Date: Thu, 23 Dec 2004 21:27:06 +0100
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Perlawanan Guru Mewujudkan Sekolah Rakyat (KCM - 111204)

Perlawanan Guru Mewujudkan Sekolah Rakyat 

Sabtu, 11 Desember 2004 - SUDARNO (42), Lely Zailani (34), dan Abdul Choliq 
(39) merupakan sosok guru yang tidak lazim. Mereka tidak takluk terhadap 
belenggu kekuasaan yang mencengkeram pendidikan. Dengan keberanian melawan, 
komitmen, dan sumber daya seadanya, mereka menggalang kekuatan warga untuk 
membangun sekolah murah untuk orang-orang miskin dan terpinggirkan.

SUDARNO dibesarkan di Bingkat, sebuah desa yang terletak di antara perkebunan 
sawit, sekitar tujuh kilometer dari jalan trans-Sumatera di Kabupaten Deli 
Mendagi, Sumatera Utara. Desa itu diberi label oleh pemerintah Orde Baru 
sebagai sarang pendukung Barisan Tani Indonesia, organisasi yang berpayung di 
bawah Partai Komunis Indonesia (PKI). Label PKI itu menjadi "meterai" 
turun-temurun bagi warga Bingkat. Label itu telah menutup semua peluang warga 
Bingkat dan anak cucunya untuk menjadi pegawai negeri, bahkan untuk menjadi 
buruh tetap perkebunan yang mengepung wilayah desa itu.
Selama puluhan tahun warga Bingkat hidup dalam bayang- bayang masa lalu. Dalam 
keputusasaan, mereka pun tidak berminat bersekolah. Buat apa bersekolah bila 
menjadi buruh kebun pun ditolak?

Sudarno adalah satu kekecualian. Sambil kuliah, ia mengajar sebagai guru lepas 
di sebuah SMA di Medan. Sudarno mengembangkan gaya sendiri dalam mengajar. Ia 
mendorong murid-muridnya untuk bersikap kritis. Ia sering mengajak 
murid-muridnya berkemah sekaligus mengenal kehidupan masyarakat miskin di desa 
dan kawasan pesisir. Sikap kritis murid-murid yang dididiknya justru membuat ia 
dimusuhi oleh guru-guru di sekolahnya. Ia harus berpindah-pindah dari satu 
sekolah ke sekolah lain. Terakhir ia mengajar di Madrasah Aliyah Perbaungan, 
sebelum akhirnya memutuskan untuk mendirikan sekolah sendiri di kampung 
halamannya.
"Daripada harus terus-menerus berpindah sekolah, pikir-pikir mending saya 
membuat sekolah sendiri," kata Sudarno.
Bersama sejumlah rekannya, juga Lely Zailani yang pernah menjadi muridnya di 
Madrasah Aliyah Perbaungan, ia mengajak lulusan sekolah dan perguruan tinggi di 
desa itu untuk mengajar dan mendirikan sekolah. Bersama Abdul Choliq, lulusan 
IAIN Sumatera Utara, Sudarno memfokuskan kegiatan mengembangkan madrasah 
tsanawiyah (MTs). Sementara Lely lebih berkonsentrasi menggerakkan ibu-ibu dan 
mengembangkan sanggar belajar untuk anak-anak prasekolah.
"Bersama Darno, saya berkeliling mendatangi tokoh-tokoh desa dan remaja masjid, 
meminta dukungan untuk mendirikan MTs. Sempat muncul pertanyaan, mana mungkin 
di Bingkat didirikan sekolah agama karena masyarakatnya tidak mengenal agama," 
kata Choliq.

GAGASAN mendirikan MTs Bingkat akhirnya terwujud tahun 1988, berbekal modal 
seadanya dengan murid pertama 23 orang. Sekolah itu diselenggarakan secara 
konvensional, tetapi memberikan sejumlah kursinya untuk anak-anak dari keluarga 
tidak mampu.
Tiap akhir semester, murid-murid diajak berkemah untuk mengenal kehidupan 
masyarakat miskin di daerah lain. Dalam acara kemah itu, siswa diberi motivasi 
untuk terus belajar dan mereka yang selesai mengikuti ujian diwajibkan mencari 
calon siswa baru.
"Mereka kami ajak untuk mengenal masyarakat lain yang miskin untuk menumbuhkan 
keyakinan bahwa nasib mereka bukan yang paling lemah. Masih banyak orang lain 
yang hidup lebih miskin," kata Choliq.
Madrasah itu terus berkembang sampai memiliki gedung sendiri. Kini, MTs Bingkat 
memiliki lebih dari 250 siswa, menampung lulusan SD dan madrasah ibtidaiyah 
(MI) di desa itu dan wilayah sekitarnya.

Karena banyaknya lulusan MTs, muncul kemudian kebutuhan untuk mendirikan 
sekolah lanjutan. Setahun setelah Soeharto jatuh berdirilah Madrasah Aliyah 
(MA) Bingkat, dengan didukung guru-guru dan menggunakan ruang kosong di MTs 
Bingkat.
Karena jumlah murid terus berkembang, muncul kebutuhan untuk membangun gedung 
sekolah. Gagasan itu dikomunikasikan dengan sejumlah aktivis organisasi 
nonpemerintah dan gerakan rakyat di Medan dan wilayah Sumatera Utara. Mereka 
memberikan dukungan untuk menjadikan MA Bingkat sebagai sekolah kader untuk 
anak-anak petani dan nelayan.

Untuk biaya pembangunan gedung, Sudarno meminjam uang dari bank. Dana lainnya 
diperoleh dari sumbangan organisasi-organisasi pendukung dan perorangan. Gedung 
sekolah yang sangat sederhana pun berdiri, terdiri atas tiga ruang kelas dan 
satu ruang guru. Di halaman belakang kompleks sekolah seluas 1.400 meter 
persegi itu dibangun rumah pondokan dan ladang untuk praktik pertanian. Berawal 
dari 23 murid, MA Bingkat kini menampung 70 siswa dari kalangan petani dan 
nelayan miskin serta pengungsi dari berbagai wilayah di Sumatera dan Jawa Barat.

Menurut Sudarno, madrasah yang didirikan di Bingkat memang merupakan bentuk 
perlawanan terhadap sistem pendidikan yang ada. Ia mengaku, perlawanan semacam 
itu tidak lazim di kalangan guru-guru di Tanah Air. Akan tetapi, bagi mereka 
perlawanan tersebut bukan sesuatu yang baru karena mereka pernah intens bergaul 
di kalangan aktivis organisasi nonpemerintah.
Semula, siswa yang datang dari luar daerah ditampung di rumah pondokan. Untuk 
memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka bekerja menebas di ladang, mencari lipan 
atau buah pinang. Pada suatu masa, sekolah menyewakan ladang pertanian dan 
memberi pinjaman kepada siswa untuk mengelola lahan bersangkutan. Sekarang, 
sebagian besar siswa tinggal bersama keluarga petani di sekitar sekolah. Semua 
kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh keluarga yang ditinggali, tetapi 
anak-anak tersebut diwajibkan membantu keluarga tersebut mengerjakan pekerjaan 
rumah atau di ladang.

Kehadiran anak-anak sekolah itu ternyata tidak memberatkan keluarga petani 
sederhana yang ditinggali. Meski uang belanja kebutuhan sehari-hari meningkat, 
namun para petani yang menjadi bapak angkat juga terbantu dengan kehadiran 
anak-anak tersebut. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya mengupah orang untuk 
membantu pekerjaan di ladang.
"Saya malah jadi tahu bagaimana harus mendidik anak- anak seusia mereka," kata 
Suyadi (35). Suyadi memiliki tiga anak kandung yang masih kecil. Dua siswa 
madrasah tinggal bersamanya: Cecep (22) dan Aslin (23).

Untuk biaya sekolah, kata Sekretaris Organisasi Rakyat Indonesia Iwan Ridwan, 
mereka mencarikan biaya dari orangtua asuh. Mereka juga menghimpun sumbangan 
dari individu maupun organisasi-organisasi pendukung. Karena dana terbatas, 
sekolah itu tidak pernah memiliki rancangan budget tahunan. Begitu ada dana 
langsung dibelanjakan. Guru-guru sudah biasa menerima gaji terlambat.
BILA Sudarno dan Choliq menggarap anak-anak usia sekolah lanjutan, Lely 
menggarap pendampingan anak-anak usia prasekolah di desa dengan membentuk 
Kelompok Kerja Perempuan Desa. Kegiatan mereka dimulai dengan membentuk sanggar 
belajar untuk anak-anak di Desa Sukasari, Perbaungan. Para aktivis itu kemudian 
membentuk organisasi nonpemerintah, Hapsari, kependekan dari Harapan Desa 
Sukasari.
Melalui sanggar belajar prasekolah itu Hapsari berkembang menjadi organisasi 
nonpemerintah dan kemudian memfasilitasi pendirian organisasi perempuan, 
serikat petani dan nelayan.
Pendirian sanggar belajar itu, kata Sekretaris Hapsari Mardiana Audi, 
didasarkan pada keprihatinan terhadap pendidikan anak usia dini yang kurang 
diperhatikan. Desa Sukasari merupakan wilayah perkebunan. Pagi hari, sekitar 
pukul 06.00, kebanyakan para ibu telah meninggalkan rumahnya, bekerja menjadi 
buruh perkebunan. Pulang ke rumah sore hari. "Anak-anak dibiarkan keleleran di 
rumah," kata Mardiana.

Sanggar belajar anak Hapsari diawali dari sebuah bilik rumah warga. Sejumlah 
guru direkrut dari ibu-ibu di desa itu. Setelah sanggar belajar itu berkembang 
mereka berpindah menempati rumah kosong milik penduduk, sebelum akhirnya desa 
mendirikan bangunan taman untuk taman kanak-kanak. Berawal dari Desa Sukasari, 
sanggar- sanggar belajar untuk anak prasekolah itu berkembang di desa-desa 
lainnya.

Di Desa Boga Besar, ibu-ibu nelayan membentuk sanggar belajar, karena taman 
kanak (TK) yang ada selain jauh dari tempat mereka tinggal juga uang sekolahnya 
tidak terjangkau. Sanggar belajar mereka menempati sebuah rumah kontrakan. 
Tidak ada bangku untuk belajar. Kegiatan sehari-hari dilakukan di atas selembar 
tikar.
Sanggar belajar di Desa Pematang Pasir sudah cukup berkembang. Sanggar itu 
menempati sebuah bangunan berdinding bambu dan beratap daun nipah yang dibangun 
dari pengumpulan zakat di kalangan para aktivis sebesar Rp 2,3 juta.
Sanggar belajar itu kini memiliki 28 murid, diasuh oleh empat guru yang 
direkrut dari ibu-ibu di desa setempat. Uang sekolahnya tidak lebih Rp 3.000, 
sebagian besar dibelanjakan untuk makanan tambahan anak-anak.
"Sekolah ini kami bangun bersama-sama. Ada yang menyumbang kayu, bambu, dan 
lain-lain. Seharian ibu-ibu dikerahkan untuk mencari dan menganyam daun nipah 
untuk atap," kata Ema Salama.

Sebagian guru yang mengajar di sanggar belajar itu memang tidak memiliki 
keahlian dan sertifikat sebagai guru. Mereka adalah ibu rumah tangga yang 
dimagangkan di sanggar lain yang sudah berjalan. Sebagian sanggar saat ini 
telah berjalan mandiri, tetapi Hapsari terus mendorong organisasi-organisasi 
rakyat untuk membentuk sanggar-sanggar belajar baru di desa-desa yang menjadi 
basis aktivitasnya.

GERAKAN untuk mendirikan sekolah rakyat tidak hanya terjadi di Deli Serdang dan 
Serdang Bedagai. Sejumlah pengungsi yang mengokupasi lahan yang diklaim sebagai 
bagian kawasan Taman Nasional Gunung Leuser mendirikan SD dan MTs, setelah 
bertahun-tahun pemerintah lalai melayani pendidikan anak-anak pengungsi. 
Serikat Petani Pasunan mendirikan MTs gratis di Desa Sarimukti, di Kabupaten 
Garut, Jawa Barat. Di Bantul, DI Yogyakarta, sejumlah aktivis mendirikan 
sekolah untuk tokoh- tokoh masyarakat desa. Di Malang, Jawa Timur, sejumlah 
aktivis mendirikan sekolah tani.

Di tengah derasnya arus kapitalisme dan komersialisasi pendidikan, mereka 
memiliki keprihatinan yang sama: bagaimana membebaskan rakyat miskin melalui 
pendidikan. Mereka bahkan telah membentuk sebuah jaringan sekolah rakyat.

Berbeda dengan sekolah-sekolah alternatif lainnya, jaringan ini tidak 
mentah-mentah menolak sistem pendidikan formal. Sekolah-sekolah yang bergabung 
dalam jaringan ini masih mengakui pentingnya ijazah, sekalipun tetap melakukan 
perlawanan.

"Sejak lama kami menolak sekolah dijadikan label kapital dan dipergunakan untuk 
mencari keuntungan. Kami juga menolak menjadikan guru sebagai alat kapital dan 
kekuasaan. Karena itulah pengelolaan sekolah kami berbeda dengan sekolah pada 
umumnya," kata Sudarno. (P BAMBANG WISUDO)
 
 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/11/humaniora/1431208.htm
 



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke