SURAT UNTUK ORANG SEKAMPUNG: 

MEMBANGKITKAN YANG PONTENSIAL MENJADI FAKTUAL

[Kepada Kawan-kawan "Komunitas Terapung" dan Doddy Moyank]

Sampai sekarang, masih terbayang di pelupuk kenangan bagaimana pertama kali 
kita bertemu dengan dengan Bung Andi Kammarudin. Hari itu kita berkumpul di 
Gedung Pertempuan Dandang Tingang di pusat kota untuk memperingati  hari lahir 
Chairil Anwar dengan sebuah seminar tentang sastra di Kalteng serta pembacaan 
puisi. Seorang lelaki berkulit kuning berbadan kekar enerjik berdiri dan 
berbicara dengan suara seorang aktor memperkenalkan diri.Lelaki itu  memang 
pernah bersama-sama Rendra di Bengkel Teater. Dan itulah Bung Andi yang 
kemudian menjadi salah seorang tenaga teras Ikatan Sastrawan Indonesia [ISASI] 
Kalteng dalam segala kegiatannya. Bersama-sama kita mengetok pintu-pintu ruang 
RRI [Radio Republik Indonesia], tivi dan kantor-kantor koran di Palangka Raya 
untuk mendapat tempat. Majalah sastra Dermaga kita terbitkan kembali, beberapa 
buku sastra kita muncul ke hadapan pencinta sastra.

Kita pun secara berprakarsa menghubungi sekolah-sekolah dan universitas 
menating ide-ide kita, mendorong kegiatan sastra-seni. Saban lewat kampus 
Universitas Negeri Palangka Raya [Unpar], saya sendiri tidak pernah tinggal 
hanya beberapa menit. Anak-anak muda yang berkumpul di sanggar seni kampus 
selalu mendaulatku untuk berbincang.

Apa arti dari keadaan ini dan hasil-hasil yang kita peroleh betapa pun 
kecilnya? Saya memahaminya bahwa Kalteng memendam potensi besar untuk kegiatan 
sastra-seni seperti halnya bahan-bahan tambang yang tersimpan di dalam tanah 
granitnya. Waktu itu, yang baru kita jamah hanya sebatas kota Palangka Raya, 
karena struktur organisasi yang kita bangun untuk melaksanakan program kita, 
telah "disabot" oleh pemegang kekuasaan politik lokal. Kita belum sempat 
melangkah ke daerah-daerah kabupaten atau kecamatan untuk menggalakkan 
perkembangan sastra-seni daerah. Sampai sekarang, saya masih berpendapat bahwa 
sastra-seni lokal dari berbagai etnik yang ada di Kalteng, lebih-lebih 
sastra-seni Dayak, perlu kita tangani bersama-sama pengembangan sastra 
berbahasa Indonesia. Kedua genre ini akan saling mengisi dan saling mendorong. 
Jika kita berhasil mengerjakan hal ini, maka kegiatan sastra-seni, sastrawan 
dan seniman Kalteng tidak akan menjadi kegiatan terpulau dan dengan menyatunya 
kita dengan massa rakyat setempat di berbagai kabupaten hingga kecamatan, kita 
pun akan menciptakan suasana yang tidak pernah ada sebelumnya di propinsi ini.

Beaya? Memang masalah ini selalu diajukan ke forum diskusi sebagai pertanyaan 
pertama dan membuat semua ide dan prakarsa sering mati sebelum benihnya 
ditanam. Sedangkan saya, seperti dahulu, juga sekarang, tidak pernah berangkat 
dari tersedianya dana terlebih dahulu, tapi berangkat dari ide dan manusianya. 
Manusia, orang, saya anggap sebagai modal paling berharga. Karena ide hanya 
bisa dilaksanakan oleh manusia. Dengan adanya manusia pemimpi, orang yang kaya 
ide dan prakarsa, kalau kita tidak punya dana, maka manusia pemimpi itu akan 
mengerahkan akal untuk mendapatkan cara memperoleh dana. Tapi betapa pun 
banyaknya dana tersedia kalau manusia pelaksananya tidak ada, atau brengsek, 
maka dana itu akan jadi dana tidur dan disalahgunakan. Tanpa arahan ide yang 
tepat, dana juga sering merusak kita. Bukankah demikian yang terjadi dengan 
bayi Dewan Kesenian Palangka Raya yang kita bangun? Untuk melaksanakan program 
Dewan Kesenian yang "mati", bersama-sama kita membangun ISASI yang kemudian 
disabot karena kehadiran saya di dalamnya. Tapi kita meneruskan kegiatan 
berkesenian menggunakan celah-celah yang ada.

Potensi-potensi apakah yang kita punya? Banyak, banyak sekali. Coba saja kita 
lihat. 

Dari segi gedung untuk berkantor atau bersanggar, betapa banyak ruang nganggur 
di Palangka Raya. Di UNPAR misalnya berapa banyak gedung-gedung tidak terpakai 
dan tidak terurus. Demikian juga ruang-ruang gedung milik pemerintah kotapraja 
atau pun propinsi. Berdasarkan pengalaman yang kita alami bersama, ruang-ruang 
kosong nganggur itu bisa dipinjamkan kepada kita untuk dimanfaatkan sebagai 
kantor atau sanggar. Gedung pertemuan yang mampu menampung ribuan orang, di 
samping gedung-gedung Taman Budaya, gedung pertemuan UNPAR dan lain-lain... 
bisa kita gunakan tanpa dipungut beaya sepeserpun jika kita pandai melakukan 
pendekatan kepada pemerintah setempat. Adanya gedung-gedung untuk pertunjukan 
begini, saya kira merupakan satu syarat menguntungkan bagi kegiatan berkesenian 
di daerah. Gedung pertunjukan di Palangka Raya tidak kurang. Yang kurang, 
justru kegiatan berkesenian kita. Tiadanya gedung bioskop di Palangka Raya, 
saya kira merupakan hal yang menguntungkan bagi kita. Karena dengan demikian, 
kegiatan berkesenian kita akan menjawab tuntutan penduduk akan kesenian dan 
hiburan. Masalahnya, terpulang kepada para seniman, apakah mereka sanggup 
menyuguhkan karya yang bermutu dan bukan asal-asalan? Jika persoalan ini ada 
pada kita, maka ia bisa dipecahkan dengan bantuan jaringan serta kerja keras. 
Di samping prakarsa, kerja keras tetap saya anggap sebagai kunci kegiatan 
berkesenian.

Dari segi pendukung.Apakah di Palangka Raya dan Kalteng ada pendukung-pendukung 
kegiatan berkesenian? Dari apa yang saya lihat dan ketahui, bisa saya pastikan 
bahwa calon para penggiat kesenian di daerah inipun sangat banyak. 
Sekolah-sekolah menengah dan Universitas-universitas serta akademi di kota 
hanyalah beberapa sumber calon penggiat. Sangar-sanggar tari dan teater juga 
ada.  Calon-calon penggiat lainnya tersebar di kampung-kampung ibukota 
propinsi, di kabupaten-kabupaten serta kecamatan. Masalahnya bisakah kita 
menggali potensi terpendam ini? Salah satu cara untuk menggali dan 
membangkitkan potensi ini hingga jadi sesuatu yang faktual adalah mendekati 
komunitas-komunitas yang ada di Kalteng, berangkat dari sastra-seni mereka yang 
hidup di kalangan mereka. Saya pernah membayangkan ketika mengetuai Dewan 
Kesenian dan ISASI bahwa Palangka Raya dan kota-kota kabupaten bisa pada suatu 
hari menyaksikan  pekan kesenian etnik-etnik yang ada di Kalteng dan Palangka 
Raya. Saya melihat hal begini merupakan terobosan yang dilakukan oleh 
sastrawan-seniman Kalteng untuk mememelihara kerukunan antar etnik dan 
mengembangkan kesadaran apa arti menjadi orang Kalteng, di mana posisi 
masing-masing di tengah keragaman dan bagaimana hidup rukun dengan 
keanekarupaan. Saya belum melepaskan mimpi dan keinginan ini. 

Ketika terpaksa meninggalkan kampung, dari kapal yang menjauhi dermaga, saya 
melihat daratan kampung dengan harapan tertunda sambil membayangkan wajah 
kawan-kawan yang saya tinggalkan akan melanjutkan serta memujudkan mimpi 
bersama kita yang pernah disusun dalam program Dewan Kesenian dan ISASI. 
Potensi dan calon-calon penggiat kebudayaan ini, juga saya saksikan saban kali 
datang ke rumah jabatan Walikota Salundik Gohong pada waktu itu sebagai salah 
seorang penasehat beliau. 

Akhirnya secara nyata, pada saat penyelenggaraan kegiatan kesenian, kita memang 
akan berhadapan dengan masalah dana. Adakah dana itu di Kalteng? Dari 
pengamatan saya, dana di propinsi ini sangat banyak. Tinggal kita bisa atau 
tidak melihat,menggalinya dan menggunakannya. Sumber dana lain adalah penduduk 
Kalteng dan Palangka Raya itu sendiri. Di sini masalahnya: Mampu tidak kita 
memobilisasi mereka untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri akan kesenian? 
Dengan bersandar pada kemampuan penduduk, saya pernah mengirimkan beberapa 
teman untuk belajar ke luar Palangka Raya. Dengan mengikutsertakan penduduk 
dalam kegiatan berkesenian, penduduk kemudian merasa kegiatan berkesenian itu 
sebagai kegiatan mereka sendiri. Dengan cara ini maka hubungan antara seniman 
dan penduduk menjadi erat. Cara ini pernah saya lakukan ketika belajar di 
Yogya, untuk menyelenggarakan suatu festival drama selama berhari-hari. Cara 
ini juga kemudian saya saksikan di Perancis dalam menyelenggarakan Pesta Musik 
[F�te de la Musique] berskala nasional. Pesta Musik berskala nasional ini 
diselenggarakan oleh penduduk dan dilakukan oleh penduduk sendiri. Kegiatan 
begini jugalah tadinya yang ingin saya coba kembangkan di Palangka Raya. 
Malangnya saya tidak mempunyai cukup waktu  tinggal di kampung kelahiran 
sendiri.

Melihat kekuatan dan kemungkinan potensial begini, saya sering heran saban 
mendengar ada sastrawan-seniman yang mengeluh kesepian dan merasa sendiri 
sebagai seniman di daerah-daerah terpencil. Heran, karena bagi saya, yang 
namanya seniman itu adalah sejenis benih yang bisa tumbuh berkembang di tanah 
mana pun. Ia termasuk bagian dari pasukan pembidas atau pasukan komando 
[ranger] bagi kemanusiaan. Tidak masuk di akal saya bahwa ada manusia yang anti 
kesenian dan tidak memerlukan kesenian. Apabila demikian, jika ada yang merasa 
sepi dan sendiri[lebih-lebih di zaman kemajuan tekhnologi seperti sekarang] 
maka masalahnya tidak terletak pada terpencil tidaknya daerah yang dia 
tinggali, tapi pada kemampuan seniman itu sendiri. Artinya seniman itu bukanlah 
dari jenis pasukan komando kemanusiaan. Contoh ekstrim:Bagaimana Pramoedya A. 
Toer melahirkan karya-karya Pulau Burunya. Julius Fucik menulis "Di bawah Tiang 
Gantungan"nya.Dan lain-lain..... Seperti halnya filosof Jerman, Peter 
Sloterdijk, saya melihat bahwa keterpencilan geografis, segala tantangan, tidak 
lain dari seruan "mobilisasi" kepada seniman untuk berkarya, untuk melakukan 
sesuatu, untuk menggali yang potensial dan menjadikannya faktual.Daerah saya 
rasakan sebagai sumber kreasi yang kaya. 

Paris, Desember 2004
--------------------
JJ.KUSNI
[Bersambung...]

Catatan:

Alamat kontak "Komunitas Terapung", Palangka Raya, Kalimantan Tengah

p/a MOHAMMAD ALIMULHUDA
Jl. Rajawali II gg. 3 No. 48 Palangkaraya-73112
No HP. 081349653079 a.n.Suyitno BT.
E-mail: [EMAIL PROTECTED]




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke