SUKA DUKA DI RRT (1965-1977) Oleh Thio Keng Bouw
Seri ke-11 SURAT MENYURAT DENGAN KELUARGA DI INDONESIA NYAMBUNG LAGI Tanggal 1 Oktober 1965 saya masih sempat menulis surat ke Indonesia. Setelah itu, saya tak pernah menulis lagi. Hubungan dengan keluarga di Indonesia terputus sampai 9 tahun lamanya Baru pada awal September 1974, hubungan ini nyambung lagi. Pada suatu pagi, saya ditanya, :"Kenalkah kau dengan TK Hong?" Ku diam sejenak, sambil memikirkan, siapakah gerangan TK Hong itu? Singkatan namaku adalah TKB, TKHong jangan2 singkatan nama adikku Thio Keng Hong. Lalu aku jawab dengan pasti, TK Hong pasti adikku di Indonesia. Setelah itu, barulah surat yang bersampul nama pengirim TK Hong dari Canada diserahkan kepadaku. Surat itu dialamatkan kepada Departemen Luarnegeri RRT di Peking, karena aku dulu adalah tamu negara yang resmi untuk menghadiri Perayaan hari nasional RRT 1 Oktober 1965, maka adikku menulis surat via deparlu RRT adalah paling tepat, deparlu RRT pasti tahu betul, apakah aku masih di Tiongkok atau sudah meninggalkan Tiongkok. Adikku baru saja tiba di Calgary, Canada, ia baru menginjak usia 20 tahun, setelah lulus SMA Negeri, atas biaya keluarga, ia beruntung bisa meneruskan studinya di Fakultas Tehnik jurusan bangunan di Calgary. Canada. Ia mendapat pesan dari keluargaku di Indonesia, agar coba cari tahu, apakah aku masih di RRT, masih sehat, dan bagaimana keadaanku di sana. Bukan main gembiranya hatiku, menerima surat yang pertama dari Indonesia, mengetahui bahwa seluruh keluargaku dalam keadaan sehat2 serta penghidupannya sudah jauh lebih baik ketimbang 9 tahun yang lampau. Seorang adikku sudah menikah dan mempunyai 2 orang anak laki2, memiliki 2 buah apotik di Bogor. 3 adik yang kecil masih sekolah. Ibuku sehat2 dan selalu memikirkan putera sulungnya, yang tak pernah menulis surat sepucukpun selama 9 tahun ini. Siang itu juga saya segera membalas surat itu. Saya ceritakan secara ringkas, keadaan saya sehat2 saja, badan bertambah 10 KG beratnya, tidak kekurangan sandang pangan, setiap tahun bisa pesiar jalan2 keliling Tiongkok. Setiap hari bekerja sebagai guru bahasa Indonesia, menyanyi, piano dan akordeon. Disamping itu, juga bercocok tanam sayur mayur sebagai hobby dan olahraga, agar badan sehat walafiat. Surat ini kukirim ke Calgary., agar diteruskan ke Indonesia. Sebulan kemudian saya menerima surat balasan dari Indonesia, seluruh keluargaku di Indonesia merasa terharu bercampur gembira, membaca suratku yang di-tunggu2 selama 9 tahun lamanya. Terutama ibuku yang setiap hari berdoa, semoga saya selamat dan sehat2 mendapat perlindungan dari Tuhan. Kali ini surat dari Indonesia dilampiri dengan foto2 keluarga yang terbaru, tampak adikku yang bungsu, Keng Siong atau Atjong, yang ketika 1965 baru 3 tahun lebih, kini sudah 13 tahun usianya. wajahnya sudah tak kukenali lagi. Sungguh aneh, penyakit radang maag yang kuderita selama ini, dan selalu kumat pada setiap musim dingin, setelah hubungan surat menyurat dengan keluarga nyambung lagi, tak pernah kumat lagi selama 30 tahun terakhir ini. Karena ketika itu saya sudah memiliki harapan (kesempatan) untuk pulang ke Indonesia via Canada. Dari surat menyurat dengan keluarga di Indonesia, akhirnya kuketahui bahwa situasi Indonesia sudah banyak perubahan, Indonesia sudah bertambah maju perekonomiannya, taraf hidup rakyat sudah lebih baik ketimbang awal tahun 60-an. .Bertambah semangat untuk pulang ke Indonesia dalam waktu tak lama lagi. Kusadari bahwa jalan untuk pulang masih ber-liku2, harus mempunyai plan untuk persiapan ini, harus memiliki tubuh yang sehat, ketrampilan untuk hidup berdikari di luar Tiongkok, hidup sebagai manusia normal, yang sandang pangannya dicukupi oleh keringat daki sendiri. Pekerjaan apa yang dapat saya kerjakan di luar Tiongkok? Pikir punya pikir, saya harus gunakan keahlianku sebagai juru masak, yang pernah dijuluki koki kelas satu oleh pak Abdulmadjid yang ter-gila2 sama babi kecapku di Cengkareng. Pak Abdulmadjid ini yang tadinya renggang hubungannya dengan saya, setelah makan babi kecap yang saya masak di dapur umum, terus jadi akrab lagi. Pak Sobron juga ter-gila2 sama kecap manis goncang lidah yang saya bikin di STM. Ketika itu tak ada yang namanya kecap manis di RRT, semuanya serba asin. Saya belajar mengolah kecap manis dari ibu Anfa, yang pernah membikin home industri tempe dan kecap manis ketika jaman pendudukan Jepang di Jokjakarta. Keluarga Anfa adalah keluarga yang paling akrab selama saya di RRT. Beliau seumur ibunya Li Lian di Bandung, sama2 kelahiran 1923 (shio Babi), dengan putera/puterinya Ganoto, Siwang, Latifa dan Tiana, sudah seperti saudara kandung saja akrabnya. Ketika beliau menemani Tiana yang sedang berobat di Shanghai, 3 anak2nya sedang sekolah di kota kabupaten, kunci rumahnya di STM diserahkan kepadaku untuk aku urus. Ini berlangsung sampai 1975, dimana bu Anfa meninggal dunia karena menderita sakit kanker stadium terakhir, dan Tiana sendiri sudah sembuh sakitnya dan sedang mengkonsolidasi penyakitnya di rumah. Tiana, puteri bungsunya usianya 15 hari lebih tua daripada Keng Loan, adik wanitaku yang bungsu. cuma ia agak malang nasibnya, selama 9 tahun harus hidup di rumah sakit, tidak bisa bersekolah seperti anak2 sebaya umurnya. Semua dokter, termasuk dokter yang top di Shanghai sudah angkat tangan, tidak menemukan jalan untuk menyembuhkan penyakitnya. Pernah satu kali, berat tubuhnya tinggal 39 KG, praktis kulit bungkus tulang saja. Pada suatu hari pada tahun 1973, saya dipanggil Dokter Shen yang kita kenal sejak 1966, ia adalah dokter Tiongkok yang rajin belajar bahasa Indonesia, penyakitku juga praktis disembuhkan oleh dokter Shen ini. Dokter Shen bilang, baru2 ini ia kenal dengan Dokter Zhang (satu marga dengan saya), seorang dokter tradisionil di Tjiangsi yang hebat, telah menyembuhkan banyak penyakit aneh yang tak dapat disembuhkan oleh dokter2 Barat. Maka ia minta agar saya menulis surat kepada bu Anfa di Shanghai, agar usahakan untuk kembali ke Nanchang, akan diperkenalkan kepada dokter Zhang ini. Juga puteri bungsu bung Makin, Yeni, yang terus menerus melewati usianya di rumah sakit, dianjurkan untuk berobat kepada Dokter Zhang ini. Ibu Anfa menerima usul Dokter Shen, karena toh dokter2 di Shanghai bilang, di dunia kedokteran Barat, belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh Tiana. Betul2 ajaib, dokter tradisionil yang cuma belajar ilmu kedokteran kepada ayahnya, akhirnya telah menyembuhkan penyakit aneh dari Tiana dan Yeni, hanya dengan tusuk jarum dan makan obat ramuan (jamu godok) tradisionil resep turunan. Ibu Anfa ahli bikin kecap dan tempe, ia bisa menghidupi keluarganya pada jaman Jepang (1942-1945). Di RRT kita bisa makan tempe dan kecap manis, berkat resep ibu Anfa yang diajarkan kepada koki Tiongkok. Oleh saya kecap manisnya itu, diolah lagi dengan daya ciptaku. Aku paling suka jajan ketoprak Jakarta ketika di Indonesia, Yaitu tahu goreng, taoge rebus dan bihun yang diberi bumbu kecapmanis, cabe rawit, bawang putih dan kacang tanah goreng yang diulek. Di RRT dimana kita bisa jajan ketoprak? Disinilah saya coba mengolah kecap manis bu Anfa, ditambah bawang putih, cabe rawit, berambang goreng dan asam cuka. Kemudian aku masuki kedalam botol kecap, kuberikan kepada sahabat karibku Mas Sobron. Dia betul2 ter-gila2 sama kecap manis goncang lidah ini. Kukatakan, kalau ditambah kacang goreng yang diulek halus akan lebih sedap lagi, apalagi jika di siram ke atas tahu goreng dan taoge rebus. Di RRT kami belum pernah ketemu dengan apa yang dinamakan bihun, entah kenapa bihun lenyap dari pasaran selama jaman RBKP ini.. Keluarga Anfa dan keluarga Sobron sangat akrab hubungannya, maklum suami bu Anfa, pak Rumambi Sitepu dan mas Sobron sama2 orang Lekra, sama2 guru Bahasa Indonesia di Peking pada tahun 1965. terus tinggal dalam satu asrama selama bermukim di Tiongkok. Pak Rumambi meninggal dunia pada 1971 karena sakit kanker lever stadium terakhir pula. Saya dan Sobron sering jalan kaki mendaki bukit sehabis makan siang. Sambil jalan2 sambil ngobrol uplek ngalor ngidul. Ia setuju dengan rencanaku untuk keluar Tiongkok, hidup sebagai manusia normal kembali, yang tanpa bantuan jawatan sosial seperti selama ini di RRT. Katanya, akupun jika ada kesempatan, tekanan darah tinggi yang kuderita sejak kecil sudah agak stabil, akupun akan meninggalkan RRT, hidup diluarnegeri dengan keringat dakiku sendiri. Sungguh tak kuduga, akhir2nya ia ke Paris dan hidup sebagai pengelola resto Indonesia. Dan aku ke Hong Kong sebagai guru piano. Kami berdua mempunyai jiwa seniman yang kental, sama2 mendambakan kebebasan untuk hidup sebagai manusia normal, bukan sebagai tamu agung, yang tidak ada kebebasan mencipta, tak ada kebebasan surat menyurat, tak ada kebebasan bepergian, tak ada kebebasan bergaul dengan manusia di sekeliling. Semua serba dilarang serba diatur oleh disiplin kepala kampung yang irasionil. Manusia tak cukup dengan sandang pangan, rumah tinggal dan pesiar saja (Yi Shi Zhu Xing). Apalagi manusia yang namanya seniman, yang membutuhkan kebebasan berfikir, kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan, kebebasan surat menyurat. kebebasan berkarya, kebebasan memilih rumah tinggal, kebebasan memilih pekerjaan, kebebasan bepergian ke toko, ke kota2 lain, kebebasan jalan2 ke tempat yang disukai, kebebasan memiliki kota kediaman, kebebasan bergaul dengan siapapun yang disenangi. Kesemuanya ini tidak bisa kita peroleh dalam sebuah Negara seperti RRT yang ketika jaman RBKP itu menjalankan diktatur proletariat, yang menjadikan perjuangan klas sebagai poros, yang menindas semua manusia yang digolongkan sebagai klas musuh, termasuk pahlawan nasional yang berbeda pendapat dengan Mao Tjetung. Manusia di RRT ketika itu banyak yang terpaksa berbicara hati2, tidak berani mengucapkan apa yang difikirkan, takut tiba2 divonis sebagai musuh klas dan dibuang ke kamp kerja paksa. Sebagai tamu Negara., meskipun tuan rumah memperlakukan kami dengan baik sekali, tapi suasana RBKP menulari fikiran kepala kampung Indonesia, membikin sebuah masyarakat Utopi yang serba aneh. Yang membikin peraturan2 yang mengikat fikiran dan kaki tangan kita. Gerakan Surtem dan Surtemwan membikin meriah kampung Indonesia Semenjak hubungan surat menyurat dengan keluarga nyambung lagi, mulailah aku giat belajar masak, giat kerja di ladang untuk kesehatan badan dan melatih kerja susah payah sebagai persiapan mutlak buat orang yang mau hidup berdikari kelak di Negara Barat. Saya, Uran dan Li Wei La (Liberal) membuka ladang pribadi , jalan yang sudah dirintis oleh Uran sejak masuk di STM. Uran banyak membuka fikiranku tentang masyarakat yang abnormal di kampung Indonesia ini. Ia juga sebagai pendobrak pertama. larangan tak boleh bergaul dengan petani Tiongkok di sekeliling kampung Indonesia, ialah yang memelopori lilor (beli telor langsung kepada petani) yang dilarang oleh undang2 RRT ketika itu., ialah yang memelopori tembur (tembak burung), yang akhirnya diikuti oleh banyak orang, ia juga yang mengejutkan semua orang di kantin, ketika makan sore, di mana ia memantek paku di atas papan tulis pengumuman, kemudian menulis dengan kapur tulis pengumuman pribadinya: HAR IN TA DA DJA DAN DI LAD. (hari ini tak ada kerdja badan di ladang) SA MA MAKDIRUM (saya mau makan di rumah). Semua orang terpaksa membaca surat pengumumannya itu, karena didahului oleh suara keras paku dipantek di atas papan tulis. Semua orang kagum juga akan keberanian Uran untuk mendobrak peraturan2 disiplin yang irasionil. Tapi memang keberanian ini sangat dibutuhkan bagitu setiap orang yang kelak mau hidup sebagai manusia normal di masyarakat yang normal. Uran juga menciptakan banyak singkatan2 melalui surtemnya di kampung Indonesia, yang dengan berani menyingkap segala yang abnormal yang terjadi dalam desa kita itu. Gerakan surtem (surat tempelan berhuruf besar) dan Tikcepao (Koran dinding yang diketik) adalah gerakan yang dipelopori oleh Uran, yang akhirnya dibayar oleh pemecatan dirinya dari anggota PKI dan diusir dari Tiongkok sebagai persona non grata. Memang ada kesalahan Uran yang fatal, dia terlalu berani, tapi tidak mau mendengarkan nasihat saya dan pak Imam. Boleh mengkritik kepala kampung Indonesia, tapi jangan nyerempet tuan rumah, karena ini adalah etika hubungan tuan rumah dengan tamu. Ia menjawab: Mao Tjetung boleh mengkritik Stalin, kenapa saya tidak boleh mengkritik Tiongkok? Kami (saya dan pak Imam) menasihati dia lagi:"jangan kau tiru contoh yang seperti ini, sangat beda situasi kongkritnya. Mao ketika itu di Tiongkok, Stalin di Uni Sovyet. Mao memiliki tentara dan sudah menduduki separo wilayah Tiongkok. Kau, Uran tak punya apa2, hidup sebagai tamu agung yang terhormat dan serba dicukupi kebutuhan sandang pangan, rumah tinggal dan kesempatan pesiarnya." Pak Imam menambahkan lagi: "Jika kau tak mau mendengar nasihat kami, pada suatu hari kau akan dipersona non grata, ini menurut pengetahuan saya terhadap hukum internasional yang berlaku.". Ya para surtemwan (penulis surat tempelan berhuruf besar) ini memang tak punya organisasi, tak punya disiplin kelompok, semuanya bersifat perseorangan untuk menyatakan ketidak puasan terhadap bapak kepala kampung Indonesia ini melalui surtem. Setelah berlangsung setengah tahun lamanya, semua surtem di kantin di robek2 oleh pak Mamat dan Ruslan, orang tertua dan anak kecil berusia dua belas tahun. Kemudian, hari keduanya, 8 April 1977, telah diadakan rapat umum pengganyangan terhadap tujuh surtemwan yang dianggap sebagai pembangkang yang liberal, berani menulis isi perut kepala kampung Indonesia secara terbuka akhirnya membikin malu orang Indonesia dimuka tuan rumah Tiongkok. Rapat ini dihadiri oleh semua orang Indonesia, tua dan muda, termasuk para mahasiswa dan pelajar yang khusus diliburkan sekolahnya untuk membikin rapat umum menjadi meriah dan mendapat dukungan mayoritas mutlak. Segelintir surtemwan dijadikan bulan2an, dicaci maki habis2an, baik oleh pimpinan rapat, pembicara utama rapat umum, maupun oleh jel2 "hidup XYZ!". "ganyang ABC!" dlsb yang diteriakkan oleh beberapa mahasiswa yang sudah diindoktrinasi otaknya oleh Oom2 dan Tante2nya. Suasana rapat sangat tegang, saya duduk berdampingan dengan pak Imam, yang terus menerus menasihati agar saya sabar, jangan terprovokasi. Semua surtemwan cuma senyum2 saja menerima pengganyangan ini, karena tahu mereka tidak berani melakukan perjuangan fisik selama hidup sebagai tamu di luarnegeri. Dan kitapun sudah merasa menang, karena selama setengah tahun kita yang "maki2" kepala kampung, hari ini cuma dua jam saja kepala kampung membalas semua "makian" kita itu, demikian kesimpulan para surtemwan. Rapat bubar, dan semua orang hatinya sama2 puas, baik yang mengganyang maupun yang diganyang. Sampai di rumah semua surtemwan tertawa ter-bahak2. Melihat sandiwara lucu dari kepala kampung dan para pengikut setianya. Karena mereka tidak mampu menjawab begitu banyak pertanyan2 dan kritik pedas dari surtemwan, Cuma bisa maki2 dan mengatakan cara mengkritik diluar rapat tertutup di dalam kamar adalah cara yang salah. Yang dipersoalkan adalah metode mengkritik, tapi tidak sedikitpun menanggap isi kritik2 para surtemwan. Besoknya, 9 April 1977, saya Mang Nungcun, Li Wei La dan Suhaimi berempat menghadap kepala kampung Indonesia, ramai2 menyatakan minta secepatnya diatur keluar Tiongkok dengan tanggungjawab masing2, permintaan ini segera dipenuhi. Karena kehadiran surtemwan di sini cuma membikin tambah botak kepala kampung Indonesia saja. Dan kami merasa hidup di kampung Indonesia ini hanya mem-buang2 waktu yang sangat berharga. Bersambung ke seri-12: SAYONARA STM ! SAYONARA PETANI MODERN ! [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [email protected] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

