SURAT UNTUK ORANG SEKAMPUNG: JANGAN JADIKAN KALTENG TEMPURUNG KECIL!
[Kepada Kawan-kawan "Komunitas Terapung" dan Doddy Moyank] Ketika pada tahun 1957, desa Pahandut dikembangkan menjadi Palangka Raya sebagai ibukota propinsi Kalimantan Tengah dengan teras tenaga 24an orang, tidak banyak orang yang mau datang ke daerah ini. Sepi dan tidak ada fasilitas apa pun yang biasa gampang diperoleh di kota-kota besar seperti Banjarmasin. Yang mau datang ke mari hanyalah mereka yang betul-betul mempunyai semangat membangun kampung. Beda dengan sekarang, orang-orang dari berbagai pulau tanahair berduyun-duyun datang ke mari bagaikan arus riam tak terbendung. Lebih-lebih setelah mengetahui potensi sumber daya alam yang terkandung di bumi Kalteng, seperti emas dan lain-lain... Subud pun bermaksud memindahkan pusat internasionalnya ke Kalteng yang dinilainya sebagai "berbudaya jin". Sekarang Palangka Raya benar-benar sudah tumbuh menjadi sebuah kota dan mujur masih mempertahankan serta mengembangkan ciri arsitektur lokal sehingga kalau kita datang ke mari, begitu turun dari tangga pesawat, kita merasa sedang berada di tempat lain.Makin masuk ke tengah kota, makin ciri budaya Dayak menampakkan diri. Saya kira ini merupakan jasa dari yang ditinggalkan oleh Salundik Gohong ketika beliau menjadi walikota. Dari segi sastra, di Palangka Raya sekarang kita pun mempunyai sarana lain yang tidak dimiliki pada masa-masa awal berupa harian seperti Kalteng Pos, Dayak Pos, Palangka Raya Pos, beberapa tabloid, mingguan seperti Media Kalteng, Dinamika Pembangunan, radio negeri dan swasta dan tivi. Bahkan UNPAR pun mempunyai radio sendiri yang diusahakan oleh para mahasiswanya. Kota-kota kabupaten seperti Kasongan, Kuala Kapuas, Sampit dan Pangkalan Bun pun sudah mempunyai penerbitan mereka sendiri. Media-massa ini mempunyai peranan penting dalam mengembangkan sastra lokal dalam bahasa Indonesia dan bahasa Dayak Ngaju. Saban terbit, Harian Dayak Pos menyediakan ruangan khusus untuk sastra berbahasa Ngaju. Barangkali di seluruh Kalimantan hanya Harian Dayak Pos lah yang menaruh perhatian lebih terhadap pengembangan sastra lokal ini. Usaha Harian Dayak Pos ini tentu akan lebih berkembang lagi, jika mereka menggunakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian UNPAR yang tersedia di perpustakaan daerah dan perpustakaan universitas tapi kurang dimanfaatkan secara maksimal. Faktor lain yang sangat membantu para pekerja sastra di Kalteng untuk keluar dari tempurung langit daerah adalah sudah tersedianya jaringan internet sehingga hubungan keluar bisa lebih leluasa dan berkembangan sekalipun sering lalulintas udara, laut dan darat yang sangat terganggu oleh asap saat hutan terbakar. Dengan syarat-syarat demikian, saya kira, para seniman, khususnya sastrawan Kalteng, tidak mempunyai alasan untuk merasa kesepian, terasing dan sendiri dengan tinggal di Kalteng. Kalau para seniman dan sastrawan mengembangkan prakarsa mereka, mereka akan melihat betapa banyak pekerjaan yang menagih uluran tangan mereka. Sastrawan-seniman yang sadar akan tanggungjawab kemanusiaannya justru merasa berhutang dan dikejar oleh tantangan daerah.Mereka justru akan bangga bahwa mereka berada di daerah dan bukan di Jawa "perahu yang hampir karam".Bangga bahwa semangat pembidas mereka ditantang. Hal lain yang sangat membantu juga adalah hubungan darat dengan Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan yang jauh lebih berkembang daripada Palangka Raya. Perkembangan Banjarmasin tidak lepas dari alasan sejarah. Ia pernah menjadi ibukota Kalimantan [Selatan, Timur dan Tengah] yang beberapa kali besarnya dari Jawa. Dengan berkembangnya lalu-lintas darat antar Kalsel-Kalteng dan Kaltim maka untuk ke Banjarmasin hanya memerlukan 4 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat. Perkembangan hubungan darat begini akan mempunyai dampak ke berbagai bidang termasuk terhadap sastra-seni. Para seniman dari tiga propinsi akan di satu pulau akan menjadi lebih gampang untuk saling bertukar pengalaman dan bekerjasama. Jika jalan trans-Borneo sudah terujud maka perkembangan ini akan lebih dahsyat lagi dan tak terduga. Karena itu pembangunan sastra-seni tidak selayaknya dilihat sebatas dunia sastra-seni saja sebab ia dipengaruhi oleh unsur-unsur di luar sastra-seni. Sastrawan-seniman bermata kuda penarik pedati tidak akan melihat hal begini. Hal sangat menarik yang juga saya lihat di Kalteng bahwa para pendukung sastra berbahasa Indonesia didukung oleh para sastrawan dari berbagai asal etnik. Ini misalnya nampak dari komposisi pengurus ISASI yang terdiri dari sastrawan-sastrawan asal Jawa, Makassar, Dayak, Banjar. Demikian juga dalam komposisi redaksi Harian Dayak Pos di mana teman-teman dari Manado, Banjar dan Dayak bahu-membahu dan semuanya merasa sebagai putra-putri Kalteng dan mencurahkan seluruh perhatian untuk Kalteng. Victor, putra Kalteng asal Manado mengatakan ia menolak tawaran koran-koran besar di Jawa untuk meninggalkan Kalteng, karena ia merasa adalah lebih membanggakan jika ia bisa mengembangkan Harian Dayak Pos sekalipun dengan pendapatan material kecil dari pada mendapat imbalan finansil besar dari koran yang sudah jadi di Jawa. "Saya ingin bertarung", ujar Victor ketika kami bertemu setahun lalu di kantor Harian Dayak Pos Jalan Kartini.Semangat Victor adalah semangat para pembidas pembangunan Kalteng yang tidak semua orang Dayak mewarisinya. Semangat Victor begini pun dimiliki oleh penyair asal Yogya, Drs.Anwar Makmur atau penggiat teater Huda yang bersama-sama menjadi pengurus ISASI. Sedangkan motor kegiatan teater di kampus UNPAR berada di tangan seorang kawan dari Tapanuli. Dari sini saya melihat bahwa dunia sastra di Kalteng adalah sebuah dunia yang bebas dari prasangka agama dan etnik. Suatu ilustrasi: Sebelum Tragedi Sampit meletus, sebenarnya kami sedang menyiapkan suatu forum dialog lintas entik di Palangka Raya. Tokoh-tokoh dari etnik Madura dengan gairah menyokong usaha ini. Tapi malang, usaha ini kalah cepat dari perkembangan di lapangan dan sebenarnya pernah. Tragedi meletus lebih cepat dari usaha kami. Saya menyentuh soal Tragedi Sampit ketika membicarakan soal sastra-seni karena konflik etnik itu saya kira, mempunyai sisi budayanya. Sastra-seni justru bergerak di bidang ide dan kebudayaan. Para sastrawan-seniman Kalteng berniat melakukan terobosan melalui bidangnya. Perasaan kekaltengan tumbuh dan berkembang secara alami melalui kegiatan dan kehidupan bersama bertahun-tahun. Barangkali ada yang melihatnya bahwa orang Dayak dengan sikap ini secara tidak sadar membiarkan diri "dijajah" etnik-etnik lain dari luar yang datang ke Kalteng. Masalah ini sebenarnya sudah dibicarakan sejak lama, jauh sebelum daerah-daerah lain memberontak dengan menggunakan senjata menuntut pemisahan diri dari Republik Indonesia. Menjelang Tragedi Sampit, ide Borneo Merdeka memang pernah dilontarkan untuk membuat situasi tambah mendidih, tapi dijawab secara bulat oleh semua lapisan dengan penolakan yang memaksa pembawanya lari terbirit meninggalkan Kalteng ke Jakarta. Secara filosofis dan budaya, budaya betang menolak nasionalisme etnik. Nasioalisme etnik dilihat sebagai tidak mempunyai perspektif. Hal ini juga bisa ditelusur padam karya-karya sastra lisan utama seperti Sansana Bandar, Mengambil Mutiara Dari Dekapan Naga Kinibalu, Panen Manduran, Banama Tingang dan lain-lain... Maka akan merupakan suatu blunder besar, jika ada pihak pemegang kekuasaan politik baik di pusat atau di daerah, dengan sadar atau tidak sadar melalui 1001 cara dengan untuk Kalteng untuk menempuh jalan nasionalisme etnik. Merah Putih di Kalteng terutama dikibarkan oleh putera-puteri Kalteng sendiri bekerjasama dengan putera-puteri dari etnik lain seperti Kapten Mulyono misalnya. Sikap sastrawan-seniman Kalteng seperti di atas saya kira merupakan modal penting dalam mengembangkan sastra-seni di Kalteng. Hanya saja akan lebih baik lagi jika mereka yang berasal dari luar etnik Dayak dalam usaha mengembang-tumbuhkan sastra-seni di Kalteng lebih memberi perhatian lagi kepada sastra-seni Dayak.Hal begini sama sekali tidak mengandung kerugian apapun, juga tidak merupakan kesia-siaan. Sebaliknya dengan usaha demikian, para sastrawan-seniman dari etnik luar Dayak makin memperkaya khazanah acuan dalam berkarya seperti halnya para seniman Dayak menyerap pengalaman dari Yogya. Barangkali dengan cara ini sastra-seni Indonesia lahir berkembang secara alami dan dirumuskan secara nyata melalui kegiatan dari bawah oleh para seniman itu sendiri dan bukan melalui perumusan para pakar dan pembuat undang-undang. Tidak kurang pentingnya dari pengenalan atas daerah adalah mengasah wawasan dan memperkaya pengetahuan tentang sastra-seni itu sendiri. Masalah ini kurang-lebih bisa dijawab oleh mengokoh dan luasnya sistem jaringan kerja. Dengan cara ini kita tidak membuat cakrawala Kalteng sebagai sebuah tempurung kecil.Dalam artian inilah maka pada berbagai kesempatan selalu saya ajukan semboyan: "Berdiri di kampung-halaman memandang tanahair merangkul bumi". Paris, Desember 2004. ------------------- JJ.KUSNI [Bersambung...] Catatan: Alamat kontak "Komunitas Terapung", Palangka Raya, Kalimantan Tengah p/a MOHAMMAD ALIMULHUDA Jl. Rajawali II gg. 3 No. 48 Palangkaraya-73112 No HP. 081349653079 a.n.Suyitno BT. E-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [email protected] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

