bla..bla..bla.......................... 

Para pengkritik itu juga memandang bahwa "Presiden telah menyederhanakan 
kemerosotan moral sebagai mengungkapkan diri korupsi dan kekerasan yang 
merajalela" [Ibid]. Harian The Jakarta Post juga menyiarkan tanggapan Veven SP 
Wardhana, pengamat media yang antara lain mengatakan bahwa: Haruskah Presiden 
sungguh-sungguh menangani masalah kecil [small matter]? (semua masalah adalah 
sama, tidak ada yg kecil tidak ada yg besar, masalah kecil kalau dibiarkan akan 
menjadi besar, kalau presiden tidak memperhatikan masalah kecil, siapa lagi yg 
mau memperhatikan? karena orang� yg meng klaim dirinya artis2 or budayawan� itu 
sudah buta matanya dalam menilai mana yg berseni mana yg tidak, masa tayang 
pusar perempuanpun dinilai seni? seni emang, seni syahwat.. openly..)

Sabtu lalu, Veven juga menyatakan bahwa jika Presiden sungguh hirau terhadap 
kebrengsekan siaran tivi, "ia selayaknya lebih memperhatikan masalah-masalah 
lebih penting seperti program tivi yang mengeksploatasi soal 
kekerasan"."Masalah pusar perempuan bukanlah urusan besar", (anjuran agar 
presiden  memperhatian kepada masalah kekerasan memang harus !!, semua hal yg 
negative yg dapat merendahkan martabat bangsa ini, terutama kaum perempuan) 
harus kita minta dari presiden, karena presiden punya hak bertindak demi alasan 
demi citra bangsa dan kalau presiden baru dapatmemperhatikan masalah pusar 
perempuan, jangan langsung di protes, kita minta aja (anjurkan-red) agar 
presiden juga memperhatikan semua permasalahan, pusar perempuan juga merupakan 
suatu masalah, kecuali bagi mereka� yg ingin anak istrinya tidak keberatan 
mempertontonkan pusarnya bagi penglihatan umum) lanjut Veven yang adalah 
wartawan kawakan itu.Semestinya Presiden SBY sadar bahwa kata-katanya dipandang 
oleh masyarakat
 sebagai "suatu perintah, yang dampaknya bisa mengancam kemerdekaan mengungkap 
diri dan pertunjukan artistik". (aneh deh, menunjukkan pusar dianggap artisitik 
dan kemerdekaan mengungkapkan diri, kemerdekaan itu sah-sah aja kalau tidak 
membuat orang keberatan (risih), kalau lebih ingin dirinya terungkap, napa ga 
telanjang aja sekalian di jalan-jalan hihihiihih..) Mengikuti  alur pikiran 
Veven ini, kalau penayangan "pusar perempuan" dipandang oleh Presiden SBY 
sebagai ujud dari kemerosotan moral, apakah masalah "pusar perempuan" yang ia 
permasalahkan di ia minta penayangannya dihentikan, jauh lebih utama dari 
masalah KKN? Tidakkah KKN merupakan ungkapan kemorotan moral, dan kemerosotan 
yang mengancam bangsa,negeri dan negara? (KKN memang masalah utama, karena 
merupakan ujud dari sudah putusnya 'syaraf malu' dan 'syaraf iman'bagi 
pelakunya, menunjukkan pusar juga setali tiga uang dengan KKN, jadi mestinya, 
kita tidak langsung memprotes kebijakan presiden itu, tapi membantu presiden
 untuk membuat kebijakan� baru lagi, agar semua manusia Indonesia yang 'syaraf 
malu dan imannya' telah putus, bisa nyambung lagi) 

Terhadap permintaan Presiden ini, Nursyahbani Katjasungkana, aktivis gerakan 
perempuran, pengacara dan anggota MPR mengatakan  bahwa jika Presiden harus 
memberikan komentar tentang acara-acara tivi, sesungguhnya adalah masalah lain 
yang lebih gawat dan buruk dari "pusar perempuan"  yaitu acara penayangan 
masalah kriminalitas, eksploatasi kebrutalan yang sering ditayangkan dengan 
tanpa mengindahkan kode etik kewartawanan sama sekali [lihat: Harian The 
Jakarta Post, 18 Desember 2004]. "Semestinya Presiden mengomentari acara 
demikian", ujar Nusyahbani. (Bener Bu, marilah kita usulkan agar si Bapak 
Presiden meneruskan langkahnya untuk mengomentari semua tayangan TV di negara 
tercinta yg telah melenceng dari alurnya, trus jangan kita minta bapak presiden 
untuk berhenti mengomentari masalah pusar perempuan yah? Ibu kan perempuan, 
saya juga..pastilah kita sangat ingin agar perempuan� lainnya bisa menghargai 
dan menghormati nilai� keperempuanannya (termasuk pusar itu) dengan tidak
 mengobralnya untuk semua mata� yang tidak berhak, iya kan Bu?)

Seperti Veven SP Wardhana, Nursyahbani Katjasungkana juga mengkhawatirkan bahwa 
permintaan Presiden SBY di atas, bisa mengancam kebebasan mengungkapkan diri 
dan kemerdekaan artistik. (apa perempuan� dan orang� yang tidak mengobral 
pusarnya sudah dinilai tidak arsitistik n merasa terpasung kebebasannya? ihhh 
aneh deh..)"Tidak semestinya kita membiarkan alasan moralitas jadi ancaman 
terhadap kemerdekaan mengungkapkan diri, karenanya kita patut mempunyai 
aturan-aturan yhang jelas", ujar Nusyahbani [lihat: Harian The Jakarta Post, 18 
Desember 2004]. (kalau memang ingin lebih  bebas dirinya terungkap, tanggung 
deh dengan hanya menampakkan pusar, dan berpakaian alakadarnya, remove aja 
semua pakaian..dan melengganglah sepuas hati ditempat-tempat yg memungkinkan 
dirinya bisa lebih terungkap..:)), kalau penampakan diri yg setengah telanjang 
saja bukan dianggap hal2 yg amoral, bagaimana lagi dengan tindakan2 lain yg 
'tidak ter tampak'? kkn dsb itu? ga kebayang deh enaknya melakukan itu, wong
 ga kelihatan, yg kelihatan aja kita sudah kehilangan 'syaraf malu' 
hihihihiih..dunno lah..) 

Ketika ditanya oleh wartawan bagaimana sikapnya terhadap pamren pusar 
perempuan, sebagai perempuan dan seorang ibu, Nursyahbani antara lain menjawab: 
"Saya sungguh tidak mempunyai keberatan apapun sepanjang ia tidak bersifat 
vulger. Di samping itu sebagai seorang asal Madura, saya, tradisi saya memang 
menutup pusat perempuan". (olala..menampak  kan pusat ga dianggap 
kevulgaran..aneh ibu ini..)

Setelah sembahyang Jum'at, Presiden Susilo, telah meminta Menteri Kesejahteraan 
Rakyat [Kesra], Alwi Shihab untuk memperhatikan masalah pakaian para seniman di 
acara-acara tivi.Menurut Alwi, Presiden meminta agar para seniman dalam mereka 
yang melakukan pementasan, harus mengenakan pakaian penutup tubuh.

Permintaan Presiden di atas,menurut Alwi didasarkan pada alasan bahwa "Tayangan 
seperti itu, membuat seolah-olah bangsa Indonesia telah kehilangan norma jati 
diri, kehilangan moral, dan kehilangan norma agama --kursif dari JJK -- 
[Lihat:Hidayatullah.com, Sabtu, 18 Desember 2004].(meski memang bukan hanya 
masalah 'pusar' itu saja, tapi langkah ini perlu mendapat dukungan oleh orang� 
yg masih ingin di hargai pusarnya..hihihihihihi)

dst..dst...



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke