SUARA PEMBARUAN DAILY
---------------------------------
Vicente Verez Bencomo, Si Pembuat Vaksin Konyugat Hib Tipe B Sintetis dari Kuba
KUBA merupakan negara berkembang yang mempunyai kemajuan bioteknologi yang
pesat. Sembilan puluh persen kebutuhan obat-obatan dan vaksin yang diperlukan
penduduk Kuba diproduksi di dalam negeri. Hal ini tidak terlepas dari
keterampilan dan ketekunan para ilmuan di negeri itu yang didukung kepedulian
pemerintah Kuba terhadap pembangunan kesehatan dan pendidikan .
Kemajuan bioteknologi yang dicapai Kuba memang membuat kita iri. Di negara
berpenduduk 11,2 juta jiwa ini indikator kesehatannya bagus. Misalnya saja,
angka kematian bayi 6,3/1.000, cakupan pertolongan persalinan dengan tenaga
medis 100 persen, jumlah dokter 67.000 orang, usia harapan hidup 76 tahun dan
alokasi dana untuk pembangunan kesehatan mencapai 12 persen.
Di bidang pendidikan, pemerintah Kuba menggratiskan pendidikan dari tingkat
Sekolah Dasar (SD) sampai jenjang pendidikan doktor (S3). Sedangkan bagi
mahasiswa asing, pemerintah Kuba juga memberi beasiswa. Di tahun 1961 rakyat
Kuba bebas dari buta huruf, dan alokasi anggaran negara untuk pendidikan
mencapai 32 persen.
Dengan kondisi semacam itu tidak mengherankan Kuba berada di posisi ke-52 dalam
peringkat indeks pembangunan manusia (HDI) di dunia. Seperti diketahui ada tiga
indikator HDI, yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Bandingkan dengan Indonesia yang berada di peringkat 111. Beberapa hal yang
membuat rendahnya posisi Indonesia antara lain disebabkan angka kematian ibu
(AKI) 317/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian bayi 35/1.000 kelahiran
hidup. Sedangkan anggaran untuk bidang kesehatan masih kurang dari 2 persen
dari APBN.
Satu dari sekian banyak peneliti Kuba adalah Prof Vicente Verez Bencomo DSc.
Pria yang lahir pada 25 Juni 1953 di Havana Kuba ini berada di Indonesia sejak
Minggu (28/11). Serangkaian kegiatan berupa ceramah ilmiah sudah dijadwalkan
untuknya.
Pada hari Minggu (28/11) dia dijamu Direktur Utama RS Kanker Dharmais Prof dr
Samsuridjal Djauzi SpPD, hari Senin (29/11) presentasi tentang perkembangan
vaksin polisakarida konyugat sintesis untuk menangkal haemophilus influenzae
(Hib) tipe b di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Indonesia (UI) di Depok.
Kemudian, Selasa (30/11) dia juga menyampaikan materi yang sama di Fakultas
Kedokteran UI, Rabu (1/12) di Jurusan Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM)
Yogyakarta dan Kamis (2/12) di Departemen Farmasi Institut Teknologi Bandung
(ITB).
Di Fakultas Kedokteran UI, dia bercerita sejarah pembuatan vaksin konyugat Hib
tipe b sintetis. Dituturkan, sejak 15 tahun lalu sudah tampak potensi untuk
membuat vaksin sintetis Hib tipe b. Ketika itu, antibodi di tubuh manusia tidak
hanya mengenal polisakarida. Tetapi juga fragmen-fragmen polisakarida. Seperti
diketahui, Hib tipe b adalah bakteri yang menyebabkan penyakit meningitis,
pneumonia dan sepsis (demam karena bakteri atau zat yang dihasilkan bakteri).
Bakteri Hib berukuran kecil, tidak mampu bergerak spontan, gram negatif
berbentuk batang. Di antara patogen ini ada yang mempunyai dinding (kapsul) dan
ada yang tidak mempunyai kapsul. Kapsul terdiri dari polisakarida yang
melindungi bagian dalam dari sel-sel bakteri. Pada bakteri Hib tipe b kapsulnya
tersusun atas unit-unit ribosyl-ribitol phosphate (polyribosylribitol
phosphate/PRP).
Keberadaan dinding (kapsul) bakteri ini menarik minat Vicente sebagai ahli
kimia untuk membuat vaksin sintetis (kapsul-kapsul tersebut disintesis secara
kimia). Sementara, pada vaksin alami (biologi), kapsul-kapsul bakteri ini yang
dilemahkan dan kemudian disuntikkan ke tubuh manusia untuk membentuk penangkal
terhadap berbagai penyakit yang disebabkan Hib tipe b.
Menurut Vicente, ada lima negara yang berupaya mengembangkan vaksin sejenis,
diantaranya Kanada. Namun setelah tujuh tahun, proyek pembuatan vaksin ini
gagal karena prosesnya yang kompleks dan teknologinya mahal. Periode 1996-2000,
di Kuba sendiri perjalanan vaksin ini mengalami kemajuan.
Prosedur sintetis polisakarida (dinding bakteri) ditemukan dan protein sintetis
ini ternyata sama dengan antibodi yang bukan sintetis. Maka dimulailah uji pra
klinis pada hewan , yang kemudian berlanjut dengan uji klinis pada manusia
(anak-anak, orang dewasa dan orang tua).
Sebelumnya, uji klinis tidak berjalan mulus sehingga sempat diulang sampai
akhirnya diuji coba ke manusia."Ada sekitar 50 orang yang turut serta dalam
pembuatan vaksin ini, tetapi menjadi terbagi dua. Ada yang percaya dan ada yang
tidak percaya," kata Vicente.
Kekurangan Vaksin
Ketekunan akhirnya membuahkan hasil. Pada uji klinis fase satu, fase dua
terjadi peningkatan antibodi sampai 180 dibanding dengan kontrol (kelompok yang
tidak mendapat vaksin polisakarida konyugat sintetis).
Dengan keberhasilan ini membuktikan bahwa teknologi kimia di bidang kedokteran
(antigen karbohidrat sintetis) bukan hanya impian. Mulai tahun depan, menurut
Vicente, Kuba akan memproduksi vaksin tersebut sebanyak 10 juta dosis. Tiga
tahun ke depan diharapkan meningkat menjadi 15 juta dosis.
Disebutkan, kebutuhan dunia akan vaksin Hib tipe b sekitar 500 juta dosis. Saat
ini yang baru terpenuhi sekitar 100 juta dosis. Oleh karena itu, selain
memproduksi vaksin untuk kebutuhan dalam negeri, Kuba juga akan memproduksi
untuk negara lain. Tentang harga, ujar Vicente, harga vaksin produksi Kuba
bersaing dengan harga vaksin produksi negara lain, yang berkisar US $ 3 sampai
US $ 15. Harga vaksin produksi Kuba, ujarnya, bisa dibandingkan dengan harga
vaksin dari Unicef.
Vicente memang peneliti ulet. Meraih empat kali penghargaan Cuban Academic of
Science (1993, 1994, 1995, dan 1999), penghargaan lain Carlos J Finlay tahun
1996 dan sudah menulis 31 tulisan ilmiah.
Meraih gelar master di bidang kimia di Moscow Institute of Fine Chemical
Technology tahun 1977 dan meraih gelar PhD di University of Orleans Perancis
tahun 1983. Gelar PhD diperolehnya selama dua tahun, termasuk 9 bulan melakukan
penelitian dan satu tahun belajar menulis dalam bahasa Prancis. Sebagai
mahasiswa asing, dia harus belajar menulis dalam bahasa Prancis selama setahun.
Waktu setahun untuk belajar menulis dirasakan Vicente sebagai hal yang
menghabiskan waktu. Oleh karena itu, dia bertekad menyelesaikan penelitiannya
selama setahun. Untuk itu dia bekerja keras. Sejak Senin sampai Minggu (pagi,
siang, malam) dia berada di laboratorium.
Soal kerja kerasnya ini, Vicente yang menjabat sebagai Direktur di Center for
the Study of Synthetic Antigens Havana Kuba ini menuturkan, dirinya memang
pekerja keras di masa mudanya. Terlebih di Kuba, yang merupakan negara
berkembang, yang menuntut masyarakatnya mampu membuat inovasi untuk memenuhi
kebutuhannya.
Dia bercerita, pelayanan kesehatan mahal akan banyak orang yang tidak mampu
mengaksesnya. Tetapi bila kebutuhan pemeliharaan kesehatan mampu diproduksi
sendiri maka harganya akan lebih murah. Di Kuba, perguruan tinggi/dunia riset
bersinergi dengan industri dan pemerintah. Jika ada penemuan baru (vaksin/obat)
yang terbukti bermanfaat dan aman, pemerintah Kuba mewajibkan sarana kesehatan
menggunakannya.
Kini, di usianya yang 51 tahun, Vicente merasa tua dan sekarang telah mempunyai
waktu untuk istirahat bersama puterinya (berusia 20 tahun), puteranya (berusia
10 tahun) dan istrinya, di rumahnya yang menurutnya rumah kecil dan dilengkapi
kebun anggrek yang juga kecil. Ada satu keinginannya yang belum terwujud dalam
kunjungannya ke Indonesia, yaitu melihat tanaman anggrek di Taman Mini
Indonesia Indah dan Bogor.
Maklum saja, pria murah senyum ini mengaku menyukai bunga anggrek. Saking
sukanya akan bunga itu, di laboratoriumnya juga ada tanaman anggrek.
"Saya bekerja keras ketika muda, orang muda memang harus kerja keras. Terkadang
pada Sabtu saya bekerja dari pagi, siang sampai malam. Sekarang punya waktu
istirahat karena saya cukup tua sekarang," katanya sambil tersenyum saat
mengakhiri wawancara. (N-4)
---------------------------------
Last modified: 7/12/04
---------------------------------
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! � Get yours free!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/