Catatan Permenungan: INDONESIA DALAM GELOMBANG
IRASIONALISME?
Oleh Tangkisan Letug
Katanya Indonesia itu sedang mengalami modernisasi.
Pembangunan jalan-jalan yang mulus dengan hotmix,
apalagi di kota-kota besar. Mall-mall yang laris
berdiri di berbagai kota telah tampak menggeser
keramaian pasar-pasar tradisional di daerah.
Gedung-gedung megah dan hotel-hotel semakin kasat
mata. Itukah tanda modernisasi kita?
Lain di depan mata, lain di mulut manusia. Dari
bis-bis kota, di dalam kereta-kereta, di ruang tunggu
pesawat, omongan orang yang aku tangkap kembali ke
alam takhayul. Ada yang bercerita tentang pesugihan,
tentang thuyul-thuyul, tentang �ngelmu katosan� (ilmu
kekebalan) dan sebagainya. Begitu gampangnya sekarang
kita mendengar pembicaraan tentang dunia gaib. Ada
semacam gejala pentakhayulan dunia percakapan kita.
Sebuah ironi di tengah modernitas yang sedang kita
alami.
Memang di televisi-televisi kita acara takhayul telah
memenuhi layar kaca setiap hari. Dari yang menjadi
bahan guyonan Srimulat sampai penayangan rumah-rumah
angker. Dari segi pendidikan manusia Indonesia,
jelaslah acara-acara televisi yang saban hari begitu
tidaklah memberi pelajaran yang baik meskipun dikemas
dengan pesan-pesan moral. Bagiku ini malahan menjadi
suatu bentuk pembodohan publik. Televisi telah menjadi
agen-agen irasionalisme yang amat jahat bagi
pembangunan kebangsaan dan peradaban kita.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti generasi
muda yang sudah setiap hari dicekoki oleh acara-acara
irasionalisme semacam itu akan mampu menghadapi
tantangan global yang semakin membutuhkan olah budi
yang tajam. Irasionalisme dalam bentuknya yang paling
primordial seperti takhayul itu tidak hanya akan
menumpulkan daya pikir manusia, tetapi juga menyeret
budi manusia pada tingkat yang paling rendah. Sebab di
situ kita bisa melihat bagaimana manusia
memperbudakkan diri pada kekuatan kegelapan. Nalar dan
akal sehat tidak akan mendapat tempat dalam dunia
takhayul. Dan lagi, hidup manusia hanya berarti bagi
�kebesaran ego� semata, dan dengan begitu manusia
tidak mampu keluar dari dirinya sendiri untuk memberi
ruang bagi keberadaan orang lain sebagai sesamaku atau
sebangsa seperjalanan dalam membangun peradaban.
Kebangkitan irasionalisme seperti takhayul seiring
sejalan dengan gejolak modernitas yang membawa
krisis-krisis identitas sebuah komunitas. Di
lingkungan masyarakat Jawa, ada semacam kecenderungan
kembali kepada tradisi-tradisi yang lama ditinggalkan
seperti klenik. Orang hanya sekedar melampiaskan
sebuah kerinduan romantis ke masa lalu tetapi belum
mampu mengolahnya dalam perspektif baru yang
menempatkan akal budi manusia dalam tempat yang wajar.
Kalau pun mau menggali kembali kepada sumber-sumber
tradisi daerah, semestinya kita perlu sampai pada
esensinya, dan bukan hanya sekedar puas melihat
kulitnya. Esensi dari setiap bentuk tradisi kebudayaan
dan peradaban adalah nilai manusia itu sendiri. Ketika
manusia dianggap budak sebuah tradisi dan tidak mampu
menjadi tuan atasnya, pantaslah dipertanyakan
pencarian jati diri kita. Romantisme masa lalu bisa
membawa kepada pembudakan manusia pada tradisinya
sendiri bila akal budi dan nalar manusia sudah tidak
mendapat tempat yang layak lagi.
Bertubi-tubinya acara takhayul di televisi seperti
�ngubal-ubal lendhut� (mengobok-obok lendut) di sebuah
danau yang jernih. Akibatnya, tidak hanya keindahan
danau yang semakin hilang, tetapi juga mengusir segala
kehidupan di dalamnya. Yang berhasil hidup di tengah
air keruh hanyalah monster-monster yang siap memangsa
yang lain.
Begitukah sejarah yang sedang kita jalani sekarang
ini? Benarkah kita sedang menciptakan sebuah �habitus�
bagi lahirnya monster-monster baru yang akan
menghancurkan peradaban kita sendiri? Benarkah budaya
media kita sedang membangunkan �basic instinct�
kemonsteran manusia di tengah peradaban yang semakin
menuntut solidaritas erat kita sebagai sesama manusia?
Benarkah kita sedang mendidik monster-monster masa
depan lewat kebangkitan irasionalisme di masyarakat
kita?
Bila benar kita sedang menghirup gelombang
irasionalisme itu, saya khawatir bahwa kita tidak akan
bisa lagi duduk bersama dan berbicara tentang masa
depan. Hidup bersama lalu tidak lebih daripada
ancam-mengancam. Adanya orang lain dipandang sebagai
ancaman. Sebagai bangsa pun kita akan semakin rapuh.
20 Desember 2004
__________________________________
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail - now with 250MB free storage. Learn more.
http://info.mail.yahoo.com/mail_250
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/