bertemu, mereka saya tanyakan:

-"Bagaimana revolusimu?. Sejauh mana sudah?". Padahal untuk mencari pekerjaan 
penyambung hidup saya secara langsung ikut memberi rekomendasi ke sana ke mari 
untuk mereka. Mereka diam, saya pun diam karena menganggap tidak tahu dan 
berbuat salah adalah hak, asal mau memperbaiki kesalahan dan tidak merasa diri 
serba tahu serta mau menjadi tahu. Menjadikan ketidaktahuan dan kesalahan 
sebagai pembimbing bukan hanya mencelakakan diri sendiri tapi akan menimbulkan 
petaka bagi orang lain. Apalagi bermain-main dengan kemerdekaan, revolusi dan 
perjuangan bersenjata. Tapi dengan pendapat ini, oleh anak-anak muda yang baru 
menduduki posisi tertentu di organisasi yang dikira kiri, saya disebut sebagai 
"feodalistis" dan disebut "tidak menyokong gerakan demokrasi di Indonesia" oleh 
yang baru belajar menyair. Entah, apakah penuduh saya paham akan kata-kata 
sendiri, apakah mereka bisa berbahasa Indonesia atau tidak atau barangkali 
mereka sedang menghafal pengetahuan yang didapatkan dari "metode kuping". 
Gejala-gejala begini saya pahami sebagai tambahan bukti betapa jauhnya masih 
perjalanan usaha pemanusiawian Indonesia dan betapa sakitnya bangsa dan negeri. 
Betapa bangsa dan negeri ini tak obah "layang-layang putus" jika menggunakan 
perbandingan novelis Martin Aleida sehingga tak lagi mampu membedakan 
benar-salah, baik-buruk, puisi dan prosa, preman dan bukan preman. Apakah 
syarat sakit begini, merupakan syarat ideal untuk adanya suatu revolusi sosial 
dan digunakannya bentuk tertinggi perjuangan politik? Barangkali yang paling 
dekat adalah syarat bunuh diri dan otomasakre.



Paris, Desember 2004.

--------------------
JJ.KUSNI

[Bersambung...]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke