MENAIKKAN HARGA BBM:

MENGKHIANATI RAKYAT

Buletin 12

 

Isu mengenai kebijakan pemerintah untuk mencabut/mengurangi subsidi BBM untuk 
rakyat�yang juga akan diikuti dengan kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik), tarif 
angkutan, dan tentu saja sejumlah besar barang dan jasa�kini kembali bergulir. 
Para pakar dikerahkan untuk mengkomunikasikan kebijakan tersebut. Dikatakan 
bahwa kenaikan harga BBM sebesar 40% tidak otomatis menaikkan tarif angkutan 
40%, karena komponen BBM dalam tarif angkutan hanya 20%. Di luar itu masih ada 
investasi kendaraan, biaya maintainance, upah, administrasi, dan pajak. Jadi, 
menurut mereka, kenaikan tarif angkutan yang layak maksimal 8%.

Realitasnya, begitu harga BBM naik, akan terjadi kenaikan pada hampir semua 
barang dan jasa. Harga kendaraan akan naik, konon karena biaya produksi dan 
distribusinya naik. Para pekerjanya pun akan meminta upah dinaikkan. Alasan 
mereka, harga-harga kebutuhan juga telah naik. Singkatnya, sulit dibayangkan 
bahwa kenaikan tarif angkutan cuma sampai 8%.

Pemerintah beralasan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang kini telah di 
atas 50 dolar AS perbarel membuat subsidi yang dibayarkan pemerintah untuk BBM 
sangat besar. Subsidi ini lebih baik diberikan kepada rakyat yang membutuhkan, 
bukan kepada para pemilik mobil. Selama ini ada program Jaring Pengaman Sosial 
Keluarga Miskin (JPS-Gakin) yang diambil dari Dana Kompensasi BBM. Namun, kita 
tahu bahwa program JPS ini masih jauh dari efektif; masih terlalu banyak 
keluarga miskin yang tidak pernah mendengarnya, apalagi merasakannya. 





Konsep Subsidi Saat ini

Meski saat ini di Indonesia beberapa hal disubsidi (BBM, Listrik, Puskesmas, 
sekolah negeri, dsb), sesungguhnya dasar berpikir yang ada adalah anti subsidi. 

Ideologi Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini selalu memandang bahwa 
subsidi hanyalah "kasih-sayang" negara kepada rakyat. Namun, subsidi ini 
dianggap tidak sehat bagi rakyat. Makin lama "dimanjakan", rakyat akan makin 
kurang mandiri, dan akibatnya kalah bersaing di percaturan dunia. 

Ideologi Kapitalisme selalu memandang ekonomi akan optimal jika diserahkan 
kepada pasar bebas, pasar yang "tanpa hambatan", dan "tangan-tangan gaib" akan 
mengatur dengan sendirinya. Karena itulah, ada forum-forum dunia tingkat tinggi 
(seperti ASEAN atau APEC) untuk mewujudkan perdagangan bebas, dengan salah satu 
ketentuan, tidak boleh lagi ada produsen (rakyat suatu negara) yang diuntungkan 
oleh subsidi; tidak boleh pula ada konsumen (juga rakyat suatu negara) yang 
diberi proteksi (dilindungi), yakni dilindungi dari serbuan impor produk asing.

Kapitalisme tidak memandang bahwa pemerintah wajib memberikan pelayanan kepada 
rakyat agar semua rakyat tercukupi kebutuhan hidupnya. Mereka memandang, 
cukuplah pemerintah menjadi pengatur (regulator) saja. Selanjutnya, biarlah 
rakyat sendiri yang menyelesaikannya. Pemerintah tidak perlu campur tangan, 
karena intervensi semacam ini justru akan membuat mekanisme ekonomi tidak 
berjalan optimal.

Beginilah cara berpikir kapitalistik itu. Ini telah dijadikan mainstream (arus 
utama) berpikir para pejabat, intelektual, media massa dan juga sebagian ulama. 
Walhasil, rakyat diminta berpikir "rasional" dan bersikap "tenang", meski BBM 
dan TDL akan dinaikkan 40%. Pada saat yang sama, mereka mendapati bahwa biaya 
pendidikan dan pelayanan kesehatan juga makin menggila. Pekerjaan juga makin 
sulit didapat. Kalaupun ada, upah minimum ditekan sedemikian rupa sehingga di 
Jakarta saja upah minimum kurang dari Rp. 720.000,-. Konon, menaikkan upah 
minimum sama saja dengan mengancam kepentingan pengusaha. Karena itu, jika upah 
minimum dinaikkan, para pengusaha mengancam untuk melakukan PHK atas sejumlah 
karyawannya. 

Ketika rakyat mencoba keluar dari kesulitan ini dengan caranya sendiri, sebagai 
pedagang kaki lima atau tukang becak, misalnya, mereka dikejar-kejar oleh 
aparat, karena dianggap melanggar ketertiban. Lalu kepada siapa lagi rakyat 
harus meminta perlindungan, ketika penguasa ternyata tidak memberikan 
perlindungan yang dibutuhkan, karena perlindungan itu malah dianggap akan 
memanjakan mereka? Padahal Rasulullah saw. telah bersabda:

��������� ���������� ������� 

Imam/penguasa adalah perisai/pelindung (bagi rakyatnya). (HR Muslim).

 

Maksudnya, imam/pemimpin/penguasa adalah pelindung rakyatnya dari berbagai hal 
yang mengancamnya; apakah itu kelaparan, kedinginan, penyakit, kebodohan, 
kesewenang-wenangan, ketidakamanan, ataupun peperangan. Karena itu, politik 
(siy�si) didefinisikan sebagai ri��yah as-syu��n al-ummah, yakni mengurusi atau 
melayani segala kebutuhan rakyat. 

 

Konsep Islam dalam Memenuhi Kebutuhan Rakyat

Dalam Islam, penguasa adalah pelayan rakyat, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

������������� ������� ����� �������� ����� ������ ��������� ���� ������������

Penguasa manusia adalah pelayan; dia bertanggung jawab atas pelayanannya 
terhadap mereka. (HR Muslim).

 

Karena itu, penguasa harus bekerja keras sehingga di negaranya tidak ada lagi 
rakyat yang sakit, kecuali mendapat perawatan; tidak ada lagi yang lapar, 
kecuali mendapat makanan yang halal; tidak ada lagi yang telanjang, kecuali 
mendapatkan penutup auratnya; dan tidak ada lagi orang yang tertindas oleh 
kesewenang-wenangan orang lain, kecuali mendapatkan pembelaan dan keadilan.

Pemerintah wajib menyelenggarakan ri��yah (pelayanan) ini untuk semua orang, 
tanpa diskriminasi. Semua orang�tanpa memandang jenis kelamin, etnis, atau 
agamanya�harus dipenuhi kebutuhan dasarnya. Mereka harus diberi pelayanan 
kesehatan dan pendidikan yang gratis atau murah sehingga tumbuh rakyat yang 
sehat dan cerdas. Mereka yang mampu mencari nafkah diwajibkan mencari nafkah 
yang halal. Pemerintah menjaga jangan sampai sistem ekonomi terdistorsi oleh 
riba, penipuan, perjudian atau korupsi. 

Pemerintah juga berkewajiban mengelola sumberdaya alam yang besar seperti 
migas, tambang, hutan ataupun yang lainnya yang menjadi milik rakyat, yang 
hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Dengan kata lain, sumberdaya alam itu 
milik rakyat, bukan milik negara, apalagi milik swasta asing. Negara hanya 
berfungsi sebagai pengelolanya saja. Karena itu, sebenarnya ketika rakyat 
mendapatkan apa yang dimilikinya, dengan harga yang sesuai untuk biaya 
pengelolaannya ini, tidak berarti mereka disubsidi, walaupun harga itu masih 
jauh di bawah harga pasar dunia.

Namun demikian, di dalam sistem ekonomi Islam dikenal juga i'th�' ad-dawlah 
(subsidi negara kepada rakyat). Dalam hal ini, penguasa memberikan sebagian 
harta milik negara kepada individu rakyat yang dianggap berhak. Pemberian atau 
subsidi ini sifatnya bukan untuk semua orang. Subsidi ini juga tidak diambil 
dari hasil sumberdaya alam yang memang sebenarnya merupakan milik rakyat; tidak 
pula diambil dari harta zakat, karena zakat bukanlah milik negara, namun milik 
delapan asnaf yang sudah ditentukan dalam al-Quran. 

Contoh subsidi negara (i'th�' ad-dawlah) ketika negara memberikan penghargaan 
kepada ilmuwan atas penemuannya atau kepada ulama atas jasanya. Dalam hal ini, 
negara boleh mengambil harta Baitul Mal dari rekening milkiyyah ad-daulah 
(milik negara) untuk diberikan kepada yang berhak tersebut. Dalam kitab 
al-Amw�l f� Dawlah al-Khil�fah disebutkan bahwa sumber rekening ini, misalnya, 
dari penghasilan badan usaha milik negara untuk produk yang tidak termasuk 
harta milik umum (milkiyyah '�mmah)�jadi bukan seperti migas, hibah perorangan 
kepada negara, harta warisan yang tidak ada ahli warisnya, barang sitaan dari 
aktivitas yang melanggar hukum, dll.

 

Kebijakan atas BBM dalam Negara Khilafah

Kelak, jika negara Khilafah berdiri kembali, BBM akan dikembalikan kedudukannya 
sebagai milik rakyat. Khalifah akan menentukan harga BBM ini yang pantas untuk 
rakyat; bisa gratis, murah, atau sedikit mahal; yang penting terjangkau oleh 
semua lapisan masyarakat sehingga setiap individu bisa mendapatkannya dengan 
mudah. Karena itu, di sinilah pentingnya negara untuk meningkatkan daya beli 
dan tingkat kemakmuran rakyatnya sehingga setiap orang bisa terjamin semua 
kebutuhan pokoknya. 

Mungkin suatu ketika, jika BBM berlimpah, lebih tepat bagi Khilafah untuk 
membagikan manfaat BBM dalam bentuk penyediaan listrik murah sampai daya 
tertentu untuk setiap orang atau rumahtangga, sarana transportasi umum yang 
murah dan baik sehingga semua orang bisa mengaksesnya dengan mudah, sarana 
pendidikan dan kesehatan yang bermutu dan gratis yang tersebar merata di 
seluruh negeri, atau dalam bentuk langsung berupa BBM yang murah, bahkan 
gratis. 

Jika di luar hak tiap warga tersebut BBM dijual dengan harga pasar dunia dan 
hasilnya dikembalikan kepada rakyat maka rakyat tidak akan memandangnya sebagai 
sebuah kezaliman. Sebaliknya, jika Khilafah terpaksa membeli BBM dari luar 
dengan harga pasar dunia, maka kepada rakyat tetap yang utama adalah menjaga 
agar kebutuhan pokoknya terjamin. 

Dalam kondisi ini, Khalifah harus menjaga agar rakyat menghemat atau 
menggunakan peralatan hemat energi/BBM. Khalifah juga harus mendorong 
upaya-upaya pengembangan teknologi diversifikasi energi atau menemukan sumber 
energi baru. Jika tetap ada rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya 
(misalnya tidak mampu membeli minyak tanah untuk memasak, sementara tidak ada 
cara lain selain memakai minyak tanah), maka pemerintah wajib turun tangan; 
bisa dengan mencarikan keluarganya yang mampu agar membantunya, bisa dengan 
memberinya secara langsung jaminan dari kas zakat, dan sebagainya.

Itulah beberapa hal yang wajib diperhatikan oleh penguasa sejauh didasarkan 
pada ketentuan syariat Islam.

 

Renungan

Dari paparan di atas, jelas sekali, niat pemerintah untuk mengurangi (apalagi 
sampai mencabut) "subsidi" BBM�di tengah kondisi beban masyarakat yang sudah 
sangat berat secara ekonomi�adalah sebuah tindak kezaliman terhadap rakyat. 
Tindakan itu juga bisa dipandang sebagai bentuk pengkhianatan mereka terhadap 
rakyat karena mereka seharusnya senantiasa berusaha meringankan beban rakyat, 
bukan malah semakin menambah beban rakyat yang mengakibatkan rakyat semakin 
bertambah sengsara. Rasulullah saw. pernah bersabda:

 

��������� ����� ����������� ��������� ���������� ������ ��� ��������� 

Pemimpin mana saja yang diserahi urusan rakyat, kemudian berkhianat kepada 
mereka, maka ia kelak ada dalam neraka. (HR Ahmad). 

 

Sebagai catatan akhir, kepada para penguasa�yang selama ini banyak melalaikan 
berbagai urusan dan kebutuhan rakyat dan malah sering membebani 
mereka�camkanlah doa Rasulullah saw. berikut:

����������� ���� ������ ���� ������ �������� ������� ������� ���������� 
��������� �������� ������ ������ ���� ������ �������� ������� �������� ������ 
��������� ����� 

Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lalu mempersulit mereka, 
hendaklah Engkau persulit dia; dan siapa saja yang mengurusi urusan umatku, 
lalu meringankan beban mereka, hendaklah Engkau ringankan dia (bebannya). (HR 
Muslim). []

 

KOMENTAR:

Saudi Mulai Lontarkan Kritikan atas Kebijakan AS di Irak. (Eramuslim.com, 
6/12/2004). 

Jangan salah. Penguasa Saudi adalah agen AS; dia turut memberikan akses kepada 
militer AS untuk membunuhi rakyat Irak



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke